Merengkuh Derita

Merengkuh Derita
Part 82


"Ma, keterangan dokter, Sheli susah hamil. Tapi ada cara lain untuk melakukan program bayi tabung. Yusha sudah mendaftar dan akan dilalukan Minggu depan," cerita Yusha pada Vivian.


Vivian mengembus napas panjang. "Kamu normal, sekarang giliran Sheli yang bermasalah. Ada aja kalian ini. Mama udah gak ngarep cucu lagi, sudah jenuh Mama nunggu."


"Yusha juga ingin, Ma. Tapi entah ... apa Tuhan marah dengan kami karna kemarin sempat menolak ingin segera punya anak? Semua karna Sheli, tapi aku gak mungkin salahin dia di waktu sekarang. Sejak pulang dari rumah sakit, dia mengurung diri dan gak mau diganggu."


"Huh ... dari awal Mama gak setuju kamu sama dia. Tapi karna kamu yang terus maksa kami, apa boleh buat. Mama semakin gak srek sekarang, tau istri kamu susah hamil. Program bayi tabung itu lama, gak sekali langsung bisa. Tinggal keberuntungan berpihak sama kamu atau gak. Anaknya temen Mama ada yang program bayi tabung sampek berkali-kali tetep gagal. Mau sampek kapan nungguin. Mungkin Mama sama Papa udah ke alam baka, baru berhasil," sungut Vivian.


"Ma ... jangan katakan itu. Kita coba tunggu prosesnya."


"Iya Mama tunggu. Tunggu sampek ke alam lain." Vivian bersedekap dada. Manik mata memindai wajah anaknya yang terlihat banyak pikiran.


"Mengingat umur Mama udah tua, apa kamu sudah menemukan Niar?"


Deg ....


Yusha langsung menengadah menatap ibunya. "Sejak pertemuan di terminal Yusha tak bisa melacak keberadaan Niar. Entah, identitasnya gak ada yang tau."


"Sebisanya cari terus. Mama merasa sangat bersalah. Kalau kamu menemukan dia, Mama mau minta maaf."


"Yusha gak pernah berhenti nyuruh orang untuk cari Niar, tapi mereka gak pernah memberi kabar baik. Aku hubungi Pak Bejo tanya tentang Niar, bahkan sampek sekarang Niar belum pernah menelpon keluarganya."


"Gara-gara rencana istrimu, orang lain menjadi korban. Mama heran, setega itu istrimu mengkambing hitamkan wanita lain. Padahal dia juga sama-sama wanita, harusnya tau bagaimana sakitnya Niar cuma kalian peralat! Sampek dia hilang dari pandangan kita, pasti ada trauma yang di rasakan. Dosa kita sangat besar dengan Niar, kita menghancurkan masa depannya. Jika kamu menemukan dia, bantu segala kesulitannya. Sejahterakan lagi kehidupannya," ujar Vivian.


"Pasti, Ma. Jika Yusha menemukan dia, gak akan menyia-nyiakan kesempatan. Yusha akan meminta dia kembali. Sampai sekarang Yusha terus memikirkan dia, tapi sulit untuk menemukannya lagi. Apa dia sudah bahagia dengan pria itu?"


"Pria siapa yang kamu maksud?"


"Terakhir kali Yusha bertemu, dia dibawa pergi seorang pemuda yang gak tau siapa. Saat itu ada Sheli, jadi Yusha gak bisa cegah Niar. Yusha takut Sheli akan menimbulkan keributan, selepas bagaimana kelakuan Sheli yang begitu kesal dengan Niar."


"Kamu juga jadi kepala rumah tangga gak bisa tegas sama istrimu! Harusnya kamu tolak ide-ide gila yang gak masuk akal itu." Setengahnya Vivian menyalahkan puteranya sendiri. Menganggap Yusha terlalu patuh dengan perintah Sheli hingga apapun rencana yang dibuat, entah salah atau benar tetap dilakukan.


Yusha diam tak menjawab, pria itu memang menyadari kesalahannya. Ia telah teracuni dengan cinta butanya, hingga kesalahan apapun tetap disetujui asalkan cinta pertama itu tetap menjadi miliknya. Namun, sesal tak dapat diragukan saat kedatangannya hanya meninggalkan kata seandainya. Nyatanya, meski semua rencana telah dilakukan, justru membuat Sheli tak tahu diri. Menuntut dan menyuruhnya untuk melakukan ide gila lainnya. Kini ia sendiri yang kelabakan menuai hasil.



"Assalamualaikum, Pak."


"Wa-walaikum salam. Ni-niar? Ini kamu, Nak?" Suara Pak Bejo bergetar saat mendengar suara yang tidak asing juga suara yang amat dirindukan.


"Iya, Pak. Ini Niar, putrimu." Suara Niar pun ikut bergetar karena menahan isak tangis.


"Ya Allah, ini beneran kamu, Niar? Bapak kangen banget sama kamu, Nak?" Pak Bejo tak kuasa menahan tangisan. Pria paruh baya itu menangis karena terlalu merindukan puterinya.


"Niar juga kangen banget sama Bapak, Ibu dan Kak Nesva. Bapak gimana kabarnya? Sehat? Ibu gimana, Pak?" cecar Niar menanyakan kabar bapaknya dan juga kabar Sumiati.


"Bapak sehat. Ibumu masih sama keadaanya. Tapi setiap malam selalu nangis nanyain kamu."


"I-ibu nanyain Niar, Pak?" Niar terkejut, pasalnya selama ini Sumiati selalu membencinya. Bukankah seharusnya senang jika ia pergi jauh.


"Bu ... Ibu, Niar telpon, Bu."


"Ni-niar?"


"Iya, Niar ingin bicara sama Ibu."


"Ni ... Niar," panggil Sumiati terbata.


"Ibu ...." Di seberang telepon Niar terisak karena menahan rindu dengan kedua orang tuanya.


"Ma-maafin, I-ibu," ucap Sumiati.


"Ibu tidak pernah salah, tidak perlu minta maaf. Niar yang harusnya minta maaf, pergi gak pamit sama kalian."


"Ka-kapan, ka-kamu pu-pulang?" Deraian air mata tak dapat dicegah, Sumiati menangis terisak hingga kesulitan untuk bernapas.


"Bu, tenang, Bu. Jangan dipaksa untuk bicara. Biar Bapak yang wakilkan untuk bertanya." Pak Bejo mengambil alih sambungan telepon.


"Niar, maaf ya, Nak. Ibumu menangis dan membuatnya susah bicara."


"Maafin Niar ya, Pak."


"Enggak, kamu gak salah. Bapak seneng kamu hubungi kami. Kamu di mana? Kenapa gak kasih kabar dan gak pernah pulang?"


"Niar nyari ketenangan, Pak. Bapak gak usah khawatirkan Niar. Aku di sini baik-baik saja."


"Tapi kapan kamu akan pulang, Nak? Ibumu selalu tanya itu? Dia ingin ketemu sama kamu."


"Niar belum bisa pulang sekarang, Pak. Tapi Niar usahakan untuk selalu hubungi Bapak. Maaf, kemarin hp Niar mati dan harus diperbaiki. Jadi Niar jarang telpon. Niar masih berusaha ngumpulin uang untuk bayar hutang kita. Bapak doain Niar, ya."


"Bapak selalu doain kamu, tapi sekarang kamu di mana? Kamu baik, kan? Waktu itu Nak Yusha bilang kamu ada di Jogja, apa benar?"


"Iya, Pak, Niar merantau ke Jogja. Di sini alhamdulillah, Niar buka usaha kecil-kecilan dan hasilnya lumayan, Pak. Tinggal sebentar lagi uangnya akan terkumpul."


"Bapak khawatir dengan keadaanmu, Niar? Kamu di sana sendirian."


"Alhamdullilah Niar ketemu keluarga yang sangat baik, Pak. Menganggap Niar sebagai suadara. Mereka yang membantu Niar sampek aku bisa bertahan seperti sekarang."


Rasanya percakapan itu tak mau di sudahi, rasa senang bisa bersua membuat Niar dan Pak Bejo berbicara banyak. Menceritakan apa saja yang telah dilewati, kecuali tentang kehamilan. Niar tidak menceritakannya.


"Pak, Niar mohon jangan katakan pada Tuan Yusha kalau Niar telpon Bapak. Jangan kasih nomor Niar ya, Pak."


"Memang kenapa? Nak Yusha telpon Bapak selalu nanyain kamu."


"Pokoknya jangan ya, Pak. Ohya, Niar mau transfer sedikit uang untuk bantu biaya pengobatan Ibu, nanti Bapak cek ATM ya, Pak."


"Kamu selalu saja berbakti, Nak. Kamu tetap memikirkan kami. Harusnya kamu memikirkan kebutuhanmu."