
"Masss Antonnnnn."
"Ada apa sih teriak-teriak sayang?"
"Lihat ini Mas, ada yang mengirimkan foto-foto ini padaku."
"Coba lihat."
Anton lalu melihat foto di ponsel istrinya. "Ga ada yang salah sama foto-foto itu sayang."
"Ga ada yang salah gimana Mas?"
"Ya itu kan foto-foto Amanda sedang duduk di taman, di ruang kuliah, saat sedang makan juga ada."
"Iya aku tahu Mas, tidak ada yang salah dengan foto-foto itu, tapi Mas coba pikir untuk apa orang ini mengirimkan foto Amanda padaku. Nomor teleponnya pun tak tersimpan di ponselku, jadi untuk apa dia mengirimkan foto-foto ini padaku jika tidak bermaksud jahat pada keluarga kita?"
"Sayang kamu jangan berlebihan, mungkin saja dia salah seorang kerabat atau teman kita yang ingin mengabadikan kegiatan Amanda selama di Singapura."
"Tapi kenapa dia tak menuliskan sepatah kata pun pesan padaku?"
"Mungkin dia malu sayang, sudah sekarang kamu telepon Amanda daripada kamu punya pikiran yang tidak-tidak padanya."
"Baik Mas, aku akan menelpon Amanda."
Kamila lalu menelpon Amanda, kini dia terlihat sedang asyik berbicara dengan putrinya. Anton lalu pergi meninggalkan istrinya menuju ke kamar, dua lalu mengambil ponselnya. Beberapa saat kemudian dia tampak sibuk menelpon seseorang, sampai kemudian Kamila sudah datang menghampirinya.
"Mas..."
"Emh.. Iya sayang, kamu bikin kaget saja." jawab Anton sambil meringis.
"Kok kamu aneh Mas?"
"Aneh gimana sih?"
"Itu kok tiba-tiba kamu berkeringat, kamar ini kan ada ACnya."
"Oh gapapa sayang cuma tadi sempet cari file yang ilang jadi sedikit kepanasan."
"Kamu kok aneh deh Mas, jangan-jangan?" Kamila lalu menatap suaminya dengan tatapan yang begitu tajam.
"Tuh kan, mulai lagi deh."
"Habis kamu aneh sih Mas, tadi aku masuk kamar kamu terlihat gugup, terus tiba-tiba berkeringat, habis telepon siapa sih?"
"Jangan-jangan telepon cewek lagi."
*Sejak kapan aku menyukai wanita lain selain dirimu sayang?" kata Anton sambil memeluk istrinya.
"Ga usah sok ngrayu, sini aku liat ponselmu."
Anton hanya tersenyum melihat tingkah istrinya, kemudian dia memberikan ponsel miliknya. Kamila lalu melihat isi ponsel cukup lama, bahkan semua aplikasi pun dibukanya dan membaca isi pesan satu per satu.
"Gimana? Ada yang aneh?"
"Ga ada." jawab Kamila sambil tersipu malu.
"Dasar cemburuan." kata Anton sambil mencubit pipi istrinya.
"Aduh sakit Mas."
"Sebagai hukumannya kamu harus menuruti kata-kataku saat ini!"
"Minta apa sih? Manja banget kaya Brian aja."
"Minta ini." kata Anton sambil mulai menc*um bibir istrinya. Namun belum sempat mereka berciuman sebuah suara mengagetkan mereka.
"Papaaa Mamaaa lagi ngapain?"
"Brian!" kata Kamila dan Anton bersamaan.
Amanda tampak menikmati jalan-jalan di sore ini, selain berjalan-jalan di Orchard Road, dia juga pergi ke Merlion Park dan kemudian makan malam di Marina Bay Sand.
Sebenarnya Amanda sudah pernah mengunjungi ketiga tempat itu dua tahun yang lalu saat berlibur dengan kedua orang tuanya, namun kali ini terasa ada sesuatu yang berbeda. Hari ini adalah pertama kalinya Amanda berkencan dengan laki-laki dewasa. Sebenarnya dia merasa begitu gugup, tapi Amanda menutupi semua itu karena dia tak ingin Ilham tahu jika Amanda memiliki perasaan lebih padanya. Sepanjang jalan, Ilham juga memperlakukannya dengan begitu romantis, dia menggenggam tangan Amada sepanjang jalan itu.
Kini mereka sedang asyik menikmati makan malam romantis dengan hidangan yang istimewa di Marina Bay Sand sambil memandang keindahan Singapura dan Teluk Marina.
"Tentu Manda, ini sudah malam, asramamu juga cukup jauh dari sini." kata Ilham. Mereka kemudian melanjutkan makan malam sambil diselingi tawa canda keduanya.
"Amanda, sebentar ada yang ingin saya bicarakan denganmu."
"Apa Om?"
"Amanda, maaf jika saya sudah lancang. Sebenarnya saya mencintaimu Amanda."
Jantung Amanda berdegup kian kencang mendengar pengakuan laki-laki yang ada di depannya. Ternyata perasaan yang dipendamnya selama ini akhirnya terbalas.
"Om, bagaimana dengan istri dan anak Om?"
"Saya belum memiliki anak dan istri Amanda."
"Benarkah?"
"Tentu."
"Suatu saat, aku akan mengajakmu pergi ke rumahku agar kamu mempercayaiku."
"Jadi bagaimana Manda, apakah kau juga mencintaiku?"
Amanda lalu mengangguk sambil tersenyum. "Bagus, kalau begitu mulai hari ini kita resmi berpacaran. Terimakasih sudah mau menerima cintaku sayang." kata Ilham sambil tersenyum.
Selesai makan mereka langsung pulang karena Amanda sudah tampak begitu cemas pulang terlalu malam. Jam menunjukkan pukul 20.45 malam saat mereka sampai di depan gedung Asrama.
"Terimakasih Om untuk jalan-jalan hari ini."
"Sama-sama Manda."
Namun saat Amanda akan membuka pintu mobil, Ilham mencengkram tangannya.
"Amanda tunggu."
"Ya Om."
Tolong tutup matamu sebentar. Amanda lalu menutup matanya. Saat dia menutup matanya tiba-tiba sebuah benda menempel di bibirnya. Amanda tidak tahu apa itu, sesaat kemudian benda itu sudah menguasai bibirnya dan bergerak liar masuk ke dalam mulutnya. Akhirnya Amanda pun mengikuti gerakan bibir itu. Amanda yang baru pernah merasakan berc*uman benar-benar menikmati saat-saat itu.
"Om...."
"Kenapa sayang? Maaf Amanda, aku bertindak terlalu jauh. Maaf aku tidak bisa mengendalikan diriku."
"Tidak apa Om, cuma ini sudah malam."
"Oh iya Manda, maaf."
"Baik Om, Manda masuk ke asrama dulu ya."
"Sama-sama, kamu hati-hati ya sayang."
"Iya sayang."
Amanda lalu masuk ke dalam asrama disertai perasaan yang begitu campur aduk. Kebahagiaan yang tak terkira memenuhi isi hatinya, akhirnya kini dia merasakan rasanya memiliki seorang kekasih.
Ilham memandang tubuh Amanda yang kini masuk ke dalam halaman Asrama. "Amanda, ternyata kamu sama polosnya seperti ibumu, Kamila yang gampang tertipu daya oleh cinta laki-laki." kata Ilham dengan senyum sinis tersungging di bibirnya.
Saat Amanda akan memasuki gedung tiba-tiba langkah Amanda terhenti karena ada seseorang yang mencegatnya. "Tunggu dulu Amanda."
"Ada apa Evan?"
"Jauhi laki-laki itu Amanda, dia bukan laki-laki yang baik untukmu. Lagipula umur kalian berbeda amat jauh, kamu harusnya sadar jika dia bermaksud tidak baik padamu Manda."
"Ini semua bukan urusanmu Evan, berhentilah mengurusi hidupku. Kamu tidak tahu apa-apa tentang kehidupanku!"
"Setidaknya aku tidak sebodoh kamu dan bisa membedakan mana orang baik dan mana yang bisa berbuat jahat."
"Cukup Evan!!!" kata Amanda, air mata pun mulai menetes di pipinya. Kemudian dia berlari masuk ke dalam asrama.
'Maaf jika kata-kataku melukai hatimu Manda.' kata Evan dalam hati.
Beberapa kali ponsel Anton berbunyi, ketika dia melihat istrinya sudah tertidur lelap di sampingnya, dia lalu bergegas keluar dari dalam kamar dan menuju ruang tamu.
[Kamu sudah sampai?]