
Aku dan Kamila lalu bergegas ke ruang ICU, Ibu tampak sudah membuka mata, namun keadaannya begitu lemah. Lalu seorang dokter keluar dari ruang ICU, dan meminta Kamila untuk menemui Ibu. Di balik dinding kaca, aku hanya melihat Kamila berbisik dan menangis di samping Ibu, lalu dia keluar dan tampak begitu panik. Dokter lalu melakukan berbagai cara agar jantung Ibu dapat berdetak kembali. Tapi sayang, takdir berkata lain. Aku begitu terpukul saat melihat alat Elektrokardiogram di samping Ibu berhenti, dan beberapa saat kemudian dokter keluar untuk mengabarkan jika Ibu telah meninggal. Aku sebenarnya sangat sedih, orang tua yang begitu kusayangi kini telah tiada. Tapi aku mencoba untuk tetap tegar. Begitupula dengan Ayah dan Caesar, kami sudah mempersiapkan hati kami akan segala kemungkinan terburuk yang terjadi pada Ibu.
Sebenarnya saat di rumah sakit, sebelum Ibu dimasukkan ke ruang jenazah, aku dan Kamila sudah menikah kembali secara siri di depan jenazah Ibu. Ini merupakan permintaan terakhir Ibu sebelum meninggal yang dipesankan pada Ayah, agar menikahkan kami di depan jenazahnya. Saat itu Amanda serta keluarga Kamila telah menyusul kami di rumah sakit. Ayah Kamila juga telah merestui hubungan kami dan bersedia menikahkan putrinya secara siri terlebih dahulu. Aku dan Kamila akhirnya menikah di depan jenazah Ibu, saat itu rasa sedih dan bahagia terasa campur aduk menjadi satu.
"Sudah ya sayang, aku ngantuk. Besok pagi kita kan harus antar Amanda ke Bandara."
"Iiiih Mas, gimana sih kan belum cerita yang cewek-cewek tadi, siapa namanya? Bianca, Chyntia, Jasmine, Catherine, Giselle, oh iya terus gimana itu sama sekretaris kamu si Sandra. Kenapa kamu ga pernah cerita ke aku sih Mas, kalau dia itu suka sama kamu?"
"Sayang, ngapain sih tanya-tanya mereka lagi. Kamu kan tahu, aku cuma cinta sama kamu. Coba kamu pikir, apa ada lelaki sepertiku yang sanggup menghabiskan waktu hidupnya untuk menunggu seorang wanita? empat tahun aku menunggu untuk bisa berpacaran denganmu, lalu sepuluh tahun aku menantimu agar kamu mau kembali menjadi istriku."
Mendengar kata-kataku, Kamila tampak tersipu malu, namun kemudian raut wajahnya kembali berubah. "Tapi kan Mas, aku juga ingin tahu masa lalu kamu, kamu tahu semua tentang masa laluku, dan tak pernah ada yang kututupi, ga adil dong cuma kamu yang tahu tentang semua hidupku, tapi aku ga tahu apapun tentang kamu."
"Kamila... please sayang, aku mau tidur."
"Ya sudah aku juga mau tidur sama Amanda."
"Iya... Iya... Iya sayang, aku cerita. Jangan pergi."
kataku sambil memeluknya.
"Kita mulai dari mana nih?"
"Yang itu Mas, Bianca, Chyntia, Jasmine, Catherine, sama Giselle."
"Ga ada cerita apapun tentang mereka sayang. Berkenalan dengan mereka pun hanya sekilas bahkan wajah mereka pun aku lupa hahahaha."
"Yang bener Mas? Kok bisa?"
"Ya iyalah, ngapain aku bohong sama istriku yang cantik ini."
"Terus?"
"Terus apa? saat Ibu membawa mereka ke rumah, aku hanya berkenalan saja dengan mereka, lalu aku pergi ke kamar atau main sama Amanda kalo dia lagi di rumahku."
"Jadi kamu ga pernah sekalipun jalan bareng, makan di luar, atau kencan sama mereka?"
"Ga pernah sayang." kataku sambil mencium kening istriku, berharap dia akan selesai bertanya.
"Oh, ya sudah."
Aku lalu bernafas lega saat dia mulai berhenti menjadi wartawan malam ini. Ketika aku merebahkan tubuhku tiba-tiba dia mendekatiku kembali.
"Mas... kamu kan belum cerita tentang Sandra."
"Astaga Mila."
"Maaasss... Please." katanya begitu lembut sambil menggodaku. Kuakui, sejak kami menikah kembali tujuh tahun yang lalu, Kamila memang begitu pencemburu, tidak sama saat pernikahan kami sebelumnya. Mungkin dia benar-benar takut jika aku akan berpaling pada wanita lain, padahal semua orang pun tahu itu tidak akan pernah terjadi. Dan jika dia tahu dahulu di kantor banyak karyawan yang menyukaiku, mungkin bisa-bisa dia akan mengikutiku pergi bekerja.
'Mampus deh.' batinku saat membayangkan hal itu terjadi.
"Apa Mas?"
"Gapapa sayang."
"Oke oke."
Seluruh pekerja di kantorku datang menghadiri pemakaman Ibu. Tak terkecuali dengan sekretarisku, Sandra. Saat itu kami bertiga memang tampak bagaikan keluarga kecil yang utuh. Amanda dan Kamila selalu berada di sampingku. Bahkan Amanda yang beberapa kali memanggilku dengan sebutan "Papa." membuat semua karyawanku tahu jika Amanda adalah putriku.
Aku dan Kamila yang sudah menikah kembali, meskipun baru secara siri memang beberapa kali menunjukkan kemesraan, meski dalam suasana duka cinta. Aku tak berhenti memegang tangannya dan tak pernah jauh darinya, bahkan saat menemui beberapa orang yang datang bertakziah, kami selalu bersama. Begitupula saat jenazah Ibu dimasukkan ke dalam liang lahat, Kamila yang tak bisa menahan tangis bersandar dalam pelukanku.
Satu minggu setelah Ibu meninggal, aku baru masuk kembali ke kantor. Kamila dan Amanda juga sudah pulang kembali ke Solo. Kami sudah merencanakan pernikahan secara resmi beberapa bulan lagi, meskipun mungkin jaraknya terlalu dekat dekat kematian Ibu. Tapi ini juga sudah menjadi wasiat terakhirnya sebelum meninggal.
Saat aku baru saja memasukki ruanganku, tiba-tiba Sandra sudah berdiri di depanku.
"Selamat pagi Pak Anton."
"Selamat pagi Sandra, apa ada hal penting yang perlu dibicarakan? Bagaimana meeting bersama klien yang sempat tertunda? Apakah sudah kamu jadwal ulang?"
"Sudah Pak."
"Ya sudah, kamu boleh pergi."
"Emh... Pak."
"Ya, ada yang perlu dibicarakan lagi?"
"Maaf Pak, bolehkah saya bertanya sesuatu? sebelumnya maaf jika saya lancang bertanya seperti ini."
"Ya ada apa Sandra katakan saja?"
"Apakah wanita yang selalu bersama Bapak saat pemakaman itu istri dan anak Bapak? kenapa Sandra tidak tahu jika Bapak sudah memiliki keluarga?"
"Oh ya Amanda memang putri saya, sedangkan Kamila, dia dulu adalah istri saya. Kami telah berpisah selama 10 tahun."
'Syukurlah.' kudengar dia berkata namun sangat lirih.
"Tapi, saya telah rujuk dengan Kamila, kami sudah menikah lagi secara siri, dan akan meresmikan hubungan kami agar sah di mata negara dua bulan lagi."
"Apaaaa."
"Kenapa Sandra, ada yang salah?"
"Oh, tidak Pak saya permisi dulu." kata Sandra, dia lalu meninggalkan ruanganku dengan tampak tergesa-gesa.
Pukul 10.00 pagi aku menghubungi Sandra melalui telepon kantor. "Sandra, sebentar lagi kita akan meeting dengan Tuan Takamura, apakah sudah siap semua berkasnya?"
"Sudah Pak Anton, semua sudah siap."
Setengah jam kemudian aku lalu masuk ke ruang rapat sambil menyiapkan berkas untuk presentasi yang telah Sandra persiapkan. Namun saat kulihat wajahnya, dia tampak begitu murung, bahkan matanya terlihat merah dan sembab.
"Sandra kamu kenapa? Apa kamu baik-baik saja?"
"Oh ya Pak, saya baik-baik saja."
Namun saat dia selesai berbicara, dia tampak pergi keluar dari ruangan. Aku hanya menggelengkan kepalaku melihat tingkah anehnya hari ini.