
Sudah hampir satu minggu ini Amanda tak bertemu Ilham, awalnya dia menganggap Ilham memang benar-benar sibuk mengurusi pekerjaannya. Namun kini hatinya mulai bertanya-tanya, karena Ilham pun semakin sulit dihubungi dan jarang membalas pesannya. Apalagi ada Evan yang sering berkata begitu menohok sehingga membuat Amanda menjadi semakin curiga pada Ilham.
Amanda pun teringat jika dia pernah diberi alamat apartemen milik Ilham, maka berbekal sedikit keberanian dia mendatangi alamat tersebut yang masih berada di komplek Orchard Road. Amanda yang sering mengunjungi Orchard Road saat mulai menjalin hubungan dengan Ilham pun merasa yakin jika dia bisa menemukan alamat tersebut.
Tak membutuhkan waktu lama, akhirnya Amanda bisa menemukan apartemen Ilham. Dia lalu masuk ke dalam apartemen dan menemui resepsionis di apartemen tersebut. Dari resepsionis Amanda tahu jika setiap hari Ilham pulang ke apartemen itu.
"Jadi Om Ilham benar-benar sudah membohongiku? dia bilang selama seminggu ini dia berada di Malaysia, namun ternyata satu minggu ini dia masih ada di sini." kata Amanda.
Tapi Amanda masih mencoba untuk berfikir positif. 'Mungkin Om Ilham sedang banyak pekerjaan jadi tidak ingin diganggu.' gumamnya dalam hati. Akhirnya Amanda pun memutuskan untuk pulang ke asrama karena hari sudah semakin sore.
Ketika Amanda akan memasuki Asrama, langkahnya terhenti karena Evan tiba-tiba mencegatnya.
"Anak manja, kamu habis darimana?"
"Bukan urusanmu."
"Tentu menjadi urusanku, karena besok kita ada ujian semester selama dua minggu, jika nilaimu jelek, adikku pasti sedih dan jika dia sedih maka akan sangat merepotkanku."
"Apakah benar seperti itu? apakah Sabrina bisa sedih jika nilaiku jelek?"
"Emmm.. eee.. iya tentu, Sabrina akan sedih jika nilaimu jelek."
"Kenapa kamu gugup? kamu tidak berbohong padaku kan?"
"Tentu tidak, apa untungnya aku membohongimu!"
"Benarkah?"
"Ya sudah, jika tak mau menerima nasehatku, percuma aku menunggumu begitu lama untuk memperingatkanmu!" kata Evan sambil meninggalkan Amamda.
"Ih kok malah sewot sendiri." kata Amanda sambil masuk ke dalam asrama.
Amanda lalu mandi dan makan malam, kemudian dia membuka materi kuliah untuk ujian esok hari. Berkali-kali Amanda membaca materi itu, namun sangat sulit untuk memahaminya. Pikirannya saat ini hanya dipenuhi oleh Ilham yang terasa begitu aneh akhir-akhir ini.
'Aku tidak boleh seperti ini, aku harus bisa belajar dengan baik agar tidak mengecewakan Papa dan Mama.' batin Amanda.
Akhirnya Amanda pun tertidur, dan sesuai dugaannya keesokan harinya dia begitu kesulitan dalam mengerjakan ujian. Amanda meninggalkan ruang ujian dengan begitu lesu, dia tidak berharap banyak ujian hari ini mendapat nilai yang cukup. Sabrina pun menghampirinya.
"Amanda, kamu kenapa?"
"Gapapa kok Sabrina."
"Karena laki-laki itu?"
Amanda hanya terdiam tak bisa memberi jawaban. "Amanda come on, selama ini aku selalu diam karena aku tak mau mengganggu privasimu, namun kini aku tak akan membiarkan hidupmu berantakan karena seorang laki-laki."
"Apa aku terlihat berantakan Sabrina?"
"Sangat berantakan Amanda, lihat wajahmu yang kusut, tubuhmu yang semakin kurus dan sekarang kamu mau mempertaruhkan nilaimu karena waktumu habis memikirkan laki-laki itu. Apa yang kau dapat darinya Amanda? Tidak ada, berubahlah Amanda, kasihan orang tuamu yang begitu menyayangimu, tapi kamu disini malah mengecewakan mereka."
"Kamu benar Sabrina, maukah kamu membantuku selama ujian ini agar pikiranku tak tertuju padanya."
"Tentu, datanglah ke tempatku dan kita akan belajar bersama."
"Terimakasih Sabrina, kamu sahabat terbaikku "
kata Amanda sambil memeluk Sabrina.
Di balik sebuah pohon, tampak laki-laki muda menyunggingkan senyum penuh kebahagiaan, namun lamunannya tiba-tiba dikejutkan seseorang. "Evan ngapain loe disini? Loe liatin Manda?" hahahhaha.
"Brisik aja loe Ray, gue lagi liatin adek gue, takut ada yang culik."
"Siapa yang mau culik adik loe di kampus?"
"Ga ada." jawab Evan sambil meninggalkan Ray yang masih tertawa.
Amanda lalu pulang ke asrama dan mengambil beberapa keperluan untuk belajar bersama Sabrina. Tak lupa dia mengirimkan pesan pada Ilham dan meminta untuk membatasi komunikasi selama Amanda menjalani ujian.
"Yessss."
"Ada apa Ham?"
"Amanda meminta agar tidak bertemu selama dia sedang ujian, dia juga meminta untuk membatasi komunikasi dua minggu terakhir ini karena dia ingin fokus belajar."
"Lalu?"
"Kita bebas selama dua minggu ini sayang, kita bisa berkencan tanpa takut diganggu oleh dia."
"Oh."
"Kok cuma oh sih?"
"Terus gue harus ngapain Ham?"
"Dasar nakal."
"Aku begini karenamu sayang."
"Ham kita liburan yuk?"
"Kemana?"
"Pulang ke Indonesia?"
"No, it's bad idea."
"Trus kemana?"
"Eropa?"
"Beneran nih mau ngajak ke Eropa "
"Kapan aku bohong?"
"Ayo, kita mau berangkat kapan?"
"Dua hari lagi sampai aku menyelesaikan bisnisku dengan Tuan Michelle."
"Okay."
Sudah beberapa hari ini Amanda menghabiskan waktu siangnya di hostel milik Sabrina, dan hal ini ternyata cukup ampuh untuk membuat Amanda sedikit melupakan Ilham dan membuatnya kini bisa mengerjakan ujian.
"Cinta memang benar-benar menyiksa ya Manda?"
Amanda hanya tersenyum mendengar kata-kata Sabrina.
"Karena dia cinta ke orang yang salah." kata Evan.
"Ih kakak ngapain sih ikut campur aja."
"Udah biarin aja Sabrina, lebih baik kita belajar lagi, masih banyak materinya nih."
"Okay."
Namun dalam hati Amanda sebenarnya merasakan rasa sakit yang begitu dalam. 'Come on Amanda kamu pasti bisa.' kata Amanda menyemangati dirinya sendiri.
Menjalani masa ujian terasa begitu berat oleh Amanda, pikirannya terkuras habis memikirkan ujian dan bayang-bayang Ilham. Pikiran buruk tentang Ilham yang mempermainkan cintanya pun kian menghantui. Tidak hanya itu, Amanda juga khawatir akan nilainya yang pasti akan turun drastis di semester ini.
"Setelah waktu ujian selesai aku akan mencari kebenaran dan menyelesaikan semua ini." kata Amanda.
Akhirnya masa-masa ujian pun selesai. Suatu siang teleponnya berbunyi, Amanda lalu mengangkat telepon tersebut.
[Hallo Amanda.]
[Hallo Ma.]
[Kamu hari ini selesai ujian kan?]
[Emh iya Ma.]
[Terus kamu mau pulang kapan sayang? Biar nanti Mama jemput.]
[Emhhh belum tahu Ma, sepertinya semester ini Manda belum bisa kasih kepastian kapan Manda akan pulang.]
[Loh kenapa sayang?]
[Emh ada acara kemahasiswaan di kampus Ma, dan Manda kayaknya lagi pengin ikut deh.]
[Oh ya udah kalau gitu, kapan-kapan Mama aja yang jenguk kamu disana.]
[Okay Ma. Ya udah Ma, Manda lagi banyak urusan, nanti Manda sambung lagi ya teleponnya.]
[Oke sayang, kamu hati-hati ya, jaga diri baik-baik.]
[Ya Ma, salam buat Papa.]
[Oke sayang. Assalamualaikum.]
[Waalaikumsalam.]
Setelah selesai menutup telepon, Amanda lalu pergi dari asrama ke daerah Orchard Road. Namun saat Amanda sedang dalam perjalanan, sebuah pesan masuk di ponselnya.
'Tidak mungkin.' kata Amanda dalam hati.