
"Sayang." kata Anton.
"Sayang." namun yang dipanggil hanya terdiam.
"Yah udah cerita panjang lebar malah tidur. Pasti pas bagian lingerie dia udah tidur makanya dia ga ngamuk. hahahaha."
"Mas, kok ketawa sih. Eh aku ketiduran ya Mas? sampe mana tadi ya?"
"Udah tidur aja sayang kita lanjut besok aja, udah malem, besok kita harus antar Amanda pagi-pagi."
"Ya udah deh, aku juga udah ngantuk banget. Tapi bener ya besok lanjut lagi."
"Iya sayang." jawab Anton sambil mencium kening kemudian memeluk istrinya.
Keesokan paginya pukul 06.00 pagi mereka semua sudah sampai di Bandara. Kamila tak henti-hentinya menangisi putrinya.
"Udah Mah, jangan nangis terus, kita kan masih sering bisa ketemu. Pah, liat tuh Mama nangis mulu, tenangin dong. Perasaan Manda jadi ga enak nih kalo kaya gini."
"Iya sayang bener kata Manda, tenangin diri kamu. Kita masih bisa sering ketemu Manda kok."
Kamila lalu mengangguk, kemudian memeluk putrinya lagi. "Kamu jaga diri ya sayang, kabari mama sama papa kalau udah sampai."
"Iya Mama sayang, lagian Manda kan juga tinggal di asrama, kalian semua ga usah khawatir deh."
"Kevin, Brian, kak Manda pergi dulu ya. Kalian belajar yang rajin, jangan nakal sama Papa Mama."
"Siap kak." kata mereka bersamaan.
Kamila yang masih sedih lalu tertawa melihat kedua putranya. Amanda lalu masuk untuk check in dan menunggu di waiting room.
Kamila dan Anton lalu pulang dan mengantar Kevin dan Brian ke sekolah. Sesampainya di sekolah, kedua kakak beradik itu langsung turun dari mobil.
"Dadah Papa dadah Mama.."
"Kalian belajar yang rajin ya sayang."
"Nanti kalian dijemput sama Pak Usman ya sayang, papa sama mama ada urusan." kata Anton
"Oke Pah."
Anton lalu melajukan mobilnya kembali. "Mas gimana sih, kok anak-anak dijemput Pak Usman, kamu kan hari ini ga ke kantor Mas, terus kita ada urusan apa sih?"
"Iya dong, kita mau kan istirahat sayang."
"Istirahat?"
"Memangnya kamu ga cape tiap hari ngurusin anak-anak?"
"Cape sih, tapi kan bisa istirahat di rumah Mas."
"Kamu ga bosen di rumah terus?"
"Kita mau kemana nih Mas jangan tebak-tebakan gitu deh."
Anton lalu mengendarai mobilnya masuk ke sebuah hotel bintang lima. "Kita istirahat di sini aja ya sayang biar ga ada yang ganggu. hahahaha."
"Mas, kamu ada-ada aja sih, nanti anak-anak gimana?"
"Kamu ga usah khawatir, nanti sore juga kita pulang kok."
"Ya udah deh kalau gitu." kata Kamila sambil bergelayut manja dan mulai menc*um bibir suaminya.
"Sabar dong sayang."
Perjalanan selama dua jam membuat tubuh Amanda sedikit lelah, biasanya saat menaiki pesawat ada mamanya yang selalu menyiapkan segala keperluannya. Mulai sekarang dia harus melakukan semuanya sendiri. Amanda tak menyangka hidup sendiri sepertinya akan terasa begitu berat baginya. 'Pantas saja Mama dari tadi nangis terus, dia pasti tahu aku akan kesulitan menjalani ini semua, tahu gitu aku lebih baik kuliah di UGM saja kaya Papa dan Mama.' batin Amanda dalam hati.
" Prince George's Park Block 20. National University of Singapore Mister."
"Okay."
Tiga puluh menit kemudian Amanda telah sampai di sebuah asrama. Dia lalu masuk ke asrama tersebut, setelah selesai melakukan administrasi dia lalu diarahkan menuju kamarnya. Amanda lalu masuk ke dalam kamar yang sebenarnya tidak terlalu kecil namun sangat berbeda dengan ukuran kamarnya di rumah.
Di dekat jendela kamar ada sebuah meja dan laci untuknya belajar, di sebelah meja ada tempat tidur berukuran 100x120 cm, sangat berbeda dengan ukuran tempat tidurnya di rumah. Lalu di sebrang tempat tidur ada sofa dan di sebelah sofa ada meja dan rak untuk menyimpan makanan dan peralatan makan.
"Lumayan." kata Amanda.
Dia lalu melangkahkan kakinya menuju ke jendela. 'Pemandangan yang bagus.' katanya sambil tersenyum.
Dia lalu merebahkan tubuhnya yang sudah sangat lelah. Kemudian dia mengambil ponselnya dan menghubungi Mamanya.
Tutttt tutt tutttt
"Kok ga diangkat sih, coba ke Papa deh."
Tutttt tutttt
"Kok sama-sama ga diangkat sih, pasti lagi mesra-mesraan deh! kapan ya bisa ngrasain rasanya dicintai dan disayangi kaya mama?' gerutu Amanda.
Sebenarnya sejak Amanda duduk di bangku sekolah menengah atas, banyak sekali teman-teman satu sekolahnya yang tertarik padanya. Amanda memang sangatlah cantik, tidak berbeda jauh dengan Kamila, yang membedakan hanyalah hidungnya yang lebih mancung sama seperti Anton. Selain itu postur tubuh Amanda sedikit lebih tinggi dari Kamila, selain bentuk hidung postur tubuhnya pun sama seperti Anton.
Namun Amanda belum diperbolehkan pacaran oleh kedua orang tuanya, sehingga dia selalu menolak laki-laki yang mendekatinya. Bahkan Anton selalu memperlihatkan wajah galak jika ada laki-laki yang datang ke rumahnya untuk menemui Amanda.
Akhirnya dia pun terlelap, dia terbangun saat hari sudah beranjak siang dan perutnya merasa lapar. Amanda lalu memutuskan mencari makanan di luar. Saat sedang sibuk memilih makanan yang akan dipilihnya tanpa sengaja Amanda menabrak seorang laki-laki.
Seorang laki-laki dewasa yang cukup tampan, memakai stelan jas berwarna abu-abu tua dengan warna dasi yang sama serta kemeja berwarna putih di dalamnya. Dia lalu membuka kaca matanya hitamnya. Amanda begitu terpesona dibuatnya.
"Mas, tuh kan Amanda dari tadi telpon. Perasaanku jadi ga enak nih."
"Telepon balik aja sayang, paling dia cuma mau kasih kabar ke kita kalau di udah sampe di Asrama." kata Anton.
Kamila lalu mencoba menelepon Amanda, namun tidak ada jawaban. "Mas, gimana nih, ga ada jawaban dari Amanda."
"Paling dia sedang istirahat sayang, kamu tahu sendiri kan perjalanan selama dua jam di dalam pesawat pasti membuat dia kelelahan, apalagi selama ini Amanda selalu hidup bergantung dengan kamu, sesampainya di Singapura pasti dia langsung kerepotan mengurus barang-barangnya dan mengurus dirinya di dalam asrama." kata Anton sambil terkekeh.
"Loh kok kamu malah becanda sih Mas, kasihan kan Amanda kalau dia kerepotan."
"Aku ga menertawakan Amanda sayang, dia sudah dewasa, sudah saatnya dia mandiri, kamu tidak perlu mengkhawatirkannya terlalu berlebih. Kamu masih ingat kan bagaimana awal kamu kuliah, orang tuamu juga memberikan kepercayaan untukmu, karena pada saat itu Mba Tari sudah selesai kuliah dan akan pergi ke Jakarta."
"Bukan gitu ceritanya Mas."
"Terus yang bener gimana ceritanya?"
"Yang bener kamu tiba-tiba deketin aku saat aku berdiri di depan gedung administrasi dan mengajakku berkenalan.hahahaha."
"Masih inget aja kamu."
"Kan kamu yang mulai duluan Mas."
Anton dan Kamila hanya bisa tertawa teringat masa-masa kuliah mereka dahulu.
Jantung Amanda kian berdetak kencang, saat laki-laki yang ada di hadapannya membuka kaca mata dan memperlihatkan wajahnya yang tampan.
"You from Indonesia?"
"Ye.. yes." jawab Amanda gugup.
"Kenalkan saya Ilham."