Orang Tua Untuk Bayiku

Orang Tua Untuk Bayiku
Fear


"Ilham."kata laki-laki itu sambil mengulurkan tangannya.


"Aa..Amanda." jawab Amanda gugup.


"Kamu baru sampai disini?"


"Emh.. em iya Pak.. Om. Hari ini saya baru tiba di sini."


"Panggil saja saja Ilham."


"Maaf tapi itu tidak sopan, anda lebih tua dibandingkan saya, mungkin anda seumuran dengan orang tua saya."


"Hahahhaha setua itukah aku dimatamu Amanda."


Amanda hanya diam dan tersipu malu. "Ayo ikut denganku, kau akan kuantar untuk berkeliling di sini." kata laki-laki itu.


"Emh saya..." jawab Amanda dengan ragu-ragu.


"Tidak perlu takut karena aku tak akan menculikmu."


Amanda lalu tersenyum dan mengikuti langkah Ilham yang sudah lebih dulu berjalan di depannya.


"Kamu ambil kuliah jurusan apa Manda?"


"Bisnis." jawab Amanda singkat.


"Jurusan yang bagus, pasti orang tuamu bukan orang sembarangan."


"Ya, jika sudah lulus aku memang harus melanjutkan perusahaan milik Papa."


"Oh bagus sekali Manda, siapa nama Ayahmu? mungkin aku mengenalnya."


"Anton."


"Anton? Anton Hadiwijaya?"


Amanda lalu mengangguk. "Om kenal?"


"Tidak, tapi cukup sering mendengar namanya dikalangan pebisnis muda."


"Iya Om, dia juga sering melakukan perjalanan ke Singapura untuk keperluan bisnis dengan para kliennya disini."


"Jadi itu sebabnya mereka menyekolahkanmu disini agar bisa sering mengunjungimu?"


"Iya Om."


Mereka lalu memulai pembicaraan kembali dengan obrolan ringan. Tak terasa waktu telah beranjak sore. "Maaf Om, saya permisi sepertinya sudah saatnya saya harus pulang ke asrama, saya harus mempersiapkan keperluan kuliah esok hari."


"Iya Manda silahkan, aku masih menunggu seseorang disini."


"Iya Om, mari. Terimakasih atas semua bantuannya."


"Sama-sama, sampai bertemu di lain kesempatan Amanda."


Amanda hanya mengangguk sambil tersenyum, sepulangnya menuju asrama dia tampak begitu bahagia. Dia lalu masuk ke kamarnya lalu membuka ponsel yang tadi dia tinggalkan.


"Astagaaaa." gerutu Amanda. Di ponselnya tampak panggilan puluhan kali dan beberapa chat yang sudah masuk. Amanda lalu menelpon Kamila.


[Mandaaaaaa kamu habis ngapain aja sih, dari tadi siang kok ga ada kabar. Berulang kali mama hubungi kamu tapi ga ada balasan!!!]


[Maaf Ma, tadi Manda cari makanan di luar terus ponsel Manda ketinggalan.]


[Cari makan kok lama banget sih Manda?]


[Iya ma.. emh tadi Manda ketemu temen lama, dia juga kuliah di sini jadi keasyikan ngobrol deh sampau lupa waktu.]


[Oh ya udah deh kalo gitu, tapi kamu baik-baik aja kan?]


[Tenang Ma, everything is gonna be okay hahaha.]


[Ih Manda, ditanyain bener-bener kok malah ngledek. Kamu ga tau apa dari tadi mama udah pusing banget mikirin kamu sampai papa pun mama abaikan!]


[Ga usah boong deh ma, tadi Papa sama Mama juga lagi kencan kan, Manda telpon berulang kali sama aja gak nyambung hahaha.]


Kamila hanya tersenyum malu, tak menjawab pertanyaan putrinya.


[Tuh kan ga bisa jawab Mama pasti lagi malu-malu ketauan sama Manda hahaha.]


[Kamu ya, udah pinter ledekin orang tua. Ya sudah kamu istirahat sekarang dan jangan lupa persiapkan kebutuhanmu besok.]


[Okay Ma, Manda juga belum mandi nih, Manda mau mandi dulu ya, dadah Mama. Assalamualaikum.]


[Waalaikumsalam.]


"Bener kan apa kataku sayang, Manda baik-baik saja, kamu yang terlalu mencemaskannya secara berlebihan."


"Kamilaaaaaa."


"Iya iya deh Mas."


Udara pagi Singapura terasa begitu sejuk. Amanda keluar dari asrama untuk berangkat ke kampusnya. Semuanya terasa begitu asing dan tidak ada yang dikenalnya. Saat masih dilanda kebingungan seseorang tampak menepuk pundaknya.


"Kamu Amanda kan?"


Amanda hanya tersenyum melihat seorang gadis seusianya berdiri di hadapannya. "Iya."


"Kamu lupa sama aku Manda?"


"Emhhh ya, siapa ya?"


"Aku temanmu saat kita masih duduk di sekolah dasar." katanya sambil tersenyum.


"Emh Sabrina?"


"Nah itu inget."


"Sama teman sendiri kok lupa." kata laki-laki yang ada di sampingnya.


Kata-kata yang begitu menohok membuat Amanda merasa jengkel tapi di berusaha untuk tetap tenang.


"Manda, maafin dia ya, dia Evan kakakku, dia memang orangnya sedikit blak-blakan. Wajar kak Amanda lupa, dia pindah ke Jogja aja saat kelas 6 SD jadi dia memang tidak terlalu mengenal kami semua."


"Gapapa kok Sabrina, kamu juga kuliah di sini?"


"Iya kami berdua kuliah di sini."


"Alhamdulillah aku jadi punya temen." kata Amanda sambil tersenyum bahagia.


"Ngomong-ngomong kamu jurusan apa Manda?"


"Bisnis."


"Wah sama dong, ya udah kita masuk kelas yuk."


"Loh itu kakakmu juga ikut satu kelas sama kita."


"Iya Manda, dia juga baru kuliah di sini. Kenapa? kaget ya?"


Amanda hanya mengangguk. "Dia tuh dulu keluar dari kampus gara-gara ditinggal kawin sama mantan pacarnya hahaha." kata Sabrina sambil tertawa.


"Frustasi?"


"Semacam itulah hahaha."


"Heh enak aja kamu bilang gue frustasi, gue cuma kaget aja tiba-tiba dia nikah sama orang lain." kata Evan sambil mendengus kesal.


"Udah yuk kita masuk ke kelas saja." jawab Amanda.


Mereka lalu mengikuti dua mata kuliah. Setelah selesai, Sabrina dan Evan pamit untuk mengurus visa milik Evan yang sempat mengalami trouble.


Awalnya Amanda langsung ingin kembali ke asrama, namun tiba-tiba kakinya tertarik untuk pergi ke West Coast Plaza. Setelah lama berjalan-jalan, perut Amanda pun lapar, dia lalu masuk ke sebuah restaurant. Saat Amanda tengah asyik memesan menu tiba-tiba suara seseorang mengagetkannya dan kini telah berdiri di sampingnya.


"Kita ketemu lagi Manda."


"Eh Om Ilham." laki-laki itu kemudian tersenyum.


"Boleh saya duduk di sini?"


"Tentu." jawab Amanda.


Sejak pertemuan itu mereka berdua kian dekat. Setiap malam Ilham menelpon Amanda hanya untuk berbasa-basi ataupun menanyakan kabar. Amanda pun kian tak bisa mengendalikan perasaannya. Dia merasa begitu nyaman saat berada di dekat Ilham. Entah perasaan karena dia merindukan sosok Ayah, karena sejak kecil hubungan Amanda dan Anton sangatlah dekat, atau perasaan suka selayaknya insan dewasa, dia pun tak tahu.


'Sadar Amanda, dia pasti sudah memiliki istri, dia juga seumuran dengan kedua orang tuamu!' gumam Amanda dalam hati.


Saat Amanda ingin memendam perasaannya, semuanya berantakan karena akhir pekan ini Ilham mengajak Amanda berjalan-jalan ke Orchard Road, dan sangat sulit bagi Amanda untuk menolaknya. Pagi ini saat Amanda sedang menunggu Ilham, tiba-tiba Evan mendekatinya."Mau kemana anak manja?"


"Bukan urusanmu."


"Hati-hati dengan pria itu Amanda."


"Apa maksudmu? Bukan urusanmu aku saat ini dekat dengan siapa Evan." kata Amanda sambil berlalu meninggalkan Evan karena mobil Ilham sudah berhenti tepat di hadapan mereka.


Kamila yang sedang asyik menyiapkan sarapan tiba-tiba dikejutkan suara ponselnya yang sudah berdering beberapa kali. "Kevin, tolong ambilkan ponsel mama Nak."


Anak berusia tujuh tahun itu lalu berlari dan memberikan ponsel pada Ibunya. "Terimakasih sayang, anak pintar."


Kemudian Kamila membuka sebuah pesan di ponselnya.


"Tidakkkkk... Mas Anton!!!"