
"Semakin hari sikapmu semakin berubah, Yusha! Aku benci!" teriak Sheli tak terkendali.
"Aku berubah bagiamana?! Kamu selalu mengatakan aku berubah. Nyatanya aku masih di sini bersama kamu, apa kamu gak pernah mikir itu!" berang Yusha yang tak bisa mencegah gelenyar kemarahan.
"Kamu memang di sini, tapi aku gak bisa ngerasain cinta kamu lagi," tuntut Sheli.
"Terserah. Aku bosan kamu tuntut terus. Aku sudah katakan, aku bukan Yusha yang dulu selalu nurutin semua permintaanmu."
"Apa karna aku sulit hamil lalu kamu bisa seenaknya begini? Ini bukan kemauanku, aku juga ingin punya anak tapi sampek sekarang Tuhan belum kasih kesempatan aku hamil. Kita coba lagi, aku yakin kali ini pasti berhasil," ujar Sheli bersemangat.
"Bukan Tuhan tak ingin kasih kamu kesempatan hamil, tapi ini karma buat kita yang telah menyiakan kesempatan! Harusnya gak perlu berbohong aku impoten dan harusnya kamu gak perlu program KB. Apalagi mengonsumsi alkohol berlebihan. Kamu gak pernah dengerin perkataanku, sekarang kamu tau sendiri akibatnya sefatal ini!" Yusha menatap tajam ke arah Sheli yang juga melototkan matanya, seolah menantang dan tak ingin kalah dari Yusha.
"Sekarang kamu nyalahin aku!!!"
"Lalu aku harus salahkan siapa?! Ini semua memang salahmu!"
"Kamu gak perlu memperbesarkan masalah, bukankah masih ada kesempatan aku bisa hamil?"
"Kesempatan??" Yusha tertawa getir. "Kesempatan mana lagi? Program bayi tabung sudah gagal. Apa kita harus mengulang terus? Sampai kapan?"
"Aku sudah konsultasi dengan dokter, kita bisa melakukannya lagi."
"Kamu lupa kandungan kamu kering, terakhir kali dokter mengatakan kemungkinan kamu bisa hamil sangat tipis, hanya lima persen. Dan masalah itu membuat program bayi tabung susah untuk berhasil. Anggap aja kamu mandul!"
"Enggak Yusha! Aku gak mandul. Aku masih bisa hamil, aku yakin!"
"Terserah. Tenggelam saja pada keyakinanmu. Aku lelah melakukan prosedur dokter."
"Jangan menyerah, kita pasti bisa mendapatkan bayi lucu. Aku akan mendapatkan bayi yang lucu!" Kali ini Sheli menangis di depan Yusha. Bukan karena rasa bersalah atau rasa yang lainnya. Melainkan mengingat tentang kekasih gelapnya yang menghilang.
Sejak beberapa waktu lalu Sheli kesulitan menghubungi Jerry, pria yang amat di cintai itu tak meninggalkan jejak sama sekali. Pikiran Sheli sangat kacau, perempuan yang telah out dari dunia permodelan itu nampak frustasi saat semua mulai tak terkendali. Semua tak sesuai yang diharapkan. Yusha tidak bisa lagi diperalat, sedangkan Jerry entah kemana. Ia tak bisa menanggung semua sendirian, ia butuh Jerry untuk penyemangat hari-harinya. Jika Yusha berpaling ia masih punya Jerry begitu pemikirannya. Tetapi itu hanya pemikirannya saja karena Jerry kini seolah raib ditelan bumi.
"Mendapatkan bayi lucu? Bayi siapa yang mau kamu ambil? Hah?" Yusha tak bisa menahan emosi yang seolah terus mengepul ingin dikeluarkan. Hatinya lelah berada pada situasi yang hampir tiap hari terjadi. Rumah tangga yang dijalani bersama Sheli tak lagi berjalan damai, percekcokan, adu mulut bahkan sampai menghancurkan barang berharga tak sekali dua kali terjadi, hampir setiap hari di rumah Yusha terdengar pertengkaran hebat.
"Aaakh ...!!!" Sheli melempar vas bunga dan terbentur di lantai keramik. Menimbulkan suara keras memekakkan telinga.
Brak ...!!!
Giliran Yusha menendang meja kaca yang lebih menimbulkan suara keras hingga siapapun yang mendengar akan dicekam ketakutan. Serpihan kaca memenuhi hampir seluruh lantai ruang tengah.
Ingin rasanya aku membunuhmu, Yusha!!!
Aku menyesal mempertahankan hubungan denganmu!!!
"Ya Tuhan ... ada apa ini?" Vivian yang baru saja tiba dibuat terkejut melihat pertengkaran anak dan menantunya. Mata tuanya memindai barang-barang yang hancur berserakan di lantai.
"Ma, lihatlah bagaimana putramu memperlakukan aku! Yusha sangat keterlaluan. Dia menyalahkan Sheli dan mengatakan aku mandul, padahal aku juga ingin punya anak. Kata dokter aku masih bisa punya anak, hanya Yusha yang tidak sabaran." Sheli menangis dengan mengadukan pertengkaran tadi.
Yusha bernapas kasar dan pergi begitu saja, sangat bosan melihat gelagat Sheli yang tak pernah mengakui dan selalu menjilat ludah untuk mencari pembelaan.
"Kemana dia?" tanya Yusha pada Vivian. Ibu dan anak itu tengah duduk di halaman belakang, tempat nyaman untuk bersantai dan menikmati udara segar. Ia ingat saat perempuan bernama Niar yang dulu pernah menjadi istri keduanya dan pernah tinggal satu atap dengannya selalu senang menghabiskan waktu di tempat ini.
Huh, sejak rumah tangganya mengalami goncangan, pikiran Yusha makin menjurus pada Niar. Merindu dan mendamba perjumpaan dengan perempuan yang kini entah ada di mana.
"Tadi katanya mau nenangin diri ke rumah Glory." Vivian mengembuskan napas panjang, menatap kolam ikan di depannya. "Rumah tanggamu semakin tak terkontrol Yusha, apa terus-terusan akan begini?"
"Entahlah Ma, Yusha juga lelah."
"Mama tau. Mama yang gak ikut bertengkar aja lelah, apalagi kamu yang tiap hari menjalani seperti ini. Apa hubunganmu dengan Sheli benar-benar gak bisa diperbaiki. Percuma kalian terikat pernikahan kalau hanya ada pertengkaran."
"Dulu Yusha sangat mencintai Sheli, dia wanita yang bisa mengerti dan memenuhi kebutuhanku. Tapi sesudah kami menikah, baru kutahu kalau Sheli egois. Bahkan Yusha gak pernah dianggap sebagai suami. Dia selalu mementingkan urusannya sendiri."
"Bukan karna itu saja, tapi karna hatimu sudah ada perempuan lain. Kamu menginginkan Niar kembali, akhirnya menganggap Sheli selalu salah. Permasalahmu cukup rumit, Mama juga bingung untuk memberi solusi. Tapi kalau pernikahanmu benar-benar tidak bisa dipertahankan, jalan terakhir hanya bercerai. Karena percuma dipertahankan jika kamu sudah tidak cinta dengan Sheli. Rumah tanggamu tidak akan menemukan kebahagiaan."
"Aku sempat memikirkan itu, tapi gak ada alasan kuat untuk bercerai."
Vivian dan Yusha menghentikan pembicaraan. Permasalahan rumah tangga Yusha begitu rumit untuk diselesaikan. Mereka berdua tetap mencari solusi walau sampai saat ini belum menemukan jalan keluarnya.
Keterdiaman Yusha harus terusik saat ponsel di saku celananya berdering. Tertera nama Kelvin yang memanggil.
"Halo, Vin?"
"Tuan, apakah Nona Sheli ada di rumah?" tanya Kelvin dengan nada lirih dan berbeda dari biasanya.
"Dia sedang pergi ke rumah Glory. Memang kenapa?"
"Aku berada di kawasan Rumah Indah, gak sengaja melihat mobil Nona Sheli berbelok disalah satu rumah paling ujung."
Mendengar keterangan Kelvin dahi Yusha mengerut. Rumah Indah? Selama ini Sheli tidak pernah menyebut kawasan itu. Ia pun tahu jika Sheli tidak memiliki aset di sana. Atau mungkin itu salah satu milik Glory.
"Mungkin dia menemui Glory di sana, Vin. Di mana Dika? Aku sudah menyuruh dia untuk mengawasi Sheli."
"Mungkin ditahan di post, Tuan. Kawasan Rumah Indah gak bisa sembarangan orang bisa masuk jika tidak memiliki tanda pengenal dan juga harus memiliki aset di sini. Wilayah ini sangat private."
.
.
.
.
.
Siapa yang kemarin minta cepet-cepet kebongkar? Oke akak mei cuma ngikutin kalian aja ya😁
Mungkin gak akan banyak episode untuk cerita ini. Jadi, coba tebak-tebak aja kurang berapa episode😁20/50? Alurnya makin cepet dan cepet. 🤭🙏