Orang Tua Untuk Bayiku

Orang Tua Untuk Bayiku
Kebenaran Yang Terungkap


Tak terasa sudah hampir dua tahun aku berpisah dari Kamila, hari-hari yang kulalui terasa begitu berat namun aku mencoba untuk tetap tegar. Bagaimanapun juga aku adalah seorang pemimpin perusahaan. Aku harus bisa menjaga apa yang diamanatkan oleh orang tuaku.


Tubuh ini rasanya begitu lelah, ingin sekali rasanya beristirahat, namun saat kulangkahkan kaki ke dalam rumah, di ruang tamu tampak begitu ramai, beberapa orang tampak sedang bercakap-cakap.


"Anton, kamu sudah pulang Nak?"


"Kenalkan ini Om Andreas dan Tante Risma, dan itu putri mereka, Chyntia."


Aku hanya menyalami mereka dengan malas lalu masuk ke dalam kamar.


"Anton, kamu mau kemana? Ke sini dulu temani Chyntia, dia juga dulu kuliah di Australia, di Universitas yang sama seperti kamu. Kalian ngobrol saja dulu biar akrab."


"Anton cape Bu, Anton istirahat dulu ya."


Aku lalu bergegas meninggalkan mereka dan masuk ke dalam kamar. Keesokan paginya, saat akan berangkat ke kantor Ibu sudah mencegatku di ruang tamu.


"Tunggu Anton, Ibu mau bicara."


"Ada apa sih Bu? Anton ada meeting pagi ini."


"Anton, ini sudah hampir dua tahun kamu berpisah dengan Kamila, kamu mau hidup seperti ini terus? Sudah berapa wanita cantik yang ibu perkenalkan, namun kamu sama sekali tidak pernah tertarik pada mereka. Kurang cantik apa Chyntia? Dia adalah wanita tercantik yang ibu perkenalkan padamu, namun kamu juga tidak mau merespon sama sekali. Kamu juga harus memikirkan pendamping untuk hidupmu kedepan, ingat Anton kamu adalah putra pertama di keluarga ini. Kamu harus memiliki keluarga dan keturunan."


"Bukankah masih ada Caesar yang bisa meneruskan keturunan dari Ayah dan Ibu?"


"Apa maksud kamu Anton?"


"Tolong hargai keputusan Anton Bu, Anton belum ingin menikah sampai jangka waktu yang tidak ditentukan."


"Anton, apa kamu sadar dengan kata-katamu!!!"


"Anton sangat amat sadar dengan apa yang Anton katakan Bu, Anton belum memiliki keinginan untuk menikah, entah sampai kapan!"


"Anton!!!!! Percuma saja Ibu memishakan kamu dengan Kamila jika pada akhirnya harus..." kata-kata Ibu tertahan, raut wajahnya berubah menunjukkan kepanikkan.


"Apa yang Ibu katakan?"


"Tidak Anton, Ibu hanya salah bicara."


"Tolong katakannyang sebenarnya Bu? Apa yang telah Ibu perbuatan pada pernikahan Anton dan Kamila."


"Anton... Itu tidak...Itu Ibu tidak melakukan apa-apa Anton."


"Ibu, jangan mencoba berbohong atau Ibu akan kuadukan pada Ayah, biar Ibu rasakan akibatnya jika Ayah mengetahui hal ini!!!"


"Tolong Anton jangan Anton, baik ibu akan ceritakan yang sebenarnya, memang ibu telah memfitnah Kamila, ibu yang menyuruh laki-laki itu untuk masuk ke apartemen kalian saat kamu pulang cepat dari kantor, agar kamu menyangka Kamila telah berselingkuh dengannya."


Aku lalu berteriak meluapkan segala emosi dan penyesalan, aku meratapi kenapa aku sampai begitu bodoh tidak mau mendengar penjelasan Kamila, seharusnya aku sadar Kamila adalah wanita yang sangat sulit untuk jatuh cinta dan tidak bisa dengan mudahnya berpaling pada laki-laki lain.


"Kenapa Ibu tega melakukan semua ini padaku??? Kenapa Ibu tega menghancurkan kebahagiaan anak Ibu sendiri!!!" jeritku sambil menangis.


Mendengar kata-kata Ibu, lalu aku pergi dan membuang tas kerjaku begitu saja. "Anton kamu mau kemana? Bukankah kamu bilang ada rapat pagi ini?"


Aku hanya diam mendengar kata-kata Ibu kulajukan mobil ini menuju bandara untuk pergi ke Solo.


Akhirnya mobilku sampai di suatu pelataran rumah mewah, aku melihat seorang wanita yang telah begitu kurindukan tampak sedang bermain dengan seorang anak kecil berumur satu tahun. Hatiku penuh tanda tanya. 'Siapa anak kecil itu? kenapa tampak begitu akrab dengan Kamila? apakah dia anak Mba Rani? tapi tunggu bukankah dulu Mba Tari sempat bercerita padaku jika Kamila dulu tengah mengandung anakku? Apakah dia anakku?' batinku dalam hati. Aku lalu turun dari mobil. Kamila tampak begitu terkejut melihat kedatanganku.


"Kamila maafkan aku!". Aku lalu bersimpuh dan memohon maaf padanya.


"Lepaskan aku Mas, sekarang kamu pergi dari sini, aku sudah tak sudi melihatmu!"


"Mila tolong maafkan aku, aku baru saja mengetahui jika dulu Ibuku yang sudah memfitnahmu Mila!"


"Oh jadi dulu ibumu yang memfitnahku Mas? Sungguh sangat picik kelakuan ibumu Mas."


Aku tak bisa berkata apa-apa dihadapannya, aku hanya menangis, lalu aku melihat anak kecil yang tampak ketakutan saat melihatku dan bersembunyi di balik tubuh Kamila.


"Kamila ini anakku kan Mila?"


"Bukan Mas, jangan sentuh, dia itu anakku bukan anakmu, bukankah kamu sudah menolaknya saat Mba Tari memberi tahu kehamilanku padamu!"


"Kamila aku mohon Mila, ampuni aku, beri aku waktu dan kesempatan untuk memperbaiki semua kesalahanku padamu dan anak kita!"


Aku menangis tersedu-sedu sambil bersimpuh di depannya, namun tampaknya Kamila sudah begitu membenciku. Aku bahkan tak sanggup lagi melihat tatapan matanya yang begitu tajam.


"Sudah cukup Mas, silahkan kamu pergi, aku dan Amanda tak punya banyak waktu bertemu denganmu!"


Kamila lalu masuk ke dalam rumah, sedangkan aku masih menangis dan bersimpuh di depan rumahnya. Akhirnya Ayah dan Ibu Kamila pulang. Mereka mengajakku masuk ke dalam rumah, aku hanya bisa meminta maaf akan sikapku terdahulu. Aku tidak tahu mereka akan memaafkan aku atau tidak, yang terpenting sekarang aku sudah mengakui kesalahanku dan meminta maaf atas kesalahan Ibu yang telah memfitnah Kamila. Ternyata Ayah dan Ibu begitu berbesar hati mau memaafkan kesalahanku dan keluargaku, sebenarnya aku begitu lega meski masih ada yang mengganjal.


Cukup lama aku berada di rumah ini, bahkan Ayah dan Ibu memintaku untuk menginap di rumah ini, awalnya aku menyetujuinya. Ayah dan Ibu pun meminta Kamila untuk mempertemukanku dengan Amanda. Setelah puas bermain dengan Amanda, lalu Ayah memanggil Kamila untuk menyelesaikan masalah di antara kami.


"Sudah tidak ada yang perlu dibicarakan lagi yah, semua sudah selesai."


"Kamila kamu tidak boleh seperti itu, tolong pikirkan kembali dengan baik masa depan Amanda, dia juga memerlukan sosok ayah." kata Ibu.


Kamila melirikku dengan tatapan penuh kebencian, aku hanya diam dan tertunduk. Aku tak sanggup melihat kemarahan yang begitu besar dari orang yang sangat kucintai.


"Kamu boleh bertemu dengan Amanda kapanpun engkau mau Mas, tapi maaf sampai kapanpun aku tidak bisa kembali padamu!"


"Nak Anton, maafkan Ayah, ini sudah menjadi keputusan Mila, tapi Ayah janji pintu rumah ini selalu terbuka jika Nak Anton ingin bertemu dengan Amanda."


"Baik yah, saya mengerti dan saya hargai keputusan Mila, saya pamit, terimakasih sudah mau menerima permintaan maaf dari saya."


"Loh Nak Anton tidak jadi menginap disini?"


"Maaf Ayah, Ibu di lain kesempatan saja, Anton permisi. Assalamualaikum."


"Waalaikumsalam." jawab Ayah dan Ibu. Lalu aku beranjak pergi, sesekali aku menengok ke belakang berharap Kamila melihat kepergianku, tapi tak pernah kulihat sosoknya meratapi kepergianku dari rumah ini.