
Pov Kamila
Beberapa hari kemudian setelah aku menceritakan semua kejahatan Randi pada Mba Rani, aku mendengar kabar jika Randi akhirnya ditangkap polisi. Hatiku begitu lega, meskipun dia ditangkap bukan karena kejahatan yang dia lakukan padaku, namun tuntutan berlapis atas beberapa kasus pasti sudah cukup akan memberatkan penahanannya.
Jika mengingat kenangan kami dahulu, memang aku tidak bisa menepis rasa sedih di dalam hatiku, Randi yang dulu aku kenal adalah pria yang begitu baik. Keadaan memang bisa mengubah sifat seseorang.
Kuambil ponsel milikku, aku begitu rindu pada Amanda, aku hanya bisa melihatnya lewat foto-foto yang Mba Rani kirimkan padaku. Namun beberapa hari ini Mba Rani sepertinya sedang sibuk, sehingga sudah dua hari ini dia tidak mengirimkan foto-foto Amanda padaku.
Aku lalu mencoba membuka sosial media milik Mba Rani, tampak dalam salah satu postingan dua hari terakhir milik Mba Rani, kulihat foto Amanda sedang bersama seseorang tampak begitu ceria bermain di depan rumah Ayah. 'Mas Anton.' batinku dalam hati. Sejenak hati ini terasa bergetar melihatnya, sebuah kerinduan pun muncul dari dalam lubuk hatiku.
'Mengapa aku tak pernah bisa membuka sedikit hatiku untuknya, padahal Mas Anton adalah pria yang begitu baik dan bertanggung jawab.' batinku.
Tak terasa sudah dua bulan lebih aku berada di rumah berada di rumah Pak Arif, pasangan suami istri itu begitu baik dan perhatian padaku. Setiap bulan mereka mengantarkan aku ke dokter kandungan, dan mencukupi segala kebutuhanku. Saat aku melihat mereka berbelanja beberapa perlengkapan bayi hatiku sungguh sakit.
Aku mencoba masuk ke sebuah kamar yang telah mereka persiapkan untuk anakku, aku mengambil salah satu baju bayi di dalam lemari kemudian memelukknya, aku menangis tersedu-sedu membayangkan semua pakaian ini dipakai oleh anakku tapi aku tak pernah bisa melihatnya.
Lalu aku melangkah ke arah boks bayi dan beberapa mainan yang telah mereka persiapkan, hatiku terasa begitu sesak melihat ini semua. Terbersit keinginan dari dalam hati untuk mengurungkan memberikan bayiku pada mereka, namun kutepis semua perasaan ini, dan selalu berusaha meyakinkan diriku jika ini jalan terbaik. Toh aku juga bisa bertemu kapanpun dengannya jika aku mau, aku pun bisa meminta fotonya jika aku merindukannya.
Dengan hati yang begitu sesak lalu kutinggalkan kamar tersebut, aku tidak mau Bu Sugeng atau Bu Winda tahu jika aku sedang menangis. Aku berjalan ke arah taman sambil memegang perutku yang sedang sedari tadi bergerak karena tendangan bayiku.
'Nak mungkin kamu tahu kalau mama sedang sedih?. Nak maafkan mama yang tidak bisa merawatmu saat kamu lahir di dunia ini, maafkan Papamu yang tidak mengakui kehadiranmu, maafkan kami nak jika kami tidak pernah bisa menjadi orang tua yang baik bagimu.' kataku dalam hati.
Akhirnya hari yang dinantikan pun tiba, pada suatu malam aku merasa perutku begitu mulas, aku lalu bangun, saat aku ke kamar mandi, darah segar dan lendir mulai menetes. Aku lalu membangunkan Bu Sugeng agar memberitahukan Bu Winda dan Pak Arif.
Mereka semua lalu mengantarku menuju ke rumah sakit, ternyata aku sudah memasuki pembukaan tiga. Pak Arif dan Bu Winda tampak begitu cemas melihatku yang kesakitan, mereka tidak beranjak sedikitpun dari rumah sakit ini. Bahkan Bu Winda selalu menemani di sampingku.
Bu Winda tak henti-hentinya berdoa dan memanjatkan shalawat untukku. Menit-menit berikutnya aku merasa mulasku semakin bertambah, hingga dua jam lamanya akhirnya pembukaan dinyatakan lengkap.
Aku sebenarnya merasa takut karena usiaku yang tidak lagi muda, tapi aku selalu berdoa agar diberikan kemudahan. Saat seorang bidan memberikan aba-aba padaku untuk mulai mengejan, kutarik nafas begitu dalam dan mulai mengejan dengan sisa-sisa tenagaku. Akhirnya kudengar seorang bidan menyuruhku berhenti mengejan, bayiku telah lahir.
Tangis bayipun pecah, aku hanya bisa mengucap rasa syukur. Diusiaku yang tidak lagi muda aku masih bisa melahirkan dengan normal tanpa ada masalah apapun. Sungguh besar karuniaMu Ya Allah.
Sekilas aku melihatnya lagi, dia bayi yang begitu tampan, matanya bulat dan besar. Ya, mata itu sangat mirip dengannya. Namun mengingatnya sudah terlalu menyakitkan untukku. Laki-laki yang menjadi cinta pertamaku.
Kupandang bayi itu lagi, anak yang aku kandung dan aku lahirkan dengan penuh perjuangan. Satu jam setelah melahirkan aku dibawa ke ruang perawatan. Malam ini adalah malam terakhirku, besok pagi kami sudah diijinkan pulang dan aku harus berpisah dengannya.
Bu Winda dan Bu Sugeng malam ini menemaniku di dalam ruangan ini. Mereka berdua merawat anakku penuh kasih sayang, sebenarnya aku tak sanggup saat melihat ini semua, saat anakku menangis yang menenangkan dan menimang adalah tangan orang lain, bukan tanganku sendiri.
Tiba-tiba Bu Winda mendekat padaku, dia memelukku begitu erat. "Terimakasih Kamila, pengorbananmu begitu berharga bagi kami, sekarang istirahatlah, tubuhmu pasti sudah begitu lelah hari ini."
Aku hanya bisa mengangguk, sulit sekali memang mata ini terpejam meski sudah masuk tengah malam. Aku hanya bisa berpura-pura memejamkan mata sambil melihat anakku di dalam boks bayi. Malam ini aku hanya ingin memandangnya. Tanpa terasa hari sudah berganti, hatiku begitu sesak saat aku memeluk dan menimangnya untuk yang terakhir kalinya. Air mataku begitu deras mengalir.
Bu Winda lalu memelukku, kucoba kutegarkan hatiku. Berat, sangatlah berat tapi ini semua demi kebaikannya. Keluarga barunya adalah salah satu keluarga terkaya di daerah ini. Masa depan cerah sudah menantinya dan aku yakin Pak Arif dan Bu Winda akan merawat anakku dengan penuh kasih sayang. Suami istri itu sudah sangat menyayanginya sejak dia masih dalam kandunganku, aku hanya bisa melihat mereka menimangmu.
Aku lalu berpamitan untuk pulang, Bu Winda dan Bu Sugeng memelukku dengan erat mengucapkan perpisahan. Ucapan terimakasih pun tak pernah berhenti dari bibir kedua suami istri itu. Kami lalu melangkah pergi dari rumah sakit ini. Aku masih berdiri sambil menatap mereka pergi membawamu menuju arah yang berbeda denganku.
******
Aku tersadar dari lamunanku saat Mba Ranj menyentuh pundakku. "Kamila apa yang kamu pikirkan? Ada Wina di depan sedang menunggu kita, kalau kamu belum siap menemuinya biar aku saja, kamu istirahat saja di kamar."
"Ga mba, Mila gapapa kita temui dia bersama."
Kami lalu melangkah ke ruang tamu, kulihat Wina sudah duduk dengan kepala yamg tertunduk. "Mba Wina." kataku.
Dia lalu mendekat padaku menatapku tajam, sebenarnya ada rasa takut dalam hatiku jika dia akan bertindak kasar lagi karena suaminya telah dipenjara karena kami. Namun ternyata aku salah, dia menangis dan bersimpuh di depanku dan Mba Rani.
Aku dan Mba Rani hanya bisa berpandangan melihat dia menangis tersedu-sedu. "Mba Wina sudah Mba, jangan menangis semua sudah berlalu."
Aku lalu memeluknya dan dia balas memelukku sambil berulangkali meminta maaf padaku.
"Kamila maafkan aku, maafkan Randi yang telah begitu jahat padamu, sungguh aku baru tahu semua kejahatan yang telah diperbuat Randi, ternyata dia juga telah membunuh orang tuaku Kamila." kata-katanya tersendat karena diiringi oleh isak tangis.