Orang Tua Untuk Bayiku

Orang Tua Untuk Bayiku
Mistake


Toolooongggg...Tolongggg." teriakanku begitu kencang tapi suaraku tenggelam diiringi derasnya air hujan, aku berteriak sekuat tenaga, namun sepertinya tak ada yang mendengarkanku. Aku pun tak tahu dimana aku berada saat ini.


"Teriaklah sekencang-kencangnya Kamila, tidak ada yang bisa mendengarkanmu, kita sedang berada di tengah hutan Kamila." kata Randi sambil tertawa.


"Kamu memang penjahat Randi, akan kulaporkan pada polisi semua kelakuan bejadmu, ingat kamu tahu siap orang tua ku, Ayahku bisa memenjarakanmu kapanpun dia mau!!!"


"Aduh aku takut, aku takut Mila, Ingat melaporkanku pada polisi itu sama saja membuka aib keluargamu Kamila hahahaha." katanya dengan nada mengejek dan tertawa terbahak-bahak.


Lalu Randi mendekatiku "Jangan berbuat macam-macam padaku RANDI!!!"


"Tidak usah jual mahal Kamila, bukankah biasanya kamu sangat menikmati ini semua!"


"Itu dulu saat aku masih bodoh terpedaya oleh buaya sepertimu!"


Tawa Randi semakin keras menggema di rumah kosong ini. Dia mendekatiku dan merobek bajuku, aku hanya bisa menangis merasakan ***** bejadnya. Hembusan nafasnya yang terengah-engah saat menyentuh tubuhku terasa sangat menjijikan. Entah berapa kali dia melakukannya padaku, aku sangatlah kesakitan, lalu dia menaruh sesuatu pada mulutku, dan aku pun tertidur.


Begitu aku terbangun tubuhku rasanya begitu sakit, entah berapa lama aku disekap di rumah ini. Randi lalu menghampiriku dan memberiku sebungkus makanan


"Makanlah, jika kamu tak mau makan pemberian ku, ingatlah bayi yang di dalam kandunganmu, dia butuh asupan makanan!"


Benar kata Randi aku memang tidak ingin makan, namun aku harus tetap bertahan demi bayi dalam kandunganku. Randi hanya membuka satu ikatan di tangan kananku.


Aku lalu makan dengan begitu lahap, entah sudah berapa lama aku tidak makan karena disekap di rumah ini. Aku lalu menyandarkan tubuhku di kursi lalu menatap Randi.


"Kenapa kamu berbuat seperti ini padaku Randi? Apa salahku padamu?"


"Kamu tanya apa kesalahanmu padaku Mila? kesalahan keluargamu begitu banyak padaku, bahkan kedua orang tuaku meninggal akibat perbuatan Ayahmu!"


"Apa maksudmu Randi, Ayahku adalah orang yang begitu baik, tidak mungkin dia berbuat jahat pada orang lain!"


"Itu menurutmu Mila, tapi tidak untukku!!!, karena Ayahmu lah kedua orang tuaku meninggal!!"


"Aku tidak mengerti kata-katamu!!!"


Randi lalu terdiam pikiranya menerawang, ingatan masa lalu hadir kembali dalam benaknya.


******


Pov Randi


Saat umurku 15 tahun aku dan keluargaku pindah ke Pulau Jawa, ibuku memang asli Jambi sedangkan ayahku berasal dari salah satu kota di Jawa Tengah.


Kami sekeluarga pindah ke Solo karena Ayah akan memulai usaha bisnis meubel disini. Ayah memang sudah lama ingin kembali ke kampung halaman dan memulai usaha, tapi baru sekarang keinginan kami dapat terwujud. Ibu dan Ayah menjual rumah yang kami tempati di Jambi sebagai modal usaha.


Kami tinggal di rumah peninggalan nenekku, di sebuah komplek perumahan mewah yang banyak ditinggali oleh orang-orang penting di kota ini. Kakek dan nenek sudah meninggal sehingga di rumah ini kami hanya hidup bertiga. Aku sangat bahagia di sini. Teman-teman di sekolah begitu baik padaku, bahkan aku menjadi idola di sekolah.


Dia tinggal satu komplek denganku tapi mungkin dia tak menyadarinya, menurut beberapa pemuda di komplek ini dia sangat sulit untuk didekati, selain orang tuanya yang merupakan orang terpandang, dia adalah gadis yang naif dan lugu.


Pada suatu siang saat kulihat dia berdiri di depan sekolah, aku menghampirinya dan menawarkan untuk mengantarnya pulang. Awalnya dia menolak tetapi setelah kubujuk akhirnya dia mau menurutiku.


Sepanjang jalan kami bergurau dan bercanda, dia gadis yang ceria namun orang tuanya sedikit protektif sehingga dia memang jarang keluar dari rumah. Semakin hari aku semakin tertarik padanya, semenjak hari itu aku jadi rutin mengantarnya pulang.


Pada suatu malam, aku berinisiatif menyatakan perasaanku padanya, aku datang ke rumahnya lalu kuketuk jendela kamarnya, cukup lama aku berdiri menunggu di depan jendela, namun tak ada jawaban. Akhirnya aku pun pulang setelah meletakkan surat cintaku di ujung jendela, aku berharap besok dia menemukan surat itu ketika membuka jendela kamarnya.


Keesokan harinya di sekolah, aku menunggunya dengan cemas di depan pintu gerbang. Hatiku semakin berdegup kencang saat melihatnya berjalan, tak sabar aku lalu menghampirinya dan menanyakan jawaban atas perasaanku.


Ternyata gayung pun bersambut, dia menerima cintaku dan sejak itu kami mulai berpacaran. Hari-hari yang kulalui dengannya terasa begitu indah, tak terasa kami sudah berpacaran selama satu tahun, ketika tiba-tiba bencana itu terjadi dalam keluargaku.


Pada suatu sore kulihat Ayah berjalan lemas masuk ke dalam rumah, dia diam seribu bahasa. Aku dan Ibu dibuat kebingungan dengan tingkah Ayah. Bahkan sudah beberapa hari ini Ayah terlihat murung, aku sebenarnya sangat penasaran mengapa dia bisa berubah menjadi seperti itu. Tapi kuurungkan niatku untuk bertanya, aku lebih baik menunggu Ayah mau menceritakan masalahnya padaku.


Saat aku baru saja pulang dari sekolah, kulihat beberapa orang polisi berada di rumahku, aku sangat kebingungan. Kulihat Ibu tengah menangis, dan Ayah masih terdiam seperti biasa, namun tatapannya begitu kosong.


Ditengah kacaunya kehidupan keluargaku, aku selalu bersikap biasa di depan Kamila, aku tidak ingin melihatnya sedih saat tahu aku sedang dalam masalah.


Satu hari menjelang kelulusan, aku dipanggil kedua orang tuaku "Randi, ibu mau bicara nak.". Aku lalu mengukuti Ibu duduk di depan ruang tamu, Ayah juga sudah duduk dan menungguku.


"Randi, sebenarnya beberapa bulan ini kami sedang mengalami kesulitan, karena usaha Ayah yang sedang dalam masalah, kita harus kembali ke Jambi nak dan memulai lembaran baru disana." kata Ibu.


"Mengapa mendadak seperti ini Bu? Aku ga mau Bu, aku mau disini saja!" Aku masih didera kebingungan, dan penuh tanda tanya apa sebenarnya yang telah terjadi.


"Nak percaya sama Ayah, ini demi kebaikan kita semua, tolong pahami kondisi ayah saat ini nak, ayah sedang dalam masalah besar, jika kita masih di sini, ayah bisa masuk penjara Nak."


"Apa maksud Ayah? Apa yang telah Ayah lakukan sampai Ayah harus masuk penjara?"


"Nak, usaha ayah sedang mengalami masalah nak, usaha ayah hancur karena ulah seseorang, kamu tahu Pak Wiguna kan? Salah satu tetangga kita di komplek ini? Dia yang menghancurkan bisnis ayah, dengan kekuasaannya di kepolisian dia telah menutup bisnis milik ayah."


"Apa maksud Ayah? ada alasan apa mereka menutup usaha ayah?" Namun Ayah hanya terdiam dan berlalu masuk ke dalam kamar.


Hatiku begitu kaget mendengar nama orang tua Kamila menjadi penyebab kacaunya kehidupan keluargaku. Namun aku juga terkejut mendengar usaha ayah yang tiba-tiba mereka tutup, apa sebenarnya alasan mereka menutup usaha meubel milik Ayah.


"Nak besok setelah kelulusan kita segera pergi dari sini nak, Ibu juga sudah sangat malu mendengar hinaan dari para tetangga sejak polisi datang ke rumah kita." kata Ibu diiringi derai air mata.


Aku hanya bisa mengangguk mendengar kenyataan pahit yang terjadi lada keluargaku. Usai mengambil ijazah, aku lalu mencari Kamila, untuk berpamitan dengannya. Kami lalu menuju taman di dekat sekolah, dengan begitu berat aku memutuskan hubunganku dengannya.


"Mila aku sayang banget sama kamu, cuma kamu yang ada di hati, sudah satu tahun ini kamu begitu banyak memberikan kebahagian dalam hidup, hari-hariku menjadi lebih berwarna sejak ada Mila tapi maaf hubungan kita sepertinya sampai disini, aku dan keluarga akan kembali ke Sumatera, aku ga ingin memberi janji dan harapan palsu sama kamu Mila, semoga Mila bisa mendapat jodoh yang baik, dimanapun doaku selalu menyertaimu, Terimakasih ya Mila sudah menerimaku apa adanya."


Dia terlihat menangis tersedu-sedu, aku sungguh tidak tega melihat dia begitu hancur menerima kenyataan jika kami harus berpisah, lalu kurengkuh tubuhnya ke dalam pelukanku. Namun tiba-tiba dia menghempaskan tubuhku dan berlari meninggalkanku. Itulah perpisahanku bersamanya, terasa begitu pahit dan menyesakkan dada.