
Aku lalu mencoba berdiri menghampiri Pak Sugeng yang sedang mengepel "Pak Suugeeng." kataku. Pak Sugeng begitu terkejut melihatku yang tengah berjalan sambil meringis kesakitan.
Lalu dia membuang begitu saja kain pel yang sedang dipegangnya, dan menghampiriku." Apa yang terjadi Nak?"
"Ga tau pak, tiba-tiba perut ini sakit sekali."
"Sebentar ya Nak, bapak panggil istri bapak dulu, rumah bapak di samping masjid Nak, sabar ya tahan ya Nak Mila."
Aku lalu mengangguk, tak lama Pak Sugeng sudah datang bersama seorang wanita memakai gamis berwarna cokelat. "Nak, ini istri bapak, kamu ke rumah sakit dulu ya sama istri bapak, nanti bapak menyusul, bapak mau menghubungi Pak Arif dulu."
Pak Sugeng kemudian memanggil becak yang ada di depan masjid, dengan susah payah sekaligus menahan sakit, aku naik ke dalam becak, ditemani istri Pak Sugeng. "Sabar ya Nak Mila." katanya sambil menggenggam tanganku.
Sesampainya di rumah sakit aku langsung mendapat penanganan dari dokter kandungan. Mereka semua begitu panik melihat keadaanku, seorang bidan lalu memasukkan obat lewat d***rku, lalu ada beberapa obat yang kuminum mereka juga langsung memberikan cairan infus padaku. Ternyata aku mengalami kontraksi dini sehingga perut ini terasa begitu sakit, selain itu aku juga mengalami dehidrasi dan mal nutrisi selama beberapa hari ini.
Obat-obatan yang mereka berikan adalah obat penguat agar bayiku tetap bertahan, setelah kondisiku sedikit membaik dokter lalu menghampiri Bu Sugeng dan menyarankanku untuk bedrest total di rumah sakit.
"Ibu Kamila mengalami kontraksi dini, kemungkinan disebabkan akibat stres, terlalu lelah, atau sedang mengalami trauma, selain itu dia juga mengalami dehidrasi dan mal nutrisi, dia harus menjalani bedrest total di rumah sakit ini agar keadaannya kembali pulih." kata dokter pada Bu Sugeng.
Tak terasa air mata menetes membasahi pipi, hatiku memang terasa sakit mengingat semua kelakuan Randi, hingga membuatku stres dan merasakan trauma. Namun keadaanku yang sekarang juga membuatku tak kalah bingung. 'Bagaimana aku bisa membayar rumah sakit ini, sisa uang untuk makan saja begitu pas-pasan?' batinku dalam hati.
Bu Sugeng yang sudah selesai berbicara dengan dokter lalu menghampiriku."Nak Mila kenapa menangis?"
"Bu... Bagaimana Mila bisa membayar rumah sakit ini Bu? Untuk mengganti uang makan yang tadi Pak Sugeng berikan untuk Mila juga belum bisa, sekarang Mila harus bed rest, Bu kita pulang saja ya, minta berobat jalan." kataku sambil menangis, Bu Sugeng lalu membelai rambutku dan memelukku.
"Sabar nak Mila nanti ibu bicarakan dengan Bapak, siapa tahu Bapak memiliki jalan keluar."
Saat aku masih menangis dalam pelukan Bu Sugeng, tiba-tiba Pak Sugeng datang."Tidak usah bersedih Mila, kamu sekarang istirahat saja di rumah sakit ini, masalah biaya sudah ada yang mengurusnya."
Aku dan Bu Sugeng begitu terperanjat mendengar kata-kata Pak Sugeng "Maksud bapak bagaimana? kita juga tidak memiliki uang untuk membayar rumah sakit, buat makan saja kita masih sangat pas-pasan."
"Bukan kita Bu yang membiayai, tapi Pak Arif tadi bapak sudah telepon Pak Arif dan dia bersedia membantu Kamila membayarkan perawatannya selama di rumah sakit."
Aku begitu terkejut mendengar perkataan Pak Sugeng."Yang benar saja Pak?"
"Iya nak Mila masa bapak bohong."
"Tolong sampaikan rasa terimakasih saya Pak, kalau sudah sembuh dan bisa bekerja saya akan mengganti kebaikan mereka."
"Tenang saja Nak Mila, tidak usah dipikirkan, Pak Arif bukan orang sepeti itu, dia selalu ikhlas membantu siapapun yang membutuhkan, bahkan Ibu juga disuruh menemani dan melayani segala kebutuhan nak Mila selama di rumah sakit."
"Tapi Pak, Ibu kan harus jualan nasi uduk setiap pagi, kalau ibu ga jualan nanti kita ga bisa bayar uang SPP Rahma yang sudah nunggak tiga bulan."
"Ga usah khawatir Bu, nanti Pak Arif juga memberikan uang jaga sama Ibu, selama merawat Mila di rumah sakit."
"Wah yang bener Pak, itu namanya rejeki nomplok." kata Bu Sugeng bersemangat.
"Hustttt Ibu ini lagi ada orang sakit kok disebut rejeki nomplok, maaf ya Nak Mila."
"Ya tanya apa Kamila?"
"Mengapa Pak Arif begitu baik pada saya? Bahkan mau membiayai pengobatan saya di rumah sakit ini, padahal mengenal atau bertemu saja kami belum pernah." aku begitu penasaran mengapa dia sebaik itu padaku.
"Bapak juga tidak tahu nak Mila, tadi waktu bapak telpon Pak Arif dan menceritakan keadaanmu dia langsung menawarkan bantuan padamu tanpa bapak minta. Untuk saat ini dia dan istrinya sedang berada di Singapura, nanti kalau sudah pulang dia dan istrinya akan langsung menemuimu, sudah anggap saja ini rezeki dan pertolongan dari Allah melalui Pak Arif."
Berbagai macam pikiran hinggap dalam benakku, 'Mengapa mereka begitu baik padaku? apakah aku telah mengenal mereka sebelumnya?' Ah kepalaku sampai begitu pusing memikirkannya. Tak berapa lama aku dipindahkan ke ruang perawatan.
Sebuah kamar VVIP mewah tersedia untukku, hatiku makin bertanya-tanya, mengapa dia sampai rela memberikan perawatan seperti ini padaku. Bu Sugeng begitu terpesona melihat ruangan ini.
"Wah kalau suruh jagain nak Mila di ruangan seperti ini sih ibu bakalan betah, kasurnya empuk, ada sofa, tivi nya gede kaya papan tulis, kulkasnya sudah ada isinya lagi, bener-bener rejeki nomplok ya pak?"
"Hussstttt Ibuuuuu!" kata Pak Sugeng dengan tatapan tajam.
"Maaf ya nak Mila." katanya sambil malu-malu.
"Ya sudah nak Mila, bapak pulang dulu ya mau membersihkan masjid. Sebentar lagi masuk waktu ashar."
"Ibu juga pamit sebentar ya Nak Mila, mau ambil barang-barang ibu dulu sama ambil barang Nak Mila, nanti ibu langsung ke sini."
"Ya bu, Bapak sama Ibu Sugeng hati-hati di jalan, tidak usah terlalu tergesa-gesa, Mila sudah jauh lebih baik dibandingkan tadi."
"Iya Nak, kamu baik-baik disini ya."
Aku mengangguk, saat mereka pergi rasa kantuk mulai datang dan akupun tertidur.
Aku terbangun, aku terkejut saat melihat sekelilingku adalah hutan, aku berjalan di dalam hutan dengan penuh putus asa, lalu kutemukan sebuah gubug kecil dan aku masuk ke dalamnya untuk melepas lelah, namun aku begitu terkejut saat ada seseorang memelukku dari belakang. Aku begitu hafal tawa khasnya yang begitu menjijikan, aku lalu mencoba melepaskan tubuhku dari pelukannya.
"RANNDDIIII lepaskannnn!!!" aku berteriak begitu kencang, namun aku terkejut saat kubuka mata, Bu Sugeng sudah di depanku, dia tampak bingung melihatku, apalagi saat itu juga ada dokter yang tengah mengecek kondisiku.
"Nak Mila ada apa? Nak Mila mimpi buruk?" Raut cemas terpancar dari wajah Bu Sugeng. Dia lalu mengelap tubuhku yang penuh keringat dengan tissue.
"Gapapa Bu." jawabku.
Dokter yang sedang memeriksa perutku lalu duduk di dekatku. "Bu Mila memerlukan pendampingan dari psikolog?"
"Psikolog dok?"
"Sepertinya Bu Mila telah mengalami kejadian yang cukup berat, sehingga kondisi emosional Ibu agak terganggu." Aku hanya terdiam mendengar penjelasan dokter. "Akan saya pikirkan dok"
Tak berapa lama setelah dokter itu pergi, ponsel Bu Sugeng berbunyi, setelah mengangkat ponsel tersebut, raut wajahnya tiba-tiba berubah.
'Apa yang sebenarnya terjadi?' batinku dalam hati.