Orang Tua Untuk Bayiku

Orang Tua Untuk Bayiku
Masa Lalu


Aku lalu ikut menghampiri mereka berempat yang tengah asyik bercengkrama di depan televisi.


"Mas, mandi dulu dong kamu kan baru pulang dari kantor masa langsung nimbrung gini sama anak-anak."


"Ini kan hari terakhir Manda di rumah Mila, besok pagi dia sudah harus pergi, aku ga mau melewatkan sedetikpun kebersamaan dengan putri tercinta kita."


"Mas, Singapure itu deket loh, tiap minggu juga kita bisa nengokin Manda."


"Kamu tambah ngegemesin sayang kalo lagi cemberut gini."


"Ciye... Ciye Papa ga pernah inget umur deh, dari Manda kecil sampai udah gede gini tetep aja bucin sama Mama."


"Manda kan Manda tau sendiri Mama itu cinta pertama dan terakhir buat Papa hahahaha."


"Iya deh Manda masih inget kok gimana dulu Opa sama Oma jodohin Papa sama puluhan tante-tante, tapi Papa ga pernah mau."


"Puluhan Manda?"


"Iya puluhan Ma, hampir tiap Manda ke rumah Oma, pasti Oma lagi jodohin Papa sama cewek cantik."


Aku langsung melirik pada Anton. "Kok kamu ga pernah cerita sama aku Mas?"


"Buat apa sih sayang, itu kan masa lalu ga penting, yang terpenting adalah keluarga kita sekarang." kata Anton sambil mengecup keningku lalu beranjak pergi.


"Mau kemana Mas? kamu kan belum cerita?"


"Mandi, kan tadi kamu yang bilang aku suruh bersihin badan dulu."


"Liat tuh Papa kamu alesan aja Manda, dia pasti ngindarin mama kalo suruh cerita masa lalunya."


"Hahahahaha Mama juga lucu deh, kepo banget sama masa lalu Papa, dulu aja Mama selalu cuek, Papa udah setia banget loh nunggu Mama mau balikan lagi, kalo Manda jadi Papa ga bakal sanggup deh hahahahahaha."


"Iiih Manda, kok malah ikut ngledekin Mama."


"Tuh kan Mama malah kesel sendiri."


"Memangnya beneran kalo dulu Papa sering dijodohin sama Oma?"


"Ya bener lah Ma, masa Manda bohong sih."


"Trus respon Papa gimana Manda kalo Oma bawa tante-tante cantik ke rumah?"


"Biasa aja, melirik juga ngga, malah asyik main sama Manda."


Senyum terukir di bibirku, memang tidak ada laki-laki yang begitu mencintaiku melebihi Anton. Malamnya saat Anton asyik menonton televisi di kamar, aku bergelayut manja padanya.


"Mas."


"Kenapa sayang? Gak biasanya kaya gini, pasti ada maunya nih?"


"Hmmmm."


"Lho kok malah manyun?"


"Janji dulu kamu mau nurutin permintaan aku malem ini." kataku sambil tersenyum manja.


"Ih bukan itu Mas!"


"Terus apa?"


Aku lalu memeluknya dan mendekat pada telinganya. "Ceritakan masa lalu kamu dengan wanita-wanita itu." kataku manja.


"Sayang, kok itu lagi sih, aku kan males bahas wanita-wanita genit yang sok kecentilan itu."


"Mas... Please!" kataku mengiba disertai raut wajah memelas.


"Hmmm... oke kita mulai dari mana?"


"Sejak awal kita bertemu sampai selama sepuluh tahun kita berpisah " jawabku sambil tersenyum penuh kemenangan.


"Banyak banget sih, awal pertemuan aja deh, bagian perpisahan di skip, itu kan bagian terburuk dalam hidupku sayang!!!" kata Anton sambil mencubit kedua pipiku.


"Mas, please!" kataku lagi memelas sambil bergelayut manja di atas dada bidangnya.


"Oke...Oke sayang."


'Dasar bucin.' kataku dalam hati sambil terkekeh.


******


Pov Anton


Kamila, dia wanita yang membuat jantungku berdetak dengan kencang, dia adalah cinta pertamaku, meskipun sebelumnya sudah begitu banyak wanita hadir dalam hidupku, tak pernah kurasakan jatuh cinta pada mereka. Bagiku mereka hanya pelampiasan untuk mengisi kebosanan dalam hidupku.


Aku pertama kali melihatnya saat pendaftaran mahasiswa baru di Universitas tempatku kuliah. Saat itu dia masih tampak polos, berdiri di depan gedung Administrasi pusat sedang menunggu seseorang. Di awal pertemuan ini dia begitu mencuri perhatianku. Tak mau membuang kesempatan, aku lalu menghampiri dan mengajaknya berkenalan, namun dia malah lari meninggalkanku.


Aku tak kehilangan akal, keesokan harinya saat dia mengembalikan formulir pendaftaran, aku mencoba mengorek informasi tentangnya. Ternyata jurusan yang dia pilih adalah jurusan yang sama denganku.


Saat hari pengumuman mahasiswa baru, aku begitu bahagia namanya tercantum di daftar mahasiswa yang diterima di kampusku. Akhirnya hari yang dinanti pun tiba. Di hari pertama masuk kuliah, dia tampak begitu anggun saat menggunakan dress selutut berwarna biru tua dengan motif bunga. Rambutnya yang hitam tergerai dan beberapa kali tersapu angin kian menambah kecantikan dirinya.


Rasanya aku tak bisa memalingkan mataku meski hanya sedetik saja. Kamila memang wanita yang begitu cantik, sejak awal kedatangannya di kampusku, begitu banyak lelaki yang tertarik padanya dan berusaha mendekatinya. Namun mereka semua dapat kusingkirkan, karena di kampus ini akulah yang paling berkuasa.


Sudah satu tahun terkahir aku mendekati Kamila, berbagai cara sudah kulakukan, namun tampaknya dia tidak pernah tertarik padaku. 'Apa kurangnya aku ini?' batinku dalam hati. Wanita lain bahkan mengejarku karena ketampanan dan harta yang kumiliki. Namun Kamila selalu menolak segala perhatian yang kuberikan padanya.


Hingga suatu hari aku bertemu dengan salah satu teman masa SMA-nya dan dia menceritakan hubungan Kamila dengan mantan kekasihnya yang bernama Randi. 'Jadi Randi penyebab Kamila enggan membuka hatinya pada orang kain?' batinku dalam hati.


Saat aku tengah sibuk menyelesaikan tugas makalah di perpustakaan kampus, tanpa sengaja dia duduk di sebelahku dan tampak kesulitan mencari referensi untuk tugas yang akan dia kerjakan. Aku lalu menawarkan bantuanku padanya, ya aku memang dikenal cukup pintar di kampus ini. Tanpa bersusah payah, setiap semester aku mendapat IP mendekati angka 4. Tak kusangka dia mau menerima tawaranku, ternyata Kamila wanita yang begitu lembut, dia lebih baik daripada yang aku pikirkan.


Sejak saat itu kami menjadi semakin dekat, maka setelah beberapa bulan kedekatan kami, aku memutuskan untuk menyatakan perasaanku padanya, semua sudah kurencanakan dengan begitu matang, bahkan seluruh mahasiswa di kampus ini pun ikut membantuku. Sayangnya Kamila menolakku, hatiku sebenarnya begitu hancur, padahal awalnya aku yakin dia akan menerima cintaku karena sikap Kamila yang sudah sangat bersahabat dan lebih perhatian padaku, bahkan beberapa kali dia memasakkan makanan kesukaanku untuk bekal makan siangku.


Kamila menangis lalu berlari pergi meninggalkan aku, namun aku melihat dari arah jalan raya tampak mobil melaju dengan begitu kencang. Hujan dan tangis membuat Kamila tak mendengar klakson mobil yang beberapa kali dibunyikan, dengan sigap aku merengkuh tubuhnya. Namun nahas sebelum aku dapat menghindar, tubuhku sudah tertabrak mobil yang melaju dengan begitu kencang, selanjutnya aku tak tahu apa yang terjadi.


Saat kubuka mata, aku sudah berada di rumah sakit, dan Kamila tertidur di atas dadaku. Berulang kali Kamila meminta maaf padaku, padahal aku baik-baik saja dan tidak perlu dikhawatirkan.


Masa-masa aku menjalani perawatan di rumah sakit adalah bagian terindah dalam hidupku karena setiap hari aku bisa bersama dengannya, selesai kuliah Kamila langsung menuju rumah sakit, bahkan setiap malam dia rela tidur di rumah sakit bersamaku. Aku sebenarnya bisa melihat cinta pada matanya, saat dia mengantarkan aku pulang setelah selesai menjalani perawatan di rumah sakit, kuberanikan diri untuk memeluknya, dia tidak menolakku bahkan kami berciuman begitu mesra, aku pikir ini adalah awal yang baik, tapi ternyata aku salah.


Kamila menghempaskan tubuhku saat dia melihat sesuatu di salah satu pojok kamarku, sebuah lambang salib memang masih menghiasi kamarku. Kondisiku yang masih belum pulih membuatku pasrah saat Kamila pergi meninggalkan aku.