Orang Tua Untuk Bayiku

Orang Tua Untuk Bayiku
Waiting is Fine


Anton begitu terburu-buru memasuki rumahnya. Dia lalu mencari keberadaan istrinya. "Sayang... Kamu dimana sayang?"


"Mas ada apa sih sore-sore gini malah teriak-teriak, ntar kesambet loh."


"Kamu kok malah doain yang nggak-nggak sih."


"Habis kami aneh Mas, pulang kantor bukannya ngucapin salam atau bawa oleh-oleh, malah teriak-teriak."


"Aku cuma pengin liat keadaan kamu sayang."


"Loh tadi siang kan Mas udah telepon."


"Telepon beda sama ketemu langsung, kamu beneran gapapa kan?"


"Iya gapapa, udah kamu mandi dulu sana, bajumu udah kusiapkan di atas tempat tidur, aku mau masak dulu untuk makan malam."


Anton lalu masuk ke dalam kamarnya, setelah selesai mandi dia membuka ponselnya dan tampak serius menerima telepon dari seseorang. Dia lalu berganti baju dan keluar dari kamarnya.


"Sayang, aku pergi sebentar ya, ada urusan kantor yang harus kuselesaikan."


"Mendadak banget Mas?"


"Iya sayang, klienku merubah jadwalnya secara mendadak karena istrinya sedang sakit, jadi sebelum dia pulang ke Jakarta, aku harus bertemu dia malam ini juga."


"Ya sudah hati-hati Mas, kabari aku kalau kamu pulang malam."


"Iya sayang." kata Anton sambil mencium kening istrinya.


"Cie... cie berasa nonton film romantis terus nih tiap hari liat Papa sama Mama." kata Amanda sambil terkekeh.


"Kamu kaya ga tau papa aja Manda." jawab Anton sambil berlalu.


Anton mengemudikan mobilnya dengan kecepatan tinggi, sesampainya di kantor dia bergegas keluar dari dalam mobil. Namun ketika dia berlari masuk ke kantor, tiba-tiba sebuah benda keras menghantam kepalanya.


Saat mata Anton terbuka, dia sudah ada di atas tempat tidur di sebuah kamar yang begitu wangi oleh lilin aromaterapi. Dia lalu melihat ke arah samping, tampak Sandra sudah duduk di sampingnya mengenakan sebuah lingerie berwarna merah. Tubuhnya yang putih dan berisi memang tampak begitu memesona di balik balutan lingerie tipis yang dikenakannya. Anton hampir saja terpesona melihatnya, namun kemudian dia tersadar.


"Sandra, apa yang kau lakukan padaku?"


"Selamat malam Pak Anton? Bagaimana kabar anda hari ini?"


"Sandra, jangan pernah berani berbuat kurang a*ar padaku."


"Siapa yang berbuat kurang ajar Pak Anton? Aku hanya ingin menikmati malam ini bersamamu."


"Tapi aku tidak pernah menginginkannya Sandra!"jawab Anton sambil melangkah pergi.


"Mau kemana Pak Anton, pintunya sudah saya kunci."


"Biarkan aku pergi dari sini Sandra."


"Tidak akan sampai kamu mau menikmati malam ini bersamaku!"


"Jangan pernah bermimpi karena aku hanya akan melakukannya dengan istriku."


"Apa kamu lupa Pak Anton, jika istrimu bukanlah sepenuhnya wanita suci, dia juga pernah melakukan hubungan terlarang dengan laki-laki beristri bahkan sampai melahirkan seorang anak?"


PLAKKKK PLAKKK PLAAAKKKK


Emosi Anton begitu memuncak mendengar kata-kata Sandra, dia lalu menamparnya beberapa kali. "Jaga kata-katamu atau akan kubuat kau menyesal telah berani bermain-main denganku!"


"Aku tidak takut dengan semua ancamanmu karena nasibmu kini ada di tanganku Pak Anton, aku bisa saja mengarang cerita palsu pada Ibu Kamila jika kamu sudah memperkosaku. Ingat Pak, kamu tidak akan pernah bisa pergi dari sini tanpa seizinku!!!"


"Hahahaha..."


"Kenapa anda tertawa Pak Anton?"


"Cepat kenakan pakaianmu Sandra, sebelum orang lain melihatmu berpakaian seperti ini." kata Anton sambil duduk di sebuah kursi.


"Tidak akan!"


"Baik, kalau itu maumu."


Anton lalu beberapa kali bertepuk tangan, lalu dibalik pintu tampak tiga orang laki-laki masuk dan begitu tergiur melihat Sandra.


Sandra begitu kesal, dia lalu mengganti pakaiannya di dalam kamar mandi. Wajah Sandra begitu marah melihat dia dipermainkan oleh Anton.


"Sudah kubilang Sandra, jangan pernah bermain-main denganku. Aku tahu semua rencana busukmu!"


"Apa maksud Pak Anton?"


"Bukankah tadi siang kamu akan menabrak istriku Sandra?"


"Darimana Pak Anton tahu."


"Lihat ketiga anak buahku baik-baik, salah satu dari mereka adalah yang menyelamatkan Kamila."


"Bre*gsek kamu Anton!"


"Kamu yang bre*gsek Sandra, bahkan sore ini kamu membayar security untuk menelponku dan menyuruhnya mengabarkan padaku jika ada maling yang masuk ke dalam kantor, lalu kamu memukul kepalaku, dan membawaku ke homestay ini yang sudah kau sewa!"


Mendengar kata-kata Anton, Sandra hanya terdiam. "Memangnya aku begitu bodoh bisa tertipu oleh semua rencanamu! Bahkan sebelum kamu melakukan apapun aku sudah memerintahkan anak buahku untuk mengawasimu dan menjaga keluargaku."


"Dasar licik kamu Anton."


"Berkacalah sebelum menuduh orang lain Sandra, aku tahu kamu sudah membayar security untuk membohongiku tapi sebelum kamu melakukannya, aku sudah lebih dulu menyuruh mereka untuk berpura-pura menuruti kemauanmu. Lalu anak buahku yang sudah mengikutimu memberikan bayaran yang lebih mahal pada pemilik homestay ini agar diberikan kunci cadangan dan memasang kamera pengawas di ruangan ini. Kamu lihat dibalik vas bunga itu Sandra, ada kamera pengawas yang merekam semua perbuatanmu padaku. Dan kamu tak bisa memfitnahku begitu saja karena aku sudah memiliki semua rekaman aktifitasmu disini."


Sandra menatap Anton dengan tatapan yang begitu tajam. "Dasar laki-laki kurang *jar!"


Anton lalu mendekatinya. "Berhentilah bermain-main denganku dan bukalah lembaran baru dalam hidupmu!"


"Bagaimana jika aku tidak mau!"


"Ingat aku memiliki semua bukti kejahatanmu. Aku bisa dengan mudah melaporkanmu pada polisi lalu membuat keluargamu ikut menderita untuk selama-lamanya."


"Jangan pernah usik keluargaku!"


"Kamu juga jangan pernah lagi mengusikku dan keluargaku, bukankah sudah kukatakan tadi pagi saat kamu pergi meninggalkan kantorku."


Sorot mata Sandra yang awalnya diliputi emosi berubah menjadi teduh, lalu dia menangis dan meminta maaf.


"Maafkan saya Pak Anton."


"Sudah Sandra, saya sudah memaafkanmu, yang terpenting jangan pernah mengangguku dan keluargaku lagi."


"Baik Pak. Terimakasih karena anda tidak melaporkan saya pada yang berwajib."


"Sama-sama Sandra, saya pulang dulu. Mulailah kehidupan yang baru." Sandra lalu mengangguk, tubuhnya masih duduk di atas lantai sambil menangis tersedu-sedu.


Anton lalu pulang dengan perasaan yang begitu lega, karena masalah terbesarnya sudah dia selesaikan, terlebih pernikahan sahnya dengan Kamila tinggal menghitung hari lagi. Dia tidak ingin rencana pernikahannya berantakan karena masih ada Sandra yang menggangunya.


Anton memasuki rumah saat jam menunjukkan pukul sepuluh malam, dari luar rumah sudah tampak begitu sepi. Namun dia begitu terkejut saat yang membuka pintu rumah adalah istrinya.


"Sayang, kamu belum tidur?"


"Belum Mas, aku pengen nungguin kamu pulang."


"Kamu udah makan Mas?"


"Belum."


"Aku juga belum, kita makan bareng yuk!"


Selesai makan keduanya lalu masuk ke dalam kamar. "Sayang, apa memang kamu selalu seperti ini?"


"Seperti ini bagaimana Mas?"


"Apa sudah jadi takdir hidupmu untuk selalu menungguku?"


"Apa maksud kamu sih Mas? Aku bener-bener ga ngerti deh?"


"Sayang kamu bahkan rela menungguku tidak tidur dan makan sebelum aku pulang, sama seperti selama sepuluh tahun terakhir ini."


Kamila hanya tersenyum mendengar kata-kata suaminya. "Apakah tidak pernah kau sadari selama sepuluh tahun terakhir kamu sama sepertiku, tidak pernah menikah lagi. Apakah dalam hatimu pernah terbersit untuk kembali padaku hingga kamu menungguku selama sepuluh tahun lamanya?"


Kamila hanya terdiam, lalu mengangguk sambil meneteskan air mata. "Ya Mas, meskipun saat itu aku membencimu, aku sebenarnya selalu menunggumu menyatakan cintamu kembali padaku. Aku sebenarnya sangat hancur saat kau berjanji untuk tidak menemuiku selama-lamanya. Saat itu, memang aku menghindarimu, tapi tak dapat kupungkiri jika aku begitu merindukanmu. Aku selalu menutup hatiku untuk laki-laki lain hanya untukmu, namun sayang hatiku sempat goyah saat Randi datang kembali. Maafkan aku Mas."