Merengkuh Derita

Merengkuh Derita
Part 48 (Terlahir sebagai wanita tanpa keberuntungan)


Perdebatan semalam memang terjadi sangat hebat, bagai kilatan menyengat kuat hingga meleburkan hati yang rapuh semakin porak poranda. Meski demikian, apa perempuan lugu yang disebut bodoh itu bisa bersuara? Bisa memberontak? Bisa langsung angkat kaki? Tidak! Perempuan itu masih melakukan hal yang sama, berdiri di antara dua manusia yang mungkin mementingkan perasaan mereka sendiri. Ia hanyalah sebuah manekin yang tidak ada arti. Keberadaannya disetiap tempat dipandang seperti sampah.


"Tuan, hari ini saya ingin pulang ke kampung," ucap Niar tanpa ekspresi.


Lelaki yang biasa menebar senyum jahil, kini tampak dingin tak ada aktivitas senyum di bibirnya. Bukan karna Yusha membenci Niar. Tidak! Lelaki itu merasa bersalah atas kejadian semalam. Walau Niar terlihat tegar dan baik-baik saja, tapi ia tahu hati itu tengah terluka. "Hem ... nanti Dedi akan mengantarmu," balas Yusha.


Niar memilin ujung kemeja yang dipakai. Ada sesuatu kata yang ingin ia ucapkan, namun terlihat ragu.


"Aku minta maaf untuk kejadian semalam. Sheli memang keterlaluan." Tiba-tiba lelaki itu bersuara.


"Tidak apa, Tuan."


Jawaban dari Niar membuat Yusha semakin bersalah. Itulah dia, perempuan yang selalu mengatakan 'tidak apa, aku baik saja' meski hatinya tengah melebur. Tidak ada yang tahu, perempuan itu lebih tegar dari yang kita pandang. Perempuan itu sangat hebat, meski di dalam menangis tapi dihadapan orang lain bisa memasang senyum--meskipun senyum kepalsuan.


"U-untuk perkataan semalam ... jika Anda memulangkan saya ke tempat asal, mungkin perjanjian kita bisa berakhir." Niar berkata dengan lirih. Ia ingin berada di dekat Yusha, lelaki pertama yang mampu membangkitkan gelak tawanya. Lelaki pertama yang mampu dirasakan kehangatannya. Tapi, ada bayaran mahal yang harus ditebus, cacian dan hinaan dari Sheli. Harga diri yang diinjak-injak hingga tak ada bekas. Di sisi lain, ia sadar jika sampai kapanpun Yusha tetaplah milik wanita itu, bukan miliknya--ia hanyalah perempuan yang datang di akhir.


Lelaki berpakaian formal dengan setelan jas berwarna navi itu menghirup udara dan menghembuskannya pelan.


"Saya bisa mengembalikan uang yang Anda keluarkan untuk keluarga saya, tapi ...." Kalimat itu terputus.


"Tapi apa?" sela Yusha cepat.


"Tapi biarkan saya pergi dari sini. Anda bisa mempercayai ucapan saya, beri waktu satu tahun. Saya akan kembali untuk melunasi semuanya."


"Tidak!" tolak Yusha cepat dan tegas. Satu kata itu seolah keluar dengan sendirinya tanpa di komando. Hati yang tak bisa bersuara itu segera berontak ke dalam perasaan agar menahan Niar tetap di sini-disisinya.


"Anda bisa mencari wanita lain, Tuan. Dan berakhirnya perjanjian kita bukankah membuat pernikahan Anda bersama Nona Sheli kembali damai."


Lelaki itu kembali mengatupkan mulut, tapi hati dan perasaan semakin bersatu untuk menahan Niar--perempuan lugu yang mampu mengubah hari-harinya lebih bernuansa. Nurani menginginkan perempuan itu tetap di sini--di sisinya.


"Baru 6bulan, masih ada banyak waktu untuk menunggu," ucap Yusha memandang Niar.


Perempuan yang masih memilin ujung kemeja itu melengos dan tersenyum masam. 'Baru enam bulan? Bukankan semalam Anda sendiri yang mengatakan 6bulan itu sudah sangat lama.' Perempuan itu ingin menyanggah, tapi tak mampu untuk mengeluarkan kalimatnya. Percuma, ia tahu semua yang keluar dari bibirnya akan dianggap tak ada arti.


"Kita sama-sama tidak tau akan kepastiannya, memang baru 6bulan, tapi semakin bertambahnya hari 6bulan bisa berubah menjadi 6tahun. Apa hidupku akan terkurung di sini tanpa kepastian? Tuan, maafkan saya. Saya tidak bisa lebih lama tinggal di sini, biarkan saya kembali di mana tempat yang seharusnya."


"Tidak Niar! Aku tidak akan mengijinkanmu pergi. Kamu belum terlalu kuat untuk kembali ke sana, kamu belum tegar untuk menghadapi ibu dan kakakmu ... "


"Anda salah! Saya lebih kuat dan lebih tegar menghadapi mereka, tapi ... saya tidak setegar itu untuk menghadapi Anda dan Nona Sheli. Saya terlalu rapuh dan tidak sanggup melawan hati saya sendiri."


Deg ...


Yusha terpaku, apa yang dimaksud Niar 'melawan hatinya sendiri?'


"Saya akan berkemas, Tuan. Mungkin kita membutuhkan waktu untuk memutuskan kebaikan seperti apa yang harus di ambil. Saya mohon, ijinkan sementara waktu untuk tinggal di rumah Bapak. Kapanpun kata talak di ucapkan, saya terima." Perempuan itu berbalik dengan cepat menuju kamarnya. Ia tak ingin menunjukan perasaan lukanya di depan Yusha.


Hati yang telah nyaman berada di samping lelaki itu tak terima saat bibirnya berucap 'kapanpun kata talak di ucapkan, saya terima.' Sungguh, dasar lubuk paling dalam bertolak belakang dengan kalimat itu. 'Aku nyaman berada di sini--di sisimu, Tuan. Aku tidak ingin berpisah denganmu. Kamu orang pertama yang mengertiku--orang pertama mampu membuat bibir ini terbuka lebar untuk tertawa tanpa beban. Bagaimana bisa aku menjauh darimu? Apa tawaku harus terenggut lagi? Bisakah aku menemukan kenyamanan dari orang lain, jika kenyamananku hanya bersamamu.' Batin itu menjerit kuat, semakin menyesakan dada-- menghimpit hingga tiada cela untuk bernapas.


Niar menahan isak di balik pintu. Kedua tangan dilipat dan ditumpukkan diatas lutut, sedangkan wajah sendunya terbenam di antara lengan tangan. Menahan isak dan terus ditahan.


Sangat sakit. Kenapa ia terlahir sebagai wanita tanpa keberuntungan? Kenapa ia terlahir hanya bersanding dengan duka lara?


Bumi ini tidak adil, bumi ini seperti bukan tempatnya untuk berpijak. Di bumi ini hanya di huni orang egois yang selalu menyakiti hatinya. Bumi ini tidak cocok untuk tempat tinggal dirinya yang memiliki hati lembut.


Di belakang daun pintu ia menyelami kesedihan, tubuh itu enggan berpindah ke atas ranjang. Mata indahnya berat terbuka untuk melihat ruangan ini--ruangan yang menyimpan kenangan indah berbalut luka.


Hingga tanpa sadar mata sendu penuh luka itu terpejam di sana. Berharap, ketika mata itu terbuka lagi, ia telah berada di alam yang berbeda. Alam yang lebih indah dari yang di tempati sekarang.