
Keesokan harinya Ayah mengantarku ke Jogja, kami memang sengaja berangkat pagi, agar bisa bertemu Mba Tari sebelum berangkat ke kampus. Setelah menempuh perjalanan selama dua jam, pukul 08.00 pagi akhirnya kami pun sampai.
"Ayah, Mila yuk masuk, Tari lagi sarapan, ayo sarapan bareng."
"Kamu sehat Tari?" kata Ayah.
"Alhamdulillah, tumben ke sini, ada perlu apa yah?"
"Mila kan sudah lulus sekolah, dia ingin kuliah di Universitas yang sama sepertimu Tari."
Sejenak Mba Tari terdiam lalu memandangku dan tertawa terbahak-bahak."Yang bener saja Mila, masuk ke UGM itu susah loh Mil, setahu mba nilai kamu dulu jauh di bawah rata-rata, mba ga yakin kamu bisa keterima." kata Mba Tari sambil menahan senyum.
"Iiiih Mba Tari, Mila kan sudah berubah jadi pinter tau, buktinya kemaren Mila masuk lima besar nilai terbaik di sekolah."
Mba Tari cukup terkejut mendengar kata-kataku. "Yang bener yah? Mila ga bohong kan? Kok bisa sih? Biasanya Mila kan nilainya paling rendah di kelas."
Ayah hanya tersenyum sambil mengangguk.
"Ya bisa lah mba, kan sekarang Mila udah pinter, ya meskipun ga sepintar Mba Tari sih." jawabku sambil meringis.
"Ya...ya..ya... Ya sudah nanti siang kamu bisa ikut mba buat ambil formulir pendaftaran, tapi inget masuk ke Universitas ini ga mudah loh Mila, sebelum Ujian Masuk kamu harus belajar dengan sungguh-sungguh."
"Iya..iya.. Mba tenang aja deh, tapi Mba Tari juga bantuin Mila belajar ya."
"Beres." jawab Mba Tari.
Tak berapa lama Ayah lalu pamit untuk pulang.
"Tari, tolong jaga adikmu ya, tolong kamu ajari dan bimbing dia dalam belajar."
"Iya yah."
"Mila kamu juga belajar yang benar dan jangan merepotkan Mba Tari."
"Siap yah, Ayah hati-hati di jalan."
Ayah mengangguk dan pulang meninggalkan kami. Keesokan harinya aku ikut Mba Tari ke bagian administrasi di dekat gedung pusat untuk mengambil formulir pendaftaran.
Saat aku sedang menunggu Mba Tari tiba-tiba ada seorang lelaki mendekat padaku dan mengulurkan tangannya padaku.
"Kenalin aku Anton, kamu calon mahasiswa baru ya?"
Aku merasa kaget dan terkejut bercampur takut lalu pergi meninggalkannya yang terus memandangku.
'Ih dasar cowo gila, sok kenal banget.' batinku.
"Kenapa Mila?"
"Oh gapapa Mba, Mila cuma lagi cari Mba Tari, udah beres belum Mba?"
"Udah, yuk kita pulang." kata Mba Tari, aku lalu mengikuti di belakangnya.
Aku melangkah lemas setelah mengerjakan ujian. "Kenapa Mila tadi bisa ngerjain ga?"
"Hmmmmm entahlah mba, semoga aku sedang beruntung, melihat soal seperti tadi kepalaku rasanya mau pecah."
Mba Tari lalu tertawa. "Mba bilang juga apa Mila, masuk UGM itu ga mudah."
Akhirnya hari pengumuman pun tiba, betapa terkejutnya aku melihat namaku terpampang di salah satu daftar nama yang diterima, meskipun aku diterima di jurusan pilihan ke dua, Jurusan Managemen di Fakultas Ekonomi UGM tetap menjadi jurusan yang bergengsi bagiku.
Saat aku mulai kuliah, aku sudah tidak tinggal dengan Mba Tari karena dia sudah lulus S2 dan sekarang bekerja di sebuah perusahaan tingkat nasional di Jakarta. Karena kesepian aku sering menghabiskan waktuku dengan kegiatan kemahasiswaan.
Sebenarnya di kampus, aku cukup terganggu dengan kehadiran seorang kakak kelasku yang selalu mencari perhatian dariku, Anton. Dia lelaki yang mencoba berkenalan denganku saat aku mengambil formulir pendaftaran ternyata satu fakultas denganku.
Sudah satu tahun ini sejak aku duduk di bangku kuliah dia begitu perhatian padaku, tak jarang tiba-tiba di depan pintu kostku kutemukan seikat bunga tanpa nama untukku.
Di kampus bahkan tidak ada laki-laki yang berani berteman denganku karena tahu Anton sedang mendekatiku. Anton memang begitu terkenal dan disegani di kampus ini, parasnya yang tampan dan kekayaan yang dia miliki membuat semua wanita jatuh cinta padanya. Namun tidak denganku, ditinggalkan Randi sudah menggoreskan luka yang begitu dalam, hingga sangat sulit kubuka hati ini untuk orang lain. Kuakui sebenarnya, Anton jauh lebih tampan dibandingkan Randi, namun rasanya masih begitu sulit aku membuka hati setelah rasa sakit yang kualami.
Teman-teman satu angkatanku terheran-heran melihatku yang begitu cuek ketika didekati Anton. Tak jarang sindiran dan cibiran mereka ungkapkan di depanku, tapi selalu kubiarkan dan tidak aku gubris.
Pada suatu hari, kulihat keramaian di taman kampus, aku yang penasaran mencoba mencari tahu, tapi saat aku mendekat kulihat orang-orang disekitarku menjauh dariku dan membentuk sebuah lingkaran, aku berada ditengah-tengah diantara mereka. Lalu kulihat Anton mendekat sambil membawa gitar dan menyanyikan lagu cinta untukku.
Ditengah taman juga telah banyak berbagai potongan bunga berbentuk hati dan ukiran namaku. Anton lalu menyatakan cintanya padaku sambil berlutut didepanku, begitu romantis, apalagi gerimis juga mulai turun membuat situasi semakin terasa syahdu.
Saat Anton menanyakan jawabannya padaku, aku hanya bisa menggelengkan kepalaku sambil menangis. Randi, hanya itu nama yang terpatri di dalam hatiku. Saat itu aku hanya bisa menangis, apalagi Anton seperti terlihat begitu kecewa pada jawabanku.
Sebelum keadaan semakin bertambah rumit, aku memutuskan pergi dari taman kampus. Hujan mulai turun begitu deras, aku berlari begitu kencang, tanpa kusadari Anton juga berlari dibelakangku. Tiba-tiba tubuhku didorong oleh seseorang, lalu kudengar sebuah benturan keras.
BRAAAKKKKKKKKK
"Mas Antooonnn!!!" jeritku begitu terkejut ketika melihat tubuh Anton terlentang di samping jalan dengan darah bercucuran dari tubuhnya.
Anton telah menyelamatkanku, tadi hampir saja aku tertabrak mobil jika dia tidak mendorongku. Akhirnya Anton sendirilah yang menjadi korban.
Aku menjerit sejadi-jadinya melihat keadaan Anton, mahasiswa yang masih berada di sekitar kampus lalu menolongnya dan membawa Anton ke Rumah Sakit. Sepanjang perjalanan aku hanya menangis. 'Apa yang telah kulakukan Tuhan, kenapa aku begitu kejam padanya.'
Anton lalu masuk ke ruang IGD, tak henti-hentinya kupanjatkan doa untuknya. Lalu seorang dokter keluar, aku lalu bergegas menanyakan keadaan Anton padanya.
"Saudara temannya Anton?" aku hanya bisa mengangguk.
"Bagaimana kondisi Anton dok?"
"Saat ini masa kritisnya sudah lewat, tulang tangannya patah dan kepalanya terbentur mengakibatkan banyak kehilangan darah, tapi kondisinya sekarang sudah mulai membaik dan berangsur normal, anda boleh menjenguknya di dalam."
"Ya dok terimakasih."
Kulihat tubuh Anton yang tertidur, aku sangat sedih melihat keadannya. 'Ini semua gara-gara aku.' batinku sambil menangis tersedu. Sudah dua jam lamanya aku menunggu Anton, namun dia belum juga sadar, saat kusandarkan tubuh ini pada dinding sayup-sayup kudengar sebuah suara.
"Kamilaaaaa."