Orang Tua Untuk Bayiku

Orang Tua Untuk Bayiku
Happiness


Kami melangkah masuk ke dalam rumah sakit, sampai pada sebuah ruangan ICU kulihat dari balik kaca seorang wanita paruh baya tampak sedang tertidur, selang-selang kecil tampak menempel di beberapa bagian tubuhnya.


"Mas Ibu sakit apa?"


"Komplikasi Mila, penyakit jantung dan ginjal."


"Astaghfirullah hal adzim, kamu yang sabar Mas, Ayah mana?"


"Iya Mila, Ayah sedang pulang ke rumah sebentar mengambil beberapa barang milik Ibu."


Kami lalu pergi duduk di taman rumah sakit tak jauh dari ruang ICU. "Bagaimana kabarmu Mila? Sudah lama kita tak bertemu, maaf baru sempat bertanya, tadi aku begitu panik sampai tak sempat menanyakan kabarmu."


"Baik Mas, kamu sendiri bagaimana?"


"Aku tidak pernah baik sejak kita berpisah Mila, hidupku sudah begitu hampa, hanya Amanda yang bisa mengobati kehampaanku meskipun hanya sejenak karena aku tak bisa bertemu dengannya setiap saat."


Hatiku terasa sakit mendengar kata-katanya, begitu banyak yang ingin kukatakan namun lidahku kelu. "Mas, maafkan aku sudah mengabaikanmu."


"Tak apa, yang terpenting bagiku adalah kebahagiaanmu, Mila apakah kesalahanku begitu besar sehingga kamu tidak pernah bisa memaafkanku dan memberikan kesempatan padaku sekali saja? Apa kita tidak bisa menjadi orang tua yang utuh bagi Amanda?"


Butiran bening mulai menetes di pipiku. "Maafkan aku Mas."


"It's oke Mila, maaf jika kata-kata ku membuatmu sedih."


"Iya Mas, aku bukannya tak bisa menerimamu, tapi aku yang sudah tak lagi pantas mendampingimu, tubuhku bahkan sudah begitu kotor, tak pantas untuk orang baik sepertimu Mas."


"Maksud kamu Mila?"


"Carilah wanita lain yang lebih baik dariku Mas."


"Tidak ada wanita sebaik kamu Mila, kamu adalah satu-satunya wanita dalam hidupku yang benar-benar aku cintai."


"Aku tidak sebaik itu Mas, aku tak sebaik yang kamu pikirkan, bahkan aku begitu kotor."


"Apa yang sebenarnya terjadi pada hidupmu Mila?"


Aku hanya menangis terisak mendengar pertanyaan Anton. 'Apakah harus kukatakan yang sebenarnya terjadi padaku?'


"Mas maaf aku belum bisa mengatakannya." Namun tiba-tiba Anton menggenggam tanganku dan memelukku begitu erat.


"Aku merindukanmu Mila, jangan pernah tinggalkan aku lagi, aku sudah begitu menderita selama sepuluh tahun terakhir ini, sungguh begitu berat hidupku tanpamu."


"Mas aku kotor, kamu tidak tahu apa yang sebenarnya terjadi padaku!"


"Apa yang sebenarnya terjadi padamu Mila?"


Aku menangis, namun aku tak mau memberi harapan palsu pada Anton, aku ingin dia tahu keadaanku agar bisa secepatnya melupakanku.


"Mas beberapa bulan yang lalu aku telah melahirkan seorang anak."


Anton begitu terkejut mendengar kata-kata ku. "Tidak mungkin Mila."


"Tapi inilah kenyataannya Mas."


Aku lalu mengambil ponsel milikku dan kuperlihatkan fotoku saat baru melahirkan di rumah sakit.


"Itulah sebabnya saat kau datang ke rumahku beberapa bulan yang lalu aku tidak berada di rumah, aku sedang di Madiun Mas."


"Lalu dimana anakmu Mila, siapa ayahnya?"


"Randi Mas, aku yang sudah begitu bodoh terbuai oleh rayuannya, kami lalu menjalin hubungan terlarang di belakang istri Randi hingga aku hamil, saat aku hamil dia mencampakkan aku begitu saja, itulah yang menjadi penyebab kematian Ibuku Mas, Randi memang begitu licik, dia melakukan semua ini pada keluarga kami untuk membalaskan dendamnya pada Ayah."


"Astaghfirullah hal adzim, lalu dimana bayi itu sekarang?"


"Keluargaku begitu malu dengan perbuatanku. Saat aku hamil besar, aku berniat pergi ke rumah Mba Tari, salah satu temannya ada yang berniat mengadopsi bayiku, namun saat dalam perjalanan ke Bandara, mobil Mba Rani mogok. Aku lalu diculik Randi, dia juga memperkosaku dan membuangku begitu jauh sampai ke Banyuwangi, dia berniat membunuhku dengan membuangku ke dalam hutan, namun takdir berkata lain, aku bisa berhasil selamat dan ditolong orang yang begitu baik, dialah yang mengadopsi anakku sekarang Mas. Mereka pasangan suami istri yang telah menikah bertahun-tahun namun tidak memiliki keturunan."


"Kejadian yang telah kualami tidak ada hubungannya denganmu Mas, aku pun tidak mau kamu ikut terjerumus ke dalam masalahku."


"Setidaknya jika kamu mau berkomunikasi denganku, kamu tidak perlu memberikan anakmu pada orang lain, kita bisa membesarkan dia bersama-sama menjadi satu keluarga dengan Amanda."


"Mas apa maksudmu? Aku sudah begitu kotor, tidak mungkin aku bisa bersanding lagi denganmu, lihatlah aku Mas, tubuhku bahkan sudah terjamah oleh manusia bejad seperti Randi."


"Tapi aku hanya mencintaimu, aku tak peduli apapun yang telah terjadi padamu, yang kutahu aku begitu mencintaimu, apa kamu sudah lupa dengan janjiku jika aku hanya akan menikah denganmu?"


Aku begitu terkejut mendengar perkataan Anton, aku tak menyangka dia bisa menerimaku dengan semua kenangan kelamku. Dia menggenggam tanganku dan memelukku. Anton memang bukan Randi, dia yang selalu mencintaiku dan menerimaku apa adanya. Janji yang Anton ucapkan adalah janji seorang laki-laki sejati, bukan janji palsu seperti Randi. Aku memang begitu bodoh tidak bisa membedakan antara kepalsuan dan ketulusan.


"Mila kembali lah padaku."


Aku hanya bisa mengangguk dalam pelukannya. Saat baru saja melepas pelukan, ponsel Anton tiba-tiba berbunyi. "Iya ada apa yah?"


Wajah Anton yang tenang berubah menjadi sangat panik.


"Mila, Ibu Mila kita harus cepat menemuinya!"


Aku mengangguk, kami lalu berlari dan pergi ke ruang ICU. Dibalik kaca tampak Ibu sedang menoleh ke arah kami, tangannya seperti menunjuk sesuatu. Seorang dokter lalu keluar dari ruang ICU.


"Ada yang bernama Nyonya Kamila?"


"Saya dok."


"Silahkan temui Nyonya Angela, dia ingin berbicara dengan anda sebentar."


Aku lalu masuk ke dalam ruangan ICU. Kulihat Ibu Anton terbaring, wajah jumawa dan tubuhnya yang begitu anggun telah hilang berganti menjadi wajah teduh dan tubuh yang rapuh.


Dia tersenyum melihat kedatanganku, beberapa selang yang menempel di tangannya tak menyurutkan keinginannya untuk menggenggam tanganku. "Mila maa maaf.." katanya begitu lirih dan terbata, aku tahu dia begitu sulit untuk berbicara. Aku mengangguk lalu mendekat pada tubuhnya.


"Jangan banyak bergerak dan berbicara Bu, kondisi Ibu sedang tidak memungkinkan. Mari kita saling memaafkan, Mila juga punya banyak salah sama Ibu, kita lupakan masa lalu Bu, dan buka lembaran baru, Ibu harus sembuh, Ibu harus bisa menemani Amanda sampai dewasa." kataku sambil menangis.


Sungguh aku tak tega dan begitu sedih melihat keadaan Ibu. Ibu tersenyum mendengar kata-kataku, lalu wajahnya memandang langit-langit kamar, dia tampak terengah-engah dan begitu sulit bernafas, aku lalu pergi memanggil dokter.


Dibalik cermin, kami melihat dokter dibantu beberapa perawat begitu sibuk menangani kondisi ibu yang tampak memburuk. Tiba-tiba aku melihat alat Elektrokardiogram di samping Ibu sudah berhenti, aku hanya bisa menangis.


Tak lama dokter keluar dan memberitahu jika Ibu sudah meninggal. Aku begitu sedih mendengarnya, ternyata hari ini benar-benar menjadi pertemuan terakhirku dengannya. Anton dan Ayahnya meskipun begitu terpukul akan kepergian Ibu namun mereka terlihat tenang, seolah sudah siap jika kemungkinan buruk terjadi.


Aku mengambil paper bag di depanku setelah membayar barang belanjaan milikku. Kemudian kulihat cincin yang kini melingkar di jari manisku. Aku tersenyum melihatnya, aku bahkan tak menyangka semua ini terjadi padaku, aku berfikir jika aku takkan pernah bisa mendapatkan lagi kebahagiaan setelah apa yang terjadi dalam hidupku.


"Mamaaa." lamunanku dikejutkan oleh suara Amanda.


"Amanda, kok sendiri Papa sama Brian mana?"


"Itu di belakang lagi beli es krim."


"Cari aku cantik." tiba-tiba Anton telah berdiri di sampingku dan menciumku.


"Mas apa-apaan sih, ini di tempat umum loh."


"Memangnya kenapa? kita kan suami istri."


Jawaban yang begitu enteng sungguh membuatku gemas lalu memukul kepalanya. "Mama Papa udah jangan berantem tuh malu diliatin orang, kasian dede Brian jadi bingung."


Kami lalu tertawa mendengar kata-kata Amanda. Inilah keluarga keciku yang amat kusayangi, beberapa bulan setelah Ibu Anton meninggal, kami rujuk dan tak terasa usia pernikahan kami sudah berjalan selama tiga tahun. Kehadiran anak kedua yang kami beri nama Brian pun semakin menambah kebahagiaan dalam keluarga kecil ini.


Meskipun aku kini telah memiliki keluarga baru, namun aku tidak pernah melupakan Kevin, aku masih berhubungan baik dengan Bu Winda, bahkan mereka ikut hadir saat acara resepsi pernikahanku dengan Anton.


Saat berjalan ke luar dari Mall tiba-tiba ponselku berbunyi. "Mas telepon dari Bu Sugeng, aku angkat dulu ya, kamu tolong jaga Brian."


Anton mengangguk lalu mendorong stroler Brian ke arah mobil.


"Ya Bu kenapa?" Namun tidak ada jawaban, yang kudengar hanya tangisan.