Orang Tua Untuk Bayiku

Orang Tua Untuk Bayiku
Love is Blind


Kamila lalu menatapku. "Mas, Sandra sekretarismu?"


Aku hanya mengangguk, perasaanku semakin tak menentu karena Sandra sudah berani datang ke rumah ini. Aku tahu selama ini dia menaruh hati padaku, tapi aku sudah berusaha untuk tidak menanggapinya, bahkan aku sudah bercerita jika aku telah rujuk dengan istriku agar dia berhenti berharap padaku. Aku sebenarnya ingin memberhentikan Sandra sebagai sekretarisku, namun aku tak memiliki alasan yang tepat karena kinerjanya cukup bagus. Memang benar kata Ayah, jika aku dan Kamila memang sebaiknya hidup bersama, dan untungnya kami menuruti kata-katanya. Selain karena aku memang sudah tak sanggup lagi untuk jauh dengan anak dan istriku, hal ini juga untuk mencegah sesuatu yang buruk terjadi pada pernikahan kami.


"Mas, kok malah bengong? sudah temui Sandra, kasihan dia jika ada sesuatu yang penting, kamu kan sudah lama meninggalkan urusan kantor, dan sekarang aku sudah ada di sini, kamu bisa tenang mengurusi bisnismu lagi."


"Iya sayang, aku ke depan dulu ya."


Kamila mengangguk, aku lalu berjalan ke ruang tamu dengan berbagai tanda tanya. 'Semoga ini hanya sekedar urusan kantor.' batinku dalam hati.


"Selamat malam Sandra, ada keperluan apa sampai malam-malam datang ke rumah saya."


"Maaf Pak sudah mengganggu, saya mau mengantar berkas-berkas ini, sekaligus memberi tahu mengenai email dari Tuan Fredrich jika dia meminta kita bertemu dengannya di Singapura."


"Kapan dia meminta kita menemuinya?"


"Tiga hari lagi Pak Anton."


"Oh baik, kalau begitu atur jadwal keberangkatan kita ke Singapura untuk besok lusa."


"Saya ikut Pak?"


"Ya kamu harus ikut."


Wajah Sandra yang murung, kemudian berubah penuh binar kebahagiaan. "Tolong kamu pesankan empat tiket Sandra."


"Empat tiket? Banyak sekali Pak? Apakah Dimas perlu ikut?"


"Ya, Dimas harus ikut."


"Lalu satu lagi untuk siapa?"


"Untuk Kamila, istri saya, kebetulan kami memang akan berbulan madu, jadi mungkin sekalian saja kami berbulan madu di sana."


Wajah Sandra yang tadi tampak begitu cerah, seketika berubah menjadi begitu masam. "Sandra, tolong besok beritahu Dimas untuk menyiapkan dokumen serta bahan presentasi saat bertemu Tuan Fredich, serta sample produk yang kita tawarkan dalam kerjasama ini."


"Baik Pak."


Lalu Mba Murni datang membawa minuman untuk Sandra. "Minum dulu Sandra, kamu pasti lelah, selama beberapa hari ini telah kuberi begitu banyak pekerjaan."


Sandra lalu meminum tehnya. Tak terasa, hujan di luar turun dengan derasnya. Aku sebenarnya sudah malas berbicara dengan Sandra, namun aku tak bisa meminta dia pergi dari rumah ini saat turun hujan deras seperti ini.


"Maaf Pak, bolehkah saya berteduh sebentar di rumah ini? hujan di luar begitu deras, saya takut untuk pulang Pak."


"Ya sudah, kamu di sini saja dulu, atau kalau kamu mau, kamu bisa menginap di rumah ini."


"Yang benar Pak? saya boleh menginap di rumah ini?"


"Tentu saja, biar kusuruh Mba Murni untuk membersihkan kamar tamu."


"Iya Pak, saya mau, saya memang takut pulang saat hujan besar seperti ini, nanti biar saya kabari orang tua saya jika saya menginap di rumah teman."


"Baik kalau seperti itu."


Aku lalu memanggil Mba Murni dan memerintahkannya untuk membersihkan kamar tamu. Setelah Mba Murni selesai, aku lalu mempersilahkan Sandra untuk masuk ke dalam kamar. Namun, saat akan berjalan ke dalam kamar, dia terjatuh tepat di depanku. Akibat terjatuh sontak b*ah da*anya sedikit terlihat karena Sandra berpakaian agak rendah di bagian leher. Namun aku tak tertarik untuk melihatnya, bahkan kupalingkan wajahku untuk tidak melihatnya.


Sandra yang tampak begitu kecewa melihat reaksiku lalu mencoba untuk berdiri sendiri.


"Tidak usah Pak, saya bisa berdiri sendiri."


"Mas, ada apa sih kok kamu teriak-teriak."


Tiba-tiba Kamila datang ke ruang tamu. "Kamu belum tidur sayang?" kataku sambil memeluk pinggangnya.


"Loh masih ada Sandra?"


"Iya Bu." jawab Sandra sambil meringis.


"Sayang, Sandra kusuruh menginap di sini karena di luar hujan begitu deras, tadi Mba Murni sudah membersihkan kamar tamu."


"Oh bagus kalau begitu Mas, kasihan dia harus pulang malam-malam saat hujan seperti ini. Dia sudah begitu baik mengantarkan berkas kerjamu ke rumah ini."


"Iya sayang, Sandra silahkan jika kamu ingin beristirahat ke kamar, anggap saja seperti rumah sendiri."


"Baik Pak, terimakasih. Mari Bu, saya ke kamar dulu."


Kamila lalu mengangguk. Dengan wajah yang begitu masam, Sandra lalu masuk ke dalam kamar. Aku lalu memeluk tubuh Kamila yang kini telah berdiri di sampingku.


"Apaan sih Mas, nanti kalau Sandra atau Bi Murni lihat kan malu."


"Apanya yang harus malu sayang, kamu kan istriku."


"Tapi Mas, ga seharusnya kita bermesraan di ruang tamu kaya gini."


"Terus dimana? Di kamar? Oke kalau itu maumu."


Aku lalu membopong tubuh Kamila ke dalam kamar, meskipun kamarku ada di lantai dua. Rasanya aku masih mampu untuk menggendong tubuhnya sampai di dalam kamar. Tak sengaja, saat aku melewati kamar tamu, aku melihat Sandra tampak mengintip dari celah pintu.


"Ooohhh jadi kedatangan Sandra malam itu untuk mencoba mendekatimu Mas? Kalau tahu seperti itu takkan kubiarkan malam itu dia menginap di rumah ini!" kata Kamila berapi-api.


"Sudahlah sayang, itu kan cerita masa lalu, lagipula kamu kan yang meminta untuk menceritakan semua ini."


"Yuk kita tidur."


"Siapa yang bilang kamu boleh tidur Mas?"


"Ini kan udah malem sayang."


"Ini belum ada jam sepuluh malam mas, biasanya kamu juga tidur pukul setengah sebelas malam."


"Sayang, besok aku harus bangun pagi untuk mengirim email pada klienku sebelum meeting."


"Ga usah kebanyakan alesan, bukankah besok kamu sudah mengosongkan jadwal meeting untuk mengantar Amanda. Ya sudah kalau kamu tidak mau melanjutkan lagi, aku juga mau tidur." tubuh Kamila lalu tidur membelakangiku. Lagi-lagi memang aku yang harus mengalah, dalam setiap perdebatan Kamila memang selalu menang, dan aku selalu terpedaya olehnya. Aku lalu memeluk tubuhnya.


"Iya sayang, aku lanjutkan ceritanya."


Seketika tubuhnya berbalik sambil tersenyum, rona bahagia pun terlihat di wajahnya. "Ayo Mas, ceritakan kembali kelakuan sekretarismu yang genit itu." katanya sambil terkekeh. Aku hanya bisa menggelengkan kepala melihatnya.


Keesokan harinya, Sandra pulang begitu pagi dari rumahku. Bahkan dia menolak untuk ikut sarapan bersama kami. Aku lalu memerintahkan Pak Samsul, supirku untuk mengantarnya pulang, namun dia juga menolak. Saat aku bertemu dengannya di kantor, dia sudah lebih bisa menjaga sikapnya padaku. Aku berharap hal ini akan selamanya terjadi, agar aku tak perlu lagi menghindarinya dan tak perlu canggung saat bersamanya. Aku hanya ingin hubungan kami sebagai profesional kerja, tidak lebih. Namun ternyata aku salah.