
"Mas Sakky, tunggu sebentar," pinta Niar.
Sakky menghentikan langkah. "Gak usah terpengaruh dengan lelaki itu! Dengarkan aku, lupakan peran orang-orang tak punya hati seperti mereka. Sudah cukup air matamu keluar hanya untuk menangisi masa lalu yang benar-benar gak pantas untuk diingat. Aku dan si Mbok gak tega buat kamu sedih, tapi di sini seenak mereka mengataimu seperti tadi. Mereka gak pantas dapet maaf darimu. Biarkan suatu saat mereka menyesal telah menghina dan menyakitimu." Sakky masih menggebu melihat Yusha dengan kemarahannya. Ia membenci Yusha dan keluarganya.
Yusha yang mendengar dan menyaksikan perlindungan Sakky terhadap Niar membuat hatinya dirajam kepedihan.
Sungguhkah perempuan penawar rindunya telah menemukan rindu yang lain?
Apakah kesempatannya untuk bersama telah raib?
Kini, rangkaian aksara yang disusun dengan tatanan kalimat rapi harus terserak. Harapan yang selalu dinanti ketika pertemuan datang ingin melihat pahatan senyumnya tak pernah terlaksana. Nyatanya setiap pertemuan hanya ada deraian kristal bening yang mengiringi, pun dengan luka yang selalu berhasil tertoreh.
Kenapa? Kenapa dua hati yang saling menaut tak dapat lagi saling memiliki?
Kenapa? Kenapa tak bisa saja nama itu untuk dihapus supaya masing-masing menjalani kehidupan yang baru?
Sampai kapankah harus membersamai perih disetiap tarikan napas?
"Saya mengerti, Mas. Tapi tolong kasih kesempatan untuk bicara sebentar dengan Tuan Yusha. Saya mengerti apa saja yang harus yang harus saya bicarakan," pinta Niar penuh harap. Ada sorot permohonan yang terpancar dari netra sendunya.
Sakky mengembus napas panjang dan melepas genggaman tangan Niar. Memberi kesempatan seperti yang diinginkan perempuan itu.
"Tu-Tuan," panggil Niar lirih ketika berhadapan dengan pria yang menatapnya penuh luka.
"Benarkah yang kulihat? Apa kamu sudah bahagia dengan kehidupanmu yang sekarang?" Jiwa pria itu tenggelam dengan pertanyaannya sendiri.
"Tuan, maaf jika kedatangan saya justru menimbulkan keributan. Saya hanya ingin memenuhi janji ...," ucapan itu terpotong.
"Aku senang kamu datang, tapi kenapa keadaanya sudah berubah?"
"Tidak ada yang berubah bahkan takdir pun tak mau berubah."
Keduanya lekat memindai bingkai wajah yang sama-sama terlihat sendu.
Rintik cairan bening tak henti membasahi pipi Niar. Hati meraung tanpa nada, bergemuruh ingin menyuarakan kalimat yang selama ini ia pendam, namun lidah kelu untuk mengungkapkan.
"Niar, selama ini aku mencarimu," ujar Yusha mulai bicara.
Aku juga selalu menunggumu, Tuan.
"Aku menginginkan hubungan seperti dulu."
Aku menginginkan hubungan lebih dari sekedar yang kita jalani dulu.
"Setelah kepergianmu, aku sangat kehilangan. Hidupku berantakan. Aku rasa ... perasaanku telah berpindah padamu. Cintaku kini beralih padamu." Meski tidak lancar, namun kalimat itu keluar dari mulut Yusha. Pandangannya berembun mengaburkan penglihatannya. Siapapun yang melihat akan tahu jika pria itu dirundung penyesalan.
Bagi Yusha, keadaan sudah menghukumnya. Perempuan yang sangat ia ingini untuk bisa kembali, ternyata telah bahagia dengan pria lain.
Kini yang tersisa hanya penyesalan, perasaan yang akan mengikis harapanku. Kepedihan dan kesepian perlahan akan menghancurkan hingga tak menyisakan apapun selain pilu. Semua karna kebodohanku sendiri yang telah membuangmu. Tuhan, kenapa Engkau beri takdir kisahku seperti ini?! Apa ini hukuman untukku telah menyiakan perempuan sebaik Niar?
"Dulu saya sangat mengharapkan kata-kata Anda bisa terpenuhi, ingin menjadikan saya perempuan kuat dan berani berspeak up di depan orang-orang yang tidak menganggap keberadaan saya. Tapi, kini keadaan dan waktulah yang mengajarkan saya menjadi perempuan kuat. Tentang cinta, kita memiliki perasaan yang sama, mungkin cinta itu lebih dulu milik saya, tapi saya sadar diri karena Nona Sheli lebih berhak mendapat cinta Anda. Saya hanya selingan yang sama sekali tak pantas untuk sekedar berharap bersama dengan Anda, bagaimanapun kita berbeda, seperti yang pernah dikatakan Tuan Besar, saya hanya orang rendahan yang tak pantas menginginkan orang agung seperti Anda.
Kini meski ada penghubung kuat, tapi saya tidak akan sanggup untuk kembali dengan Anda. Saya takut banyak bahaya yang bisa mengancam hidup saya. Kita pasrahkan semuanya pada Pemilik Hati kita. Dia-lah yang Maha mengetahui."
"Mungkin setelah pertemuan ini, saya akan kembali menghilang, tapi jika suatu saat bayangan saya datang mencari Anda, saya harap Anda menerimanya dengan lapang dada."
"Apa maksud kamu?" Yusha tidak mengerti.
Niar menggeleng pelan.
'Maaf, Tuan, lagi-lagi saya harus merahasiakan keberadaan buah hati kita. Ini terpaksa kulakukan demi menghindari hal yang tidak kita inginkan. Saya yakin Anda bisa mendapatkan hal yang sama dari Nona Sheli. Biarkan dia (calon anaknya) menjadi teman pengganti dan penyemangat dalam hidup saya. Saya tidak memiliki siapapun tidak akan percaya pada siapapun.'
'Nak, maafkan, Mama. Suatu saat nanti kamu akan tahu siapa ayah kandungmu. Tapi untuk saat ini waktunya belum tepat. Mama takut kamu dalam bahaya jika mereka mengetahui keberadaanmu. Suatu saat, ya, suatu saat Mama akan memberitahukan kebenarannya.'
"Niar, bolehkah aku mengetahui tempat tinggalmu. Walau aku tau kita tidak bisa seperti dulu tapi aku dan mama ingin menebus kesalahan kami. Atau suatu saat jika kita bisa mengulang semuanya aku bisa menjemputmu dan kita bisa bersama lagi."
"Anda dan Nyonya besar tidak punya salah apa-apa dengan saya, tidak perlu menebus apapun. Saya yang titip permintaan maaf saya dengan mereka. Jika suatu saat saya tidak bisa berjabat tangan dengan mereka, tolong sampaikan permintaan maaf saya. Dari awal saya telah menunggu, sampai kemarinpun saya masih menunggu dari tempat saya yang tak jauh dari senja yang menghilang."
"Niar, ayo kita pergi." Sudah lama Sakky membiarkan Niar berbincang dengan Yusha. Ia tak tega melihat Niar terlalu banyak menumpahkan air mata.
"Sebentar, Mas."
"Sudah cukup, pikirkan juga calon anakmu. Kalau sampek kenapa-napa aku yang dimarahi si Mbok."
Akhirnya Niar mengangguk. Mungkin pertemuannya hanya sampai di sini.
Pertemuan yang berhasil mengungkap perasaan masing-masing. Namun meski begitu tak lantas Tuhan memberi takdir bersama, mereka masih saja terbentang jarak yang sangat jauh.
Jika orang lain bahagia saat orang yang dicintai memiliki perasaan yang sama, tetapi Niar dan Yusha tak bisa merasakan kebahagiaan seperti itu. Justru makin nelangsa karena cinta mereka tak bisa bersatu, pun tak bisa saling memiliki. Mereka hanya memiliki lewat untaian doa-doa yang mereka panjatkan di setiap sujud. Juga dengan rapalan nama yang mereka sebut dalam hati.
.
.
.
.
.
Setelah ini Niar ketemu keluarganya dan nanti akak mei skip ya. 🙏😁