Merengkuh Derita

Merengkuh Derita
Part 74


"Apa sudah ada kabar tentang keberadaan Niar?"


"Belum, Tuan. Pengawal masih tetap menyisir berapa lokasi, seperti tempat keramaian agar mempermudah mencari keberadaan Nona Niar," jawab sang sekretaris yang berdiri di samping tuannya.


Yusha mengusap-usap rambut panjang nan hitam, yang saat ini dibiarkan begitu saja tanpa diikat. Penampilan sang billioner muda nampak kacau, meski begitu tetap menawan dalam keadaan apapun. Dihadapannya terdapat 2 botol Vodka yang salah satunya hanya tinggal setengah, bibir tipis pria itu tak hentinya menghisap minuman mengandung kadar alkohol.


Manik mata tajam pria itu memutar jengah, saat lagi-lagi ponselnya bergetar karena 4 kali istrinya terus menerus menelepon. Entah mengapa akhir-akhir ini ia tak begitu merespon dengan indah panggilan dari Sheli. Bahkan ia acuh dan masih menyimpan kesal. Belum gamblang memaafkan perempuan itu. Atau memang hatinya sedang digandrungi resah karena tak juga menemukan keberadaan Niar.


Jika ada yang bertanya: apakah ada yang benar-benar menyesali sesuatu yang telah hilang? Pemuda itu akan menjawab: ada!


Detik ini, ia ingin mengungkapkan bahwa sesuatu yang tak berharga jika dibuang secara sengaja akan meninggalkan bekas. Sulit dilupakan, terngiang siang dan malam.


"Vin tinggalkan aku sendiri!"


"Baik, Tuan Muda." Kelvin membungkuk sebentar sebelum berlalu dari hadapan Yusha.


Setelah kepergian Kelvin, Yusha kembali termenung. Hati dan perasaanya melelah tanpa sebab. Ada yang ingin ia teriakan namun tertahan akal logika.


Semilir angin dari arah luar balkon mampu menembus permukaan kulit. Bukan hanya itu saja yang membuat pria itu termenung, entah pikirannya masih waras atau mulai belajar gila, karena angin yang menerpa seolah membawa perasaan lain. Hatinya meyakini jika ia dan Niar sedang dekat namun terhalang sekat-sekat tak terlihat.


Ia bisa merasakan gelagat bayangan Niar, namun tak bisa menemukan perempuan itu.



"Mbok, hari ini Niar buka toko atau libur?" tanya Sakky yang baru selesai membersihkan diri. Dada bidangnya dibiarkan terbuka, sedangkan bagian tubuh bawah dibalut handuk tebal bergambar tokoh kartun Detective Conan. Handuk kesayangan yang meskipun satu Minggu tak dicuci akan tetap ia gunakan. Handuk kenang-kenangan dari teman dekat yang kini telah berbeda alam.


"Buka toko. Ada seseorang yang akan ditunggu. Kan semalam udah dibilang, kalau Genduk ketemu lagi sama ayah dari calon anaknya, bakal terus terang dengan kehamilannya. Tapi kalau gak ketemu, ya udah, mungkin Tuhan belum mengijinkan," jawab Mbok Jamu yang sedang berkutat dengan cobek untuk menggilas cabe, bawang merah dan bumbu lainnya.


Mbok Jamu menghentikan aktivitasnya dan melihat ke arah Sakky. "Pakai baju dulu sana! Handukmu merosot tak sunat dua kali, kapok!" cetus ibu paruh baya itu.


Sakky terkekeh. "Iya kalee Mbok sunat dua kali!" dengkus Sakky dan berlalu meninggalkan ruang dapur.


"Assalamualaikum."


"Walaikum salam, Nduk?" Mbok Jamu menyambut Niar dengan senyum hangat. "Udah siap buka toko?"


"Udah, Mbok. Tapi, gak siap buat ngadepin yang akan terjadi. Gak tau, dia masih di sini atau sudah pulang," jawab Niar dengan mengalihkan pandangan pada tungku kayu yang tidak digunakan.


Mbok Jamu paham dengan yang dimaksud dia, yaitu adalah Yusha. "Pasrah, Nduk. Serahkan pada takdir, kita itu cuma lakon yang hanya bisa berharap dan berdoa. Tapi kamu juga jangan lupa dengan niatmu, kalau kalian dipertemukan lagi, segera kasih tau semuanya."


Niar mengangguk penuh, lalu mengembangkan senyum. Dalam hati sangat bersyukur bisa bertemu dengan keluarga Sakky yang sangat baik dan kini dianggapnya sebagai saudara.


"Kamu udah sampek sini aja," seloroh Sakky melihat ke arah Niar. Pria itu telah kembali ke dapur dengan pakaian lengkap.


"Iya Mas."


"Mbok sama Mas Sakky saja yang sarapan, Niar udah sarapan tadi," tolak Niar.


"Gak baik nolak rezeki, ayo sarapan bareng. Orang hamil harus banyak makan, karna bukan kamu aja yang makan, si dedek bayi juga butuh asupan nutrisi." Mbok Jamu mengambilkan nasi untuk Niar. "Ohya, kamu udah konsumsi susu hamil to, Nduk?"


"Udah Mbok, tapi tinggal 1 kali seduhan udah abis. Nanti coba aku cari di Alfa terdekat."


"Gak usah, biar nanti dibeliin sama Sakky pas sekalian pulang kerja."


"Loh, Mbok, kok, Sakky?"


"Hoalah, Le, mbok sekalian napa. Wong ya, ngelewatin to?"


Sakky tak menjawab, pria itu menggigit kerupuk udang dengan gerakan cepat pelampiasan kesal. 'Masak bujangan sepertiku pergi ke Alfa buat beli susu hamil? Bisa diketawain Lilis, aku!'


"Mbok, tumben bikin sambel cepokak! Enak nih," girang Sakky.


"Hem, kemarin dikasih sama Pipit. Di belakang rumahnya panen banyak. Tuh, ada rambanan daun pepaya juga."


"Moooh, 'tidak mau' Mbok, pahit," ujar Sakky. Pria itu semangat untuk mengambil sambal yang dicampur dengan terong pipit. Atau nama lainnya cepokak, rimbang atau takokak. Tergantung dari nama daerah masing-masing.


Di sini, dengan keluarga Mbok Jamu Niar bisa beralih dari kesedihannya. Kadang percakapan Mbok Jamu dan Sakky membuatnya merasakan keharmonisan sebuah keluarga, yang tak pernah ia dapatkan dari keluarganya sendiri. Di tempat ini ia melihat keluarga sederhana namun hangat dengan canda tawa. Hal yang hanya bisa ia damba tanpa bisa ia rasakan.



Niar pergi ke toko sendirian. Mbok Jamu akan menyusul setelah selesai keliling menjajakan dagangan jamunya.


Dalam kesendirian karena belum ada pembeli yang datang, Niar kembali melamun. Debaran jantung tak menentu. Resah gelisah lebih besar dari sebelumnya. Dihantui dengan bayang sosok Yusha. Pergolakan batin terus saja berkecamuk, satu sisi ingin bertemu, namun satu sisi lain tak menginginkan pertemuan. Karena ia tahu jika bertemu pun hatinya takkan sanggup untuk bertatapan.


Perempuan itu tak henti berdoa supaya Tuhan memberi petunjuk untuk kegundahan hatinya.


Satu hari penuh mata Niar memindai pesisir pantai, namun obyek yang ditunggu tak juga tertangkap bayangannya. Perempuan itu telah berpasrah, mungkin kebenaran masih betah untuk disimpan rapat. Tuhan belum menghendaki.


Setelah selesai membereskan barang dagangan, perempuan itu seperti biasa menuju batu karang untuk menyaksikan senja menghilang.


Terlihat beberapa pengunjung masih riuh dengan kesenangan mereka. Niar mengamati pandangan sekitar, namun manik matanya terfokus pada satu obyek yang ia nanti-nantikan, satu obyek yang mampu mendebarkan jantungnya hingga bertabuh bertalu-talu.


Yushaka. Ya ... manik itu terhenti pada sosok Yusha yang tengah berdiri, menepi dari beberapa pengunjung.


Cairan bening telah terpupuk sedemikian rupa hingga menetes bergantian. Ia mengira takdirnya telah usai, ternyata Tuhan sedikit terlambat memberi petunjuk. Siap tidak siap, seperti niat yang telah dimantapkan, ia harus menampakan diri di depan Yusha dan terus terang tentang keberadaan anaknya.


Perempuan yang tak henti mengeluarkan air mata itu dengan pelan turun dari batu karang dan menuju tempat di mana Yusha berada. Ia yakin, hari ini adalah waktu yang tepat untuk memberitahukan benih yang belum terlihat.