
Di sini ... di kota asing ini perempuan itu memutuskan untuk berpijak. Kota baru yang sama sekali tak dikenali. Bermodal tekad bulat hingga menyiapkan mental menempuh hidup mandiri.
Niar baru turun dari kereta yang membawanya sampai 4 jam untuk tiba di Kota Yogyakarta. Kota 'gede' dengan banyaknya wilayah yang dijadikan lokawisata. Tak mengherankan, karna di tempat itu banyak tempat yang bisa dikunjungi untuk memanjakan mata.
Kaki menyusuri rel kereta tanpa tahu arah tujuan. Berharap Tuhan memberi petunjuk agar ia tak tersesat. Pertama kali perempuan itu pergi sendirian tanpa perbekalan apapun. Gambaran akan tempat tinggalpun masih belum jelas.
Disaat seperti ini, rasa putus asa bergelayut mempengaruhi pemikiran untuk mengakhiri hidup. Untuk apa bertahan dalam dunia kejam tanpa pengasihan. Napas yang dihembus tiada guna, semakin menyeret dalam kegelapan malam. Rembulan pun turut enggan menampakan bayangan, berganti awan gelap tanpa bintang ditambah angin kencang yang tak ingin bersahabat. Serasa lengkap penderitaan yang dijalani.
Tubuh terbalut jaket kain menggigil kedinginan, masih bisa menembus angin malam yang kian merusuk tulang-tulang.
Semakin sengsara hidup yang dilakoni, Tuhan kemanakah tiada datang untuk mengasihi.
•
Pinggiran rel kereta api menjadi satu jalan setapak yang ia lalui. Ia terus melangkah, berharap menemukan jalan untuk mencari tempat tinggal.
Kali ini mendekati seorang ibu paruh baya untuk bertanya di mana ada sewa rumah yang bisa ditempati. Namun jawaban dari ibu paruh baya itu tak melegakan, ia beralih mencari orang lain untuk bertanya, tetapi sama saja.
Matahari mulai menyingsing, perut terasa melilit merasakan lapar. Ia teringat dari kemarin siang belum sempat menyuap nasi. Terlalu terbelit dengan masalah yang dihadapi.
Pandangan Niar kesana kemari mencari toko kelontong yang bisa ia singgahi. Banyaknya lalu lalang orang-orang tak ada yang peduli dengan orang asing. Mungkin orang-orang itu sibuk dengan urusan sendiri.
Niar memutuskan membeli semangkuk soto yang dibandrol harga Rp.10.000,00 harga cukup murah tanpa menguras kantong. Walau warung itu tidak luas, tapi pengunjung yang datang terlihat ramai.
Setelah urusan perut selesai terisi, ia melangkah keluar dan kembali menyusuri jalan. Kali ini telah sampai pada jalan beraspal dengan kendaraan cukup padat. Tas jinjing terus ia dekap.
Saat ini bukan hanya hati saja yang merasa lelah, kedua kaki sejak semalam menyusuri pinggiran rel ikut berdemo menyuarakan kelelahannya, hingga Niar memutuskan istirahat sejenak dengan duduk dipinggir trotoar.
Semua tak semudah yang dibayangkan. Sulit, bahkan sangat sulit menjalani hidup tanpa arah tujuan pasti. Sekarang ia tahu kenapa Pak Bejo begitu khawatir melepas kepergiannya untuk merantau ke kota asing. Di kota yang tak pernah disinggahi sangat sulit mencari bantuan, mereka terlalu cuek dengan pendatang baru.
Namun, ada kelegaan di hati Niar, sejauh ini tak ada tindak kriminal yang ditakutkan, seperti diberita-berita yang pernah ia tonton. Perempuan itu benar-benar takut jika bertemu dengan orang jahat yang bisa saja melakukan hal mengerikan.
Perempuan itu meringis merasakan perut bagian bawah terasa kram. Ia usap-usap perlahan dan sedikit ditekan agar sakitnya bisa hilang. Beberapa saat sudah mulai menghilang, ia memutuskan melanjutkan perjalanan mencari rumah sewa.
Kaki yang masih terasa pegal ia paksa berjalan lagi, tanpa perduli keadaan sekitar ramai lalu lalang pejalan kaki.
"Buk ...," panggil Niar pada ibu-ibu baru pulang dari pasar dengan membawa keranjang belanjaan.
"Iya, ada apa?" tanya Ibu itu.
"Saya numpang tanya, Ibu tau di mana ada rumah yang disewakan?"
"Di Jalan Imam Bonjol ada kontrakan yang bisa ditempati, tapi tarif harganya tinggi. Kalau di dekat Alun-Alun Pinggir Kota Kulon ada rumah sewa juga, tapi ...," Ibu itu terdiam sejenak, "tapi tempatnya terpencil dan agak kumuh. Kalau soal tarif, jagonya murah di sana," terangnya.
"Kalau Alun-Alun Pinggir Kota Kulon itu di mana ya, Buk?" tanya Niar kurang jelas dengan daerah yang disebutkan ibu tadi.
"Kamu jalan aja ke Terminal Pasar Gede, di sana bilang sama supir angkot suruh nganterin ke KoTa Ujung Kulon, pasti mereka tau."
"Sama-sama, Nak. Ibu pergi dulu," pamit ibu paruh baya itu.
"Iya, Buk. Hati-hati dan sekali lagi terima kasih."
Ibu paruh baya itu tidak lagi menjawab, telah berlalu menjauh entah tujuannya kemana.
"Alhamdulillah, ada tempat yang bisa aku tuju. Mudah-mudahan diperlancar dan bisa segera dapet tempat tinggal."
Terlalu bersemangat, perempuan itu jalan tergesa-gesa menuju Terminal Pasar Gede yang masih lumayan jauh dari tempatnya sekarang. Ia tak memperhatikan arah berjalan hingga ...
Tin ... Tin ...
Bruk ...
Mobil Pikap di rem secara paksa, hingga menimbulkan decitan suara nyaring. Seorang pengemudi segera keluar untuk memperjelas.
Kedua matanya melotot melihat tubuh manusia tergeletak tak sadarkan diri.
"Mbak ... Mbak!!! Aduh, dia mati belum, ya? Gimana ini?" bingungnya. Jika ditinggalkan begitu saja ia tak tega, tapi jika di tolong pasti akan merepotkan.
"Kayaknya ban mobilku tadi gak ngenain kakinya, deh, tapi kok Mbak ini bisa pingsan. Apa dia kaget pas aku bunyiin klakson mobil?"
"Salah sendiri jalan bukannya dipinggir malah ketengah gitu, kan, bukan salahku." Pria itu bermonolog sendiri.
"Mas yang nabrak Mbak ini sampai pingsan? Harus tanggung jawab! Mas jangan kabur! Cepat bawa ke rumah sakit sebelum terlambat. Kalau sampai korban kecelakaan ini meninggal, urusannya bakal rumit," tuntut pejalan kaki lainnya yang mulai berdatangan mengerubungi.
"Kok sampai meninggal, sih. Liat tuh, gak ada darah yang keluar, berati dia gak kenapa-kenapa dong," kilah seorang pria yang mulai ketakutan tapi ditutupi dengan sikap berani.
"Justru gak ada darah yang keluar, takutnya ada luka dalam, itu malah berbahaya. Pokoknya Mas harus tanggung jawab bawa Mbak itu kerumah sakit. Kalau gak, kita lapor polisi," ancam seorang pejalan kaki tadi.
"Iya Mas, kalau gak mau bawa ke rumah sakit mending kita laporin polisi aja biar di penjara!" timpal yang lainnya.
Lelaki itu berdecak kesal. "Baiklah, bantu aku angkat tubuh Mbak ini ke mobil. Biar aku bawa ke rumah sakit." Terpaksa bertanggung jawab daripada dilaporkan ke polisi dan dimasukan ke penjara, akan lebih suram lagi masa depannya.
.
.
.
.
.
Hayo ... ketemu siapa ya?🤔 penasaran gak nih?