Orang Tua Untuk Bayiku

Orang Tua Untuk Bayiku
Terdampar


Pov Kamila


"Randi... Aku bertanya padamu Randi kenapa kamu melakukan semua ini padaku!!!"


Namun Randi hanya terdiam, sesekali dia menyunggingkan senyum liciknya. Tangan nakalnya mulai menyentuh wajahku lagi.


"Kamila...Kamila... Sudah berulang kali kukatakan Ayahmu lah penyebab kehidupan kedua orang tuaku hancur, kamu tahu Kamila setelah kita berpisah saat aku akan kembali ke Jambi, Ayahku ditangkap oleh polisi, Ayahmu lah yang menyusun rencana penangkapan ayahku!!!"


"Perlu kamu tahu, dia tidak mungkin menangkap orang sembarangan, dia juga tidak mungkin bertindak gegabah dan tanpa bukti!!!"


"Iyaaaa Kamila.. Iya, Ayahku memang seorang penjahat, tapi Ayahmu yang merencanakan kematiannya di dalam penjara, bukankah memenjarakannya selama sepuluh tahun itu sudah cukup? Kenapa Ayahmu harus membunuh Ayahku!!!"


"Aku tidak percaya Ayahku dengan sengaja merencanakan pembunuhan Ayahmu Randi, aku tidak percaya semua kata-katamu karena kamu adalah penipu dan penjahat sama seperti Ayahmu!!!"


"Diam kamu wanita ja*ang, tahu apa kamu tentang kehidupan keluargaku!!!"


"Aku tahu banyak tentangmu Randi, kamu adalah laki-laki egois dan hanya bertindak untuk kepentinganmu sendiri, kamu sama jahatnya seperti Ayahmu, keluarga kalian pantas mendapatkan hukuman di dunia ini karena kejahatan yang telah kalian lakukan, dan sekarang kini aku sadar saat masih duduk di bangku sekolah, Ayah memang melarangku dekat dengan pendatang di komplek perumahan ternyata karena ini alasannya, jadi kalian para mafia gembong narkoba dan preman yang mengganggu keamanan saat itu? Wah aku tak menyangka Randi penjahat itu adalah keluarga kekasihku dulu!!!" kataku sambil mengejek dan tertawa.


Randi sepertinya mulai tersulut emosi, dia lalu mendekatiku dan membekap mulutku. "Diam kamu wanita bodoh, takkan kubiarkan mulutmu berbicara lagi untuk menghina keluargaku, waktumu sudah habis dan kini rasakan pembalasaku!!!"


Dia lalu mengambil sesuatu di saku celananya dan memasukannya ke dalam mulutku. Beberapa saat kemudian semua terasa begitu gelap. Aku pasrah jika Randi akan membunuhku.


******


Sayup-sayup kudengan lantunan adzan subuh, lalu kubuka mataku perlahan." Dimana aku apakah aku sudah mati? atau masih hidup?"


Aku mencoba melihat sekelilingku, ternyata aku masih hidup, di samping kanan dan kiriku tampak pepohonan yang menjulang, kini aku sadar aku tengah berada di sebuah hutan belantara. 'Dimana ini?' batinku.


Dengan sekuat tenaga, aku mencoba duduk dengan tubuh bersandar pada sebuah pohon. Aku lalu melihat keadaanku, tubuhku tampak begitu berantakan dengan beberapa lebam, aku lalu melihat tasku untuk mencari ponsel dan dompet milikku. 'Sial Randi benar-benar jahat, ponsel dan dompetku sudah tidak ada di dalam tas, pasti dia yang telah mengambilnya, rupanya dia ingin aku mati perlahan di dalam hutan ini!'. Namun di sebuah celah tasku aku masih menemukan sedikit uang yang biasa kusimpan untuk membeli minum, biarpun ini adalah uang receh namun tetap begitu berharga bagiku dalam keadaan seperti ini.


'Tunggu bukankah tadi aku mendegar adzan? berarti ada perkampungan tak jauh dari sini?'


Tapi ternyata tubuhku begitu lemas, saat aku mencoba berdiri, tubuhku sudah ambruk lagi ke atas tanah. Aku hanya bisa terbaring mengumpulkan sisa-sisa tenagaku kembali. 'Aku harus makan untuk mengisi tenagaku, tapi tak mungkin ada makanan di dalam hutan belantara seperti ini.'


Aku tak kehabisan ide, kulihat pucuk-pucuk daun yang masih muda, aku lalu mengambilnya dan memakannya. Tetesan embun di pagi hari yang menggenang di antara dedaunan lalu kuminum, kini aku telah bisa duduk, kemudian aku melihat biji-biji ketapang di sekitarku. Aku lalu mengumpulkan dan memecahnya dengan batu dan kumakan.


Kini aku sudah memiliki sedikit tenaga untuk melanjutkan perjalanan, meski dengan begitu tertatih aku mencoba untuk terus berjalan. Sudah berjam-jam aku berjalan sambil memakan beberapa pucuk daun yang ada di dalam hutan untuk memberikan tenaga padaku, namun belum juga kutemukan tanda-tanda adanya perkampungan.


Disaat aku mula merasa panik, cemas dan putus asa, samar aku melihat jalan raya. Aku begitu bahagia, lalu kupercepat langkah kakiku. Namun meski aku telah menemukan jalan raya, jalan ini ternyata sangatlah sepi. Sudah lama aku berdiri namun tak satupun kendaraan yang melewati jalan ini.


Berbekal sisa tenaga yang masih kumiliki aku lalu mencoba berjalan, menyusuri jalan ini, rasanya sudah begitu lama aku melewati jalan ini namun tak juga kutemui perkampungan. Aku lalu beristirahat sebentar, rasanya begitu lelah dan lapar, tendangan di perutku pun semakin kencang.


"Ya Tuhan tolong hamba, berikanlah pertolonganMu pada hamba yang hina ini." kataku sambil menangis tersedu-sedu. Saat aku benar-benar merasa rapuh dan begitu lelah, ada suatu dorongan dalam hati yang menyemangatiku.


'Kamila ayo Kamila kamu pasti bisa melalui ini semua, Kamila kamu wanita yang kuat, berjuanglah Kamila!'. Aku lalu bangkit dan mencoba berjalan kembali.


Tersiak-siak kakiku menempuh jalan terjal ini. Sejujurnya aku tak tahu kemana kaki ini akan melangkah. Hanya sedikit uang yang kupunya, dan aku tak tahu sampai kapan uang ini bisa menghidupiku dan bayi dalam kandunganku.


Tubuh ini terasa begitu lelah, tendangan bayi di perutku pun semakin kencang. Kaki ini sudah tak sanggup untuk melangkah, sedangkan yang aku lihat hanya rumah milikMu. Akhirnya aku menemukan sebuah masjjd di depanku. Namun hatiku diliputi keraguan. 'Oh Tuhan masih pantaskan tubuh kotor jni bernaung di rumahMu meski hanya sebentar saja' batinku dalam hati.


Aku lalu duduk di depan masjid. Tubuhku bersandar pada tembok, dan kakiku kuluruskan di atas anak tangga di depan pintu masjid, lalu kupejamkan mataku sejenak. Tiba-tiba seorang lelaki tua menghampiriku.


Aku hanya bisa menangis tersedu-sedu, dia hanya memandangku dengan tatapan iba.


"Sudah nak kamu bersihkan dirimu saja dahulu di dalam, bapak tunggu kamu disini."


"Baik pak terimkasih." 


Aku lalu masuk ke dalam kamar mandi masjid lalu mandi, aku berteriak dan menangis melihat tubuh ini, rasanya tubuh ini begitu kotor. Air yang ada di dalam bak mandi rasanya tak cukup membersihkan tubuhku. Cukup lama aku menghabiskan waktu di dalam kamar mandi, lalu aku keluar dengan tubuh yang jauh lebih segar.


Aku duduk di dekat laki-laki tua tersebut lalu dia  memberikan sebungkus nasi padaku. Aku berterimakasih lalu memakannya dengan sangat lahap. Dia memperhatikanku makan dengan sangat terheran-heran. Aku memang merasa begitu lapar, entah berapa lama Randi menyekapku aku pun tak tahu.


Ketika aku sudah selesai makan, lalu mencoba memberanikan diri bertanya pada laki-laki tua tersebut.


"Maaf Pak ini di daerah mana ya?"


"Ini di daerah Banyuwangi Nak."


Betapa terkejutnya aku, aku bisa terdampar sejauh ini. Bahkan aku belum pernah menginjakkan kaki di daerah ini, Randi pasti telah merencanakan ini semua, dan berharap aku mati akibat ulahnya. 'Benar-benar jahat.' batinku dalam hati.


Aku masih diam termenung pikiranku begitu kacau, uangku tinggal tak seberapa, ponsel pun sudah tidak ada bagaimana aku bisa menghubungi keluargaku. Saat semua terasa begitu kacau aku hanya bisa menangis terisak.


"Tenangkan dirimu Nak, siapa namamu dan dari mana asalmu? perkenalkan nama bapak Sugeng, bapak marbot di masjid ini, sekarang ceritakan pada bapak apa yang telah terjadi padamu?"


"Maaf Pak, saya Kamila berasal dari Solo, saya hendak ke rumah kakak saya di Jakarta, namun di jalan saya dirampok dan diperkosa, saya sudah tidak memiliki apa-apa lagi, bagaimana saya bisa menghubungi keluarga saya, apa ada pekerjaan untuk saya Pak? agar saya bisa memiliki ongkos untuk pergi ke rumah kakak saya?" kataku sambil menangis.


"Kenapa harus ke rumah kakakamu nak Mila? Apa tidak sebaiknya nak Mila pulang ke Solo saja, kan lebih dekat, ongkosnya juga pasti lebih murah?"


"Tidak bisa Pak, saya harus ke rumah kakak saya, saya harus memberikan anak dalam kandungan saya pada orang lain Pak, anak yang saya kandung tidak memiliki Ayah dan menjadi beban dalam keluarga kami."


Pak Sugeng sebenarnya begitu terkejut dengan ceritaku namun dia seolah-olah bersikap biasa di depanku, seolah tak mau menyinggungku.


"Nanti coba Bapak bicarakan dengan Pak Arif dan Bu Winda pemilik masjid ini, mereka memiliki rumah makan yang cukup besar dan memiliki beberapa cabang di daerah Jawa Timur, barangkali mereka bisa membantumu memberikan pekerjaan sementara padamu"


"Baik, terimakasih banyak Pak."


"Sekarang kamu masuk saja ke dalam kamar di belakang masjid Nak, memang sempit namun cukup layak untuk melepas lelah, ini Bapak bawakan makanan untukmu, kamu sedang hamil butuh asupan makanan yang banyak untuk bayimu."


"Terimakasih banyak Pak, bagaimana caranya agar aku bisa membalas kebaikan Bapak? Aku saja tidak memiliki apa-apa?"


"Sudahlah, tidak usah dipikirkan, sekarang kamu istirahat saja, kamu telah melalui hari yang begitu berat, tenangkan hati dan pikiranmu, berdoalah agar kita segera mendapat kabar baik dari Pak Arif dan Bu Winda masuklah ke kamar Nak, Bapak akan membersihkan masjid ini terlebih dahulu, sebentar lagi sudah akan masuk waktu dzuhur.'


"Iya Pak terimakasih banyak"


Lalu aku berjalan menuju ke dalam kamar di belakang masjid, kurebahkan tubuh ini. Namun saat aku mencoba memejamkan mata untuk tidur, aku merasakan sakit yang luar biasa pada perutku.


Aku lalu mencoba berdiri menghampiri Pak Sugeng yang sedang mengepel "Pak Suuugeeng." kataku terbata sambil menahan sakit.


"Nak Milaaaa."