Orang Tua Untuk Bayiku

Orang Tua Untuk Bayiku
Eternal Love


Pov Anton


Keesokan harinya aku pergi ke Jakarta untuk menyelesaikan semua pekerjaanku, karena selanjutnya perusahaan ini akan keberikan pada Caecar adikku. Aku akan membuka kantor cabang di Jogja dan aku akan berkantor di sana agar aku bisa selalu dekat dengan Kamila dan Amanda. Aku sebenarnya tidak yakin Kamila akan mau menerimaku dalan waktu dekat, namun aku yakin suatu saat nanti Kamila pasti bisa menerimaku kembali, meskipun entah kapan waktu itu akan tiba.


Selama satu minggu aku mengurusi semua urusan pekerjaan dan kepindahanku ke Jogja. Lalu aku kembali ke rumah yang dulu, rumah yang pernah menjadi kenanganku bersama Kamila saat aku baru pulang dari rumah sakit. Aku berjalan ke arah balkon kamarku. Masih kuingat jelas dalam bayanganku saat Kamila berdiri di balkon ini menikmati hempasan angin, dan aku memeluknya. Itulah saat pertama kali aku mulai berani menciumnya. Hatiku rasanya begitu sakit mengingat semua itu, kadang aku selalu bertanya-tanya mengapa aku dan Kamila begitu sulit bersatu. 'Apa dia memang bukan jodohku? Atau ini hanyalah ujianku cinta yang harus kami lewati?' batinku dalam hati. Namun saat itu juga aku mendengar lantunan adzan yang memecahkan lamunanku.


"Astaghfirullah hal adzim, aku pasrahkan semua padaMu Tuhan."


Setelah kepindahan kantorku ke Jogja, aku semakin sering menemui Amanda, jarak Jogja ke Solo tidaklah jauh, dan setiap akhir pekan aku selalu menghabiskan waktuku bersama Amanda. Aku sebenarnya sangat ingin bertemu dengan Kamila, namun dia sangat jarang berada di rumah. Bi Sumi pernah bercerita jika Kamila sekarang sudah bekerja, tapi aku tak berani menanyakan dimana dia bekerja, aku hanya ingin memberinya waktu agar bisa memaafkanku dan menerimaku kembali.


Suatu hari, akhirnya aku bisa bertemu dengan Kamila. Melihat kedatanganku dia begitu terburu-buru dan seolah-olah ingin menghindar dariku. Bergegas aku menghampirinya saat akan masuk ke dalam mobil.


"Mila kamu mau pergi kemana?"


"Aku sekarang mengelola cafe Mas, aku pergi dulu ya Mas, Amanda ada di dalam lagi main sama Bi Sumi."


Entah setan apa yang merasuki, tanganku tiba-tiba mencengkramnya begitu kuat seolah-olah aku tak mau kehilangan dirinya. Kamila tampak begitu ketakutan dan mencoba melepaskan diri, tapi cengkeramanku makin kuat.


"Maafkan aku Mila jika kehadiranku membuatmu terusik, tapi apakah kamu tak pernah melihat kesungguhan dalam hatiku Mila untuk memperbaiki rumah tangga kita? begitu besarkah kesalahanku sehingga kamu tak pernah bisa memaafkanku? Bagaimana caranya agar kita bisa berdamai dan menjalin hubungan yang baik? Apakah sudah tidak ada kesempatan untukku lagi Mila?"


"Maaf Mas aku bekerja bukan untuk menghindarimu, aku memang sudah lama berniat untuk membuka usaha, aku tidak mau berdiam terus di dalam rumah, sekarang Amanda juga sudah besar, aku tidak selalu harus ada di sampingnya, aku juga harus memikirkan masa depan Amanda, dan sepertinya sudah tidak perlu ada yang aku bicarakan lagi denganmu tentang hubungan kita Mas. Kamu sudah tahu jawabannya saat kita pertama bertemu lagi di rumah ini, selamanya hubungan kita tak akan pernah bisa diperbaiki, mengertilah Mas, kamu dan orang tuamu telah membuat luka yang begitu dalam pada hatiku dan luka itu tak akan pernah bisa terobati sampai kapanpun."


"Baik Mila, maaf jika aku sudah begitu mengganggumu dan membuatmu terusik akan kehadiranku, aku akan pergi selamanya dari hidupmu, aku pastikan kamu tak kan pernah lagi melihat wajahku di rumah ini, tapi satu hal yang harus kau ingat Mila, ingatlah janjiku jika aku hanya akan menikah denganmu, ingat janjiku saat kita masih dalam ikatan pernikahan dulu jika hanya kaulah satu-satunya wanita yang menjadi istriku."


Kamila pergi begitu saja meninggalkanku yang masih terdiam di depan rumahnya. Hatiku rasanya begitu sakit, namun aku tak mau memaksakan kehendakku pada Kamila. Aku tak mau jika orang yang sangat kucintai merasakan sakit akan kehadiranku, aku hanya ingin melihat dia bahagia. Dan mulai saat ini aku akan mencoba untuk ikhlas menerima keadaan ini, aku akan mencoba untuk ikhlas melepaskan Kamila untuk selamanya.


Semenjak kejadian itu, aku masih selalu menemui Amanda tapi aku sengaja bertemu dengannya saat Kamila tak ada di rumah. Hal ini untuk kebaikanku dan dia. Aku tidak mau jika dia terusik dengan kehadiranku, dan akupun tak mau melihatnya karena akan semakin menambah sakit di hatiku.


Hari berganti bulan, dan bulan berganti tahun. Tak terasa sudah sepuluh tahun usia puteri kecilku Amanda. Aku sangat bahagia meskipun untuk saat ini hanya Amandalah penyemangat dalam hidupku. Dan selama sepuluh tahun terakhir ini, entah sudah berapa puluh wanita yang Ibu jodohkan denganku. Mereka semua cantik dan berasal dari keluarga yang terpandang namun entah mengapa aku tak pernah tertarik dengan mereka meski aku telah lama hidup sendiri.


Terkadang saat aku membawa Amanda ke rumah, ada wanita yang akan dijodohkan denganku. Amanda yang sudah besar mulai berani bertanya akan kehadiran wanita-wanita itu.


"Amanda sayang, papa cuma menikah sama Mama Kamila, papa ga akan menikah lagi Nak."


"Tapi Mama jahat sama papa, Mama gak pernah mau ketemu sama Papa, malah sekarang Mama semakin sibuk kerja, ga pernah ada waktu buat Manda, terkadang Mama telpon-telponan sama om-om lama banget, Manda ga tau itu siapa."


Hatiku seperti ditusuk pisau saat mendengar kata-kata Amanda. 'Jadi sekarang Kamila sedang dekat dengan laki-laki lain?' batinku dalam hati. Rasanya memang begitu sakit, tapi aku harus ikhlas jika itu yang terbaik, dan Kamila merasa bahagia hidup dengannya.


"Ya sudah Manda gapapa, yang penting Mama kan bahagia, kalau Mama bahagia Manda sama Papa juga pastik ikut bahagia kan?"


Amanda lalu mengangguk dan memelukku, meski rasanya begitu sakit aku mencoba untuk tetap tersenyum.


"Manda, liburan besok kita ke Jakarta ya, ke rumah Opa sama Oma yang ada di Jakarta. Nanti papa ajak Manda jalan-jalan keliling Jakarta."


"Asyik, Makasih pah, Manda sayang banget sama Papa."


Beberapa hari kemudian aku meminta ijin pada Ibu Kamila untuk menyampaikan pada Kamila jika Amanda akan kubawa ke Jakarta. Aku memang ingin mengajaknya berlibur, namun disamping itu akhir-akhir ini kesehatan Ibu memang memburuk. Kami juga berencana akan melakukan pengobatan untuk Ibu di Jakarta.


"Anton mau sampai kapan kamu hidup sendiri seperti ini, kamu juga harus memiliki keluarga Nak."


"Bu, Anton kan sudah pernah bilang jika Anton tidak akan pernah lagi menikah untuk jangka waktu yang tidak bisa Anton tentukan."


"Anton bagaimana jika waktu Ibu di dunia ini sudah tidak lama lagi...." kata Ibu sambil menangis.


Aku lalu memeluknya. "Jangan berkata seperti itu Bu, Ibu pasti segera sembuh, kita sudah di Jakarta, Ibu pasti akan mendapatkan penanganan dari dokter terbaik."


"Maafkan Ibu yang telah memisahkanmu dengan Kamila sehingga hidupmu seperti ini, maafkan ibu yang sudah menghancurkan kebahagiaan anak ibu sendiri."


Saat sedang menangis dalam dekapanku tiba-tiba Ibu pingsan.


"Ibu... Ibu..."