Merengkuh Derita

Merengkuh Derita
Part 58


Napas menggenggam rindu, kian berlabuh pada sendu. Hanya mampu menatap seulas bayang, mengelabui angan dalam fana.


Gemuruh hati tersayat, tersiksa dengan ngiang suaramu.


Ku di sini dengan lara, kau di sana dengan bahagia. Pikiranku menggila, tapi kutahu pikiranmu hanya ada dia.


Malam telah larut, kedua mata Niar masih betah memandangi jendela kamar yang sengaja tidak ditutup, dari celah itu netranya mampu menembus gelapnya malam.


Netranya sangat sulit terpejam, meskipun semakin lama terasa berat ditambah kondisi tubuh yang kelelahan tetap saja ia terjaga. Hati dan pikiran melayang tak pernah lelah memikirkan orang-orang dari masa lalu. Ibu, ayah, dan ... ayah dari bayi yang dikandung turut membebani pikiran. "Aku merindukan kalian," bisiknya lirih. Berharap Tuhan menyampaikan bisikannya lewat angin malam.


Sejak kepergiannya ke kota asing ini, ia belum sempat menyalakan daya ponsel. Bahkan untuk menghubungi Pak Bejo, urung dilakukan. Niar ingin mendamai dengan keadaan baru, tempat baru dan suasana baru. Mencoba melupakan mereka, tapi nyatanya begitu sulit dan ia semakin tertatih, terperangkap dalam rindu.


Barulah pukul 03.00 dini hari mata yang kian memberat berhasil terpejam, melupakan semua beban pilu dengan harapan, hari esok lebih baik.


Rasanya belum lama mata lelahnya terpejam, tapi sudah terbuka lagi. Dari arah dapur samar-samar mendengar suara berisik. Jam di dinding kamar menunjukan pukul setengah lima pagi. Niar bangun dan mendudukan diri untuk merapikan tempat tidur, setelah itu menyusul pergi ke dapur.


"Ibu," sapa Niar setelah sampai di pintu dapur.


"Astagfirullah ... Nduk, ngagetin aja." Mbok Jamu terkejut, satu tangan memegangi atas dadanya dan mengusap-usap.


"Eum, maaf ya, Bu, Niar ngagetin Ibu," ucap Niar tak enak hati, dengan raut bersalah ia mendekati Mbok Jamu.


"Gak apa. Mbok lupa kalau ada kamu, biasanya cuma ada Sakky yang bangunnya sampek beduk pitung penyukur," jawab Mbok Jamu dengan mengembangkan senyum hangat. Niar pun membalas senyum.


"Ibu lagi apa?"


"Biasa, numbuk kunyit buat dibikin jamu."


"Oh ...." Niar ber-oh ria, lalu berkata lagi, "aku sholat subuh dulu ya, Bu, nanti aku bantu Ibu di dapur." Niar menggulung lengan baju dan bersiap mengambil wudhu.


Mbok Jamu menganggukkan kepala sebagai jawaban. Tak terasa hati merasa berbunga-bunga membayangkan Sakky --putra semata wayangnya-- memiliki istri. Mungkin setiap pagi ia takkan kesepian dan akan ada yang membantu untuk memasak makanan. Tapi kenyataanya yang membuatnya jengkel adalah sampai pemuda itu berumur 27tahun masih belum menikah. Dan ia pun jarang melihat Sakky dekat dengan perempuan. Terlihat lebih enjoy sendirian.


Beberapa saat Niar telah kembali dengan wajah lebih segar. Perempuan muda itu mengambil pisau dan memotong kunyit lebih kecil.


"Nduk, kamu masih punya keluarga?" Sangat pelan Mbok Jamu bertanya, tak ingin menyinggung perasaan Niar, namun rasa penasaran terus membuncah ingin mengetahui asal-usul gadis malang itu.


"Masih, Bu. Cuma ... untuk sementara ini Niar ingin menyendiri."


"Mbok tau kamu sedang dalam masalah, kalau kamu gak keberatan boleh cerita sama, Mbok. Siapa tau beban pikiranmu sedikit lega. Nduk, orang hamil gak boleh banyak pikiran, nanti berpengaruh sama janinmu."


"Makasih ya, Bu. Niar beruntung banget ketemu Mas Sakky dan Ibu. Memang banyak yang Niar pikirkan ...." Akhirnya Niar menceritakan beban hidup yang dialami, ia yakin Mbok Jamu orang baik bahkan lebih lembut dari perlakukan ibunya. Membicarakan ibu, ia langsung teringat akan Sumiati. Deraian tetes airmata berhasil lolos membasahi pipi, kembali teringat tentang mereka.


"Ini lebih tragis dari sinetron ikan terbang, Le. Ngalah-ngalahin jaman penjajahan."


"Wuidih, ngeri banget, Mbok! Apaan, sih? Sakky jadi penasaran."


"Wes gak usah ngurusi ini 'Sudah tidak perlu mengurus ini', sana, raup, ben rembesmu ilang 'Sana, cuci muka, biar kotoran di wajahmu hilang."


Sakky mendekus lalu berjalan menuju kamar mandi sambil berteriak. "Mbok, bikinin kopi, ya."


"Ealah, bocah!" kesal Mbok Jamu.


Niar tersenyum tipis menyaksikan interaksi Sakky dan ibunya, terasa hangat dan penuh kasih sayang. Hal yang tak pernah ia rasakan dari kecil hingga sekarang. Hanya bisa didamba namun tak bisa dirasa.



Di kediaman Yushaka Demitri Mahendra, pagi sekali pria berwajah masam itu telah berpakaian rapi dan buru-buru meninggalkan rumah. Bahkan sang istri masih nyenyak dalam buaian mimpi, ia telah pergi tanpa berpamit atau meninggalkan pesan. Entah kemana ia akan pergi.


Jalanan terlalu ramai meski fajar belum menampak. Bibir diam seribu bahasa, ia nampak fokus memandang jalanan. Sesekali menggenggam pegangan setir dengan kuat, meluapkan kekesalan yang tak tahu berasal dari mana. Yang jelas, ia kehilangan sesuatu berati tapi tak bisa menyuarakannya.


Apakah merasa kehilangan Niar? Belum jelas akan jawabnya, karena sampai sekarangpun masih ragu bahwa Niar telah mengisi separuh hatinya. Ia belum yakin akan kesimpulannya.


Yusha menghentikan mobil di depan rumah berlantai dua. Rumah itu nampak sepi, bahkan lampu-lampu belum dimatikan, masih berpendar menyinari sekeliling rumah. Saat menyembunyikan klakson, penjaga rumah itu sigap membukakan gerbang dan mobil Yusha masuk ke halaman rumah.


Yusha membunyikan bel berkali-kali hingga penghuni rumah itu terbangun secara paksa berikut umpatan kasar dikeluarkan. "Damn, Damn!! Setan apaan ganggu tidur gue!" Mengumpat kasar sambil membukakan pintu. Sedangkan Yusha tanpa basa-basi langsung masuk ke dalam rumah dengan mendorong daun pintu melebar.


"Gue tau, setan model apalagi yang datang ke rumah gue dengan tindakan anarkis! Sialan, emang!"


"Gue gak tau juga, bagaimana manusia macam lu bisa jadi dokter, padahal omongan lu kayak remaja urakan!" balas Yusha. Ia menjatuhkan diri di sofa panjang dengan memijat pelipis.


"Lupakan itu! Lu kesini pasti ada masalah. Kenapa? Ngerasa berat punya bini' dua?" Reo menertawai wajah masam Yusha. Sudah hapal untuk ditebak, Yusha tak bisa menyembunyikan kegundahannya. Tetapi lelaki itu hanya mendengus kasar untuk menanggapi.


Di sini ... di rumah Reo, ia ingin menenangkan diri. Entah mengapa ingin menghindar dari Sheli. Hatinya menyeruak tegas menyalahkan wanita itu, namun pada kenyataan tak bisa mendebat lebih banyak.


"Kemarin gue udah nyere'in Niar."


"What? Lu gak becanda, kan, Bray?" Reo terkejut setengah mati. Pria itu reflek menduduki kaki Yusha dan pria itu memekik. "Sialan! Lu mau terima bokem!" garang Yusha.


"Sorry-sorry. Gue terlalu syok, Bray."


Yusha menarik tubuh dan berganti duduk. Pria itu menyanggah kepala dengan kedua tangannya. "Kok, gue ngerasa kehilangan dia. Apa karna beberapa bulan ini gue sering sama dia, makanya gue ngerasa kehilangan pas dia tiba-tiba pergi begini?" curhat Yusha.