
Ada hati yang menunggu meski tak tahu sampai kapan waktu akan menakdirkan untuk bertemu.
Hati yang selalu menegar kendatipun diterjang ganasnya ombak kepiluan panjang.
Tanyakan, apakah pernah didera rasa lelah? Dulu, tak pernah ada kata lelah. Tetapi Tuhan maha tahu sampai mana akan membatasi gundah gulana yang terus menerus datang. Mungkin Tuhan lebih menyayangi hambanya yang selalu berpasrah. Hingga kini ditetapkan pada titik terendah. Mencabut derita dengan cara tak disangka-sangka.
•
Pria berwajah sendu nan terkejut itu lantas menatap Sakky dengan pandangan mengintimidasi. Bertanya apa maksud pria di sampingnya berkata demikian?
"Puluhan kali aku ingin menikahinya, tapi dia selalu menolak. Dan alasannya sangat jelas, bahwa Niar mengharapkan masih bisa kembali padamu," cerita Sakky tanpa mau memandang Yusha. Pria itu memilih menatap jalanan lengang dengan pendar neon yang menerangi sisi-sisi jalan. Langit telah menggelap, menenggelamkan cahaya jingga hingga berubah menghitam dan di berhias bintang yang baru muncul satu, dua, dan tiga saja sedangkan bulan masih malu-malu untuk menampak.
"Ja-jadi ... kamu dan Niar bukan pasangan suami istri? Ka-kalian tidak terikat pernikahan?" Kejutan amat luar biasa, Yusha hampir saja berhenti bernapas mendengar cerita Sakky. Susah payah menelan ludah, pria itu semakin terhenyak sampai membuat aliran darah seolah melambat dan tubuhnya terasa lemas. Kesalahpahaman yang berhasil menyiksa perasaan dua insan pun menimbulkan bentangan jarak diantara keduanya.
Sakky menggeleng mewakili jawabannya. Pria itu berkedip pelan, menyiapkan hati menceritakan apa yang diketahui. Kebenaran yang selama ini disimpan rapat-rapat kini siap dibeberkan.
"Aku dan Niar tau selama ini kamu salah paham dengan hubungan kami. Nyatanya hubungan kami hanya sebagai kakak beradik, gak lebih dari itu."
Mendengar kalimat Sakky tak membuat hati Yusha melega, justru semakin sesak oleh remasan suatu tak kasat mata. Pria itu diam dengan pikiran berkecamuk.
"Kamu gak tau bagaimana Niar bangkit dan berjuang sendirian. Mulai dari membuka usaha kecil-kecilan, mengumpulkan uang demi melunasi hutang keluarganya padamu. Tekadnya sangat kuat ingin membuktikan bahwa dia bukan perempuan gila harta seperti tuduhan orang tuamu. Dalam keadaan mengandung, dia tetap tegar menerima ribuan hujatan dari tetangga yang mengatakan dia perempuan munafik, perempuan haram dengan aib hamil tanpa suami. Sungguh, aku yang hanya menyaksikan saja hatiku sangat sakit. Tapi Niar begitu kuat menghadapi semuanya. Dia perempuan luar biasa dengan keteguhan hatinya. Kamu sangat beruntung, selama bertahun-tahun masih menjadi pria yang diinginkannya. Sedangkan aku ... aku yang bertahun-tahun jatuh cinta dan mengejar hatinya tapi gak pernah diterima. Selalu saja kamu yang disebut."
Bola mata Yusha memanas, memproduksi kristal-kristal bening yang hanya dengan kedipan mata bisa langsung tumpah.
Tanpa malu Yusha menyusut ujung-ujung mata dengan jemarinya. Cerita panjang barusan mengoyak jantung dan hati hingga menimbulkan nyeri secara bersamaan.
"Kamu bilang aku pria beruntung?!" Yusha tertawa getir. Menertawai dirinya sendiri yang telah dipermainkan oleh takdir. "Nyatanya aku hanya pria bodoh tak berguna. Mungkin aku dicintai Niar, tapi aku gak ada disampingnya. Justru kamu yang selalu menemani dan bisa melihat senyumnya setiap hari." Kali ini pria itu menunduk, menyembunyikan lelehan cairan bening yang tak bisa dicegah saat keluar begitu saja.
"Bukan hanya melihat senyumnya, tapi lebih banyak melihat dia menangis karna menunggumu tanpa kejelasan. Setelah kelahiran Ara, baru saat itu Niar mulai membuat senyum palsu. Dia tersenyum di depan Ara dan kami, tapi disaat sendirian dia lebih banyak menangis," terang Sakky apa adanya.
"Tunggu, jika kamu dan Niar tidak menikah? Lalu ... anak kecil bernama Yuara tadi___?" Yusha baru tersadar. Pertanyaannya terpotong karena terkejut sekaligus kebingungan.
"Anak kecil bernama Yuara Sora Demitri itu adalah anakmu. Gadis kecil itu darah dagingmu," jawab Sakky.
"Apaaaaa?!" Yusha memekik tertahan.
Jantung Yusha hampir saja terhenti untuk memompa aliran darah. Bola mata beberapa saat lalu memerah kini secepatnya melebar sempurna akibat keterkejutannya. Kepala itu menoleh secepat kilat ke arah Sakky yang juga tengah menatapnya.
"Itulah rahasia besar yang kami tutupi selama lima tahun ini. Saat Niar pertama kali datang ke kota ini, dia udah hamil. Jadi, Ara itu memang putri kandungmu."
"Berati saat aku mengucap talak, Niar sudah hamil?"
"Hem ...."
"Kenapa ... kenapa dia gak kasih tau aku?! Kenapa kalian harus menutupi kebenarannya. Bagaimanapun harusnya aku berhak mengetahui darah dagingku. Kenapa kalian harus menyembunyikan rahasia ini?" runtut Yusha.
Sakky tertawa tipis dan membuang napas kasar. Pria itu membuang pandangan tak ingin lagi melihat Yusha. "Jika Niar memberitahumu, mungkin hanya kamu yang percaya. Sedangkan orang tuamu dan istri pertamamu justru menghakiminya sebagai perempuan rendah. Kamu ingat saat ayahmu menghina Niar sebagai jala ng?! Apa kamu bisa membelanya? Apa kamu bisa menjamin keselamatan Niar dan Ara dari kebencian istri dan orang tuamu?! Kamu gak pikirin itu! Tapi Niar berpikir panjang, makanya dia memilih menyembunyikan Ara daripada memberitahukan kebenaran yang bisa saja membahayakan mereka. Niar mempercayai satu hal, bahwa suatu saat Tuhan pasti memberi jalan agar keberadaan Ara bisa diketahui olehmu. Dan mungkin saat ini Tuhan telah menunjukan jalannya agar kalian bisa saling bertemu."
Benar. Memang benar apa yang dikatakan oleh Sakky. Nyatanya selama ini ia tak bisa membela Niar. Ia tak sanggup memperjuangkan cintanya sendiri sampai takdir Tuhan yang selalu membuka tabir semuanya.
"Aku pria bodoh! Aku pria tak berguna! Aku benar-benar tak berguna!!! Kenapa Tuhan memberi jalan pertemuan seperti ini?! Aku ... aku terlambat menemukan mereka. Andai saja lebih awal menemukan mereka, mungkin masih bisa melihat senyumnya bukan air matanya." Yusha menahan sesak akibat isak tangis. Kebenaran yang diketahui sungguh menyayat hati. Lebih sakit dari hujaman jarum yang mengenai kulitnya.
"Ingat! Semua tak lepas dari peran Tuhan. Meskipun kalian saling mencintai, jika Tuhan
gak menghendaki kalian bersama, tetap saja ada jarak yang memisahkan. Yang terpenting sekarang, bagaimana usaha kita untuk memulihkan kondisi Niar. Mungkin saja dengan kehadiranmu perlahan psikis Niar mulai membaik."
"Papa Sakky ...," teriak Yuara dari dalam. Pembicaraan Sakky dan Yusha terhenti dengan kedatangan Yuara yang langsung menghampiri Sakky dan duduk di pangkuan pria itu. "Yua mau minum susu." Tangan kecil Yuara menyodorkan gelas khusus yang biasa digunakan untuk menyeduh susu.
"Nenek kemana?" Sakky menerimanya tetapi bertanya hal lain.
"Nenek masih bantuin Mama Cantik ganti baju," jawab Yuara.
"Okelah kalau begitu. Pacar Papa Sakky tunggu sebentar ya, Papa buatin susunya dulu."
"Oke ...."
Yusha tak beralih menatapi paras Yuara yang terpantul dengan pendar lampu di teras rumah itu. Gadis kecil yang baru diketahui sebagai darah dagingnya sendiri rupanya sangat mirip dengannya. Membuat Yusha semakin perih tak bisa membayangkan apa yang telah diperjuangkan Niar demi membesarkan puterinya seorang diri.