
Permainan malam ini di menangkan oleh Yusha. Seorang gadis polos yang lugu kini berubah menjadi wanita tanpa mahkota. Sesuatu berharga itu telah di berikan pada suaminya.
Meskipun keduanya melakukan hubungan itu karna tuntutan perjanjian dan sebuah hak kewajiban, namun tergambar jelas kebahagiaan di wajah Yusha. Mungkin saat ini keduanya tak memiliki rasa, namun berjalannya waktu bisa merubah segalanya. Bisa saja sebuah kenyamanan menjadikan hubungan mereka semakin rekat.
Mengakhiri permainan, setelah tadi keduanya saling memekik tertahan karna sama-sama mencapai puncak kenikmatan. Yusha mencium kening Niar yang basah oleh keringat, gadis itu tergolek lemah tanpa tenaga. Yusha tersenyum dan bergeser ke samping Niar, lalu mendekap tubuh mungil itu ke dalam pelukan hangat.
Niar lebih dulu terlelap, sedangkan Yusha masih terjaga dalam pemikirannya. Ia tak menyangka secepat ini mendapatkan haknya sebagai suami. Ia mengira akan kesulitan beradaptasi dengan gadis polos itu karna di hantui bayangan Sheli, tapi perkiraannya salah. Bahkan ia tak menyangka bisa merasakan kebahagian lain saat berhasil mengambil mahkota milik istri keduanya.
Ketika menikah dengan Sheli, tak ada ke istimewaan yang di rasa, karna sebelum menikah pun ia sering melakukan hubungan suami istri dengan istri pertamanya itu. Bahkan waktu pertama kali mengga uli, wanita itu sudah tak sempurna sebagai gadis. Dalam artian sudah tidak memiliki mahkota. Dan ia pun tidak tahu mahkota itu di berikan pada siapa, karna Sheli menolak untuk memberitahu.
Dalam cahaya remang, mata Yusha mengamati wajah Niar yang terlelap dalam damai. Bibir Niar sedikit bengkak akibat ulahnya. Ternyata bibir Niar terasa lebih manis, saat ini ingin kembali meraup bibir itu, api ia tahan, tidak mau mengganggu tidurnya. Tangan Yusha terangkat untuk membenarkan letak anak rambut yang hampir menutupi sebagian wajah Niar.
"Semoga kamu cepat hamil," ucap Yusha tanpa suara. Terlepas dari kebahagiaan yang di rasa, ia pun berharap Niar segera hamil.
Yusha mulai memejamkan mata dan menyusul Niar ke alam mimpi. Lelaki itu lebih mendekatkan diri dan memeluk Niar dengan erat, hingga keduanya benar-benar menyatu.
••••••••••••••
Suara kokok ayam terdengar saling bersahutan, Niar ingin menggerakkan tubuhnya yang berat dan terasa kaku, tapi sedikit kesulitan. Saat membuka mata, ia hampir saja berteriak karna terkejut. Tangan sebelah terangkat untuk membekap mulutnya sendiri.
Sekilas kejadian semalam teringat dengan rentetan sangat jelas. Bagaimana Yusha memperlakukannya dengan sentuhan lembut. Dan masih teringat saat Yusha berbisik pelan 'terimakasih, sayang' membuat perasaan Niar membuncah. Tapi saat mengingat bagaimana ia mendesah dan meminta Yusha untuk mencumbuinya, ia benar-benar malu dan menerutuki diri. Bagaimana ia meminta hal itu. Gila! Itu memalukan.
Wajahnya terlalu dekat dengan Yusha, bahkan napas lelaki itu terasa menyembur mengenai kulitnya. Sejenak tatapan Niar terpaku pada wajah tegas Yusha yang kini masih terlelap. Ia mengakui bahwa lelaki itu memang sangat tampan. Ia tidak tahu harus bersyukur atau menyesal bisa menjadi istri kedua dari seorang Yushaka? Perjalanan rumah tangganya baru akan di mulai, kebahagiaan atau airmata yang akan menemani hari-harinya?
Dengan pelan Niar ingin melepaskan diri dari pelukan Yusha, ia mengangkat tangan kokoh yang melingkari pinggangnya.
Saat ingin mendudukan diri tapi pangkal pahanya terasa sakit. "Auh' ... sssttt," desisnya pelan.
Yusha mendengar itu dan terbangun, "kamu kenapa?" tanyanya.
"Ah Tuan terbangun? Maaf membangunkan anda," kata Niar. Tangannya mengapit selimut hingga sebatas leher untuk menutupi tubuh polosnya.
Yusha beranjak untuk menghidupkan lampu utama, dalam sekejap kamar itu menjadi terang menyilaukan mata.
"Saya ingin ke kamar mandi, tapi sulit bergerak karna masih sakit," ucap Niar jujur.
Yusha meraih celana tidur panjangnya yang ternyata jatuh ke lantai, ia segera memakainya dan beranjak mendekati Niar. "Apa sakit banget?"
"Perih," balas Niar.
"Maaf, karna itu pengalaman pertamamu jadi meninggalkan rasa sakit. Aku bantu kamu ke kamar mandi," tawar Yusha.
"Huh?" Niar tak mengerti yang di maksud Yusha. Tak ingin menjelaskan panjang lebar, Yusha langsung menggendong tubuh Niar yang bergulung selimut dan membawanya ke kamar mandi.
"Aaa' Tuan ...," pekik Niar tertahan. "Turunkan saya," protesnya.
"Tuan, saya bisa berjalan pelan!"
Tapi percuma Niar protes kembali, karna Yusha telah sampai di depan pintu dan menurunkan tubuh Niar disana.
Niar masih mendekap selimut dengan erat, ia takut selimut itu merosot dan bisa saja tubuh polosnya kembali di lihat oleh Yusha. Tidak! Itu akan memalukan.
Tangan kirinya membuka pintu kamar mandi, lalu dengan sangat pelan dan menahan sakit di bagian pangkal pahanya, ia melangkah masuk.
Saat pintu tertutup, Yusha berniat kembali merebahkan tubuhnya ke atas ranjang. Hari masih terlalu gelap untuk memulai aktivitas. Saat Yusha baru mendudukan diri, tak sengaja ujung matanya melirik ke arah kasur bekas di tiduri Niar. Masih terdapat bercak darah juga bekas percintaan mereka. Melihat itu entah kenapa hati Yusha merasa bangga. Bangga karna itu artinya ia lah yang pertama untuk Niar.
Tidak heran jika semalam memang yang pertama untuk Niar, pisang emas miliknya bisa merasakan saat menerobos selaput dara dan merobeknya. Percintaan semalam masih membekas dan terasa nikmat. Ia ingin mengulang lagi, tapi teringat dengan perkataan Sheli yang memberi peringatan agar ia hanya menyentuh Niar sekali saja.
Terdengar hembusan napas panjang, lelaki itu mendesah kesal dan menyandarkan tubuh ke heardbord. Menarik ikatan rambut dan kembali mengikatnya dengan rapi.
Terdengar suara gemericik air yang tidak berhenti, ia menebak Niar langsung membersihkan diri.
Saat ini pikiran Yusha bergelut sengit dengan hati nurani, ia ingin mengulangi kenikmatan semalam tapi perkataan Sheli selalu terngiang.
"Tu-tuan .... " Suara Niar mengusik Yusha, lelaki itu langsung tersadar. "Ada apa?" jawabnya.
"Anu-itu .... " ucapnya tidak jelas. Niar hanya melongokkan kepalanya saja. Sedangkan badannya bersembunyi di belakang pintu.
"Anu-itu, apa?" Yusha kebingungan.
"Saya lupa bawa handuk. Bisa minta tolong ambilkan? Selimut yang tadi terjatuh dan basah."
Mendengar itu langsung saja hati nurani terkalahkan dengan bayangan kenikmatan. Yusha segera bangkit menuju lemari baju dan mencari handuk. Ia mendekati Niar. "Ini handuknya,"
Niar yang tadi menutup pintu, kini menjulurkan sebelah tangannya. Tapi Yusha tak ingin memberikannya pada Niar. "Buka lagi pintunya, tanganmu gak bisa menjangkau," ujar Yusha. Lelaki itu tersenyum licik.
Dari tempatnya berdiri ia bisa menghirup wangi sabun yang menguar. Semakin menginginkan untuk mengulang kejadian yang semalam.
"Niar," panggil Yusha parau.
"Iya Tuan. Anda di sebelah mana?"
"Jika aku menginginkan lagi, apa kamu bersedia?"
"Huh ... ? Anda menginginkan apa?" Niar terkejut dan tanpa sadar pintu yang tadi di tahan malah di buka.
Kesempatan emas, Yusha langsung masuk ke dalam.
"Tuan ... ! Hei, tidak! Keluarlah. Aa' ... saya malu," teriak Niar.