Merengkuh Derita

Merengkuh Derita
Part 37


Niar menutup pintu kamar dan berjalan menuju kasur busa, mendudukan bokong di pinggiran kasur. Perempuan itu menghirup udara sejenak, ekor matanya melirik sisi yang lain. Di sana kosong, tanpa ada yang menempati.


Semalam sisi itu di isi oleh Yusha, tapi malam ini, dan mungkin hingga pagi hari takkan ada yang tidur di sana.


Niar merebahkan tubuh dan menarik selimut hingga sebatas pinggang, ia mengambil posisi miring menghadap sisi ranjang yang kosong. Mata lelah itu mulai terpejam, namun bayangan Yusha dan Sheli justru mengusiknya. "Kenapa harus kepikiran mereka, sih? Gak ngaruh apapun, Niar! Di sini, kamulah yang tiba-tiba hadir dalam pernikahan mereka. Harusnya sadar diri, tidak boleh mengharap lebih. Tidak mungkin Tuan Yusha memilih bersamamu jika Nona Sheli ada di rumah ini." rutuknya sendiri.


Dalam hati tak dapat membohongi, ada kehampaan yang mendera saat menyusuri tempat kosong disisinya. Juga tak dapat memungkiri bahwa ia menginginkan kehadiran Yusha seperti semalam.


Baru satu malam melewati malam panjang bersama Yusha, entah kenapa ia menginginkannya lagi. Dekapan pria itu mampu mengantarkannya ke dalam mimpi indah. Memberi rasa nyaman, seolah ada yang menjaga tidurnya.


Semakin mengingat, hati itu semakin gelisah. Hingga mata yang mulai lelah tak dapat terpejam.


Lampu utama dibiarkan menyala, Niar membalikan posisi menjadi telentang. Menatap langit-langit kamar berwarna putih. Tak ada apapun di sana, tapi ia mampu berimajinasi membayangkan wajah Yusha sedang mengejeknya. Seperti yang dilakukan lelaki itu akhir-akhir ini. Semakin gelisah, ia bangkit dan duduk menyender pada headboard, tangan kanan terangkat memijit pinggiran pelipis.


Niar mendesah, ingin menghilangkan bayangan dan pikiran tentang Yusha. Tak ingin berpikir macam-macam ataupun menerka-nerka apa yang dilakukan mereka. Hal itu hanya menambah kegundahan hatinya.


Perempuan itu beranjak menuju jendela kamar, membuka kaca besar yang menjadi penghalang. Setalah terbuka, wajah gelisahnya langsung terkena terpaan angin malam. Langit mendung tanpa taburan bintang, seolah tau, dan menggambarkan suasana hatinya saat ini yang sedang redup.


Niar bersandar pada kusen jendela, meskipun di langit atas tidak ada yang menarik perhatian, namun kedua ekor matanya masih betah mengamati awan mendung. Pemikirannya semakin kalut, apakah nasibnya akan terus seperti ini? Setelah melahirkan keturunan Yusha, apakah ia masih bisa menata masa depan seperti impiannya?



Pukul 11malam Sheli dan Yusha belum beranjak dari ruang mini bar kecil yang terletak disudut lantai atas. Dalam lemari rak kayu tersusun berbagai merk minuman beralkohol, dari dosis rendah hingga dosis tinggi. Semua tersedia dan tersusun rapi.


Sheli dan Yusha memang sering minum bersama dirumahnya, jika mereka sedang malas untuk pergi ke kelab lebih memilih duduk di ruang itu.


Badan Sheli menelungkup di atas meja, jari lentiknya masih memegang ujung gelas berisi Vodka, minuman beralkohol dengan kadar 40%. Sedangkan Yusha memilih minum Wine jenis camphagne yang kadar alkoholnya sedikit rendah, hanya 12% hingga 20% saja.


Jika Sheli sudah tidak berdaya, Yusha masih memiliki kesadaran untuk dirinya.


"Shel, sudah. Kamu mabuk berat. Ayo, kita ke kamar," ajak Yusha.


"Heh ... segini belum ada apa-apanya, sayang. Sedikit lagi aku akan terbang, bersamamu," jawab Sheli melantur.


Percuma berbicara dengan Sheli, karna istrinya sudah setengah sadar. Yusha bangkit, menyusupkan tangan diantara pinggang dan lengan Sheli, memapahnya berjalan menuju kamar.


"Yusha, kamu itu pria terbodoh." Sheli merancau. Apa yang dipikirkan, itu yang diucapkannya.


"Kenapa mengataiku bodoh?" tanya Yusha. Lelaki itu menganggap rancauan Sheli hanya sebuah omong kosong. Saat ini diapun sedang dibawah pengaruh alkohol.


"Kamu mau menuruti semua perintahku. Haha .... " Di akhir kalimat Sheli tertawa keras. Seolah tertawa mengejek Yusha.


"Itu kulakukan bukan karna aku bodoh, tapi terlalu mencintaimu. Makanya, apapun yang kamu perintahkan bakal aku lakuin supaya kamu senang dan bahagia," balas Yusha.


"Hugs Wey dan kamu sama-sama penting. Tidak akan bisa memilih antara kalian." Yusha menghempaskan tubuh Sheli di atas kasur busa. Namun tangan Sheli tidak mau terlepas, ia menarik wajah Yusha untuk mendekat. Memancing hasrat lelaki itu dengan pandangan sayu dan mengulum bibirnya sendiri.


"Shel," panggil Yusha lirih. Keadaan saat ini menghipnotis Yusha melupakan sekitarnya, yang ada hanya hasrat panas mulai menggebu ingin menuju puncak bersama.


"Lakukan, aku juga menginginkannya." Wanita itu menyuruh Yusha melakukan sesuka hati. Ia pun menginginkan hal yang sama. Terbang ke puncak, bersama.



Hingga dini hari, pukul 1malam mata Niar masih terbuka. Malam ini benar-benar tidak bisa tidur, ia sudah mencoba beberapa kali tapi hasilnya sama. Mata itu kembali terbuka.


Niar yang tengah asik melamun dalam dinginnya malam, tiba-tiba dikejutkan handel pintu yang bergerak, seseorang mencoba masuk.


Ia memasang waspada, tidak tahu siapa yang mencoba masuk kekamarnya.


Pintu terbuka.


"Tu-an ...."


Yusha tersenyum tipis dan berjalan mendekat. "Kenapa belum tidur?" tanyanya.


"Eum ... ta-tadi kebangun," jawab Niar berbohong. Ia tidak mungkin mengatakan isi kepalanya.


Yusha lebih mendekat, menggeser kursi dan berdiri tepat dibelakang Niar. Menempelkan tubuh depannya pada perempuan itu. Seketika jantung Niar berdetak berkali-kali lipat. Gugup, mendapati Yusha menaruh wajah diceruk lehernya.


Tak ada sepatah kata lagi yang keluar, Yusha maupun Niar sama-sama membisu. Menyembunyikan pemikiran masing-masing.


Di tempatnya tidur, Yusha pun tidak bisa terpejam. Meski Sheli terlelap dalam mimpi, namun ia diganggu dengan perdebatan hati dan logika. Ada Sheli disisinya, biasanya ia akan nyaman dan damai. Namun malam ini, hatinya mulai terusik dengan keberadaan Niar. Ada kenyamanan sendiri yang diingin dari istri keduanya itu. Dan setelah pergolakan hati dan logika, akhirnya ia memilih menuruti hati. Melangkah keluar menuju kamar Niar.


Perlahan tangan Yusha menyelusup melingkari pinggang Niar. Lelaki itu memeluk tubuh mungil Niar dari belakang. Menyesapi harum tubuh Niar yang entah kenapa ia menginginkannya. Sedangkan tubuh Niar menegang, hembusan napas Yusha tercium pekat bau alkohol.


"Tu-an ...." Niar ingin menyadarkan lelaki itu.


"Biarkan seperti ini. Sebentar saja," pinta Yusha di samping telinga Niar. Hingga membuat Niar bergidik geli.


"Tuan, kembalilah ke kamar anda. Jika Nona Sheli terbangun, dia akan mencarimu." Dari mulutnya memang menyuruh lelaki itu pergi, tapi dalam hatinya menginginkan lelaki itu tetap seperti ini.


Bukan mendapat jawaban, justru mendapat sesapan lembut dari bibir Yusha. Lelaki itu membungkam mulut Niar dengan ciuman menggebu.


Niar memejamkan mata, bukan menikmati ciuman itu. Ia ingin berontak saat mengingat Yusha barusaja menghabiskan malam bersama Sheli. Ia seolah di jadikan cadangan, setelah bosan dengan Sheli, lelaki itu mencari keberadaannya. Kenapa harus datang sekarang?


Mata Niar menangkap masih ada bekas jejak Sheli, membuat hatinya sesak pilu. Tapi punya kuasa apa untuk menolak? Posisinya hanya sebagai wanita kedua, apapun yang dilakukan Yusha, ia tidak bisa menolak.