Orang Tua Untuk Bayiku

Orang Tua Untuk Bayiku
Mirip Randi


Kamila melangkahkan kakinya keluar dari Bandara, dia mengusap sedikit peluh yang menetes membasahi dahinya. Bagi Kamila, ini adalah perjalanan yang terasa berat dan melelahkan karena tak ada Anton disampingnya, hanya ada Mba Murni yang menemaninya.


"Mba Murni, Amanda, sepertinya mobil jemputan kita sudah datang." kata Kamila yang menggandeng tangan Kevin, sedangkan Mba Murni mengurus Brian.


"Ayo kita ke sana Ma." kata Amanda sambil mendorong barang-barang milik mereka.


"Permisi, apakah anda Pak Ridho, supir yang diutus Ibu Wina untuk menjemput saya?"


"Oh iya benar, ini Ibu Kamila ya?"


"Benar Pak."


"Ayo Bu, kita naik ke dalam mobil. Ibu Wina sudah menunggu di rumah, ini barang-barangnya biar saya saja yang masukkan ke dalam mobil."


"Baik Pak, terimaksih banyak. Ayo anak-anak masuk."


Di rumah Wina sudah begitu sibuk menyiapkan segala perlengkapan untuk acara pernikahan Shakila yang akan dilakukan 3 hari lagi. Besok mereka akan mengadakan pengajian, dan keesokan harinya lagi akan ada acara siraman. Fatma pun begitu bahagia karena sudah beberapa hari ini dia bisa tidur dengan nyenyak di kasur yang empuk dan makan makanan enak tanpa harus memikirkan uang.


"Pa, Mama bahagia."


"Papa juga bahagia Ma, melihat Shakila bisa menikah, ga terasa ya Ma, waktu begitu cepat berlalu. Kita mulai ikut merawatnya sejak dia masih kecil, Shakila yang dulu kita ajari cara berjalan sekarang akan berumah tangga." kata Rusli sambil meneteskan air mata.


"Iiihh Papa, kok jadi melow gitu sih. Mama bukannya bahagia Shakila mau nikah."


"Terus apa Ma?"


"Bahagia dong beberapa hari ini kita hidup enak tanpa kekurangan."


"Istighfar Ma, kalau acara pernikahan Shakila sudah selesai kita juga harus pulang."


"Papa ngomong apa sih! Mama ga mau ya kita pulang ke gubuk reot itu lagi."


TINNNN TINNNNN


Tiba-tiba mereka semua dikejutkan oleh suara klakson mobil. Wina dan Shakila pun langsung keluar menghampiri mobil yang baru datang.


"Siapa sih Pa? Kok Wina kayaknya seneng banget."


"Ga tahu Ma." jawab Rusli.


Wina langsung menghampiri Kamila begitu dia keluar dari mobil. "Kamila, apa kabar?" kata Wina sambil memeluk Kamila.


"Baik Win, kamu gimana?"


"Alhamdulilah, seperti yang kamu lihat." kata Wina sambil tersenyum.


"Halo Amanda, Kevin, Brian, kamu sudah besar ya."


Mereka bertiga lalu berjabat tangan sambil mencium tangan Wina. "Anak pintar." kata Wina.


"Eh ini Shakila kan? Ya ampun kamu sekarang cantik banget sayang." kata Kamila sambil memeluk Shakila.


"Iya Tante, terimakasih. Shakila seneng banget Tante Kamila bisa datang ke pernikahan Shakila."


"Tentu sayang, tante ga akan melewatkan momen bahagia untuk kamu dan Mamamu, kalian sudah menjadi bagian dalam hidup Tante." jawab Kamila.


"Ya udah yuk masuk dulu ke rumah Bude." kata Wina, kemudian Wina mendekati Kamila dan berbisik padanya. "Mila maaf jika ini sedikit mengganggu, di dalam ada Tante Fatma, dia tante dari Randi."


DEGGGG


Jantung Kamila seakan berhenti berdetak. "Maaf Kamila, tapi aku merahasiakan jati dirimu di depannya, aku tak akan pernah bilang jika kamu adalah mantan kekasih Randi. Tapi aku sedikit khawatir karena Kevin ternyata begitu mirip dengan Randi."


"Kamu tenang saja Wina, everything it's gonna be okay. Aku pasti bisa mengatasi ini semua."


"Terimakasih Mila, sudah mau mengerti."


Kamila lalu mengangguk. "Mba Murni, tolong bantu Pak Ridho bawain barang-barang kita ke kamar." kata Kamila sambil berusaha menenangkan hatinya, namun tak bisa dipungkiri jika perasaannya begitu khawatir jika sesuatu hal buruk akan terjadi. Kamila lalu masuk ke dalam rumah, dan melihat suami istri yang sedang duduk di atas sofa.


Wina lalu mendekatkan Kamila pada mereka. "Tante Fatma, Om Rusli, kenalkan ini saudara Wina dari Jogja, namanya Kamila, dan itu anak mereka, Amanda, Kevin, dan Brian."


Fatma dan Rusli lalu bersalaman dengan Kamila dan ketiga anaknya, namun dia tak pernah bisa memalingkan matanya pada Kevin.


kata Fatma sambil berbisik.


"Hanya perasaan Mama saja, Kamila kan sudah memiliki suami."


Fatma yang begitu penasaran akhirnya mulai bertanya pada Kamila. "Maaf Kamila, apa suamimu tidak ikut?"


"Oia Mila, mana Anton? Kamu bilang kemarin Anton juga ikut ke sini." kata Wina ikut menimpali.


"Oh iya, maaf Mas Anton ga bisa ikut, dia sedang meninjau pembangunan pabrik yang akan dibangun di Kalimantan. Tapi dia titip salam buat kalian semua." jawab Kamila sambil tersenyum, namun sebenarnya di dalam hatinya Kamila tetap merasa dongkol jika mengingat Anton saat ini sedang bersama Chyntia.


"Tuh kan Ma, dia udah punya suami, namanya Anton." bisik Rusli pada istrinya.


"Papa, tapi semua kemungkinan bisa terjadi. Lihat itu anak pertama dan terakhirnya begitu mirip, hanya anak keduanya yang tampak berbeda, malah mirip dengan Randi." jawab Fatma.


"Mama ini ada-ada saja."


"Eh tapi dia ternyata juga orang kaya ya Pa. Papa denger sendiri kan suaminya lagi bangun pabrik di Kalimantan, pasti suaminya bukan orang sembarangan. Mama yakin jika dia pasti lebih kaya daripada Wina. Mama harus bisa mendekati Kamila Pa."


"Mama." jawab Rusli sambil melotot.


"Ya sudah kamu istirahat dulu saja Mila kamu pasti lelah, aku tahu ini adalah perjalanan pertamamu tanpa Anton, pasti terasa berat dan berbeda. Hahahaha." kata Wina sambil tertawa.


"Tahu darimana kamu Win kalau ini perjalanan pertamaku tanpa Anton?"


"Ya dari semua postingan kalian di semua sosial media. Kalian kan dah kaya selebgram jadi pasangan paling romantis." kata Wina.


Kamila hanya tersenyum sambil tersipu malu. "Bener Tante, di rumah aja juga gitu, dimana-mana selalu mesra-mesraan ga liat tempat." kata Amanda.


"Hahahaha tuh kan, anakmu aja sampe bilang gitu."


"Itu sih emang Amanda yang reseh Win."


"Hahahaha udah-udah, kalian istirahat dulu aja, nanti sore Bude ajak jalan-jalan."


"Asyik... Asyik." jawab Kevin dan Brian, tanpa mereka sadari Fatma menatap Kevin dengan begitu tajam.


'Bahkan cara dia tertawa saja begitu mirip dengan Randi.' batin Fatma.


***


Chyntia tampak begitu gusar, beberapa kali dia melihat jarum jam di tangannya. Beberapa saat kemudian senyumnya mengembang saat melihat seorang laki-laki berumur 40 tahun memakai stelan pakaian formal dan memakai kaca mata hitam mendekat padanya.


'Anton, kamu memang selalu terlihat tampan.' batinnya dalam hati.


"Selamat siang Chyntia."


"Selamat siang Anton. Ayo kita check in."


"Sebentar saya sedang menunggu seseorang."


"Seseorang? Bukan istrimu kan?"


"Tenang saja Chyntia, Kamila sedang berada di Jambi." kata Anton dengan sambil tersenyum.


Chyntia sedikit merasa gusar karena ternyata perjalanan ini sedikit berbeda dengan yang dia harapkan. 'Tak apalah, yang penting Kamila ga ikut.' batin Chyntia.


"Itu mereka sudah datang." kata Anton.


"Ya ampun Anton, kamu kenapa harus membawa mereka sih?"


"Chyntia, mereka adalah sekertaris dan asisten pribadiku, aku selalu mengajak mereka dalam semua urusan bisnisku." jawab Anton sambil tersenyum.


"Bianca, Dimas, kalian sudah siap kan? Ayo kita check in."


"Sudah Pak." jawab Dimas dan Bianca.


Lalu mereka bertiga pun masuk melangkah ke counter check ini. "Chyntia, kami jadi ikut kan? Kalau kamu berdiri disitu terus kamu bisa ketinggalan pesawat." kata Anton sambil meledek.


Chyntia hanya bisa mengikuti mereka bertiga ,yang tampak sedang bercanda dengan perasaan begitu kesal.