Orang Tua Untuk Bayiku

Orang Tua Untuk Bayiku
Desperate


Pov Anton


Aku tak bisa berbuat banyak saat Kamila meninggalkanku dalam kebingungan. Kondisiku yang masih sakit sangat tidak memungkinkan aku untuk mengejarnya. Ponsel Kamila beberapa kali kuhubungi, tapi dia tak mau menjawab panggilan dariku. Aku hanya pasrah dan berharap secepatnya sembuh agar bisa bertemu kembali dengannya. Seminggu berlalu, aku berniat untuk berangkat ke kampus, tapi betapa terkejutnya aku saat kubuka pintu rumah, Ayah dan Ibu sudah berdiri di depanku.


"Mau ke mana kamu Anton?"


"Berangkat kuliah Bu."


"Tidak, mulai hari ini juga kamu akan ikut Mama kuliah ke Australia, kamu akan melanjutkan kuliah bisnismu disana."


"Tapi Bu..."


"Tidak ada tapi tapian, dua jam lagi kita akan berangkat, sekarang kemasi barang-barangmu."


"Tolong Bu, Anton mau di sini saja, satu tahun lagi Anton juga lulus kuliah."


"Keputusan kami sudah bulat Anton, kamu dan Caesar harus kuliah di Australia, karena Ayah sedang mengakusisi sebuah perusahaan besar di Jakarta, jika kamu sudah lulus kuliah, kamu yang akan memegang perusahaan itu, tolong bantu Ayah Anton, Ayah mohon."


Aku hanya terdiam, lalu Ibu masuk ke dalam kamarku bersama Mba Murni untuk mengemasi barang-barangku. Saat itu Ayah mendekatiku dan berbisik di telingaku.


"Anton, jika kamu tak mau melakukannya untuk Ayah, setidaknya lakukan ini untuk Kamila, buat dia jadi milikmu dengan bekerja di perusahaanmu, Ayah janji akan menikahkan kalian berdua." kata Ayah sambil tersenyum.


"Baik yah, aku akan melakukannya tapi ijinkan aku untuk bertemu dengannya sebelum berangkat ke Australia."


Ayah lalu mengangguk. Secepatnya aku mengendarai mobilku menuju kampus, aku berlari dari lorong yang satu ke lorong yang lain, tapi aku tidak menemukannya, aku lalu menuju kantin, taman dan beberapa sudut bagian kampus namun hasilnya juga nihil. Tak kehabisan akal, aku lalu pergi ke kost-kostan Kamila, tapi Kamila ternyata juga sudah pindah. Aku merasa begitu frustasi dan sedih.


"KAMILAAAAAAAAA"


***


Jam menunjukkan pukul 10.00 pagi, aku mengambil ponsel di saku jasku.


[Bagaimana Pak Surya?]


[Beres Tuan Anton, semuanya berjalan lancar, tanpa Tuan Anton minta dia memang masuk ke kriteria yang kita inginkan.]


Di hari pertamanya masuk kantor, kulihat Kamila begitu gugup dan tergesa-gesa. Hari ini, aku sudah meletakkan bunga di atas meja kerjanya. Saat dia menemukan bunga itu, dia tampak kebingungan dan beberapa kali melihat ke rekan-rekannya, tapi semua tampak sibuk dengan pekerjaannya, dan terlihat tak ada yang mencurigakan, aku hanya bisa tersenyum melihat tingkahnya.


Aku sudah berpesan pada Dini, staf senior di kantor ini untuk menjaga Kamila, karena aku tahu, dimanapun Kamila berada, dia pasti menjadi pusat perhatian laki-laki. Sejak aku memegang perusahaan ini satu tahun lalu, Dini dan Suryo adalah orang-orang kepercayaanku. Seperti janjinya dahulu padaku, perusahaan di Jakarta yang diakusisi oleh Ayah diberikan padaku setelah aku selesai menjalani kuliah di Australia, termasuk menjadikan Kamila sebagai karyawan disini.


Aku selalu menahan keinginanku untuk bertemu dengan Kamila selama dia masih menjalani masa training, dan hanya bisa memperhatikan gerak-geriknya dari jauh. Semua aku lakukan agar dia tidak pergi dariku. Setelah dia menandatangani surat pengangkatan karyawan, barulah aku akan menunjukkan diriku di hadapannya.


Akhirnya hari ini pun tiba, aku memerintahkan Dini untuk menyuruh Kamila masuk ke dalam ruanganku. Dia begitu terkejut melihatku, tapi aku tak mau melewatkan kesempatan ini, dan takkan kubiarkan dia pergi untuk kedua kalinya.


Setelah mendengar penjelasanku akhirnya dia luluh dan mau menerima cintaku. Aku begitu bahagia, setelah bertahun-tahun, akhirnya aku bisa memilikinya. Di kantor kami tetap bekerja profesional layaknya bos dan karyawan. Satu tahun menjalani masa pacaran, aku lalu menikahi Kamila meski Ibu menentang pernikahan ini.


"Jadi dia wanita yang telah membuatmu mengingkari kepercayaan yang dianutmu sejak lahir?"


"Bukan Bu, bukan Kamila, Anton sudah ingin berpindah keyakinan sejak lama, sejak di bangku sekolah, mayoritas teman Anton adalah muslim dan Anton terbiasa hidup dengan kebiasaan ibadah mereka, saat itulah Anton merasakan kenyamanan dalam hati Anton. Apakah Anton tak berhak memilih? Anton sudah dewasa Bu, Anton memiliki hak untuk memilih jalan hidup sesuai dengan kata hati!"


"Jangan banyak alasan kamu Anton, wanita itu juga sudah membuat dampak buruk bagimu, bahkan kecelakaan yang kau alami itu juga akibat ulahnya kan? Kamu pikir Ibu tidak tahu!"


"Kecelakaan itu adalah musibah Bu, dan setiap orang bisa saja mengalaminya, lalu dampak buruk apa maksud Ibu? Dia dari keluarga baik-baik dan tidak pernah berperilaku di luar batas!"


"Ibu tahu itu dia berasal dari keluarga terpandang, namun kamu harus mengerti Anton dia itu pembawa sial!"


"Cukup Bu, Ibu sudah keterlaluan, Anton sudah dewasa dan berhak memilih jalan hidupnya, sudah kamu masuk saja ke dalam kamar dan persiapkan pernikahanmu dengan baik besok, biar Ayah yang urus Ibumu." kata Ayah.


"Baik yah."


Keesokan harinya adalah hari pernikahanku dengan Kamila, semua keluarga besarku ikut hadir. Namun tidak dengan Ibu, dia begitu keras kepala dan tetap pada keputusannya. Aku hanya bisa berbohong pada Kamila jika Ibu tengah sakit. Acara pernikahan pun berjalan dengan lancar, aku begitu bahagia bisa mendapatkan wanita yang benar-benar aku cintai setelah menunggunya selama empat tahun sampai dia mau menerima cintaku.


Awalnya kehidupan rumah tanggaku dengan Kamila sangatlah romantis, dia tak kuperbolehkan bekerja agar kami cepat mendapatkan keturunan, dan aku tak ingin ada laki-laki di luar sana yang tertarik pada istriku. Hingga pada suatu hari Kamila terlihat begitu murung, sikapnya tidak seperti biasanya, dia juga terlihat begitu marah padaku. Akhirnya yang kutakutkan pun terjadi, Ibu mendatangi apartemenku, dan Kamila mengetahui semua rahasia yang kusembunyikan darinya. Setelah berdebat cukup lama akhirnya aku bisa membuat Kamila memahami keadaanku. Dan mulai hari itu kami berjanji akan memperbaiki hubungan kami dengan Ibuku.


Namun sebelum rencana kami berjalan, sebuah musibah terjadi dalam rumah tanggaku, di suatu siang aku melihat Kamila tengah bermesraan dengan laki-laki lain di apartemen kami. Aku begitu marah dan tak bisa berfikir dengan jernih sampai kata talak kuucapkan padanya. Hatiku sudah terasa begitu sakit, wanita yang begitu aku cintai dengan mudahnya menghianati ikatan suci pernikahan.


Akupun mengusir dan memblokir nomor telpon miliknya. Saat itu sungguh aku tak ingin berhubungan sama sekali dengan Kamila, keesokan harinya kakak Kamila mendatangiku, dan menceritakan jika Kamila tengah mengandung anakku, tapi aku tak percaya jika itu benar-benar anakku, karena aku melihat sendiri dia sedang bermesraan dengan laki-laki lain di depan mataku.