
Keesokan paginya aku pamit pulang, aku tak tega meninggalkan Ibu terlalu lama.
"Manda, papa pulang dulu ya."
"Iya Pa, besok-besok nginep di sini lagi ya, Papa kan udah janji mau bikinin Mila kolam ikan di belakang rumah."
"Pasti sayang. Ayah, Anton pulang dulu ya. Assalamualaikum."
"Hati-hati di jalan Nak. Waalaikumsalam."
Sesampainya di rumah, kulihat tubuh Ibu terbaring begitu lemah, melihat kedatanganku dia bergegas bangun dan duduk di atas tempat tidur.
"Anton, mana Kamila?"
"Maaf Bu, Anton belum bisa bertemu Kamila, dia sedang pergi keluar kota. Tapi Anton janji, jika Kamila sudah pulang Anton akan membawanya untuk bertemu dengan Ibu. Sekarang Ibu istirahat dulu saja." Ibu lalu tersenyum sambil mengangguk.
Sejak hari itu selama dua kali dalam seminggu aku tidur di rumah Kamila, aku bisa puas bermain bersama Amanda sekaligus menemani Ayah bermain catur ataupun joging di sekitar komplek.
"Anton, Ayah sebenarnya sangat ingin kamu kembali dengan Kamila, tapi Ayah tidak mau membebanimu dengan semua yang telah terjadi padanya."
"Apa maksud Ayah?"
"Nak, Ayah tidak mau kamu berharap lebih pada Kamila, dia bukan wanita yang pantas untuk laki-laki baik sepertimu Anton."
"Sebenarnya apa yang telah terjadi pada Kamila yah?"
"Ayah tidak berhak menceritakan semua ini padamu, suatu saat jika kamu bertemu Kamila biar dia sendiri yang menceritakan apa yang telah dialaminya."
"Ayah, Anton berjanji jika Kamila mau kembali, Anton akan menerima Kamila apa adanya, Anton tidak peduli dengan semua yang telah terjadi pada Kamila."
"Anton, berpikirlah sebelum bertindak Nak, kamu belum tahu apa yang terjadi pada Kamila, jangan sampai kata-katamu saat ini membuatmu menyesal."
"Tidak yah, tidak ada yang akan kusesali dalam kehidupanku."
Ayah menatapku, sebenarnya wajahnya dipenuhi rasa sedih dan khawatir tapi aku mencoba untuk tetap pada pendirianku. Suatu hari, aku mendapat kabar dari Mba Rani jika Kamila telah pulang ke rumah. Sebenarnya aku sangat ingin mengunjunginya, namun hatiku masih begitu ragu untuk menemuinya.
"Permisi Pak Anton, maaf jika saya mengganggu, ini saya bawakan makan siang untuk anda, tampaknya beberapa hari ini anda sedang begitu cemas."
"Oh iya terimakasih banyak Sandra, maaf sudah merepotkan."
"Tidak Pak, saya senang bisa menyiapkan ini semua untuk Bapak."
"Oh ya, terimaksih."
Aku lalu menatap kembali layar ponselku, memandang wajah Kamila yang begitu cantik saat pernikahan kami. Namun saat kumelirik ke samping, ternyata Sandra masih berdiri mematung sambil menatapku.
"Ada apa Sandra? Apa masih ada yang perlu disampaikan?"
"O... o...oh Tidak Pak Anton."
"Ya sudah kamu bisa bekerja kembali."
Kulihat raut wajah Sandra sedikit berubah tampak kekecewaan memenuhi wajahnya.
Aku keluar dari ruang kerjaku saat jarum jam menunjukkan pukul 07.00 malam. Kantor ini sudah begitu sepi, hanya security yang akan berjaga malam dan beberapa OB yang tengah bersiap-siap untuk pulang. Namun tiba-tiba aku melihat Sandra masih ada di ruangannya.
"Sandra, kenapa belum pulang?"
"Ini Pak, masih ada pekerjaan yang harus saya kerjakan."
"Oh... ya sudah saya pulang dulu ya."
"Pak Anton, tunggu, bisakah Bapak mengantar saya pulang? Sudah malam, saya takut pulang sendirian."
"Baik Sandra, saya akan mengantarmu pulang."
Sandra tampak begitu gembira, dia lalu berjalan di belakangku. Kami lalu menuju mobilku di parkiran. Di dalam mobil, aku hanya diam sedangkan dia tampak begitu ceria mengajakku mengobrol sepanjang perjalanan.
"Sudah sampai Sandra, istirahatlah karena besok kita harus bertemu klien pukul 08.00 pagi."
"Baik Pak, mari mampir dulu Pak, kita minum teh sebentar."
"Oh begitu, ya sudah terimaksih banyak Pak Anton."
"Sama-sama."
Saat aku pulang ke rumah, kulihat ada ambulance di depan rumahku, Ayah juga terlihat begitu panik. "Anton ayo cepat, kita harus membawa Ibu ke rumah sakit Nak."
"Ada apa yah?"
"Semenjak tadi siang keadaannya mulai menurun, puncaknya sore tadi Ibu seperti sulit bernafas. Lalu, dia memejamkan mata. Ayah pikir Ibu sedang tertidur, tapi saat dokter memeriksa keadaannya ternyata Ibu koma Nak." kata Ayah diiringi isak tangis.
Aku hanya bisa diam melihat Ibu yang saat ini dimasukkan ke dalam ambulance dengan selang dan alat yang begitu banyak menempel di tubuhnya. Aku dan Ayah sebenarnya begitu sedih melihat keadaan Ibu, tapi kami mencoba untuk tegar jika kemungkinan terburuk terjadi padanya. Dua minggu lamanya Ibu koma di rumah sakit, tiba-tiba saat aku baru saja sampai di kantor Ayah menelponku.
"Anton cepat kamu ke rumah sakit Nak, Ibu sudah sadar dan ingin bertemu denganmu."
"Baik yah."
Sandra yang begitu bahagia melihatku datang, berubah kecewa saat aku tiba-tiba pergi meninggalkan kantor.
"Pak Anton mau kemana?"
"Ke rumah sakit Sandra, Ibu saya sudah sadar dari koma."
"Saya ikut ya Pak."
"Tidak usah, kamu di kantor saja dan selesaikan pekerjaanmu."
"Lalu meeting dengan Tuan Li nanti siang bagaimana?"
"Batalkan saja, beri penjelasan padanya jika saya sedang menemani Ibu saya yang sakit. Tuan Li orang yang sangat baik, dia pasti mengerti keadaanku."
"Baik Pak."
Kemudian aku pergi meninggalkan Sandra yang tampak begitu kecewa, aku merasa dia mengejarku dibelakang. Namun langkahku yang begitu cepat tak dapat dia imbangi. Aku lalu bergegas masuk ke dalam mobil.
Sesampainya di rumah sakit, aku melihat mata Ibu telah terbuka, dia tersenyum saat melihat kedatanganku.
"An.. Ton, Ibu ingin bertemu Kamila. Ibu harus meminta maaf sebelum Ibu pergi. Tolong Anton waktu Ibu tidak banyak." kata Ibu sambil terengah-engah.
"Ibu, Anton pasti akan menjemput Kamila tapi tolong Ibu jangan berbicara seperti itu."
"Anton tolong penuhi keinginan Ibumu. Temui dia Nak, jangan ragu. Dia tak akan menolakmu."
Ibu lalu tersenyum melihatku, lalu matanya kembali terpejam, dan kesadarannya kembali hilang. Ayah yang begitu panik lalu memanggil dokter.
"Anton, temui Kamila sekarang juga."
"Baik yah."
Bergegas aku meninggalkan rumah sakit. Kukendarai mobil ini dengan begitu cepat, aku takut jika aku terlambat membawa Kamila, sesuatu yang buruk telah terjadi pada Ibu, dan aku tidak bisa memenuhi janjiku padanya untuk yang terakhir kali.
Lalu kuambil ponselku dan mencari nama seseorang.
[Halo Mba Rani.]
[Ya Anton, ada apa?]
[Kamila sekarang dimana Mba? Ibu ingin bertemu dengan Kamila.]
[Di cafe, kamu temui saja dia disana.]
[Baik Mba, bisa Mba kirimkan alamat cafenya?]
[Iya Ton, nanti mba kirimkan via chat ya.]
[Iya Mba, terimaksih banyak.]
Aku lalu menuju ke alamat yang diberikan Mba Rani. Tampak Kamila sedang duduk menggunakan kemeja berwarna biru muda. Dia masih tampak begitu cantik. Sejenak hati ini bergetar, namun segera kutepis. Aku lalu keluar dari dalam mobil.
Dia tampak terkejut melihat kedatanganku, namun aku bisa melihat sebuah kebahagiaan terpancar di matanya saat melihatku. 'Apakah Kamila sudah mau memaafkan aku?' batinku dalam hati.