
Seorang wanita cantik berdiri di depanku, meski usianya tak lagi muda dia terlihat begitu anggun dan berkelas. Dia masuk ke dalam apartemen tanpa permisi, lalu memandangku dari atas sampai bawah, sepertinya aku pernah melihatnya, tapi aku lupa dimana.
"Jadi kamu perempuan yang sudah membuat anakku jadi anaka durhaka? Kamu memang cantik, tapi aku sudah terlanjur membencimu!"
"Maksud Ibu?"
"Oh Anton belum memberitahu siapa ibunya dan ada masalah apa sebenarnya diantara kami?"
Aku hanya bisa menggeleng dan mencoba mengingatnya, ya dia adalah Ibu mertuaku. Anton sempat memperlihatkan fotonya padaku sebelum pernikahan kami berdua. "Sebentar Bu, saya buatkan minum terlebih dahulu."
"Tidak usah, tak sudi aku minum dari tangan wanita j*lang sepertimu, sampai kapanpun aku tak akan pernah menganggapmu sebagai menantuku! Ingat itu!"
Hatiku sakit, tak kusangka Anton menyembunyikan masalah ini dariku. Air mata ku pun meleleh.
"Simpan saja air mata palsumu wanita j*lang, susah payah aku membesarkan Anton, lalu dengan mudahnya Anton mendurhakaiku dan mendurhakai keyakinan yang dianutnya semenjak lahir!"
"Maafkan Bu, Kamila tidak pernah memaksa, itu semua adalah keputusan Mas Anton, Kamila bahkan tidak tahu sejak kapan Mas Anton berpindah meyakinan, karena sejak Kamila berpacaran dengannya dia sudah memiliki keyakinan yang sama dengan Kamila."
"Tidak usah berbohong, semakin banyak alasan semakin aku tak bisa mempercayaimu dasar wanita berhati iblis, aku tidak butuh drama dan air mata darimu!" katanya lalu pergi sambil menutup pintu dengan begitu keras.
Aku lalu masuk kamar dan menangis, aku sangat ingin tahu penjelasan yang sebenarnya dari Anton. Namun kucoba menahan rasa emosional yang bergejolak di hatiku. Hari beranjak sore, aku duduk di beranda apartemen sambil menunggu kedatangan Anton, begitu pintu apartemen terbuka Anton langsung tersenyum padaku dan menghampiriku. Dia lalu memelukku dan mencium keningku.
"Kamu kenapa Mila? Kenapa kamu hari ini tak seperti biasanya? Apa ada kesalahan yang kuperbuat padamu sayang?"
"Mas, aku butuh penjelasan."
"Penjelasan apa Mila sayang?"
"Ibumu tadi datang Mas!" kataku dengan tatapan tajam padanya.
Anton terdiam, lalu menarik nafas panjang, dia tampak begitu gugup "Jadi kamu sudah tahu semuanya Mila jika ibuku tak merestui hubungan kita?"
"Kenapa kamu tidak bilang dari awal Mas?"
"Karena aku tak mau hubungan kita hancur, aku tak mau rencana pernikahan kita berantakan Mila, aku tak ingin rencana pernikahan kita gagal jika kamu mengetahui semua ini, sekian lama aku berjuang dan menunggu untuk bisa mendapatkanmu kembali, setelah aku berhasil mendapatkanmu tentu tak semudah itu aku melepasmu, kamu gak akan pernah tahu betapa besar cintaku padamu, kamu gak akan pernah mengerti Mila betapa aku mencintaimu dan hanya ingin kamu menjadi satu-satunya istriku di dunia ini, itulah janjiku, tolong mengertilah keadaanku!!!"
Aku tertegun mendengar pengakuannya, keadaan ini bahkan membuatku jauh lebih sakit, karena apa yang aku takutkan sedari awal ternyata benar-benar terjadi. Namun aku semakin terharu mendengar pengakuan Anton jika dia memang benar-benar sangat mencintaiku, bahkan cintanya begitu besar padaku lebih dari yang kubayangkan.
"Kamila, mari kita jalani ini bersama, kita pasti bisa meluluhkan hati Ibuku, semua butuh waktu, kamu mau kan berjuang bersama untuk menaklukan hati Ibuku, aku kenal baik siapa Ibu seiring berjalannya waktu dia pasti bisa menerima hubungan kita."
Aku hanya bisa termenung lalu mengangguk. Anton memeluk tubuhku dengan begitu erat, pelukan hangatnya mampu mencairkan suasana hatiku yang sempat memanas.
Keesokan harinya aku bangun dengan badan yang tidak begitu sehat. Kepalaku begitu sakit, perutku juga terasa begitu mual. Anton yang melihatku tidak enak badan langsung menyuruhku untuk istirahat dan tidak memperbolehkanku membuatkan sarapan untuknya.
"Kamu istirahat saja sayang biar nanti aku sarapan dijalan." katanya sambil membelai rambutku.
"Kamu gapapa sarapan di jalan?"
"Gapapa sayang, kamu istirahat saja jangan banyak beraktifitas, mungkin kamu kelelahan Mila."
"Ya sudah aku berangkat dulu ya, kamu jaga diri di rumah, aku mau kerja setengan hari, nanti siang kita ke dokter ya, Assalamualaikum."
"Waalaikumsalam."
Sepanjang hari aku hanya bisa berbaring di kamar, rasanya tubuh ini begitu lemas. Pukul sebelas siang aku mendengar pintu apartemen diketuk.
'Mungkin Mas Anton.' gumamku.
Akhirnya pintu kubuka, ternyata seorang lelaki muda tampak berdiri di depanku. Matanya terlihat begitu nakal melihatku dari atas sampai bawah, aku sebenarnya merasa takut, dan bermaksud menutup pintu. Namun sebelum aku sempat melakukannya, pintu apartemenku didorong oleh lelaki tersebut, lalu dia masuk ke dalam apartemen tampa permisi padaku.
"Maaf saya tidak mengenal anda, tolong bersikap sopan, dan saya minta anda keluar dari sini."
"Jangan seperti itu dong cantik, kamu jangan sok jual mahal sama Abang, sekarang kita bisa bersenang-senang, aku tahu suamimu sedang berada di kantor kan?" katanya sambil tersenyum sinis padaku.
"Tolong bicara yang sopan, saya wanita baik-baik dan bukan seperti yang anda pikirkan, sekarang pergi dari sini atau saya panggilkan petugas keamanan di bawah!"
"Galak amat neng santai saja sama abang, yuk kita main-main sebentar." katanya sambil terkekeh.
Dia lalu mendekatiku. Aku begitu takut, lalu aku masuk ke dalam, namun dia malah berlari mengejarku.
"Tolong berhenti atau saya akan melaporkan anda ke polisi!"
Mendengar ancamanku, bukannya menjauh dariku lelaki itu malah semakin mendekat padaku, badanku yang sedang sakit membuatku tidak berdaya saat tangannya memeluk tubuhku.
Aku hanya bisa menangis saat melihatnya mulai menyentuh tubuhku. Saat berada dalam dekapannya, tiba-tiba kulihat seseorang sedang berdiri mematung melihat kami.
"MILA KETERLALUAN KAMU, BEGINI RUPANYA KELAKUANMU DI BELAKANGKU DAN KAMU HEIII LAKI-LAKI KURANG AJAR PERGI KAMU DARI SINI!!"
Laki-laki tersebut langsung menghempaskan tubuhku sambil tersenyum sinis penuh kemenangan, sebelum dia beranjak dari pintu apartemen, Anton terlebih dahulu memukul wajahnya.
Dia sempat akan membalas tapi diurungkan, karena Anton sudah mencengkramnya dan mengancam akan membawanya ke kantor polisi.
"Ingat jangan pernah kau tampakkan wajahmu lagi di depanku."
"Aku tak pernah takut dengan ancamanmu Tuan, dan aku akan membalas perlakuan burukmu padaku di hari ini?"
"Balas jika kamu mampu, kamu hanyalah sampah di depanku!" kata Anton.
Aku bersimpuh di kaki Mas Anton sambil menangis aku hanya bisa memohon agar dia mendengar semua penjelasanku.
"Aku sudah melihat semua dengan mata kepalaku Mila, ternyata kamu memang benar-benar perempuan murahan, PERGI KAMU MILAAA,,PERGIIIIII,, JANGAN PERNAH KAU TAMPAKKAN LAGI WAJAHMU DIDEPANKU,,PERGI MILA!!!"
"Tapi Mas dengarkan penjelasan ku dulu Mas, ini tak seperti yang kamu pikirkan!!!"
"PERRGIII, DENGAN INI AKU JATUHKAN TALAK PADAMU KAMILA"