
Wina masih menangis di depanku, aku dan Mba Rani hanya bisa menenangkan sambil memberinya semangat untuk menjalani hidup ini. Tak kusangka, Randi juga telah berbuat begitu kejam pada keluarga istrinya.
Selain membunuh Ayahnya dan menguasai semua harta Wina, ternyata Randi juga banyak memiliki simpanan, Wina bercerita jika dahulu beberapa kali ada wanita yang datang ke rumah dan meminta pertanggung jawaban Randi. Namun karena saat itu Wina masih begitu percaya pada suaminya, dia tidak pernah menggubris kedatangan wanita-wanjta itu.
Dadaku terasa begitu sesak mendengar semua yang Wina ceritakan. Aku duduk terdiam di dalam kamarku sambil memandang jendela tempat kami dulu sering memadu kasih. 'Terkadang aku tak percaya itu dirimu Ran.'
Sebuah usapan hangat menyentuh bahuku. "Sudah jangan mikirin Randi terus Mila, saatnya kamu menata hidupmu lagi."
"Aku ga mikirin Randi Mba."
"Baguslah kalau begitu, oh iya katanya kamu mau buka cafe mu lagi, udah setengah tahun lebih karyawanmu kamu berhentikan secara mendadak, padahal saat itu cafemu lagi naik daun, kasihan mereka Mila."
"Iya Mba, nanti aku kabari mereka lagi, besok kita mulai berbenah ya Mba."
"Nah gitu dong, jangan sedih lagi Mila, kamu harus kuat jalani ini semua, masa depanmu masih panjang ada Amanda yang membutuhkan mu."
"Iya Mba, oh iya aku kemarin sempat melihat salah satu postingan di sosial media milik Mba..." kataku tertahan, rasanya begitu sulit kuucap nama itu.
"Postingan apa Mila? postingan terakhir mba yang Amanda sama Anton? kenapa dengan Anton? bukankah dia memang sering datang ke rumah ini tanpa sepengetahuanmu."
"Anton masih datang ke rumah ini Mba?"
"Ya selama sepuluh tahun ini Anton memang sering datang ke rumah ini, tapi dia sengaja tak mau bertemu denganmu, dia tidak ingin kamu terganggu dengan kedatangannya."
"Ooohhh." jawabku singkat, sebuah rasa sakit dan rindu kembali hadir dalam hatiku.
"Mila, apakah tidak pernah terbersit dalam hatimu untuk kembali pada Anton? dia laki-laki yang baik dan bertanggung jawab Mila, sesungguhnya Mba kecewa saat kamu lebih memilih Randi dibandingkan Anton, apa kebaikan Anton tidak pernah sedikitpun menyentuh hatimu? Apa kamu tidak bisa sedikit saja memaafkan kesalahan Anton, dia juga tidak sepenuhnya bersalah atas apa yang terjadi pada kalian."
Aku hanya menangis mendengar semua kata-kata Mba Rani. "Maaf Mila jika Mba membuatmu sedih, Mba ga bermaksud memojokkan kamu Mila."
"Ya mba Mila tau, semua yang Mba Rani katakan memang benar, aku terlalu naif dan bodoh sudah menutup hatiku pada Anton."
"Mila sesungguhnya beberapa bulan yang lalu saat kamu berada di Madiun, Anton datang kemari dan ingin menemuimu."
"Menemuiku Mba? untuk apa?"
"Dia ingin membawamu bertemu dengan Ibunya, Ibu Anton sedang sakit keras dan ingin bertemu denganmu."
"Lalu apa yang Mba Rani katakan padanya?"
"Aku belum mengatakan keadaanmu yang sebenarnya pada Anton Mila."
Aku hanya terdiam, hatiku bertanya-tanya jika Anton tahu keadaan yang pernah terjadi padaku apakah dia masih mau menerimaku. 'Jangan berharap berlebihan Mila, tubuhmu sudah begitu kotor.' batinku dalam hati.
Sudah hampir satu bulan aku kembali ke rumah ini, cafe milikku sudah aku buka kembali, dan seperti biasanya cafe ini selalu ramai oleh banyak pelanggan, setiap sore hingga malam, cafe selalu ramai sampai tak menyisakan satupun tempat duduk.
Beberapa hari sekali Bu Winda melakukan video call denganku, dia benar-benar wanita yang sangat baik dan mengerti keadaanku. Anakku dia beri nama Kevin, dia terlihat sangat lucu, tubuhnya padat berisi. Mba Rani dan Ayah juga tampak menyayangi Kevin, saat kutunjukan foto-fotonya mereka tampak begitu antusias.
Suatu siang aku membaca surat kabar jika seorang gembong narkoba telah dijatuhi hukuman seumur hidup. Ya, dia adalah Randi, Ayah juga melaporkan penyekapan dan pemerkosaan yang dia lakukan padaku, dengan bukti visum dokter yang kami lakukan. Awalnya aku tidak mau, namun Ayah, Mba Rani serta Wina terus memaksaku agar mau menjalani visum.
Tidak hanya tuntutan dari keluargaku, Wina juga menuntutnya atas dugaan pembunuhan berencana yang Randi lakukan pada Pak Ridwan, ayah Wina. Bukti-bukti yang telah kami miliki memang begitu kuat sehingga Randi tak bisa berkutik meski dia telah didampingi pengacara yang cukup terkenal.
Tiba-tiba sebuah mobil berhenti di depan cafe milikku. Aku pikir dia adalah pelanggan cafe, namun, aku begitu terkejut saat melihat sosok yang begitu lama tidak kujumpai keluar dari dalam mobil. 'Mas Anton.'
Dia lalu menghampiriku. "Kamila maukah kau ikut denganku sebentar saja?"
"Kemana Mas?"
"Ke Jogja Mila, menemui Ibuku."
Aku begitu terkejut mendengar kata-kata nya, sekian tahun telah berlalu setelah dia menghancurkan kehidupanku sekarang Mas Anton memintaku bertemu dengannya.
"Mila maafkan semua kesalahan Ibu, kondisinya sedang sangat kritis, dia hanya ingin bertemu denganmu Mila, tolong hilangkan semua rasa bencimu padanya."
"Aku tidak pernah membenci Ibu kamu Mas, aku hanya terkejut mendengar jika Ibu sedang sakit. Ayo kita pergi sekarang Mas."
Anton mengangguk dan kami masuk ke dalam mobilnya, Anton mengendarai mobil dengan begitu kencang, sesekali kupandang wajahnya. Dia masih setampan dulu, lalu sebuah getaran di dada kembali hadir, namun aku harus sadar siapa diriku saat ini. Aku sudah tidak pantas bersanding dengan Anton lagi.
"Mas, maafkan sikap Mila selama ini yang telah mengabaikanmu, aku sudah begitu keterlaluan padamu, bagaimanapun juga kamu adalah Ayah kandung Amanda, tidak seharusnya aku bersikap buruk padamu."
"Sudah Mila, semua sudah berlalu, jangan terlalu dipikirkan, aku dengar dari Mba Rani kamu baru saja dari Madiun?"
"Iya Mas." jawabku sambil menunduk, sebuah cairan bening mengalir.
"Mila kenapa kamu menangis? Apa ucapanku ada yang salah? maafkan aku Mila."
"Bukan Mas, ini tidak ada hubungannya denganmu Mas." kataku sambil tersenyum dan kugenggam salah satu tangannya.
Anton lalu kembali fokus mengendarai mobil sampai kami tiba di sebuah pelataran Rumah Sakit.
*******
Seorang laki-laki sedang duduk di lapangan sebuah lembaga pemasyarakatan, tampak seorang paruh baya menghampirinya.
"Oh jadi kamu anak Farhan?" Lelaki tersebut lalu memandang lelaki tua itu.
"Jangan pernah macam-macam disini anak muda, kalau tidak kau akan mengalami nasib yang sama seperti Farhan karena berani menentangku!"
"Jadi kau yang sudah membunuh Ayah?"
"Lalu kamu pikir siapa? Ayahmu yang terlebih dahulu menantangku disini, berani kamu berbuat macam-macam seperti orang tuamu, akan kubuat kau mampus seperti dirinya!!!"
Randi begitu terkejut mendengar pengakuan lelaki tua tersebut."Jadi yang membunuh Ayah bukan Wiguna dan Rangga?"
'Milaaaa maafkan aku Milaaaa' katanya sambil menangis tergugu penuh penyesalan.
******