
Saat mataku terbuka, aku terkejut karena di sekeliling ruangan tampak tembok berwarna putih yang sangat kukenali, ya ini adalah kamarku. Lalu aku melihat ke samping kananku ada Ibu dan Mba Rani "Mila akhirnya kamu sadar Nak." kata Ibu. Aku lalu mencoba untuk duduk, meskipun kepala ini masih terasa begitu berat.
"Minum dulu Mila, tenangkan dirimu." Mba Rani lalu memberiku segelas air putih.
Aku lalu meminumnya, rasanya kerongkonganku memang terasa begitu dahaga. Cairan dalam tubuh sudah terkuras habis oleh keringat dan air mata. Tubuhku juga terasa begitu lelah, entah sudah seberapa jauh tadi aku berlari, aku tak begitu menyadarinya. Aku hanya ingin menumpahkan segala perasaanku karena tak sanggup lagi menahan sakit saat berada di samping Randi.
"Kok Mila sudah ada di kamar Bu?"
"Iya tadi kamu pingsan di dekat komplek perumahan Nak, untung ada salah seorang petugas security yang mengenalmu saat sedang berkeliling di sekitar komplek, dia melihatmu sedang ditolong oleh beberapa warga." kata Ibu.
Memang di komplek perumahan ini, Ayahku cukup dikenal karena Ayah merupakan kepala intel di Polres kota Solo. Sehingga banyak warga yang segan pada keluarga kami.
"Kamu sebenarnya kenapa Mila? Apa yang terjadi padamu sampai akhirnya pingsan di jalan? Apa kamu sakit Nak? Kamu pusing? Kita ke rumah sakit saja ya untuk cek kesehatan? Ibu ga mau hal buruk terjadi padamu Mila!" kata Ibu dengan cemas.
"Ga usah Bu, Ibu tenang saja, Mila cuma kecapean, beberapa hari ini memang tubuh Mila terforsir untuk belajar sampai terlalu lelah, Ibu kan tahu Mila ingin pinter kaya Mba Tari."
"Ya sudah, tapi kalau ada apa-apa kamu harus langsung ngomong sama ibu jangan kaya tadi, sekarang ibu ambilkan makan dulu ya, pasti kamu lapar, jangan terlalu lelah Mila, kamu boleh berkeinginan seperti Mba Tari tapi kalau ternyata memberatkan bagimu, tak usah terlalu mengejar keinginanmu itu."
"Iya Bu." jawabku. Ibu lalu pergi keluar kamar untuk mengambilkan makanan, sedangkan aku masih duduk diatas tempat tidur kejadian tadi siang rasanya seperti mimpi. Kucoba mencubit tanganku, rasanya sakit, berarti ini benar-benar nyata dan sekarang Randi pasti sudah pergi meninggalkanku.
Keesokan harinya aku mencoba berjalan melewati rumah Randi yang tak jauh dari rumahku, tapi rumah itu tampak begitu sepi dan kosong. Randi memang benar-benar telah pergi dari kehidupanku. Tak sadar air mataku pun kembali jatuh.
Hari-hari berikutnya kulalui dengan penuh kesedihan, aku memang tersenyum di depan orang-orang di sekitar ku. Tapi tidak dengan hatiku, tiap detik air mata masih mengalir di hatiku, rasanya terasa begitu sakit.
'Entah sampai kapan, biarlah hilang seiring berjalannya waktu.' hanya itu kata yang selalu kuucap dalam hati.
Hari berganti, bulan berlalu, akhirnya aku sedikit bisa mulai melupakan Randi, apalagi kini aku tengah sibuk menghadapi Ujian Akhir Sekolah. Aku ingin berusaha setidaknya aku tidak mengecewakan kedua orang tuaku dan bisa memberikan nilai kelulusan yang memuaskan untuk mereka.
Akhirnya hari pengumuman kelulusan tiba. Aku mendapat nilai yang sangat memuaskan. Amel begitu terkejut melihat nilai yang kudapat.
"Wah keren banget kamu Mila, pake jurus apa bisa sampe kamu dapet nilai kaya gini?"
"Makanya belajar dong Mel jangan bisanya cuma mikirin cowo terus hahahhaha."
"Enak aja, kamu tuh yang masih mikirin Randi terus."
Mendengar namanya disebut rasa sakit di hatiku kembali hadir. "Ups maaf Mila aku keceplosan."
"Gapapa Mel, aku juga udah lupa sama Randi." kataku sambil mencoba untuk tersenyum, meski hati ini terasa begitu sakit.
Aku lalu pulang dengan hati begitu bahagia, aku ingin Ayah dan Ibu bangga memiliki anak sepertiku.
"Ada apa sih Mila? kok bahagia banget."
"Lihat nih hasil ujian Mila."
Ibu lalu melihat nilai ujian dengan takjub, seakan tidak percaya aku memiliki nilai yang memuaskan. Karena diantara tiga bersaudara, biasanya nilaiku yang paling rendah, aku memang paling malas untuk belajar. Mba Tari selalu langganan juara umum di sekolah, sedangkan Mba Rani meskipun tak sepintar Mba Tari, nilainya selalu memuaskan.
"Hebat kamu Mila, Ayah pasti bangga melihat pencapaianmu, ya sudah kamu ganti baju dulu sana, lalu baru makan, ibu sudah masak ayam goreng kesukaan kamu."
"Makasih Bu." kataku sambil memeluk Ibu, rasanya hari ini aku sungguh bahagia. Randi pun sudah tak pernah ada lagi dalam pikiranku, meski dalam lubuk hatiku aku masih begitu mencintainya. Ternyata memberi kebahagiaan pada orang tua itu melebihi segalanya, dan mulai saat ini aku berjanji akan membahagiakan kedua orang tuaku.
Saat makan malam kuberanikan diri untuk berbicara pada Ayah dan Ibu mengenai rencanaku.
"Maaf Ayah, Ibu Kamila mau ngomong sesuatu."
"Ngomong saja Mila ada apa sih?" kata ayah.
"Mila mau minta ijin untuk kuliah di Universitas yang sama seperti Mba Tari di Jogja, kebetulan besok ada pendaftaran Ujian Masuk jalur Mandiri, kalau boleh Kamila mau ikut daftar."
Kulihat Ayah menarik nafas, kemudian terdiam dan memandang pada Ibu.
Mba Rani lalu membuka suara "Serius kamu Mila, kamu kan manja, apa bisa mengurus diri sendiri? Kuliah di kota ini saja kaya Mba Rani, di sini juga banyak Universitas yang bagus kan?"
"Kan disana ada Mba Tari, Mila juga ingin kuliah di salah satu Universitas terbaik di Indonesia."
"Ya masa kamu mau ngrepotin Mba Tari, Mba Tari kan juga kuliah apalagi sekarang sedang ngerjain tesis pasti sibuk." kata Mba Rani.
"Kamu boleh kuliah di Jogja Mila..." kata ayah namun kata-katanya terhenti, lalu matanya mulai melirik pada Ibu.
"Kamu boleh ke Jogja asal kamu jangan merepotkan Tari, kamu yang mandiri disana, jaga diri baik-baik apalagi sekarang Tari sedang mengerjakan tesis dan bekerja paruh waktu, pasti sangat sibuk." Ibu melanjutkan kata-kata Ayah yang tadi terputus sambil menasehatiku.
Aku melonjak kegirangan lalu aku merangkul Ayah dan Ibu sambil mencium mereka sesekali kujulurkan lidahku pada Mba Rani untuk meledek.
"Ya sudah kamu istirahat, besok pagi ayah antar kamu ke tempat Tari." .
Aku lalu mengangguk dan masuk ke dalam kamar. Begitu banyak pikiran menari dalam benakku. Aku ingin bisa seperti Mba Tari yang kuliah di Universitas yang bagus, bahkan dia bekerja paruh waktu di sebuah perusahaan besar. Biaya kuliahnya merupakan uang pribadi dari hasil kerja paruh waktu yang dia jalani.
Mba Tari memang anak kebanggaan kedua orang tuaku, dia cantik dan pintar. Meskipun banyak yang bilang aku jauh lebih cantik daripada Mba Tari, namun itu rasanya tak cukup bagiku. Karena aku juga ingin membahagiakan kedua orang tua dengan usahaku sendiri.
Aku begitu sulit memejamkan mata, tak sabar rasanya menanti hari esok.