
Ilham dan Rebecca menghampiri Wiguna dan Anton yang masih berdiri di depan rumah.
"Selamat Pagi Tuan Wiguna."
"Ilham."
"Terkejut dengan kedatangan saya?"
"Silahkan masuk Ilham."
"Aku tak ingin banyak berbasa-basi."
"Ilham kendalikan dirimu. Tidak baik kita berbicara di luar seperti ini." kata Anton.
"Ayo Ilham kita masuk." kata Rebecca.
Mereka berempat akhirnya masuk ke dalam rumah.
"Ilham, saya minta maaf atas semua kesalahan yang telah kulakukan pada kedua kakakmu."
"Apa kau sadar Wiguna, maaf darimu takkan pernah berarti di mataku! Sejuta maafmu pun tak akan pernah membuat kedua kakakku bisa hidup kembali di dunia ini!"
"Saya tahu itu Ilham."
"Tidak kamu tidak tahu apa-apa Wiguna! yang kamu miliki hanyalah sebuah keegoisan, padahal kedua kakakku sudah menolong putrimu! tetapi semudah itu kamu membalas kebaikan mereka dengan perbuatan jahatmu!"
"Maafkan saya Ilham, sungguh saya menyesal dengan semua yang telah saya perbuat Ilham, saya bersedia melakukan semua yang kau inginkan."
"Aku ingin kau mati Wiguna!"
"Ilham, tolong kendalikan emosimu. Selesaikan semua ini dengan kepala dingin." kata Anton.
"Tidak semudah itu Anton, coba kau bayangkan jika orang yang kau sayangi dibunuh oleh orang yang ada di hadapanmu, apakah kamu masih bisa berbicara seperti ini!"
Anton dan Rebecca hanya terdiam.
"Ilham, jika kamu ingin aku mengakui semua perbuatanku dan ingin memasukkanku ke penjara, lakukanlah Nak, saya siap."
"Tidak semudah itu Wiguna, kamu harus kubuat menderita terlebih dahulu!"
"Ilham, bukankah sebelumnya kita sudah membuat kesepakatan untuk menyelesaikan masalah ini dengan kepala dingin!" kata Anton.
"Anton, aku tidak mau lagi dibodohi olehmu, jadi sebelum kau dan sepupumu itu membodohiku lagi aku harus bertindak lebih cepat daripada kalian hahahaha." kata Ilham sambil tertawa, kemudian beberapa orang preman tampak masuk ke dalam rumah dan mencekal tubuh Wiguna, Rebecca, dan Anton.
"Cepat ikat ketiga orang itu!" kata Ilham.
"Baik Tuan."
"Sekarang kalian tidak akan pernah bisa lagi berkutik di hadapanku!!!" kata Ilham sambil tertawa.
"Dasar s*alan kamu Ilham! kamu benar-benar licik!"
"Anton kamu juga sudah begitu licik menyuruh Rebecca untuk mendekatiku! memangnya aku tidak tahu jika Rebecca yang cantik itu adalah saudara sepupumu? Apa sebodoh itu aku percaya jika Amanda dibebaskan oleh orang-orang bayaranmu? Bahkan beberapa orang pun melihat jika Amanda dan Rebecca siang itu sedang berjalan bersama keluar dari apartemen!!!"
"Ilham, urusanmu denganku, tolong jangan sakiti orang-orang di sekitarku." kata Wiguna.
"Memang, urusanku itu hanya denganmu Wiguna sekarang berikan kunci mobilmu padaku!"
"Untuk apa? kamu mau mengambil mobilku? silahkan ambil!"
"Aku bukan pencuri Wiguna, aku mampu membeli ratusan bahkan ribuan mobil seperti itu"
"Lalu apa yang kau inginkan!"
"Seno, cepat ambil kunci mobil milik Wiguna dan bawa laki-laki tua bangka ini ke dalam mobilnya!"
"Baik Tuan."
Seorang preman bernama Seno itu lalu membawa Wiguna ke dalam mobilnya, dan Ilham mengikutinya dari belakang.
"Seno kamu urus Anton dan Rebecca, jangan biarkan mereka kabur, jika aku sudah berhasil membunuh Wiguna, baru kalian bisa membebaskannya."
"Baik Tuan."
"Bersiaplah menjemput ajalmu Wiguna!"
Ilham lalu mengendarai mobil dengan kecepatan begitu tinggi, mula-mula mobil hanya tampak melaju di pinggiran kota, namun beberapa saat kemudian mereka telah sampai ke dekat sebuah jurang.
"Sekarang kamu akan kutinggal di dalam mobil ini dan semua orang hanya akan tahu jika kamu meninggal karena kecelakaan Wiguna! Hahahaha."
Namun baru saja Ilham selesai tertawa, tiba-tiba seseorang mencekik lehernya. Tali yang dipakai untuk mengikat tubuh Wiguna, kini dia ikatkan di leher Ilham yang dikaitkan dengan jok kursi mobil yang diduduki Ilham.
"Kamu salah jika berhadapan dengan polisi sepertiku Ilham, cara mengikat tali yang anak buahmu lakukan saja hanya seperti ikatan anak SD!"
"Wiguna!!! bukankah tadi kamu sudah meminta maaf padaku! seharusnya kamu mengikuti semua keinginanku!"
"Ilham, maaf itu hanya sebuah ucapan palsu! Aku tak mau Anton, menantuku memiliki pandangan buruk terhadapku, aku pun tak mau Anton membocorkan rahasiaku pada putriku, Kamila."
"Dasar laki-laki tua baj*ngan, kamu seharusnya bisa bertaubat dan mengakui kesalahanmu karena ajalmu sudah dekat!"
"Berkacalah sebelum berbicara Ilham, lihatlah kondisimu ,bahkan nyawamu kini ada di tanganku!"
"Diam kamu Wiguna, lebih baik kita mati bersama-sama! Aku sudah tidak sudi membiarkan orang sepertimu hidup di dunia ini!"
"Kamu ingin membunuhku Ilham? Tidak semudah itu!"
"Lihat saja, hari ini aku pasti bisa membunuhmu!"
"Bermimpilah Ilham, sekarang turuti semua perintahku atau kau juga akan meregang nyawa sama seperti kedua kakakmu!"
"Kita akan mati bersama-sama Wiguna!"
"Tapi aku belum mau mati Ilham! kamu yang sekarang akan kubunuh agar kamu tidak bisa mengganggu keluargaku lagi!" kata Wiguna sambil berpindah tempat duduk. Kini dia telah duduk di samping Ilham.
"Putar balik mobil ini!"
"Aku tidak akan mudah dikalahkan begitu saja oleh laki-laki tua sepertimu Wiguna!"
Ilham lalu tetap mengarahkan mobil milik Wiguna ke arah tebing. "Ilham, jangan pernah membantahku atau aku akan mulai melukaimu!"
"Berbuatlah sesukamu Wiguna, aku sudah tidak peduli! Yang kuinginkan hanya kematianmu!!!"
Wiguna lalu mencoba mengendalikan kemudi mobil itu, namun Ilham pun tak semudah itu menyerah. Mereka lalu saling berebut dan berkelahi di dalam mobil, tanpa mengindahkan laju mobil entah kemana. Mobil pun kini kian tak terkendali, dan tanpa mereka sadari kini mobil tersebut sudah ada di bibir jurang.
Bahkan mereka baru menyadarinya saat salah satu ban mobil tersebut sudah terperosok dan keseimbangan di dalam mobil sudah tak bisa dikendalikan. Akhirnya mobil itu pun meluncur jatuh ke dalam jurang.
DHUARRRRRRR
Sebuah ledakkan begitu keras terdengar dari dalam jurang, lalu kepulan asap hitam pun mulai membumbung tinggi ke udara.
***
Seorang laki-laki dengan berbagai peralatan medis yang menempel di tubuhnya tampak mulai membuka matanya. Di sampingnya tampak seorang perawat sedang mengecek kondisinya, melihat laki-laki itu terbangun, perawat itu tampak pergi dan kembali lagi bersama dengan seorang dokter. Dokter itu lalu mendekati laki-laki itu.
"Bagaimana keadaan anda Tuan?"
"Baik dokter. Tapi kenapa dada saya terasa begitu sakit?"
"Oh itu karena anda telah melakukan transplantasi hati. Kondisi tubuh anda saat mengalami kecelakaan sangatlah parah, bahkan hati anda sedikit mengalami kerusakan akibat benturan yang begitu keras di bagian dada."
"Transplantasi hati dok?"
"Ya transplantasi hati yang telah kami lakukan selama dua minggu yang lalu."
"Dua minggu?"
"Iya Tuan, anda telah mengalami koma selama dua minggu."
Lalu pintu ruangan dibuka oleh seorang laki-laki dan kemudian menghampiri dokter tersebut.