Merengkuh Derita

Merengkuh Derita
Part 45


Telapak kaki putih mulus bertelanjang tanpa alas menginjak bulir-bulir pasir lembut yang terasa menggelitik di setiap lembaran kulit. Perempuan mengenakan pasmina coklat tua itu tak sekalipun meninggalkan jejak senyuman membentuk lengkungan bulat sabit. Sangat manis, puji setiap pasang mata yang memandang namun diucap dalam hati mereka.


Perempuan itu berdiri tegak menghadap air laut dengan deburan ombak yang menjilat-jilat bibir pantai. Ketika ombak datang, kedua kaki mulusnya tertimpa pasir hingga meninggalkan bekas kotor. Namun sesaat kemudian, air itu kembali datang dan menyapu bersih noda yang tertinggal.


Niar mengamati keindahan alam, ciptaan Yang Maha Kuasa. Menghirup udara segar yang menyerbu wajah pilunya. Angin berhembus kencang mengibarkan setiap helai kain yang ia kenakan. Terlihat sekali perempuan itu sangat menikmati keberadaannya di bibir pantai.


Tapi, semakin ia menikmati, entah kenapa pemikirannya tertuju pada masa silam. Kehidupan pelik, lika-liku kehidupan, kepiluan dan nestapa yang ditelan seolah berdesakkan untuk diingat. Apalagi mengingat kejadian berapa waktu lalu, di mana dengan teganya Sumiati meludahi wajahnya, sungguh sebuah sebagai kesakitan luar biasa yang pernah ia rasakan.


Tak butuh waktu lama, airmata yang telah surut dan terganti dengan bulan sabit itu kembali datang. "Ibu ... kenapa harus aku yang mengalami ini? Sakit, Bu. Hati Niar sangat sakit. Aku hampir tak sanggup menerima kebencian darimu, Ibu. Berapa lama aku seperti ini, aku kesepian, Bu. Dimana aku ingin berbagi keluh kesah, jika satu malaikat di bumi--malaikat tak bersayapku begitu membenciku. Aku pernah menyalahkan Tuhan, apa aku harus kembali menyalahkan-Nya atas takdir kejam ini? Katakan, aku harus minta pertanggung jawaban siapa untuk hidupku? Aku lelah, aku sakit, aku rapuh, aku ingin tiada," bisiknya lirih berharap kalimat kekecewaan itu terbawa angin hingga tak ada yang mendengar, kecuali Tuhan.


Lelaki yang telah berganti mengenakan kaos dalam itu mematung di belakang Niar. Ia terdiam mendengar dan mencerna setiap kata yang didengar. Ia ikut terbawa pilu mendengarnya.


"Aku yang akan bertanggung jawab untuk hidupmu. Katakan dan ceritakan keluh kesahmu. Jika lelah, istirahatlah. Jika sakit, aku kan merawatmu. Jika rapuh, aku yang akan menguatkanmu. Jangan katakan tiada, jangan biarkan bumi ini menangis karna kehilangan malaikat, sepertimu." Lagi-lagi kata absurd kembali lolos dari bibir Yusha. Bahkan lelaki yang berdiri tepat dibelakang Niar tercenang sendiri bisa mengucap kalimat seindah itu.


Padahal lidah tajamnya tak pernah mengatakan kalimat puitis seperti tadi. Sekalipun saat sedang bersama Sheli--wanita yang dicintai.


Niar bergeming, ada semilir hangat yang menyelimuti hatinya. Perkataan Yusha bagai cahaya di saat kegelapan hati melanda.


Kaki Yusha telah sejajar bersama perempuan yang menoleh padanya. Sesaat mata mereka mencoba saling menyelami arti perasaan yang dirasa. Tapi Yusha beralih lebih dulu, seperti pertanda belum yakin akan perasaannya yang tanpa sadar mulai tumbuh benih cinta. Logika masih berperan aktif memberi rangsangan bahwa hatinya masih milik Sheli, bukan Niar. Tapi entah kenapa, hati dan pemikirannya tidak bisa bersahabat. Saling tolak menolak.


"Perkataan Anda terlalu berlebihan, Tuan," ucap Niar. Bibir itu menyungging senyum miring, ia menghembuskan napas pelan, mencari sisa kekuatan untuk melanjutkan ucapannya. Tangan rapuhnya menyeka pipi yang baru saja basah oleh cairan bening. "Kita bukan siapa-siapa, terikat hubungan suci namun sebatas perjanjian. Saya masih di sini hanya demi Anda dan perjanjian kita, jika bukan karna itu, saya akan merelakan tubuh ini ikut tergulung bersamanya," lirih Niar dengan pandangan lurus kedepan.


"Jangan lakukan hal bodoh yang akan merugikan dirimu sendiri. Selama ini bukankah kamu cukup tegar menjalani luka hidup sendirian? Kenapa di titik ini kamu ingin menyerah? Kemarin kamu sendirian, tapi sekarang, ada aku yang akan menemanimu. Untuk sekarang lupakan soal perjanjian itu, anggap aku sebagai temanmu. Hem .... "


"Dari dulu yang saya lakukan selalu bertindak bodoh, meski Ibu dan Kak Nesva bersikap tidak baik, tapi hatiku selalu menyayangi mereka. Banyak yang mengucap nasehat agar saya acuh dan pergi jauh, tapi hati ini belum siap, masih ada angan dan keinginan yang belum terpenuhi. Hati ini ingin dibelai lembut dengan kasih sayang, hati ini ingin dianggap ada oleh mereka. Saya tegar karna memiliki harapan, suatu saat bisa tertawa bersama mereka, tapi semakin ke sini, harapan itu semakin tipis. Lalu untuk apa bertahan dalam kebencian yang tiada usai. Saat ini dan untuk waktu yang belum tau ke depannya, kita masih bisa bersama mungkin sebagai teman. Tapi, ada saat kita akan menjadi orang asing lagi. Lalu saya kembali sendiri. Saya tidak bisa dan tidak boleh bergantung dengan Anda atau siapapun."


"Karna kedepannya tidak tau, maka jangan menerawang jauh ke sana. Biar berjalan sebagaimana semestinya. Walau suatu saat kita akan menjadi orang asing, tidak akan menjadi penghalang untuk kita saling menolong, bukan?"


"Anda memang pandai mengolah kalimat, Tuan," cibir Niar melirik malas. Awan mendung yang melingkupi hatinya sedikit berpendar karna kalimat demi kalimat yang di sanggah oleh Yusha.


"Haha ...." Lelaki itu terbahak. Begitulah Niar, meski sedih namun ada kepolosan yang sering membuat orang lain terbahak. Khususnya untuk Yusha, karna selama ini hanya lelaki itu yang lebih dekat dengan Niar, selain Aris. Wanita itu mudah sekali berubah mood.


"Kalau aku tidak pandai mengolah kalimat, tidak mungkin bisa menjadi pemimpin besar. Selain itu, akupun pandai memperlakukan wanita," ucap Yusha dengan mengedipkan mata.


"Apa kita deal menjadi teman?" ucap Yusha lagi.


"Apa maksud anda?" Niar balik bertanya.


"Jika kita berteman, jangan bersikap formal. Jangan anggap aku sebagai tuanmu lagi," pinta Yusha.


"Ti-tidak bisa begitu, Tuan. Anda tetap tuan saya,"


"Aku lebih nyaman kamu bersikap biasa."


Bukkk ...


"Aaa' .... " Niar berteriak terkejut merasakan suatu benda mengenai punggungnya.


"Ate, maaf, Abi nggak sengaja lempar bola ke Ate." Seorang anak kecil telah berdiri dibelakang mereka, memasang wajah takut saat Yusha menatap lekat. Tapi berbeda dengan Niar, perempuan itu tersenyum dan berjongkok di depan anak kecil yang mengerut takut.


"Nggak apa, Sayang. Nggak sakit, kok, Tante teriak karna terkejut."


"Sekali lagi, maaf ya, Ate," ucapnya pada Niar, namun pandangannya tidak beralih pada Yusha. Karena lelaki itu memandang lekat pada bocah kecil berkisar umur 5tahunan itu.


"Ini bolanya, sana, gih, main lagi. Tapi hati-hati ya, jangan jauh dengan orang tuamu, takut kamu terpisah," pesan Niar.


"Iya, Ate, makasih." Bocah itu berlari menjauh.


Niar kembali berdiri. "Tuan terlalu menakutinya," ucapnya.


"A-ku ... menginginkan seperti mereka," balas Yusha seolah tanpa sadar. Manik mata itu masih memandang anak kecil tadi yang melanjutkan bermain bola tidak jauh dari sana.


Deg ...


Niar terkesiap, ia sendiri tidak tahu kenapa sampai saat ini belum ada tanda-tanda kehamilan.