
"Ilham." kata Rebecca sambil memberi kode pada Anton dan Kamila untuk diam.
[Ya sayang.]
[Sayang kamu masih di apartemen kan? bagaimana keadaan Amanda.]
[Aman, dia baik-baik saja.]
[Oke, terimakasih sayang, satu jam lagi aku pulang.]
[Aku tunggu sayang, hati-hati di jalan. See you.]
"Anton, gue cabut dulu ya, sebaiknya kalian langsung pulang ke Jogja secepatnya sebelum Ilham menyadari semua ini."
"Tentu, sebentar lagi kami akan pulang, aku sudah memesan tiket pesawat untuk kami semua. Tiga jam lagi kami akan terbang."
"Good job Anton, Kamila gue permisi dulu, jaga Amanda baik-baik."
"Terimakasih banyak Rebecca, berhati-hatilah."
Rebecca lalu mengangguk dan meninggalkan mereka.
"Ayo Kamila, Amanda, kita pulang sayang.
"Tapi barang-barang Amanda di asrama gimana Ma?"
"Tenang sayang, Mama sudah merapikan semua barang-barangmu." kata Kamila sambil tersenyum.
"Terimakasih Ma, Pa, kalian adalah yang terbaik. Maaf jika Amanda sudah mengecewakan dan merepotkan kalian semua."
"Everything it's gonna be okay Manda."
"Ayo kita pergi sekarang." kata Kamila.
Mereka lalu bergegas pergi menuju bandara. Sementara Rebecca kini tampak sibuk berbicara dengan seseorang.
"Ingat semua perintahku."
"Baik Nona."
Dia lalu masuk ke dalam apartemen Ilham dan mengacak-acak seluruh isi apartemen, tak lupa dia juga merias wajahnya dengan make up sehingga tampak seperti lebam. Beberapa tetes darah ayam yang baru saja dibelinya pun dipercikannya ke lantai agar tampak seperti darah miliknya.
Tiba-tiba pintu apartemen pun terbuka, Rebecca lalu berpura-pura tertidur di atas sebuah karpet di depan televisi.
Ilham membuka pintu apartemen, betapa terkejutnya dia saat melihat Rebecca tergeletak di depan televisi dengan tubuh penuh luka lebam.
"Rebecca... Rebecca sayang. Siapa yang melakukan semua ini?" kata Ilham, wajahnya kini berubah pucat dipenuhi kekhawatiran melihat keadaan Rebecca.
Mendengar teriakkan Ilham, Rebecca masih berpura-pura pingsan. Lalu Ilham mengambil sebuah minyak kayu putih yang selalu ada di tas Rebecca dan mengoleskan sedikit di dekat hidungnya.
"Rebecca... Rebecca."
Perlahan Rebecca pun membuka matanya.
"Ilham... Ilham..." kata Rebecca diiringi derai air mata.
"Ilham."
"Rebecca, apa yang sebenarnya telah terjadi?"
"Ilham mereka sudah mengambil Amanda Ilham."
"Mereka siapa?"
"Aku tak tahu Ilham, beberapa saat setelah kamu menelponku, pintu apartemen diketuk seseorang. Aku pikir itu adalah kamu, sehingga tanpa kulihat terlebih dahulu aku langsung membukanya."
"Lalu?"
"Saat aku membuka pintu, tiba-tiba ada beberapa orang laki-laki menyerangku dan mengobrak-abrik seisi apartemen sambil mencari Amanda. Ilham, aku sudah berusaha melawan sebisaku dan mempertahankan Amanda, tapi aku tak berdaya Ilham, maafkan aku." kata Rebecca sambil terus menangis.
"Tenang Becca itu bukan salahmu, itu di luar kehendakmu. Aku yang salah, aku yang kurang berhati-hati, seharusnya tidak kupasrahkan semua padamu."
"Sudahlah Ilham, lebih baik kita pikirkan rencana selanjutnya."
"Iya sayang, seharusnya aku menuruti semua kata-katamu untuk tidak bertindak gegabah. Tapi aku terhasut oleh n**su dan egoku, semua jadi berakhir berantakan seperti ini."
"S**l, benar-benar bre**sek Anton, dia pasti sudah tahu rencana jahatku pada anaknya."
"Tenangkan dirimu Ilham, sekarang kita pikirkan rencana selanjutnya, tapi aku minta tolong pikirkan dengan matang."
"Benar sayang, maafkan aku sayang, karena kamu ikut membantuku, tubuh mulusmu jadi seperti ini. Bagaimana kalau kuantar kamu ke rumah sakit untuk mengobati semua lukamu?"
"Salon???? kok jadi ke salon sih?"
"Yeah, aku mau mengobati luka-luka di tubuhku dengan treatment."
"Treatment?"
"Yaaa, dengan treatment, semua luka di tubuhku bisa hilang. Aku juga ingin sekalian mendapat perawatan body spa."
"Body spa?"
"Ya, bukankah tadi sudah kuceritakan padamu jika aku melawan preman-preman itu?"
"Lalu?"
"Tubuhku merasa pegal Ilham, tidak mudah beradu tenaga dengan mereka, aku ingin mendapat perawatan tubuh juga agar badanku tidak pegal-pegal."
"Benar juga kamu sayang, ya sudah pakai kartu kreditku untuk seluruh perawatan tubuhmu."
'Yessss.' kata Rebecca dalam hati, namun saat Rebecca keluar dari apartemen, tiba-tiba Ilham memanggilnya kembali.
"Sayang."
"Kenapa Ilham? tolong temani aku melihat CCTV di gedung ini, agar aku tahu siapa yang sudah membebaskan Amanda."
Seketika wajah Rebecca pun pucat. "Ayo sayang, temani aku."
"Emhhh..Emh baik Ilham."
Anton, Kamila dan Amanda kini telah berada di dalam pesawat. Rasa lega memenuhi hati Amanda yang kini sudah tampak lebih tenang.
"Untung kita ga jadi bawa Kevin dan Brian ya sayang?"
Kamila lalu mengangguk. "Mereka pasti bingung melihat kakak yang mereka sayangi menangis tanpa henti."
"Simpan rasa sedihmu Amanda, semua sudah berlalu. Kamu tidak ingin kan melihat adik-adikmu kebingungan melihat kakaknya yang begitu ceria tiba-tiba pulang dengan penuh air mata."
Mendengar kata-kata Anton, Amanda lalu mengusap air mata di pipinya. "Tenang aja Pa, Amanda udah ga sedih lagi kok. Nih udah bisa senyum." jawab Amanda sambil memperlihatkan gigi putihnya.
"Itu meringis Manda bukan senyum." kata Kamila, lalu mereka bertiga pun tertawa bersama. Setelah itu mereka pun terlibat obrolan ringan tentang Kevin dan Brian. Selang beberapa menit kemudian, Amanda tertidur. Kamila dan Anton melihat wajah putri mereka dengan perasaan lega.
"Pasti dia lelah."
"Iya dia pasti lelah Mas. Terimakasih Mas, kamu selalu bisa menjadi kepala keluarga yang melindungi kami semua."
"Tentu sayang, itu semua berkat kepintaran dan kecerdikanku hahhahahhaha." jawab Anton sambil tertawa.
"Kamu memang pintas Mas, dan aku memang mulai mencintaimu sejak tahu kamu laki-laki yang begitu pintar." kata Kamila sambil sedikit menggoda.
"Jadi, mulai kapan kau mencintaiku? aku pikir sejak kamu merawatku di rumah sakit."
"Hahahaha, kamu salah Mas."
"Jadi kamu sudah mulai mencintaiku sejak di perpustakaan itu?"
Kamila hanya mengangguk sambil mengedipkan mata dengan sedikit menggoda.
"Kalau kamu sudah mencintaiku sejak di perpustakaan, kenapa kamu menolak cintaku saat di taman sayang?"
"Bukankah cinta itu butuh pengorbanan?" kata Kamila sambil tersenyum.
"Iya, korban tabrak mobil." gerutu Anton.
Ilham dan Rebecca menuju ke post security untuk meminta diantar ke ruang pusat CCTV. Petugas CCTV lalu membuka video CCTV di sekitar area masuk, lift, tempat parkir, dan di sekitar area pintu apartemen Ilham. Namum akses CCTV tersebut ternyata mengalami beberapa kerusakan di jam yang sama saat kejadian berlangsung, sehingga CCTV di semua tempat mati secara serentak.
"Si*lannnnn bre**sek!" kata Ilham, wajahnya kini dipenuhi dengan amarah.
"Ternyata Anton telah begitu rapi merencanakan semua ini. Aku harus lebih berhati-hati berhadapan dengan manusia seperti Anton!"
"Benar kan apa yang kukatakan sayang, kamu harus berhati-hati dan tidak boleh gegabah. Pikirkan rencanamu dengan matang sebelum mulai bertindak."
"Benar katamu sayang, ayo kita pergi dari sini."
Ilham lalu melangkah pergi meninggalkan ruang pusat CCTV, sedangkan Rebecca tampak tersenyum pada petugas CCTV sambil membulatkan ibu jari dan jari telunjuknya."
"Terimakasih." kata Rebecca sambil berbisik.
"Sama-sama, tugas yang mudah untuk bayaran sebesar ini Nona. Aku siap membantumu kapanpun yang kau butuhkan."
"Tentu." jawab Rebecca sambil melangkah pergi mengikuti Ilham.