
Pov Author
Pagi ini Anton telah berada di ruang kerjanya, dia lalu menelpon seseorang dan memanggilnya ke dalam ruangan.
"Bapak memanggil saya?"
"Ya Sandra, silahkan duduk."
"Saya langsung to the point ya Sandra, saya mengucapkan terimakasih atas dedikasimu di perusahaan ini. Namun sesuai kesepakatan kita kemarin, hari ini kamu harus keluar dari perusahaan ini. Silahkan ke ruang HRD untuk mengambil dokumen milikmu beserta pesangon yang kuberikan untukmu. Terimakasih." kata Anton sambil menjabat tangan Sandra.
"Benarkah sudah tidak ada kesempatan sekali lagi untuk saya?"
Saat Sandra mulai menangis, tiba-tiba pintu ruangan dibuka oleh Kamila. "Sayang. kamu ada apa kok tiba-tiba kesini?"
"Ini Mas, salah satu berkas kamu tertinggal di meja makan, siapa tahu penting, aku berkali-kali hubungi kamu tapi kamu ga jawab telpon dariku, ya sudah aku ke sini saja."
"Terimakasih banyak sayang, ini memang dokumen penting untuk rapat nanti siang."
"Sandra, kenapa kamu sedih?" kata Kamila.
"Ini hari terakhir saya bekerja di sini Bu, Pak Anton sudah memecat saya."
"Mas, kenapa kamu tega sekali memecat Sandra? bukankah dia begitu baik dan sangat profesional dalam bekerja? tolong pertimbangkan lagi Mas."
"Maaf sayang, ini sudah menjadi keputusanku karena Sandra telah melakukan kecerobohan yang sangat berdampak buruk bagi perusahaan ini."
"Benar begitu Sandra?" kata Kamila.
Sandra hanya terdiam. "Sudah sayang, biarkan Sandra pergi, dia sudah ditunggu Gina untuk mengurus semua dokumen miliknya di HRD. Silahkan Sandra kamu bisa pergi sekarang."
"Mas..." kata Kamila sambil mulai menangis karena tidak tega melihat Sandra yang begitu terpukul karena pemecatannya. Akhirnya Sandra pun pergi meninggalkan ruangan milik Anton.
"Mas, tidakkah kamu memberikan kesempatan pada Sandra sekali saja?"
Anton lalu menghampiri Kamila dan memegang tangannya. "Sayang percayalah padaku, ini adalah keputusan terbaik. Kamu percaya pada suamimu sendiri kan?" Kamila pun hanya bisa mengangguk mendengar kata-kata suaminya.
Dengan langkah gontai, Sandra pergi ke ruangan Gina, staf HRD yang sudah mengurus pemecatan dirinya.
"Kamu kenapa San kok murung banget?" kata Gina.
"Gapapa Mba."
"Kenapa sih San tiba-tiba kamu mengundurkan diri? Udah ga tahan ya liat Pak Anton sama Bu Kamila? hahahahaha... Apa kamu cemburu liat mereka bulan madu di depan matamu kemarin?"
"Mba Gina jangan asal ngomong deh. Tapi kata siapa aku mengundurkan diri Mba?"
"Pak Anton sendiri yang bilang kamu mengundurkan diri saat menyuruhku mengurus semua dokumenmu kemarin."
'Jadi Pak Anton bilang ke Gina jika aku mengundurkan diri bukan dipecat? baguslah kalau begitu, aku jadi tidak terlalu malu pada orang-orang di kantor ini.'
"San, kok malah ngelamun sih? kamu kenapa tiba-tiba keluar mendadak kaya gini?"
"Gapapa Mba, lagi pengen cari suasana baru aja."
"Oooh jadi beneran nih karena cemburu." kata Gina sambil terkekeh.
"Ihhhh Mba Gina kok malah ngomong gitu sih?"
"Eh San tuh liat Bu Kamila sudah keluar dari ruangan Pak Anton. Tuh kan dia ga dandan aja cantik banget San." kata Gina sambil terkagum-kagum.
"Ih Mba Gina, cuma segitu doang apa cantiknya, kerempeng, masih seksi gue nih."
"Iiihhh yang lagi cemburu hahahhaha."
"Galak banget sih San! Nih udah selesai, ini map isinya dokumen kamu, ada ijazah yang dulu kami tahan, surat pengalaman kerja, kamu coba cek sendiri siapa tahu ada yang kurang, dan amplop ini isinya pesangon untukmu San, kamu beruntung loh Pak Anton kasih pesangon yang gede buat kamu."
Sandra lalu tampak sibuk mengecek semua berkas miliknya, dan saat dia melihat isi amplop pesangon untuknya, dia begitu terkejut karena amplop itu berisi uang yang cukup banyak.
"Udah Mba Gina, semua sudah lengkap. Terimakasih ya. Sandra pamit, semoga kita tetap berteman baik dan bisa bertemu di lain kesempatan."
"Iya San, kami hati-hati di jalan. Semoga cepet dapet kerjaan lagi ya San."
Sandra hanya mengangguk lalu pergi dari kantor itu. Dia lalu mengambil ponsel miliknya dan membuka salah satu pesan dari Pak Anton.
Pak Anton:
Tolong jangan ganggu kehidupanku dan keluargaku lagi.
Sandra hanya mengabaikan pesan itu. "Pak Anton kamu pikir uang seratus juta yang kau berikan itu cukup untuk membayar semua rasa sakit hatiku padamu?" kata Sandra.
Dia lalu menuju parkiran dan menaiki sepeda motor miliknya, tak lupa dia mengenakan jaket serta masker yang telah dia persiapkan. Lalu mengendarai sepeda motor tersebut dengan kecepatan yang sangat tinggi. Netranya tampak begitu awas mencari sesuatu di jalanan. 'Ketemu.' batinnya dalam hati saat melihat sebuah mobil berwarna merah sedang berhenti di salah satu lampu merah. Sandra lalu mengikuti mobil tersebut yang tampak berhenti di sebuah toko kue. Sandra pun mengamati wanita itu turun dan masuk ke dalam toko kue, saat wanita itu keluar Sandra tersenyum sinis ke arahanya.
'Akan kubuat kamu cacat Ibu Kamila sayang, sehingga Pak Anton tak lagi tertarik padamu.'
Dia lalu memacu motornya dengan kecepatan tinggi untuk menabrak wanita itu, namun sayang saat jarak sudah begitu dekat ada seorang lelaki menyelamatkan wanita itu, dengan mendorongnya ke arah depan ruko toko kue, sehingga rencana Sandra pun gagal.
Sandra yang begitu kesal, hanya bisa berteriak dan memaki di sepanjang jalan. "Sialan, siapa sih tu cowok, ganggu rencana gue aja!"
Kamila begitu syok dengan kejadian yang dialaminya. Dia lalu memandang laki-laki yang sudah menyelamatkannya. "Mas, Mas gapapa kan? Terimakasih banyak Mas sudah menyelamatkan saya."
"Iya gapapa Mba, saya baik-baik saja. Mba ga ada yang luka kan?"
"Alhamdulillah saya baik-baik saja Mas, hanya kaget."
"Tolong ini kue dibawa ya untuk Mas, sebagai ucapan terimakasih dari saya."
"Tidak usah Mba, saya pergi dulu. Saya sedang banyak urusan." kata laki-laki itu sambil berlalu pergi.
Kamila hanya bisa memandang kepergiannya, lalu masuk ke mobil dan pulang ke rumahnya. Sesampainya di rumah, ponselnya langsung berbunyi. 'Mas Anton?'
"Sayang keadaan kamu gimana? motor itu belum sempat menabrakmu kan?"
"Aku gapapa Mas, kamu tenang saja."
"Benar kamu tidak apa-apa sayang?"
"Beneran Mas, tadi aku diselamatkan oleh seseorang tapi saat aku belum selesai ngucapin terimaksih dia sudah pergi."
"Oh ya sudah kalau begitu, hari ini kamu istirahat di rumah saja ya sayang, jangan kemana-mana, biar Pak Usman yang nanti jemput Amanda."
"Iya Mas, eh tapi ngomong-ngomong kamu tahu dari siapa aku tadi hampir ketabrak?"
"Emhhh... dari itu?"
"Mas? kamu tahu dari siapa?"
"Emh dari toko kuenya sayang, kebetulan kantorku langganan di toko kue itu kalau ada rapat dan acara penting lainnya."
"Ohhh ya sudah, aku mau bantuin Mba Murni masak dulu ya Mas, sebentar lagi Manda pulang."
"Iya sayang kamu pokoknya harus hati-hati."
"Iya Mas."
"Hampir saja." kata Anton sambil menutup teleponnya.