
"Assalamu'alaikum," ucap Niar saat sudah sampai di depan pintu rumah kedua orang tuanya. Meski perempuan itu tahu tidak akan ada yang menjawab salam darinya, tapi tetap ia ucapkan, karna sebagai seorang muslim mengucap salam ketika datang atau pergi dari rumah itu hukumnya wajib.
Telapak kaki itu mulai memasuki rumah dengan lantai semen biasa, tanpa keramik kemilau yang menghias, bahkan di pojokan ada beberapa yang sudah rusak. Namun, rumah inilah satu-satunya tempat berteduh dari kecil hingga dewasa.
"Bu," panggil Niar setelah memasuki kamar Sumiati, ia tahu hanya di tempat itu sang ibu berada dengan tubuh berbaring lemah.
"Arrg ... per-gi ka-mu!" pekik Sumiati terbata, bibir yang tidak lagi sempurna dan lebih condong ke kiri itu tampak bergetar menahan sesuatu amarah.
"Bu, jangan banyak bergerak. Seribu kali Ibu menyuruh Niar pergi, untuk hari ini saja, biarkan Niar tetap di sini," ucap Niar dengan genangan cairan bening. Bibir tipis itu mengulas senyum meski hati menyandang perih.
Perempuan yang terlihat semburat kesedihannya mulai terisak pilu dengan suara tersayat. "Bu, kali ini saja kasih Niar kesempatan untuk peluk Ibu. Niar mohon ...." Sorot mata sendu itu mengiba. Lewat lisan ia kembali meminta. "Mungkin untuk yang terakhir. Setelah ini, putrimu ini akan mengabulkan keinginanmu. Aku akan pergi jauh dari pandangan Ibu ... dan dari pandangan dunia. Niar terlalu lelah menghadapi lingkup ini. Terlalu banyak pertanyaan namun tak ada jawaban yang bisa kudengar. Aku lelah bertanya terus tanpa Ibu jawab."
"Maafin putrimu ini, bukan tak ingin merawat Ibu yang sakit. Tapi, aku takut kesehatan Ibu semakin lemah jika aku berada di sini. Aku berjanji, setiap sujudku akan selalu menyebut nama Ibu dan Bapak. Berdo'a untuk kesehatan Ibu, supaya Tuhan murah hati memberi umur panjang." Kalimat Niar terjeda saat perempuan itu tak kuasa menahan sesak. Ia rengkuh tubuh lemah Sumiati yang terasa hangat dan menyejukkan jiwanya. Jiwa gersang yang sudah lama tidak disirami kasih sayang.
Disayang, pelukan itu tak bisa ia rengkuh setiap saat, pelukan yang hanya dua kali ia rasakan dengan nyatanya.
"Bu, kenapa Ibu tidak memberikan pelukan ini setiap saat? Pelukan ini terasa hangat dan nyaman. Putrimu sangat mendamba pelukan darimu, Bu. Terima kasih memberiku kesempatan indah merasakan kasih sayangmu."
Sumiati terdiam tanpa berusaha menggerakkan mulutnya. Wanita paruh baya itu menyembunyikan setetes airmata yang melewati sisi matanya. Untuk pertama kali hati yang mengeras itu seolah hampir meluluh. Mengakui betapa kejamnya yang ia lakukan pada putri keduanya yang tidak pernah melakukan kesalahan apapun. Ia terlalu menuruti amarah tanpa dasar, hingga membenci tanpa alasan.
Terlalu lama hatinya tertutup kebencian hingga tak ada empati sedikitpun untuk putri keduanya itu. Setiap malam yang ia pikirkan hanya Nesva-Nesva dan Nesva. Putri pertama yang tak henti berbuat manja dan tak henti berbuat ulah. Kendati demikianpun ia selalu memuji putri pertamanya, tanpa melirik jika ia memiliki Niar yang juga putri kandungnya sendiri. Banyak sudah kebaktian dan pengorbanan yang telah di lakukan, tapi entah kenapa hati kerasnya tak mampu menerima kehadiran Niar. Ia sangat membenci.
"Meski Niar tak lagi mendapat jawaban, tapi aku senang, aku bahagia. Ini kali pertamanya Ibu memeluk dengan keikhlasan."
"Ka-mu ma-u per-gi?" tanya Sumiati.
Perempuan itu mengangguk dengan dua tetes airmata meluncur dipermukaan kulit pipi. "Aku akan mengabulkan keinginan Ibu. Selama ini Ibu selalu menudingku untuk pergi. Niar akan pergi setelah Tuan Yusha mengucap talak. Jaga kesehatan Ibu. Aku yakin, setelah Niar pergi kesehatan Ibu akan segera pulih."
Perempuan paruh baya yang tiada daya itu menggeleng lemah. Mengisyaratkan tidak ingin Niar pergi, tapi amarah masih ada dan lebih besar dari naluri. Kepala itu menggeleng lemah tapi bibirnya enggan untuk mencegah. Ia tak tahu harus bagaimana.
"Apa ... ?" Pak Bejo yang berdiri diambang pintu sangat terkejut memdengar kalimat yang dikatakan Niar. "Kamu mau pergi kemana, Nak? Dan kenapa Nak Yusha mengucap talak? Apa yang terjadi? Bukannya dalam perjanjian itu kamu harus melahirkan keturunan suamimu, baru kamu bisa berpisah?" Pak Bejo memberondong pertanyaan.
.
.
.
.
.