Orang Tua Untuk Bayiku

Orang Tua Untuk Bayiku
Chyntia is Back


Fatma menghampiri Wina kemudian memeluknya. "Wina, Tante kangen sama kamu, sudah lama kita ga bertemu Win."


"Ya Tante, Wina juga kangen, Tante silahkan masuk ke dalam, istirahat saja dulu, Wina mau ke kantor."


"Ya Win, maaf jika tante selama ini tak pernah mengunjungi kalian, sebenarnya tante sangat malu atas semua yang Randi lakukan padamu Win."


"Sudahlah Tante, semua sudah berlalu, Tante masuk saja ke dalam, temui Shakila, dia pasti senang bertemu dengan neneknya."


"Iya Win." kata Fatma sambil mengusap air matanya.


Fatma dan Rusli lalu masuk ke halaman rumah milik Wina. "Pa, akhirnya kita kembali lagi ke rumah ini ya Pa, Mama akan berusaha agar kita tidak kembali ke rumah reot itu Pa, kita harus tetap disini bagaimanapun caranya." kata Fatma sambil tersenyum sinis.


"Ma, istighfar. Kita tidak berhak tinggal di rumah ini lagi, malu ma kalau numpang hidup dari Wina."


"Ihhhh Papa, apa-apaan sih, kita ini juga keluarga mereka loh, tuh lihat, Shakila itu masih satu darah denganku, dia adalah anak Randi, dan Randi itu keponakanku. Wina juga memiliki kewajiban untuk merawat keluarga suaminya seperti kita."


"Mantan suami Ma, bukan suami."


Saat Rusli dan Fatma masih berdebat tiba-tiba mereka dikejutkan oleh suara seseorang. "Kakek, Nenek, kalian apa kabar?" kata Shakila sambil menghambur ke pelukan Fatma. Sedari kecil, Shakila memang begitu dekat dengan Fatma, apalagi setelah orang tua Wina meninggal akibat perbuatan Randi, otomatis hanya Fatma yang ikut merawatnya sejak Shakila kecil.


"Shakila sayang, kamu sudah besar, kamu cantik sekali Nak, mirip sekali dengan Papamu."


Mendengar nama Randi disebut, wajah Shakila sedikit menunjukkan perubahan. "Sudah Nek, jangan dibahas, kita masuk saja yuk."


Fatma dan Rusli lalu mengikuti Shakila masuk ke dalam rumahnya. "Wah Shakila, rumahmu semakin bagus saja, padahal nenek belum lama meninggalkan rumah ini." kata Fatma sambil terkagum-kagum.


"Mama, jangan bikin malu." bisik Rusli di telinga istrinya.


Shakila hanya tersenyum melihat tingkah Fatma dan Rusli. "Kakek, Nenek, kalian istirahat saja dulu ya nanti nenek akan Shakila ajak ke salon."


"Ke salon? Untuk apa Shakila?"


"Perawatan tubuh pra nikah Nek."


"Oh ya ya ya, nenek boleh ikut perawatan dong Shakila?"


"Tentu aja nenekku sayang." kata Shakila sambil memeluk tubuh Fatma.


"Ya, sudah nenek sama kakek istirahat di kamar dulu ya. Nanti kalau kamu sudah siap panggil saja nenek di kamar ya sayang."


Shakila pun mengangguk, Fatma dan Rusli lalu masuk ke dalam kamar milk mereka dulu, kemudian diikuti Shakila yang juga masuk ke dalam kamarnya.


***


"Sayang, aku hari ini sarapan di kantor ya, ada meeting pagi dengan investor."


"Ya mas, hati-hati, bekal untuk sarapan sudah ada di dalam mobil ya."


"Iya sayang." kata Anton sambil mengecup pipi istrinya.


Setengah jam kemudian, Anton sudah ada di kantornya lalu menghampiri Bianca, sekretarisnya. "Bianca, apakah semua keperluan untuk meeting sudah dipersiapkan?"


"Sudah Pak, kita tinggal menunggu kedatangan mereka."


"Terimakasih Bianca, tolong beritahu Dimas agar ke ruang meeting secepatnya."


"Baik Pak."


Setelah menunggu kurang lebih lima belas menit, akhirnya investor yang ditunggu pun datang. "Mereka sudah ada di lobi bawah Pak." kata Bianca.


Anton mengangguk, sambil menunggu mereka semua masuk ke dalam ruangan, dia bercanda gurau dengan Dimas yang saat ini masih saja belum menikah. Saat masih asyik meledek Dimas, tiba-tiba sosok seorang wanita telah berdiri di hadapan Anton.


"Chyntia, apa yang kau lakukan di sini?"


"Bukankah kau yang menungguku?"


"Kamu? Bukankah yang kutunggu Tuan James dari Australia?"


"Ya, aku adalah istri dari James. Suamiku sedang sakit dan tidak bisa menjalankan perusahaan kami, jadi akulah yang menggantikannya."


'Sial batin Anton dalam hati.'


Anton begitu lemas mendengar kata-katanya, mau tak mau dia harus menjalankan kerja sama dengan Chyntia selama satu tahun karena Caesar telah menandatangani kontrak kerja sama dengan mereka.


"Bisa kita mulai presentasinya?" kata Chyntia sambil mendekat pada wajah Anton.


Akhirnya meeting pun dimulai Chyntia tampak begitu bahagia bisa kembali dekat dengan Anton, bahkan dia selalu menyunggingkan senyumnya seolah sedang merencanakan sesuatu.


"Maaf Tuan Anton, bukankah lokasi pabrik yang akan kita bangun ada di daerah Kalimantan?"


"Benar Bu Chyntia, ada apa?"


"Bukankah kita harus melakukan survei ulang tentang pembangunan pabrik tersebut? Saya harus meninjau ulang kondisi SDM dan SDA di wilayah tersebut? Saya tidak mau jika kita hanya berandai-andai saja, karena terkadang realita di lapangan sangat berbeda dengan ekspektasi kita. Kita harus meninjau ulang daerah tersebut Pak Anton, karena dana yang kami investasikan di perusahaan Bapak, tidaklah sedikit dan saya tidak mau mengalami sedikitpun kerugian disini." kata Chyntia sambil tersenyum.


"Lalu anda ingin kita pergi ke lokasi proyek tersebut?"


"Benar Pak Anton, dua hari bagaimana kalau kita akan ke sana?"


"Maaf Bu Chyntia, saya tidak bisa, saya ada acara keluarga di Jambi."


"Baik Pak Anton, kalau anda tidak mau mengikuti kata-kata saya, saya anggap ini sebagai perbuatan wan prestasi." kata Chyntia sambil menyeringai.


'Breng*ek.' gumam Anton dalam hati.


"Baik, jika itu mau anda." jawab Anton dengan begitu geram.


"Terimakasih Pak Anton, sepertinya saya akhiri dulu rapat kita hari ini karena saya juga memiliki kesibukan yang lain. Sampai bertemu dua hari lagi." kata Chyntia sambil meninggalkan ruangan itu.


'Sial.' batin Anton.


"Dimas, saya pulang dulu, ada urusan di rumah yang harus saya kerjakan."


"Siap Pak." jawab Dimas.


Anton lalu keluar dari kantor dan kembali ke rumahnya, pikirannya begitu kacau, pertemuan dengan Chyntia pagi ini telah membuat moodnya berantakan.


"Mila, sayang, kamu dimana?"


"Mas, kok udah pulang?"


Anton lalu duduk di sofa depan televisi. "Sayang, aku sedang berada di posisi yang begitu sulit."


"Posisi sulit bagaimana Mas? Tenangkan dirimu dan ceritakan pelan-pelan padaku."


"Kamu tahu sayang siapa investor yang meeting denganku tadi pagi?"


"Tuan James kan?"


"Ya, tapi yang datang ternyata adalah istrinya."


"Lalu kenapa dengan istri Tuan James?"


"Chyntia, istri Tuan James adalah Chyntia."


Kamila begitu terkejut mendengar kata-kata suaminya. "Lalu apa yang telah dia katakan padamu hingga kamu menjadi berantakan seperti ini?"


"Dia memintaku untuk menemaninya ke Kalimantan dua hari lagi untuk meninjau ulang pembangunan pabrik kita yang ada di sana."


"Dua hari lagi kita kan ke Jambi Mas?"


"Iya sayang, maaf aku tidak bisa menemanimu ke Jambi, karena Chyntia mengancam jika aku tak ikut dengannya, dia akan melaporkan ini sebagai bentuk wan prestasi."


Kamila lalu tersenyum dan menggenggam telapak tangan suaminya. "Mas, aku percaya padamu, aku tahu hatimu hanya untukku, aku juga percaya kamu bisa mengatasi Chyntia, anggap saja ini juga salah satu kerikil dalam rumah tangga yang harus kita lalui. Aku juga percaya kamu bisa mencari jalan keluar untuk perusahaanmu, kamu itu pintar Mas, kamu ingatkan awal aku mencintaimu karena kepintaran yang kau miliki." kata Kamila sambil tersenyum.


"Terimakasih sayang, kamu memang yang terbaik." kata Anton sambil memeluk istrinya, lalu mendekatkan wajahnya untuk menci*m bib*r istrinya.


"Papa... Mama kebiasaan deh, ga bisa apa kalau mau mesra-mesraan di kamar aja!"


"Amanda."