
Tersiak-siak kakiku menempuh jalan terjal ini. Sejujurnya aku tak tahu kemana kaki ini akan melangkah. Hanya sedikit uang yang kupunya, dan aku tak tahu sampai kapan uang ini bisa menghidupiku dan bayi dalam kandunganku. Tubuh ini terasa begitu lelah, tendangan bayi di perutku pun semakin kencang. Kaki ini sudah tak sanggup untuk melangkah, sedangkan yang aku lihat hanya rumah milikMu. Oh Tuhan masih pantaskan tubuh ini bernaung di rumahMu meski hanya sebentar saja.
****
Tangis bayi pecah, aku hanya bisa mengucap rasa syukur. Diusiaku yang tak lagi muda, aku masih bisa melahirkan dengan normal tanpa ada masalah apapun. Sungguh besar KaruniaMu Ya Allah.
Sayup-sayup kudengar suara seorang laki-laki mengumandangkan adzan di telinga putraku. Aku tidak memiliki banyak waktu untuk melihatnya. Dalam hitungan jam aku sudah harus berpisah dengannya.
Sekilas aku melihatnya lagi, dia bayi yang begitu tampan, matanya bulat dan besar. Ya, mata itu sangat mirip dengannya. Mengingatnya terlalu menyakitkan untukku. Rasa trauma itu ternyata belum hilang dalam memoriku. Laki-laki yang sudah menjadi cinta pertamaku tapi selalu lari bagaikan pecundang tanpa dosa. Semua kata-katanya penuh kemunafikan, dan janjinya hanyalah janji palsu. Namun bodohnya aku, sampai detik ini pun aku masih mencintainya.
Kupandang bayi itu lagi, anak yang aku kandung dan aku lahirkan dengan penuh perjuangan. Satu jam setelah melahirkan aku dibawa ke ruang perawatan. Malam ini adalah malam terakhirku, besok pagi kami sudah diijinkan pulang dan aku harus berpisah dengannya.
Sesungguhnya malam ini aku tak bisa tidur, kupandangi bayi mungil yang tidur begitu lelap tak jauh dariku. Hati ini masih begitu sakit membayangkan jika esok adalah hari perpisahanku dengannya. Terkadang aku ingin lari saja membawanya pergi dan hidup denganku. Namun aku juga harus memikirkan perasaan orang-orang di sekitarku. Aku tak mau mengecewakan mereka semua.
Berat, sangatlah berat tapi ini semua demi kebaikannya dam kebaikan semua orang di sekitarku. Lagipula keluarga barunya adalah salah satu keluarga terkaya di kota ini. Masa depan cerah sudah menantinya.
Suami istri itu sangat menyayanginya sejak dia masih dalam kandunganku, aku hanya bisa melihat mereka menimangmu dengan penuh cinta dan kebahagiaan dari balik kaca ini, sambil menatap mereka pergi membawamu.
'Selamat tinggal nak, semoga kita bisa berjumpa kelak, aku tidak akan pernah melupakanmu, kamu tetap menjadi bagian hidupku meskipun kita tidak bisa bersama' batinku dalam hati, sambil menangis tersedu-sedu.
Akupun melangkahkan kaki pergi dari rumah sakit ini melewati jalan yang berbeda dengan mereka. Aku sudah tak sanggup lagi menahan tangisku saat melihatmu, dan menghindar adalah jalan terbaik saat ini.
Aku akan kembali untuk merawat anakku yang lain yang masih membutuhkanku sebagai ibunya.
Sudah cukup kujalani kehidupan yang begitu pahit ini, akan kurangkai kembali masa depanku dengan pintu pertaubatan. Dosaku sudah terlalu banyak, tapi aku yakin Tuhan Maha Pengampun.