
"Duduklah, kamu gak capek berdiri terus," ucap Yusha.
"Ah iya," sahut Niar, dengan gerakan refleks langsung duduk di samping Yusha.
"Rasanya aneh dengan sikap ibumu, kenapa dia bersikap dingin seperti tadi?" Rasa penasaran yang sejak tadi ditahan, akhirnya di pertanyakan juga oleh Yusha.
Niar mengambil napas panjang sebelum memulai bercerita. Seolah ia mempersiapkan diri sebelum mengulik kisah pilu atas ketidak adilan yang dilakukan keluarganya. Niar tersenyum singkat lalu mendongak melihat awan bergerombol dengan sinarnya yang terang. "Begitulah sikap ibu kepadaku, kelahiranku di anggap sebagai pembawa sial, makanya aku dibenci. Sudah terbiasa menghadapi sikap ibu yang dingin. Mungkin Tuan gak akan percaya ... sejak kecil hingga aku dewasa satu kalipun tidak pernah merasakan pelukan dari ibu." Di akhir kalimat suara Niar terdengar lirih. Ia menunduk dalam saat kedua matanya mengeluarkan airmata dan jatuh membasahi telapak tangannya.
Pandangan Yusha tidak sekalipun beralih dari wajah Niar. Entah kenapa perasaan iba tiba-tiba muncul ketika melihat Niar menangis.
"Apapun yang aku miliki selalu di rebut oleh kak Nesva. Saat aku berumur delapan tahun, kak Nesva pernah mendorongku ke jalan raya sampai aku hampir tertabrak motor, dari itu aku demam dua hari tapi tak sekalipun ibu merawatku. Hingga aku sembuh dengan sendirinya. Aku kira waktu itu nyawaku hampir melayang, tapi tidak, Allah masih menginginkan aku berada di tengah-tengah mereka merasakan ketidak adilan yang setiap hari harus kuterima. Bahkan satu-satunya orang yang paling aku harapkan juga sebentar lagi menjadi miliknya. Dia selalu beruntung." Niar bercerita dengan suara lembut. Menghipnotis Yusha dengan khidmat mendengarkan kisah hidupnya yang pilu.
Tangan Niar membersihkan airmata yang beranak sungai membasahi pipinya.
Setelah Niar menghentikan ceritanya, Yusha menyela untuk bertanya. "Kenapa kelahiranmu di anggap pembawa sial?" tanyanya penasaran.
"Tadinya aku juga tidak tau kenapa aku di anggap sebagai pembawa sial, sampai puncaknya kemarin waktu saya ijin pulang mendadak karna di rumah sedang ada masalah. Ibu mengatakan alasannya kenapa dia membenciku. Tepat saat aku di lahirkan, bapak kehilangan pekerjaan. Lalu kakek dan nenek juga mengalami kecelakaan saat ingin menjengukku di rumah sakit, mereka berdua meninggal dunia. Dan ibu mengalami depresi, hingga mengacuhkan kak Nesva. Tidak mau merawatnya. Sejak saat itu ibu menganggap semua kesialan yang terjadi pada keluargaku penyebabnya adalah kelahiranku. Ibu sempat ingin membunuhku tapi ketahuan oleh bapak." Niar menjeda kalimatnya untuk mengambil napas. Gadis itu menahan isak tangis yang menyumbat pernapasan hingga terasa sakit tepat di ulu hati.
Yusha tertegun mendengar kisah hidup Niar ternyata sangat berat. Di benci ibu kandungnya sendiri hingga hampir di bunuh. Ia tak bisa membayangkan seperti apa kesedihan dan kemalangan yang di lalui gadis itu dari kecil hingga sekarang.
"Apa kamu menerima tawaran Sheli karna paksaan dari ibumu?" cetus Yusha. Ia curiga kenapa Niar merubah keputusan hanya dalam satu hari.
Niar menoleh dan mengangguk. "Aku gak bisa biarin mereka tidur di kolong jembatan, untuk itu aku berubah pikiran dan menerima tawarannya. Dari mana aku mendapatkan uang seratus dua puluh lima juta dalam waktu dua hari? Sedangkan para dept colector mengancam akan menyita satu-satunnya rumah yang kami tinggali. Ibu menyuruhku berbakti untuk yang terakhir, dia akan memelukku jika aku mau menerima tawaran itu. Tapi pilihan lain, jika aku menolak ... ibu semakin membenciku dan mendo'akan kematianku. Aku memilih berbakti karna ingin sekali merasakan pelukan darinya." Niar kembali menahan isak, sesak mengingat keinginan sederhananya tapi tak pernah terwujud. Delapan belas tahun lebih ia hidup tanpa kasih sayang, tanpa keadilan. Dalam hati, ia memuji dirinya sendiri bisa setegar itu melewati semuanya.
Mendengar alasan Niar mau di jadikan istri kedua karna tekanan dari ibunya, membuat Yusha prihatin sekaligus merasa bersalah telah merenggut hak masa depan Niar untuk memilih jalan takdirnya. Namun nasi telah menjadi bubur, semua telah terjadi. Tak ada yang bisa di rubah.
"Kamu malah memilih mengorbankan dirimu. Bahkan sikap ibumu masih seperti itu!" tambahnya.
Niar mengganti airmatanya dengan senyuman. Ia tersenyum menghadap Yusha yang memasang wajah kesal. "Gak semua kesakitan dan kejahatan harus di balas dengan cara yang sama. Ada Sang pencipta yang lebih adil memberi balasan. Dan selalu kuingat, surga terletak di bawah kaki ibu, sebenci apapun ibu dengan kita, kita tetap di wajibkan bersikap hormat agar mendapat ridho dari-Nya. Aku takut Allah murka jika aku tidak berbakti pada ibu." Niar menyampaikan sebuah kalimat mengandung nasehat dengan kata halus. Membuat Yusha tidak tersinggung.
Pria itu diam mengamati air kolam di depannya. Membayangkan masa kecil yang berbanding terbalik dengan yang di alami Niar, ia tumbuh dengan kasih sayang penuh, segala yang di inginkan selalu terpenuhi. Namun sejauh ini ia merasa belum berbakti kepada kedua orang tuanya. Kesalahan terbesar yang di lakukan adalah membohongi mereka tentang keadaannya. Itu semua di lakukannya demi Sheli. Ia sangat mencintai Sheli hingga apapun yang di katakan perempuan itu ia akan menurutinya.
"Tapi sekarang surgaku telah berpindah pada suamiku, apapun yang di katakannya, wajib aku patuhi," ucap Niar.
Dalam pikiran kalutnya, Yusha menyembunyikan senyum tipis. Hatinya mulai menghangat mendengar Niar mengucap kalimat barusan. Ia yang telah bertahun-tahun menjalin hubungan dengan Sheli bahkan menjadikan perempuan itu ratu di hatinya jarang menemukan perasaan yang sekarang. Sejak menjalin hubungan, ia dan Sheli terlibat hubungan penuh *****, hingga setiap kali bertemu hanya saling memuaskan hasrat satu sama lain. Lelaki itu menjadikan Sheli sebagai candunya karna permainan Sheli mampu memuaskannya di atas ranjang.
"Ah saya bercerita terlalu panjang. Maaf Tuan, menjadikan anda teman curhat saya. Padahal tidak ada yang tau tentang hal ini. Tapi saya kelabasan gak punya rem, jadi ceritanya labas terus tanpa bisa berhenti, " ucap Niar dengan senyum canggung.
"Haha ... sejak kapan mulut punya rem?" Yusha terkekeh.
"Ya ... maksut saya terlalu panjang ceritanya jadi susah buat berhenti."
"Kamu polos juga lucu, harusnya mereka mengenalmu lebih jauh."
"Rekor pertama ada orang yang menilai saya lucu. Kesimpulan mereka tentang saya bukan lucu, tapi oon, katanya. Jadi lemot buat respon omongan mereka. Jatuhnya kesel duluan pas ngomong sama saya."
Belum sempat Yusha membalas omongan Niar, tapi kebersamaan mereka harus terhenti ketika ponsel Yusha berdering. Ternyata telpon dari mamanya. Yusha asik berbicara di telepon, Niar tanpa pamit kembali ke masuk ke dalam rumah. Gadis itu tersadar sudah melampaui kebersamaanya bersama Yusha. Ia tidak boleh terlalu dekat, karna bagaimanapun ia harus ingat dengan jarak yang di bentangkan oleh Yusha.