Orang Tua Untuk Bayiku

Orang Tua Untuk Bayiku
Never Give Up


Pov Sandra


Sejak pertama kali aku bekerja pada Pak Anton, aku sudah mulai mencintainya. Dia laki-laki yang begitu tampan, juga kaya. Lekuk wajahnya terlihat begitu sempurna, matanya tajam, serta tubuhnya yang tinggi dan atletis semakin menambah nilai ketampanannya.


Berbagai cara kulakukan agar menarik perhatiannya, namun selalu gagal. Aku tidak tahu apa yang salah denganku. Aku cantik dan seksi, di kantor pun banyak laki-laki yang tertarik padaku, termasuk Dimas, tangan kanan Pak Anton. Bahkan aku sempat berfikir jika Pak Anton mengidap kelainan seksual karena tidak pernah tertarik pada rayuanku.


Namun aku salah, dia benar-benar tidak seperti yang aku pikirkan. Semua itu terjawab saat kami takziah ke pemakaman Ibunya. Dia ternyata telah memiliki seorang putri dari mantan istrinya. Aku juga baru tahu ternyata Pak Anton sudah pernah menikah. Saat acara pemakaman itu, Pak Anton dan mantan istrinya begitu mesra. Saat itu juga aku merasa kesempatanku telah hilang.


Aku baru tahu dari karyawan kantor yang lain jika Pak Anton telah bercerai dengan mantan istrinya selama sepuluh tahun, namun dia masih tetap setia menunggunya. Bahkan dia sengaja membuka cabang di kota ini untuk bisa kembali dekat dengan mantan istrinya dan anak mereka. Ternyata sikap dinginnya selama ini pada setiap wanita karena dia ingin menjaga jarak. Tak kusangka Pak Anton begitu setia pada mantan istrinya. Kamila memang wanita yang begitu cantik, sepertinya dia juga baik dan lembut. Namun aku akan tetap berusaha untuk merebutnya.


Aku begitu kesal saat Pak Anton meninggalkan kantor begitu saja untuk menemui Kamila. Padahal hari itu dia baru saja berangkat ke kantor setelah satu minggu lamanya cuti karena masih dalam masa berkabung setelah kematian Ibunya. Keesokan harinya aku lalu menelponnya karena aku tak melihatnya di kantor. Ternyata dia masih di rumah istrinya, dan mengatakan baru tiba di rumahnya nanti sore.


Malam harinya sepulang dari kantor, aku pun mendatangi rumahnya dengan alasan pekerjaan. Semesta rasanya berpihak padaku karena saat itu hujan turun dengan begitu deras, sehingga aku memiliki alasan untuk bisa berlama-lama di rumahnya. Gayung pun bersambut, bahkan Pak Anton menawarkanku untuk menginap di rumahnya. Aku bahkan sempat mengangap jika ini merupakan kode dari Pak Anton untuk melewatkan malam bersamaku. Aku lalu mencoba menggodanya dengan berpura-pura jatuh agar dia tertarik saat melihat tubuhku. Namun ternyata aku salah, dia tak melirikku sedikitpun. Kekesalanku pun bertambah saat tiba-tiba Kamila keluar dari dalam rumah. 'Sial ternyata ada dia disini.' gumamku dalam hati.


Aku lalu bergegas masuk ke dalam kamar karena sudah muak melihat wajah wanita itu. Saat aku akan menutup pintu, tanpa sengaja aku menemukan adegan yang semakin membuatku sakit hati saat Pak Anton menggendong istrinya masuk ke dalam kamar. Semalaman aku tak bisa tidur, rasanya aku ingin cepat pergi dari rumah ini. Aku sangat menyesali keputusanku untuk bermalam di rumah ini.


Saat pagi datang, aku bergegas pamit pulang ke rumah. Namun saat itu perasaanku semakin tak menentu, akhirnya aku memilih langsung pergi ke kantor.


"Sandra, kamu kok kusut banget, ga biasa-biasanya kamu kaya gini." kata Mba Gina, salah satu staf HRD.


"Iya Mba Gina, tadi malem aku ga bisa tidur."


"Makanya kamu ga usah banyak berharap bisa dapetin hati Pak Anton, jadi susah gini kan. Kita aja yang lebih senior daripada kamu ga berani usik kehidupan pribadi Pak Anton. Dia itu cuma cinta sama satu wanita, apalagi sekarang mereka sudah rujuk. Mengharap cinta pada Pak Anton itu sama saja bagai kecebong merindukan bulan hahhaha." kata Diana sambil tertawa dan diikuti oleh karyawan yang lain.


"Kalian bisa diem ga sih! Ga usah campurin urusan pribadiku!"


"Siapa yang mau campurin urusan kamu Sandra, kita cuma nasehatin kamu kok biar ga terlalu berharap, hanya akan berbuah kesia-siaan, percuma kamu membuang waktumu untuk seorang lelaki yang tak mencintaimu!" jawab Gina.


"Ga usah mimpi Sandra, lihat dirimu dengan Ibu Kamila, sangat jauh berbeda!"


"Kenapa denganku? bukankah aku juga cantik?"


"Iya tapi kecantikanmu tidak ada setengahnya dibandingkan Ibu Kamila hahahhahaha."


Aku begitu kesal mendengar celaan dari para teman-teman kerjaku. Hatiku yang begitu kesal membuatku diam selama satu hari ini, termasuk pada Pak Anton. hari ini aku hanya berbicara seperlunya saja padanya.


Keesokan harinya, kami pergi ke Singapura. Sejak di Bandara aku mencari kesempatan untuk berduaan dengan Pak Anton, tapi begitu sulit. Apalagi ada Dimas yang selalu meledekku. Akhirnya kesempatan itu pun tiba, aku bisa berduaan dengan Pak Anton saat kami mengecek pekerjaan di kamar Dimas, saat itu Dimas sedang pergi ke lobi untuk mengeprint dokumen.


Aku tak mau membuang kesempatan begitu saja. Saat Pak Anton akan pergi meninggalkan kamar ini, aku memeluknya dari belakang, meskipun pada akhirnya dia berhasil melepaskan pelukanku tapi aku juga berhasil mencium bibirnya. Perbuatanku ternyata membuat dia begitu marah. Tubuhku dia hempaskan begitu saja ke lantai dan saat itu juga dia memecatku. Hatiku sungguh semakin tak menentu. Aku hanya mengurung diri di kamar sampai keesokan harinya kami bertemu Tuan Fredrich.


Saat pertemuan, dia pun tak mengatakan sepatah katapun padaku. Hanya Dimas yang selalu meledek setiap waktu. Akhirnya pertemuan itu pun selesai dan aku memiliki kesempatan lagi untuk berduaan dengannya saat kami pulang menuju hotel. Aku ingin agar dia tidak memecatku, aku takut jika aku dipecat, aku tak memiliki kesempatan untuk bertemu lagi dengannya. Bahkan aku sudah memberinya pilihan agar menikahiku untuk menjadi istri keduanya, namun dia tetap menolak. Bukankah dia seharusnya bahagia memiliki dua istri yang cantik, bukankah di luar sana begitu banyak pengusaha yang memiliki istri lebih dari satu.


Aku tak berputus asa untuk mengganggu waktu bulan madunya, aku tahu sore itu mereka akan pergi berbelanja. Aku lalu menghampiri kamar mereka, dan seperti dugaanku, Ibu Kamila mengajakku ikut pergi dengan mereka meski Pak Anton tampaknya tidak menyukai kedatanganku.


Pak Anton sepertinya benar-benar tidak ingin diganggu. Aku bahkan tidak diberi kesempatan untuk mendekati mereka. Aku pun tak kehabisan akal, aku berpura-pura jatuh agar Pak Anton memperhatikanku. Namun ternyata rencanaku juga sia-sia karena Pak Anton tak bergeming, dia bahkan menyuruh Dimas untuk membawaku kembali ke kamar hotel.


'Sialan, benar-benar kurang ajar Pak Anton!"


Saat itu perasaan cintaku berubah menjadi sakit hati. Aku ingin membalasa dendam agar Pak Anton menyesal telah menolakku, aku juga ingin menyakiti Kamila, wanita yang telah membuatku kehilangan harapan untuk mendapatkan cinta sejatiku.


"Awas kalian!!! Tunggu pembalasaku, akan kubuat kalian menyesal!!!"