Orang Tua Untuk Bayiku

Orang Tua Untuk Bayiku
Terbongkar


Aku melangkahkan kakiku masuk ke dalam rumah saat memasuki waktu dini hari dan hampir menjelang subuh. Kudengar ponselku bergetar saat mata ini mulai terpejam.


Randi:


Selamat tidur sayang, terimaksih untuk hari ini, mimpi indah, love you.


Namun tubuh ini sudah begitu lelah, lalu kuidahkan pesan itu begitu saja dan tertidur. Rasanya baru sebentar aku memejamkan mata namun suara teriakan Amanda sudah membangunkanku.


"Mamaaaa, Mama kemana aja kok pulangnya malem banget, Manda kan kangen, sekarang Mama jarang nemenin Manda main."


"Maaf Manda sayang, mama lagi banyak kerjaan tapi mama janji akhir pekan kita jalan-jalan ke mall seperti biasa ya, sekarang kamu mandi dulu, mama mau bikinin Manda sarapan terus berangkat ke sekolah dianter sama kakek ya, mama masih cape."


" Siap Ma, Manda mandi dulu ya."


Selesai mengurus Amanda aku lalu menuju ke kamar untuk melanjutkan tidurku kembali. Namun saat kaki ini akan melangkah menaiki tangga Ibu mencegatku. "Mila, ibu perhatikan beberapa hari ini kami sibuk banget, ada apa sih Mila?"


"Ga ada apa-apa Bu, Mila cuma habis ganti konsep dekorasi interior cafe, mengikuti perkembangan jaman dong bu, biar ga jadul, sasaran cafe Mila kan anak muda, Mila harus bikin konsep biar instagramable biar semakin diminati anak muda."


"Apa itu ins,,insta,,insta apa Mila?"


"Instagramable Bu."


"Iya itu susah banget ngomongnya, ya sudah kamu istirahat sana, syukurlah ga terjadi apa-apa ibu cuma khawatir aja sama kamu Nak, kadang perasaan ibu ga enak."


"Iya Bu, ga ada apa-apa, tenang saja Mila bisa jaga diri kok Mila istirahat dulu ya nanti sore baru berangkat ke cafe."


Ibu hanya mengangguk dan berlalu ke arah dapur, aku lalu masuk ke dalam kamar. Bersamaan dengan ponselku yang berbunyi


"Halo ya Ran."


"Selamat pagi Mila, aku baru bangun Mil, tapi udah kangen sama kamu, nanti malem kita ketemu yuk?"


"Oke, ketemu dimana?"


"Kamu ke rumahku ya Mil aku udah siapkan surprise buat kamu."


"Surprise kok ngomong-ngomong sih?" kataku sambil tertawa, rasa kantukku seketika hilang karena Randi. Kami lalu mengobrol sampai hari menjelang siang.


Pukul tujuh malam aku sudah meninggalkan cafe dan menuju rumah Randi, namun rumah itu tampak gelap dan sepi. Aku yang panik takut sesuatu terjadi padanya, lalu bergegas masuk ke dalam. Saat kubuka pintu, rumah itu begitu gelap aku lalu melangkah masuk.


"Ran... Ran kamu dimana sayang?"


Tiba-tiba sebuah cahaya mulai terlihat, betapa terkejutnya aku melihat Randi menyiapkan candle light dinner tepat di depanku, lalu dia memberiku sebuket bunga berwarna merah dan menyalakan musik romantis.


Kami lalu makan malam bersama diiringi cahaya lilin dan alunan musik yang begitu syahdu. Selesai makan Randi lalu mengajakku menonton film yang telah dia persiapkan, aku berusaha menolak karena malam ini aku ingin menemani Amanda tidur. Namun saat aku berdiri dan beranjak pergi tiba-tiba Randi mendekapku dari belakang.


"Mila please." sambil mencium tengkuk dan leherku, aku akhirnya luluh oleh rayuannya dan kembali melakukan hubungan terlarang lagi dengannya.


Tak terasa sudah hampir enam bulan lamanya kami menjalani hubungan ini, Randi yang kini memiliki bisnis sawit di Jambi rela bolak-balik Solo-Jambi demi menjalani hubungan ini denganku.


Suatu hari Ibu meminta ijin padaku menyampaikan pesan dari Anton jika saat liburan tiba Anton ingin membawa Amanda ke Jakarta untuk bertemu kakek neneknya, tentu saja aku mengijinkan. Aku juga berniat mengunjungi Randi di Jambi karena sudah satu bulan ini kami menjalani LDR. Aku beralasan pada orang tuaku jika aku pergi mengunjungi salah seorang temanku di Jambi yang sedang sakit.


"Ran, kita ke rumahmu kan?"


"Emh..em kita menginap di hotel saja ya Mil, di rumah ada Tante Fatma, dia adik ibuku yang reseh, nanti malah kita diceramahin lagi."


"Ya udah deh terserah kamu aja sayang, aku ikut."


Namun ternyata Randi tidak mengajakku pergi ke hotel di daerah Jambi ini, dia mengajakku pergi ke daerah Tanjungpandan, Belitung dan kami menginap di salah satu resort mewah di kawasan itu.


Bahkan Randi telah mendaftarkan paket bulan madu untuk kami berdua, aku begitu terkejut sekaligus bahagia mendengarnya. Namun ada sedikit kecemasan dalam hatiku, aku ingin hubunganku dan Randi bisa berjalan ke tingkatan yang lebih serius, bukankan kami sudah sama-sama dewasa batinku dalam hati.


Selesai mandi dan membersihkan badan, aku melepas lelah dan tidur di atas ranjang. Tiba-tiba Randi sudah ada di sampingku. "Ran aku mau ngomong sama kamu."


"Ngomong apa Mila, katakan saja jangan ragu-ragu."


"Aku mau kita nikah Ran, kita kan sudah sama-sama dewasa, seharusnya tidak ada yang disembunyikan dari orang tuaku tentang hubungan kita."


"Tenang saja Mila, aku pasti akan menikahimu, bulan depan aku akan pergi ke Solo dan menemui kedua orang tuamu."


"Beneran ya Ran, janji?"


Randi lalu mengangguk dan mulai menggodaku. Wajahnya mendekat tepat di depan wajahku dan tangannya mulai bermain manja menyentuhku. "Sekarang kita nikmati saja liburan kita Mila, tidak ada yang akan mengganggu, dan kebersamaan ini tak kan terbatas oleh waktu, Mila aku sudah begitu merindukanmu."


Diakhir kalimatnya bibirnya sudah sudah tepat diatas bibirku dan kami mulai berciuman melepaskan semua rasa rindu yang telah terpendam. Hari-hati berikutnya kami lalui dengan menghabiskan waktu untuk berjalan-jalan di pantai dan berbelanja. Randi juga memberiku berbagai barang-barang mahal selama kami berlibur.


Aku sebenarnya tidak terlalu membutuhkan barang-barang ini, namun Randi yang memaksaku untuk menerima semua pemberiannya.


Tak terasa lima hari berlalu, aku harus pulang. Sesaat sebelum pulang aku menagih janjiku pada Randi untuk melamarku, dan diapun menyanggupinya.


Sesampainya di rumah, rumah tampak begitu sepi. Namun kulihat Mba Rani duduk di meja makan, dia lalu menghampiriku, tatapan matanya begitu tajam.


"Mba Rani, ada apa?"


PLAKKKK PLAKKKKK


Mba Rani kenapa mba, kok tiba-tiba mba nampar aku. "Tanyakan pada dirimu sendiri Mila, kenapa sekarang kamu begitu menjijikan?"


"Apa maksud Mba Rani?"


"Tidak usah berbohong Mila, aku sudah tahu semua kelakuan busukmu!"


"Mila ga ngerti Mba?"


"Kamu sedang menjalin hubungan dengan Randi kan? beberapa kali Mas Ardi memergokimu sedang berduaan dengan Randi, kamu juga tak segan-segan datang ke rumahnya kan? Bahkan kemarin Mba Tari bilang jika suaminya yang saat ini bertugas di Tanjungpandan melihatmu berlibur di sebuah resort mewah, dan memesan paket bulan madu, sangat menjijikan, dasar tidak tahu malu!"


"Apanya yang salah Mba? kita saling mencintai?"


"Mila buka mata kamu, kenapa kamu begitu bodoh, Randi sudah memiliki istri Mila!!!"


Mendengar kata-kata Mba Rani, jantungku rasanya seperti ditikam oleh pisau, tiba-tiba pengelihatanku kabur,dan semuanya gelap.