
Meskipun ragu, kulangkahkan kaki ini mendekat padanya. "Kamila maukah kau ikut denganku sebentar saja?"
"Kemana Mas?"
"Ke Jogja Mila, menemui Ibuku."
Kamila tampak begitu terkejut mendengar kata-kataku. "Mila maafkan semua kesalahan Ibu Mila, kondisinya sedang sangat kritis, dia hanya ingin bertemu denganmu Mila, tolong hilangkan semua rasa bencimu padanya."
"Aku tidak pernah membenci Ibu kamu Mas, aku hanya terkejut mendengar jika Ibu sedang sakit, ayo kita pergi sekarang Mas."
Kemudian kami masuk ke dalam mobil. Aku mengendarai mobil dengan begitu kencang, namun sesekali kupandang wajahnya, dia masih begitu cantik sama seperti dulu, meskipun usianya tak lagi muda. Aku tak mau melewati kebersamaan ini, karena aku tak tahu kapan aku bisa sedekat ini lagi dengannya. Sebenarnya aku begitu sulit mengendalikan getaran di dada, meski beberapa kali kulihat dia tampak memandangku dengan tatapan yang tak biasa, bukan tatapan kebencian tapi tatapan cinta. 'Apakah Kamila mencintaiku lagi?' batinku dalam hati, namun kutepis perasaan itu, aku tidak mau berharap apapun padanya. Tiba-tiba dia memulai sebuah percakapan denganku.
"Mas, maafkan sikapku selama ini yang telah mengabaikanmu, aku sudah begitu keterlaluan padamu, bagaimanapun juga kamu adalah Ayah kandung Amanda, tidak seharusnya aku bersikap buruk padamu."
"Sudah Mila, semua sudah berlalu, jangan terlalu dipikirkan, aku dengar dari Mba Rani kamu baru saja dari Madiun?"
"Iya Mas."
Tiba-tiba aku melihat Kamila menangis. "Mila kenapa kamu menangis? Apa ucapanku ada yang salah? maafkan aku Mila."
"Bukan Mas, ini tidak ada hubungannya denganmu Mas." katanya sambil tersenyum, dia lalu menggenggam tanganku. Saat tangan hangatnya menyentuh jemariku, hatiku rasanya ingin menjerit dan berteriak. Sungguh aku merasa begitu bahagia, tak kusangka sikap Kamila sekarang begitu bersahabat denganku.
'Apakah benar yang dikatakan Mas Raka jika Kamila pasti akan menerimaku kembali? Namun apa sebenarnya yang telah terjadi dalam hidup Kamila?'
Begitu banyak pertanyaan berkecamuk, namun aku mencoba untuk kembali fokus mengendarai mobil, karena jalanan sudah begitu ramai, akhirnya kami pun sampai. Kami melangkah masuk ke dalam rumah sakit, sampai pada sebuah ruangan ICU, Kamila tampak begitu terkejut melihat keadaan Ibu.
"Mas Ibu sakit apa?"
"Komplikasi Mila, penyakit jantung dan ginjal."
"Astaghfirullah hal adzim, kamu yang sabar Mas, Ayah mana?"
"Iya Mila, Ayah sedang pulang ke rumah sebentar mengambil beberapa barang milik Ibu."
Kami lalu pergi duduk di taman rumah sakit tak jauh dari ruang ICU. Kuberanikan diri untuk berbasa-basi dengannya. "Bagaimana kabarmu Mila? Sudah lama kita tak bertemu, maaf baru sempat bertanya, tadi aku begitu panik sampai tak sempat menanyakan kabarmu."
"Baik Mas, kamu sendiri bagaimana?"
"Aku tidak pernah baik sejak kita berpisah Mila, hidupku sudah begitu hampa, hanya Amanda yang bisa mengobati kehampaanku meskipun hanya sejenak karena aku tak bisa bertemu dengannya setiap saat."
"Mas, maafkan aku sudah mengabaikanmu."
"Tak apa, yang terpenting bagiku adalah kebahagiaanmu, Mila apakah kesalahanku begitu besar sehingga kamu tidak pernah bisa memaafkanku dan memberikan kesempatan padaku sekali saja? Apa kita tidak bisa menjadi orang tua yang utuh bagi Amanda?"
Butiran bening mulai menetes di pipinya. "Maafkan aku Mas."
"It's oke Mila, maaf jika kata-kata ku membuatmu bersedih."
"Maaf Mas, aku bukannya tak bisa menerimamu, tapi aku yang sudah tak lagi pantas mendampingimu, tubuhku bahkan sudah begitu kotor, tak pantas untuk orang baik sepertimu Mas."
"Apa maksud kamu Mila?" Kuberanikan diri bertanya tentang apa yang sebenarnya telah terjadi padanya. Aku juga sudah menguatkan hatiku jika kemungkinan buruk telah terjadi pada Kamila.
"Carilah wanita lain yang lebih baik dariku Mas."
"Tidak ada wanita sebaik kamu Mila, kamu adalah satu-satunya wanita dalam hidupku yang benar-benar aku cintai."
"Apa yang sebenarnya terjadi pada hidupmu Mila?"
Kamila hanya menangis terisak mendengar pertanyaanku. 'Tolong Mila katakan padaku, aku akan menerimamu apa adanya.' kataku dalam hati.
"Mas maaf aku belum bisa mengatakannya."
Aku yang sudah tak bisa lagi mengendalikan perasaanku lalu kuberanikan diri untuk menggenggam tangannya. Kamila pun tidak menolak, begitu juga saat aku mencoba memeluknya. Dia bahkan membalas pelukannku dan menangis dalam dekapanku.
"Aku merindukanmu Mila, jangan pernah tinggalkan aku lagi, aku sudah begitu menderita selama sepuluh tahun terakhir ini, sungguh begitu berat hidupku tanpamu."
"Mas aku kotor, kamu tidak tahu apa yang sebenarnya terjadi padaku!"
"Apa yang sebenarnya terjadi padamu Mila?"
"Mas beberapa bulan yang lalu aku telah melahirkan seorang anak."
Aku sebenarnya begitu terkejut mendengar kata-kata Kamila, tapi hal ini sudah kuperhitungkan sebelumnya, jika Kamila pasti telah mengalami hal yang begitu buruk. Namun aku mencoba untuk bersikap realistis seolah-olah aku tak mengetaui apapun tentangnya.
"Tidak mungkin Mila."
"Tapi inilah kenyataannya Mas."
Dia mengambil ponsel miliknya dan memperlihatkan foto saat dia baru melahirkan di rumah sakit.
"Itulah sebabnya saat kau datang ke rumahku beberapa bulan yang lalu aku tidak berada di rumah, aku sedang di Madiun Mas."
"Lalu dimana anakmu Mila, siapa ayahnya?"
"Randi Mas, aku yang sudah begitu bodoh terbuai oleh rayuannya, kami lalu menjalin hubungan terlarang di belakang istri Randi hingga aku hamil, saat aku hamil dia mencampakkan aku begitu saja, itulah yang menjadi penyebab kematian Ibuku Mas. Randi memang begitu licik, dia melakukan semua ini pada keluarga kami untuk membalaskan dendamnya pada Ayah."
"Astaghfirullah hal adzim, lalu dimana bayi itu sekarang?". Aku sebenarnya tidak begitu terkejut, karena aku sudah menyangka Kamila akan berhubungan lagi dengan Randi, namun aku tak menyangka Randi tega berbuat sejahat itu pada Kamila.
"Keluargaku begitu malu dengan perbuatanku, saat hamil aku berniat pergi ke rumah Mba Tari, salah satu temannya ada yang berniat mengadopsi bayiku, namun saat dalam perjalanan ke Bandara, mobil Mba Rani mogok, aku lalu diculik Randi, dia juga memperkosaku dan membuangku begitu jauh sampai ke Banyuwangi, dia berniat membunuhku dengan membuangku ke dalam hutan, namun takdir berkata lain, aku bisa berhasil selamat dan ditolong orang yang begitu baik, dialah yang mengadopsi anakku sekarang Mas, mereka pasangan suami istri yang telah menikah bertahun-tahun namun tidak memiliki keturunan."
Air mataku menetes, sebuah rasa sakit dan sedih berkecamuk dalam hatiku, sungguh aku merasa begitu tak berguna, hingga tak sanggup menjaga wanita yang begitu kucintai. Aku kemudian memeluknya. "Maafkan aku Mila, aku tidak tahu semua kejadian buruk yang telah terjadi padamu, sungguh aku laki-laki yang tidak berguna."
"Kejadian yang telah kualami tidak ada hubungannya denganmu Mas, aku pun tidak mau kamu ikut terjerumus ke dalam masalahku."
"Setidaknya jika kamu mau berkomunikasi denganku, kamu tidak perlu memberikan anakmu pada orang lain, kita bisa membesarkan dia bersama-sama menjadi satu keluarga dengan Amanda."
"Mas apa maksudmu? Aku sudah begitu kotor, tidak mungkin aku bisa bersanding lagi denganmu, lihatlah aku Mas, tubuhku bahkan sudah terjamah oleh manusia bejad seperti Randi."
"Tapi aku hanya mencintaimu, aku tak peduli apapun yang telah terjadi padamu, yang kutahu aku begitu mencintaimu, apa kamu sudah lupa dengan janjiku jika aku hanya akan menikah denganmu?"
Aku sebenarnya tak yakin Kamila mau menerimaku kembali, namun aku sudah cukup lega bisa mengeluarkan semua isi hatiku selama bertahun-tahun.
"Mila kembali lah padaku."
Tak kusangka Kamila mengangguk, dia juga memeluk tubuhku begitu erat. Sungguh aku merasa bahagia, seluruh tubuhku rasanya bergetar dan jantung ini berdetak semakin kencang. Selama sepuluh tahun aku menunggunya, ternyata penantianku tak sia-sia. Meski rasa bahagia ini sedikit tertutup karena kondisi kesehatan Ibu saat ini. Saat baru saja melepas pelukan, ponselku tiba-tiba berbunyi.
"Iya ada apa yah?"
"Mila, Ibu Mila kita harus cepat menemuinya!"