
"A-apa yang kalian bicarakan?" Perempuan paruh baya dengan style klasik tengah membatu di depan pintu. Perempuan itu tanpa sengaja mendengar percakapan keduanya, antara Niar dengan Sheli, dan membuatnya begitu syok. Menutup mulut dengan telapak tangan yang tiba-tiba terserang tremor ringan.
"Ma-mama ...," panggil Sheli ikut terkejut mendapati ibu mertuanya membatu.
"Nyo-nyonya ...."
Bruk ...
Vivian tersungkur di atas granit, Sheli maupun Niar bersamaan mendekati tubuh Vivian yang tergolek tak sadarkan diri.
"Ma, bangun, Ma!" Sheli tampak khawatir, menepuk pipi mertuanya dengan lembut. "Ma ...," panggilnya berulang kali. Ada alasan kenapa perempuan itu merubah menjadi khawatir. Ada kamera pengawas terpasang di setiap sudut. Ia tak mungkin menunjukkan sikap acuh. Apakah perempuan itu benar-benar khawatir? Tentu saja tidak. Bahkan jika ibu mertuanya tiadapun ia tak perduli.
"Cepat panggil orang, BODOH!" Sheli berteriak keras ke arah Niar.
"I-iya__"
•••••••••••••
Di Rumah Sakit Cempaka Putih.
Di depan ruang rawat Vivian hanya ada Sheli dan Niar yang menunggui. Yusha maupun Tuan Mahendra belum ada yang sampai.
"Ini semua gara-gara kamu!" desis Sheli menahan geram dan menyalahkan Niar.
Perempuan berwajah panik dan takut itu menggeleng lemah. "Ke-kenapa saya, Nona? Bukankah Anda yang berbicara panjang lebar dan membongkar semuanya," tandas Niar.
"Berani sekali kamu nyalahin aku! Siapa pertama kali membahas pernikahanmu dengan Yusha? Kamu, kan?!"
Niar terdiam, menatap Sheli dengan pandangan sulit diartikan. Marah, kecewa, kesal, emosi, bercampur menjadi satu. Kebenaran seperti apapun seolah tiada arti jika ia jabarkan. Diam didalam keterpaksaan adalah hal satu-satunya yang bisa ia lakukan. Membiarkan hati menjerit, meraung dan berteriak marah pada perempuan munafik itu karna lisan sudah tidak ada daya upaya untuk melaksanakan.
"Aargg ... sial!" Sheli mengumpat kasar. Perempuan itu terserang panik membayangkan Vivian siuman lalu mengingat semua perbincangannya bersama Niar. Ia tidak tahu Vivian mendengar semuanya atau hanya perbincangan diakhir. Jika semuanya didengar, itu artinya semua telah terbongkar. Apakah Mahendra akan marah?
Tak lama dari itu, suara gaduh dari sepatu pantofel yang bergesek dengan lantai memenuhi lorong rumah sakit. Wajah tua yang masih tertinggal sisa ketampanannya menampilkan raut cemas disetiap langkahnya.
Satu perempuan yang ia tuju, si Sheli sang menantu.
"Apa yang terjadi dengan istriku? Kenapa bisa pingsan? Dia tadi baik-baik saja." Mahendra memberondong pertanyaan.
"Tenang, Pa. Sheli juga belum tau jelas kenapa mama bisa pingsan, kita tunggu penjelasan dari dokter," jawab Sheli mensenting wajah menjadi sendu.
Lelaki paruh baya itu melihat sekilas ke arah Niar, merasa aneh melihat pembantu di rumah anaknya ikut ke rumah sakit. Namun pikiran itu terpatahkan dengan kecemasan yang lebih besar.
"Pa, Sheli ke sana sebentar. Ada panggilan dari Glory mungkin kasih kabar jadwal pemotretan."
Mahendra mengangguk. Tanpa curiga apapun.
"Apa kamu tau penyebab istri saya pingsan? Saya merasa aneh karna dia tadi baik-baik saja. Tidak mungkin tiba-tiba pingsan jika tidak ada sesuatu yang terjadi." Mahendra mencoba mencari tahu dari Niar.
"Sa-saya tidak tau, Tuan Besar." Tidak mungkin mengatakan kebenaran, perempuan itu memilih berbohong.
Pintu ruang rawat VVIP telah terbuka. Satu Dokter Umum keluar dan mendekati Tuan Mahendra. "Bagaimana keadaan istri saya, Dokter Sarah?" tanya Mahendra yang ternyata sudah mengenal perempuan berseragam putih itu.
"Kondisi Nyonya Vivian sedikit membaik, Tuan. Sepertinya ada suatu hal membuatnya syok dan pingsan."
Kening Tuan Mahendra mengerut, belum ada tebakan tentang suatu hal yang membuat istrinya pingsan.
"Nyonya Vivian sudah siuman, Anda bisa menemuinya. Tapi tolong dijaga kestabilan emosinya, bisa mempengaruhi hipertensi rendah semakin menurun," terang Dokter Sarah. Seusai penjelasanya, dokter dengan seragam putih itu berlalu dari hadapan Tuan Mahendra.
•
Perempuan yang tadi tergolek lemas langsung berubah bringas mengetahui sang suami datang.
"Pa ...,"
"Ma, kenapa menangis?" Tuan Mahendra memandang bingung saat sang istri tiba-tiba menangis.
"Ya Tuhan, Pa ... apa yang dilakukan putramu, tega sekali dia membohongi kita. Ternyata selama ini ada kebohongan yang disembunyikan," tutur Vivian dengan sedih.
"Ma, tenang. Kondisimu belum stabil, Dokter berpesan untuk menjaga kestabilan emosimu." Mahendra belum menanggapi ucapan istrinya, lelaki paruh baya itu lebih khawatir akan kondisi Vivian jika terlalu menggebu dengan suatu amarah.
"Pa, Mama baik-baik saja. Putramu yang tidak baik!" decit Vivian.
"Memang apa yang dilakukan Yusha?"
"Anak kita sudah menikah lagi dengan pembantunya."
"Apa???" Kali ini Mahendra yang hampir pingsan mendengar ucapan Vivian. Lelaki paruh baya itu benar-benar terkejut. "Apa maksud kamu, Ma?" Mahendra kembali bertanya ingin mengetahui yang lebih pasti. Lalu Vivian menceritakan yang didengar. Dan itu membuat Mahendra mengeram kesal, kabut emosi mulai tercipta.
"Apa pembantu dari kampung itu yang menjadi istri kedua Yusha?"
Vivian mengangguk. Lelaki itu beranjak keluar dari ruangan. Saat keluar hanya ada Niar, tanpa melihat keberadaan Sheli.
Napas tua kembang kempis dengan tatapan tajam tertuju pada perempuan bergamis strip. Tidak ada keramahan yang ditunjukkan.
"Beraninya ada kebohongan besar yang kamu tutupi dari kami! Alasan apa membuat Yusha menjadikanmu istri keduanya?" tanya Mahendra dengan tatapan dingin.
Tubuh Niar bergetar, rasa takut kembali menyelusupi bahkan semakin besar. Lidah terasa kaku untuk bergerak. Jawaban apa yang harus ia lontarkan.
"Belum lama kamu menjadi pembantu di rumah Yusha, bagaimana bisa berubah status menjadi istri kedua? Apa alasan kamu mau dijadikan istri kedua?" bentak Mahendra.
Cucuran airmata semakin membanjiri pipi Niar. "Sa-saya ...." Perempuan itu berubah gagap, tidak tahu harus menjawab apa, rasa takut membuatnya lemas tanpa bisa berpikir jernih.
"Uang. Ya, pasti karna uang, kan, kamu mau dijadikan istri kedua! Keterlaluan!" eram Mahendra.
Niar hanya mampu menggelengkan kepala lemah. Ingin menyanggah tapi setengah kebenarannya memang karna uang pernikahan itu bisa terjadi.
Di kejauhan terlihat Yusha melangkah lebar mendekati keduanya.
"Pa, gimana keadaan Mama?" tanyanya ketika sudah mendekat.
Buk ...
Bukan mendapat jawaban justru mendapat bogem mentah dari Tuan Mahendra. Tangan berurat itu mampu melukai bibir Yusha hingga sedikit berdarah.
Biji mata Niar melebar sempurna, terkejut melihat Tuan Mahendra melayangkan pukulan untuk putranya sendiri.
"Anak pembuat masalah! Keterlaluan kamu, Yusha!"
"Ada apa, Pa?"
"Kamu tanya ada apa! Harusnya Papa yang tanya ada apa kamu dengan pembantu murahanmu itu sampai kalian menikah secara diam-diam. Skandal apa yang kamu perbuat? Jika berita ini diketahui oleh publik, hancur semua usaha yang sudah Papa bangun. Berita Pemimpin Hugs Way menikahi pembantunya sendiri dan menjadikannya istri kedua akan memenuhi layar jagad maya, pencintraanmu akan hancur, Yusha. Saham perusahaan akan menurun drastis! Di mana otak kamu tidak bisa berpikir panjang!" berang Tuan Mahendra dengan kilatan tajam.