Merengkuh Derita

Merengkuh Derita
Part 70


Kebingungan melanda jiwa, berserak hanya mampu menerka-nerka. Tak tahu sebenarnya yang terjadi. Tiba-tiba muncul sebuah rindu, tiba-tiba menghilang seperti senja. Menginginkan sesuatu tanpa bisa dicegah. Membenci sesuatu tanpa tahu alasan, bukankah itu hal aneh?


Kepada siapa akan menuntut atas keanehan. Dalam keheningan ia tak pernah melepas terkaan, mencari jawaban namun justru jawaban absurd yang didapat. Ah ... semakin membingungkan.


Dua pria berbeda profesi tengah menyusuri jalan beraspal. Tujuannya untuk mencari penjual bakso yang masih buka. Jam hampir menunjukan pukul 12 malam, walau di keramaian kota besar tetap saja membuat mereka kesulitan menemukan yang dicari.


Sudah tak terhitung berapa kali pria yang mengenakan baju tidur itu mengomel, mengumpat juga mendesah kesal. Tetapi sama sekali tidak ditanggapi oleh Yusha, pria yang sangat menginginkan kuah bakso pangsit itu hanya diam dengan pikiran melayang. Benar-benar merasa bingung dengan keadaanya sendiri.


"Astaga ...! Lu ketempelan apaan, sih, Yus! Gila, lu bener-bener gila. Selama puluhan tahun kenal elu, kek nya gak pernah lu pengen hal aneh gini!" omel Reo untuk kesekian kalinya.


"Gak ada yang aneh, orang cuma pengen makan bakso doang," jawab Yusha sekenanya.


"Well, gak ada yang aneh, cuma waktunya aja yang aneh! Lu gak liat ini udah tengah malam. Apa gak bisa makannya ditunda besok aja!"


"Gue pengennya sekarang, Yo! Gue juga gak tau sih, kenapa gue aneh gini?" Pria menggunakan jaket kulit itu tengah mengelus-ngelus dagunya yang lancip. Dua alis tebalnya menyatu. Pria itu pun kebingungan dengan reaksi dirinya.


Reo ikut menautkan ke dua alisnya. "Keinginan lu, tuh, kayak orang ngidam aja, gak bisa ditunda," cetus Reo.


"Huh, omongan lu yang aneh. Mana ada begituan!" tandas Yusha.


"Ye, emang bener, tau. Kalau orang ngidam itu ya, ciri-cirinya kayak elu gini, suka pengen yang aneh-aneh tanpa kenal waktu," terang Reo, pemuda itu memang bukan dokter obgyn, namun di rumah sakit ia mengenal bermacam dokter dengan profesinya.


Yusha semakin tenggelam dalam kebingungannya. Namun logikanya tak sampai pada ucapan Reo.



Sendu tak hilang menghiasi wajah tuanya, baru ini pria paruh baya itu merasa kehilangan sosok putri yang selalu berbakti. Mungkin inilah bayaran mahal atas kesia-siaanya selama ini. Tak menganggap Niar ada, tak menganggap kebaikan dan kebaktian si Bungsu yang rela melakukan apapun demi keluarga. Meremehkan keberadaan anak bernasib malang itu. Nyatanya, tanpa Niar keluarga itu kelabakan hanya untuk mencari sesuap nasi.


"Bu, Bapak berangkat dulu, ya," pamit Pak Bejo yang telah bersiap untuk bekerja sebagai kuli bangunan. Ia terpaksa meninggalkan istrinya begitu saja tanpa penjagaan. Tak ada pilihan, jika ia tak bekerja, mereka berdua tidak akan makan.


"I-iya ... Pak." Keadaan Sumiati tak lebih baik dari sebelumnya. Perempuan paruh baya itu hanya mampu berbaring di atas tempat tidur. Tanpa bisa pergi kemanapun. Mengamati luar jendela yang nampak terik.


Berat tubuh Sumiati makin hari makin menurun, badan gemuknya telah menyurut hingga tinggal tulang dan kulit. Tak ada perubahan, justru makin parah karena obat yang biasa dikonsumsi tak bisa lagi ditebus. Kehidupan mereka benar-benar dalam fase sangat memprihatinkan.


Ibu yang dulu kejam karena membedakan kasih sayang, kini baru di selusupi rasa bersalah. Betapa buruk kehidupannya tanpa kehadiran Niar. Ia merasa kehilangan, ia merasa berdosa. Bukan hanya digerogoti penyakit, namun lebih sakit saat digerogoti rasa bersalah. Mungkin jika raganya bisa menapaki tapal, ia akan berusaha mencari keberadaan putri bungsunya untuk meminta maaf.


Ia merindukan rengekan Niar saat putri bungsunya itu menangis karena ingin dipeluk dirinya. Namun tak sekalipun ia mengabulkan. Kini berbanding terbalik, ia yang harus merengek pada Tuhan, agar dipertemukan dengan putrinya untuk memeluk dan mengucap maaf.


Ia rindu sekelebat bayangan Niar yang sering membersihkan rumah. Meski lelah namun tak pernah menyerah. Sungguh, dosa-dosanya mungkin tak terampuni, namun di sisa-sisa akhir ia ingin menemui Niar. Memeluk, meminta maaf lalu mengatakan sekarang ibu sudah menyayangimu. Bayangan Niar memeluk tubuhnya dan mengucapkan terima kasih membuat Sumiati makin terisak pedih.


Kenapa baru sekarang ia menyadari semuanya, setelah Niar pergi entah kemana. Kenapa tidak beberapa waktu lalu saat putrinya masih di sini. Saat masih mengharapkan kasih sayangnya? Bukankah sekarang tinggal penyesalan, karena tak bisa mengulang waktu. Ia tak bisa mencegah Niar untuk tetap tinggal.


Ini bayaran mahal untuk ketidak adilannya. Ini bayaran mahal untuk perlakuan kejamnya. Disaat tubuh lemah tak berdayanya, ia hanya berteman dengan sepi. Ia bagaikan seonggok daging yang tak ada guna.


Miris, tak ada yang merawatnya. Tak ada yang mengelus kulitnya, tak ada yang memeluknya. Tak ada yang membersihkan tubuhnya.


'Tuhan, ini karma untukku. Ini balasan setimpal untukku. Seperti ini menyakitkan, sekarang aku tau bagaimana hati Niar saat aku memperlakukannya tanpa belas kasih. Ampuni aku, Tuhan. Tolong kembalikan putriku.'



Deg ...


Niar yang sedang sibuk mengelap beberapa dagangannya tersentak saat tiba-tiba halusinasinya terbayang wajah Sumiati. "Ibu," ucapnya lirih. Perempuan itu menghentikan aktifitasnya dan duduk di kursi lipat. "Kenapa tiba-tiba keinget sama ibu? Mudah-mudahan ibu baik-baik aja," ucapnya bermonolog sendiri. Ia bangkit untuk mencari ponselnya dan berniat menghubungi nomor Pak Bejo. Namun, naas. Ia lupa bahwa ponsel itu telah di simpan dalam lemari kamar. Hampir dua minggu ia tak memberi kabar apapun. Ia tidak tahu apakah keluarganya sudah mengetahui perceraiannya, atau justru masih mengira ia tetap tinggal di rumah Yusha.


Niar kembali duduk, mencengkram jemari saling menaut. Hatinya kembali merasa bimbang, apakah ia sanggup terus bersembunyi atau harus memberi mereka kabar. Sungguh, ia takut jika niatnya akan goyah jika mengubungi mereka. Dan, ia pun tak mau menjadi aib keluarga karena hamil setelah diceraikan. Mungkin jika ia kembali hanya akan menjadi beban. Di sini, di tempat baru ini telah menemukan kenyamanan, meski hati berkecamuk melawan rindu.


Ia bertekad ingin kembali jika sudah berhasil menunjukan kesuksesannya. Ia akan kembali setelah berhasil mengumpulkan uang Rp.110.000.000,00 untuk membayar hutang keluarganya.


'Ya Allah, berikan aku petunjuk untuk mengambil keputusan. Dan, lindungi bapak dan ibu, semoga beliau baik-baik saja.'