
"Nenek? Nenek lagi ngapain di kamar Shakila?"
"Emh.. Eh.. Shakila, nenek cuma lagi cari kamu."
"Cari Shakila?"
"Iya Shakila, tadi Reno cari kamu makanya nenek nyariin kamu ke kamar."
"Ooh kalau itu sih Shakila udah ketemu sama Reno."
"Benarkah?"
"Tentu, bahkan Shakila sudah mengobrol cukup lama dengan Reno."
"Oh ya sudah Shakila, kalau begitu nenek keluar dulu." kata Fatma sambil tersipu malu.
'Gagal deh, padahal ini kesempatan bagus untuk mengambil salah satu perhiasan milik Shakila.' batin Fatma sambil bersungut-sungut saat dia keluar dari kamar Shakila, kemudian dia merebahkan tubuhnya di atas sofa lalu menonton televisi.
"Selamat siang Tante Fatma."
"Ee..eh Anton." jawab Fatma sedikit gugup.
"Sepertinya hari ini Tante tampak sehat dan begitu bahagia."
"Ya, begitulah Anton."
"Bukankah Tante selalu ingin hidup sehat dan bisa berumur panjang?"
"Tentu, setiap orang menginginkan itu."
"Baiklah, kalau begitu sebaiknya Tante tidak usah mengganggu hidup Kamila lagi."
"Hei, kamu mau mengancamku Anton?"
"Tidak, tidak ada yang ingin mengancam anda Tante Fatma. Apakah kata-kata yang kuucapkan tadi tampak seperti sebuah ancaman?"
Fatma hanya bisa diam mendengar kata-kata Anton. 'Dia memang benar-benar pintar bersilat lidah.' gumamnya.
"Bagaimana Tante Fatma? Anda masih ingin memiliki umur yang panjang kan? Kalau anda masih ingin memiliki umur yang panjang tolong pertimbangkan kata-kata saya." kata Anton sambil tersenyum dan pergi meninggalkan Fatma yang masih menggerutu.
Anton lalu masuk ke dalam kamar sambil tersenyum. "Mas, kamu kenapa sih? senyum-senyum sendiri?"
"Gapapa sayang, aku cuma habis berbicara dengan Tante Fatma."
"Aku tahu pasti kamu mengerjainya?"
"Hahahaha hanya sedikit sayang, orang seperti dia memang harus diberi sedikit pelajaran."
Hahahaha, dasar kamu Mas, kamu memang selalu penuh kejutan, inilah yang membuatku begitu mencintaimu." kata Kamila sambil memeluk Anton.
Fatma tampak bersungut-sungut masuk ke dalam kamarnya. Tampak Reno sedang tertidur begitu pulas di atas tempat tidur.
"Renooooo!!!!"
"Mama, Mama kenapa sih? Ganggu tidur siang aja!!!"
"Sempat-sempatnya kamu tidur siang Reno disaat situasi lagi genting kaya gini!"
"Genting, genting gimana maksud Mama?"
"Anton Reno, Anton suaminya Kamila, dia sudah berani mengancam Mama."
"Berani banget dia Ma, memang dia siapa? Reno akan hajar Anton sekarang juga."
Reno laku bangkit dari atas tempat tidur, namun Fatma mencegahnya kemudian menarik tangan Reno untuk kembali duduk.
"Mama apa-apaan sih? Reno kan mau membela Mama!"
"Percuma Reno, saat ini kita akan kalah melawan mereka."
"Apa maksud Mama?"
"Kita harus berfikir dengan kepala dingin jika ingin memperoleh kemenangan untuk menghadapi mereka Reno."
"Apa maksud Mama? Reno ga ngerti."
"Reno, Kamila memiliki tiga orang anak, Amanda, Kevin, dan Brian. Tahukah kamu jika Kevin adalah darah daging Randi? Randi pernah memiliki hubungan gelap dengan Kamila saat dia sedang bercerai dengan Anton."
"Ja.. Ja jadi Kevin itu anak Randi Ma?"
"Ya Kevin, dan kita harus merebut hak asuh Kevin karena dia mewarisi harta yang begitu banyak yang diberikan oleh orang tua angkatnya."
"Lalu dimana orang tua angkat Kevin Ma?"
"Dia sudah meninggal karena kecelakaan."
"Hahahaha... Hahahaha kenapa Mama baru membicarakan dengan Reno sekarang?"
"Iya, iya deh Ma."
"Lalu apa rencana kita selanjutnya?"
"Itu yang masih Mama bingungkan Reno. Mama sudah berusaha mengancam Kamila tapi ternyata Anton malah mengancam balik Mama."
Reno dan Fatma kemudian terdiam dan sibuk dengan pikiran masing-masing. Tiba-tiba senyum licik menghiasi bibirnya. "Hahahaha."
"Kenapa Reno? kenapa aku tiba-tiba tertawa?"
"Mama, kita akan menang melawan mereka dengan begitu mudah."
"Benarkah?"
"Tentu, untuk apa Reno bohong sama Mama."
"Lalu apa rencanamu Reno?"
"Mama, bukankah Kamila adalah cinta pertama Randi?"
"Ya."
"Dan Randi pernah memiliki hubungan gelap dengan Kamila, dan dia juga pernah mem*rkosanya?"
"Ya, darimana kau tahu semua itu Reno?"
Reno lalu tersenyum, kemudian dia tampak sibuk mengutak-atik ponselnya. "Lihat ini Ma." kata Reno sambil memperlihatkan sesuatu di ponselnya.
"Hahaha... Hahahaha bagus Reno, bagus, kita pasti akan dengan mudah merebut hak asuh Kevin." kata Fatma diiringi derai tawa yang menggema di seluruh sudut kamar
Acara prosesi pernikahan pun dimulai sore ini, diawali dengan proses pengajian dan siraman pada keesokan harinya. Kamila begitu lega karena dua hari ini dia tidak mendapat gangguan lagi dari Fatma.
"Terimakasih Mas." kata Kamila sambil mengecup bibir Anton.
"Untuk apa sayang?"
"Tante Fatma sudah tidak menggangguku, tampaknya dia takut mendengar ancamanmu."
"Hahahaha aku hanya sedikit bermain dengannya sayang." kata Anton sambil memeluk Kamila dengan begitu erat.
"Ya sudah, aku tidur dulu ya Mas, aku cape, banyak hal yang kukerjakan tadi untuk membantu Wina."
"Iya sayang tidurlah, besok pasti juga akan jauh lebih sibuk." kata Anton sambil membelai rambut Istrinya.
Dendang lagu-lagu khas pernikahan pun berkumandang. Wina tampak masuk ke kamar Shakila dengan begitu terburu-buru.
"Mba, udah selesai belum? Sebentar lagi udah mau ijab qabul nih." kata Wina pada seorang MUA."
"Sudah Bu Wina. Mba Shakila sudah selesai."
Wina lalu menghampiri putrinya. "Duh, kamu cantik banget sih sayang."
"Semua perempuan cantik Ma."
"Ya udah kita turun ke bawah yuk, kamu udah ditunggu."
Wina lalu menggandeng Shakila ke meja akad nikah. Tampak seorang lelaki muda tengah duduk di depan penghulu menunggu kedatangan Shakila.
Fatma yang melihat hanya bisa mencibir melihat Shakila akan melangsungkan akad nikah. 'Coba kalau dulu Wina mau membebaskan Randi, pasti sekarang Shakila bisa melangsungkan akad nikah dengan ditemani ayah kandungnya.' gumam Fatma.
"Kenapa Ma." tanya Rusli, suaminya.
"Gapapa, cuma bayangin kalau Randi ada disini, semua itu salah Wina, dia yang ga mau bebasin Randi, malah memperberat hukumannya."
"Mama, itu semua sudah berlalu, dan memang Randi melakukan banyak kesalahan pada Wina, jadi wajar Wina memberi pelajaran pada Randi."
"Papa, memang selalu menyebalkan." gerutu Fatma.
"Ma."
"Reno, darimana aja kamu? Dari tadi Mama tungguin."
"Lihat saja sebentar lagi Ma." kata Reno sambil mengedipkan sebelah matanya.
Kamila dan Anton duduk tak jauh dari Fatma dan Reno, keduanya tampak begitu asyik melihat upacara akad nikah yang sedang berlangsung. Tiba-tiba ponsel Kamila berdering, sebuah pesan pun masuk ke ponselnya.
Hati Kamila begitu hancur, air mata mulai jatuh dari sudut matanya. 'Tidak, kenapa ini semua bisa terjadi? hancur sudah hidupku.' gumam Kamila disertai air mata yang mulai mengalir begitu deras. Tubuhnya seakan begitu lemas, dia lalu menyandarkan tubuhnya pada Anton dan menggenggam tangan suaminya begitu erat.
"Mas." kata Kamila lirih.
"Sayang, apa yang sudah terjadi sayang?"
Tiba-tiba kepala Kamila begitu pusing. "Kamila, Kamila sayang." suara Anton lambat laun terdengar samar dan menghilang, lalu pengelihatannya pun berubah menjadi gelap.