Merengkuh Derita

Merengkuh Derita
Part 34


Yusha sudah pergi ke kantor, kini bi Mur dan mbak Sari leluasa mengintrogasi Niar dengan bermacam pertanyaan. Menanyakan tentang kebenaran pernikahan itu.


Niar menjawab seperlunya, tanpa memperjelas alasan sebenarnya. Bi Mur dan mbak Sari mulai segan dengan status Niar yang baru.


"Bi, kita harus panggil Niar dengan sebutan


nona juga, biar sama seperti nona Sheli," usul Sari.


"Apa sih, Mbak. Jangan panggil aku seperti itu. Tetep panggil nama aja," tolak Niar.


"Ya gak bisa dong, Niar. Kamu itu sekarang majikan kami, masak cuma manggil nama aja. Itu namanya gak sopan," balas Sari lagi.


Saat Niar ingin melanjutkan protesnya, terdengar bel rumah berbunyi. Ia segera beranjak untuk membukakan pintu, tapi segera di cegah oleh Sari dan perempuan itu lebih dulu berdiri dan berjalan menuju pintu depan.


"Seperti pesan tuan Yusha tadi, kamu gak boleh melakukan apapun. Biar kami yang melakukan tugas seperti biasanya. Kamu cukup diam dan istirahat saja," kata bi Mur.


"Bi, Niar gak apa. Tuan Yusha aja yang berlebihan," jawab Niar.


"Berlebihan gimana? Bibi lihat badanmu memang lemes gitu. Cara jalanmu juga berbeda," ujar bi Mur dengan pandangan menelisik.


"E-enggak ah, Bi, perasaan Bibi aja. Kalau cara jalanku berbeda karna tadi pagi pas ke kamar mandi gak sengaja kepeleset, makanya kaki Niar agak sakit." Niar berbohong, ia tak mungkin mengatakan alasan yang sebenarnya.


Terdengar langkah kaki mendekat, Niar dan bi Mur melihat orang yang datang. "Selamat pagi, Nyonya besar," sapa bi Mur dan Niar bersamaan.


"Pagi," balas Vivian. "Yushaka sudah pergi?" tanyanya.


"Sudah Nyonya. Pagi ini tuan Yusha ada pertemuan penting, jadi berangkat lebih awal." Niar memberitahu. Tanpa di sadari perkataan Niar barusan justru membuat Vivian mengernyitkan dahi. Heran kenapa Niar hapal jadwal kantor Yusha.


"Kamu baru dua bulan kerja di sini, sepertinya sudah hapal dengan jadwal kantor anak saya?" tukas Vivian dengan memandang aneh ke arah Niar.


Bi Mur dan Sari saling pandang, mereka berdua di buat bingung dengan sikap nyonya besar mereka yang seolah tidak tahu status Niar yang baru.


"I-itu ... tadi pagi tuan Yusha yang mengatakannya. Tadinya saya sedang membuatkan sarapan pagi, tapi di cegah oleh tuan Yusha, karna beliau ada pertemuan penting." Lagi-lagi mulut Niar kembali berbohong. Gadis itu menerutuk diri sendiri, tidak berdaya dengan status pernikahannya yang harus di sembunyikan, bahkan dengan ibu mertuanya sendiri yang juga tidak boleh tahu.


"Apa menantuku juga tidak ada di rumah?" Vivian tidak memperpanjang, tapi beralih menanyakan keberadaan Sheli.


"Sudah dua hari nona Sheli tidak ada di rumah, Nyonya." Kali ini Sari yang menjawab.


"Huft ... dia memang bukan menantu yang baik. Bahkan tidak mengurus Yusha dengan benar. Putraku punya istri, tapi seperti duda." Vivian mengomel dengan raut wajah kesal. Walau Sheli tidak ada di sana, tapi amarahnya terpancing.


Dari awal Vivian tidak setuju dengan pernikahan Yusha dan Sheli, sempat menentangnya tapi sia-sia. Apa mau dikata bila Yusha sendiri sangat mencintai Sheli dan kekeuh ingin menjadikan wanita itu sebagai istrinya. Ia tak bisa memaksakan kehendak, dan terpaksa memberikan restunya.


Beberapa kali Vivian memergoki Sheli sedang jalan dengan pria lain, bukan seperti teman atau rekan kerja. Tapi lebih dekat dari itu, seolah sedang berkencan karna Sheli maupun pria itu terlihat sangat dekat.


"Harusnya Nyonya tidak perlu khawatir, walaupun nona Sheli tidak mengurus tuan Yusha dengan benar, bukankah sekarang ada Niar--istri kedua tuan Yusha yang akan melayani putra anda sebaik mungkin," sahut Sari, memandang Niar dan beralih lagi pada Vivian.


"Apa maksudmu, Sari!" Vivian sangat terkejut hingga bola matanya hampir saja keluar.


Perlahan wajah Vivian berubah marah. Mengamati ke tiga asisten rumah tangga itu secara bergantian. "Kalian lupa siapa saya? Bisa-bisanya mengatakan gurauan seperti itu!" ketus Vivian dengan pandangan tajamnya. Wanita paruh baya itu memang bersikap ramah, tapi tak jarang menunjukan sikap dingin jika ada asisten yang tidak benar.


"Maaf, Nyonya." Niar dan keduanya menunduk dalam.


Vivian duduk di salah satu kursi meja makan, wanita itu menyangga tangan dan memijat pelipisnya. Terlihat sedang mengemban banyak pikiran. Bi Mur dan Sari dengan langkah pelan membubarkan diri untuk kembali bekerja. Niar berdiri canggung dan bingung, ia harus pergi atau tetap di sana menemani ibu mertuanya.


Melihat Vivian diam saja, Niar berbalik menuju dapur menyusul Bi Mur dan Sari. Ia harus menjelaskan kepada mereka jika pernikahannya bersama Yusha tidak boleh di ketahui oleh siapapun.


••••••••••••••


Sore hari Yusha kembali pulang ke rumah. Lelaki itu tidak tahu keberadaan mamanya yang sejak pagi berkunjung ke rumahnya.


"Ma," sapa Yusha sedikit kaget melihat Vivian duduk santai di ruang tengah bersama Niar yang duduk di bawah Vivian sedang memijat kakinya.


"Kamu sudah pulang, sayang." Vivian menyambut dengan senyum mengembang. Lalu melambaikan tangan agar Yusha duduk di sampingnya.


Yusha melirik ke arah Niar lalu duduk di samping mamanya. Lelaki itu melepas jas dan dasinya.


"Papa gak ikut," tanya Yusha.


"Enggak. Mama sedang kesal dengan papamu makanya kabur kesini," adu Vivian.


Yusha hanya menghembuskan napas, bukan pertama kalinya kedua orang tuanya seperti itu. Bertengkar, merajuk dan kabur untuk menginap di rumahnya.


"Sedikit kencang dong, Niar. Pijatan kamu gak kerasa," pinta Vivian.


"Ba-baik, Nyonya." Niar menunduk menyembunyikan genangan airmata yang hampir menetes. Entah kenapa ia merasa sedih dengan statusnya menjadi istri kedua yang harus di sembunyikan.


Yusha memandang Niar yang menunduk, ia tahu perempuan itu tengah bersedih tapi tak ada yang bisa di lakukan untuk membela. Ia terpaksa diam dan pura-pura tidak perduli.


"Papa kamu gak pernah berubah, dia tetap keras kepala." Vivian kembali mengadu pada Yusha.


"Walau keras kepala, biasanya Mama pintar membujuk papa." Yusha menanggapi dengan malas.


"Ck ... gak becus banget sih, kencang terlalu kencang. Lembut terlalu lembut!" sentak Vivian kembali memprotes pijitan Niar.


"Maaf, Nyonya." Niar meminta maaf dengan suara bergetar.


"Ma, kalau Mama lagi kesal sama papa jangan di imbasin ke orang lain." Yusha merasa kesal melihat mamanya bersikap kurang baik pada Niar. Tapi lagi-lagi tidak bisa berbuat lebih, selain hanya menegur.


"Siapa yang imbasin ke orang lain, dia memang kerjanya gak bener. Seharian kerjaannya gak beres-beres, lelet banget. Mama yang bawa dia ke rumah ini, tapi gak puas liat hasil kerjanya begitu," gerutu Vivian melirik ke arah Niar.


Yusha mendesah. Begitulah sikap mamanya, jika sedang mood buruk, kesalahan kecil bisa menjadi besar. Dan keseringan, di lampiaskan pada pekerja bawahan. Tapi jika dalam keadaan mood baik, Vivian selalu bersikap ramah dan sangat baik.