Orang Tua Untuk Bayiku

Orang Tua Untuk Bayiku
Penyelamat


Seorang laki-laki tampak begitu gelisah mondar mandir di dalam apartemennya.


"Kamu kenapa sih Ham? Dari tadi panik banget, kita kan baru aja pulang liburan, kamu udah kaya orang kebakaran jenggot gitu."


"Amanda, dia berubah Becca, sudah dua hari ini aku kirim pesan tapi tak ada satupun yang dia balas. Biasanya dia selalu mengirim pesan atau meneleponku terlebih dahulu, tapi sekarang membasa pesan dariku pun tidak."


"Mungkin sibuk."


"Dia sudah selesai ujian, saat ini dia sedang memasuki liburan semester, tidak mungkin dia sibuk."


"Mungkin dia udah punya cowok lain." kata Rebecca sambil terkekeh.


"Ini tidak bisa dibiarikan." kata Ilham sambil keluar dari apartemennya.


"Ilham mau kemana?"


"Kamu tunggu saja disini sampe aku pulang. Kamu harus membantuku Becca."


Rebecca hanya terdiam lalu mengangguk, kemudian masuk lagi ke dalam apartemen.


Selang satu jam, Ilham sudah kembali dengan membawa Amanda yang terlihat tidak sadarkan diri.


"Ilham, apa yang sudah kamu perbuat? Bener-bener gila kamu Ham, kamu bisa kena kasus penculikan."


"Aku tak peduli Becca, yang kutahu, aku harus balas dendam pada keluarga gadis t*ngik ini."


"Ilham bersabarlah dan berfikir dengan kepala dingin."


"Aku sudah berusaha untuk bersabar menghadapi keluarga mereka Becca, namun aku sudah tidak bisa lagi menahan rasa sakit hati ini."


"Lalu akan kau apakan dia? Dia tidak tahu apa-apa tentang semua yang telah terjadi Ilham."


"Akan kusiksa dia hingga membuat keluarganya menderita, sampai Wiguna mengakui kejahatannya dan menyerahkan diri pada polisi jika dialah yang menyebabkan kecelakaan sampai kedua kakakku meninggal."


"Ilham, tenangkan dirimu."


"Becca tolonglah sedikit pahami keadaanku dan perasaanku saat ini. Tolong bantu aku Becca."


"Baik Ilham, aku akan membantumu, apa yang harus kulakukan?"


"Cepat ikat dia Becca, sebelum dia sadar."


Amanda membuka matanya, tampak dia ada di dalam sebuah ruangan kosong yang pengap. Hanya ada satu buah sofa usang yang kini ia duduki.


"Oh sudah bangun kau rupanya Amanda."


"Om Ilham??"


"Hahaha... dasar anak kecil b*doh."


"Apa yang telah Om lakukan? kenapa Om berbuat jahat padaku? apa salahku padamu?"


"Tidak ada yang salah darimu Amanda. Bahkan kau begitu manis dan cantik, sama seperti ibumu Kamila."


"Darimana kamu tahu Ibuku?"


"Tentu saja aku tahu dan mengenal semua keluargamu sayang."


"Apa arti dari semua ini Om Ilham? Lepaskan aku!"


"Sabar Amanda sayang, kamu akan kulepaskan setelah keluargamu mau menuruti semua permintaanku!"


"Kamu memang benar-benar orang yang jahat!"


"Bukan aku yang jahat, tapi keluargamu Amanda sayang!"


"Perlu kamu tahu Om, kami dari keluarga baik-baik dan tidak pernah berbuat jahat pada siapapun!"


"Itu menurutmu, kamu bahkan tidak tahu jika Kakekmu adalah seorang pembunuh!!!"


"Tidak mungkin! Kakek adalah orang yang sangat baik!"


"Tapi itulah kenyataannya sayang, coba lihat rekaman ini."


Amanda lalu melihat sebuah rekaman dimana kakeknya, Wiguna sedang mengakui kejahatannya di depan dua buah pusara. Amanda lalu menangis sejadi-jadinya.


"Benar kan apa kataku sayang? Kakekmu adalah penjahat!"


"Lalu kenapa kau menyakitiku, mengapa tidak kau laporkan saja perbuatan kakekku pada polisi?"


"Hahahaha tidak semudah itu Amanda, bukankah kau tahu jika kakekmu adalah seorang polisi yang sangat berpengaruh, dia akan dengan mudah bebas tanpa mendapat hukuman apapun."


"Lalu apa yang kau inginkan dariku?"


"Menyakitimu agar mereka ikut tersiksa karena anak dan cucu yang mereka sayangi harus menanggung akibat dari perbuatan mereka!"


Ilham lalu mendekat pada Amanda, dia mulai menampar dan merobek bajunya.


"Cukup Ilham!"


"Ada apa sayang?"


"Tunggu dulu Ilham, berpikirlah masak-masak sebelum melakukannya."


"Apa maksudmu?"


"Kamu tahu kan kita berada dimana?"


"Ya, kita di Singapura."


"Kamu memang kekasihku yang paling pintar sayang, hari ini juga akan kuurus keberangkatan kita dan kuselesaikan urusan di kantor. Nanti malam kita pergi dari sini. Kamu tolong jaga dia ya sayang, aku pergi dulu."


Rebecca tersenyum dan mengangguk. Lalu mereka pergi meninggalkan Amanda yang masih menangis tersedu-sedu di ruangan itu.


"Papa... Mama... Tolong Manda."


Beberapa saat kemudian, Amanda mendengar langkah seseorang memasuki ruangan itu. Amanda begitu takut ketika dia menghampirinya.


"Tolong jangan sakiti saya, saya mohon jangan sakiti saya."


"Dasar anak nakal, makanya kalau sekolah itu yang bener, jangan malah pacaran sama Om-om, kayak gini kan jadinya." katanya sambil melepas ikatan Amanda.


"Kita mau kemana?"


"Ikut saja, kamu aman bersamaku."


Kamila dan Anton tampak begitu cemas menunggu seseorang di dalam kamar sebuah hotel di Marina Bay Sands.


"Mas kamu sudah hubungi dia kan?"


"Sudah sayang, mereka sedang dalam perjalanan."


Tiba-tiba pintu kamar hotel diketuk seseorang.


"Mungkin itu mereka sayang." kata Anton.


Saat pintu hotel terbuka, Amanda lalu bergegas memeluk Kamila, lalu menangis tersedu-sedu dalam pelukannya.


"Kamu baik-baik saja kan sayang?"


"Iya Ma."


Anton lalu mendekati seseorang yang datang bersama Amanda.


"Terimakasih banyak Rebecca."


"Sama-sama beb."


"Becca terimakasih banyak ya, kalau tidak ada kamu entah sapa yang terjadi dengan Amanda."


"It's okay Mila. Ga mungkin gue ga bantuin kalian."


"Maaf kalau aku sempat curiga pada kalian." kata Kamila sambil tersipu malu.


"Hahahaha." Rebecca dan Anton lalu tertawa.


"Lihat Becca tubuhku bahkan masih lebam-lebam saat malam itu dia memukulku, sesaat setelah aku meneleponmu."


Kamila masih mengingat kejadian malam itu di rumah mereka sambil tersenyum malu.


"Mas Antonnnn!!!!!" kata Kamila.


"Kenapa sayang?"


"Siapa yang kamu telepon itu Mas? kamu tadi bilang kalau kamu menelpon Tuan Li, tapi ternyata yang kau telepon adalah Becca, siapa itu Becca Mas???" kata Kamila dengan begitu marah sambil memukul-mukul tubuh suaminya.


"Sayang... Sayang sabar, dengarkan penjelasanku dulu!"


"Penjelasan apa Mas? Penjelasan kalau kamu memiliki wanita idaman lain."


"Kamila sayang, bukankah kamu tahu jika hanya kamu wanita yang kucintai, apakah kamu sudah lupa aku memperjuangkanmu selama empat belas tahun?"


"Lalu siapa dia Mas?"


"Tapi kamu harus berjanji untuk tetap tenang dan kendalikan emosimu."


"Iya Mas."


"Dia adalah Rebecca, sepupuku yang tinggal di Australia."


"Apa hubungannya dia dengan kita Mas?"


"Sayang, sejak seseorang mengirimkan foto-foto Amanda ke ponselmu aku sudah curiga jika ada yang ingin berbuat jahat pada Amanda. Tapi aku tak ingin membicarakan denganmu terlebih dahulu, karena aku tak ingin kau cemas dan khawatir pada Amanda, jika kau tahu Amanda dalam bahaya, tentu kamu akan menyuruhnya pulang, dan aku takkan pernah tahu apa tujuannya mengganggu keluarga kita."


"Lalu?"


"Aku menyuruh Reza untuk menyelidiki semua ini, ternyata ini ada kaitannya dengan Ilham."


"Ilhammmmm? Ilham adik Pak Arif?"


"Benar sayang."


"Aku belum tahu dengan jelas motif dia sebenarnya, maka aku menyuruh Rebecca untuk membantu kita. Dia lalu datang ke Singapura untuk menyelidiki semua ini."


"Lalu darimana kamu tahu Rebecca berteman dengan Ilham?"


"Hahaha, itu sangat mudah sayang, saat aku kuliah di Australia, aku tinggal di rumah Becca, aku tahu siapa saja teman-temannya bahkan yang menjadi cinta pertamanya."


"Jadi saat Ilham menemui kita di makam Pak Arif, kamu sudah tahu dia dulu pernah menjalin hubungan dengan Rebecca?"


"Tentu saja." jawab Anton sambil tersenyum.


Kamila dan Anton masih menenangkan Amanda yang terlihat begitu syok atas kejadian yang menimpanya. Tiba-tiba ponsel milik Rebecca berbunyi.


"Ilham." kata Rebecca.