Merengkuh Derita

Merengkuh Derita
Part 64


Pada malam pekat yang ia cumbui, memeluki angin pekat tanpa hasrat. Dikeheningan waktu, ia seperti pengembara yang ada di hutan pengharapan. Membuka tabir dalam kesendirian, menyisakan sesak. Tak ada tempat untuk bertahta, terombang-ambing dalam kenestapaan.


Dalam keheningan malam, Niar tak beranjak dari tempatnya berdiri. Kusen jendela ia buat untuk menyangga tubuhnya. Manik hitam tak teralih dari bulan yang berpendar penuh. Angan dan bayang tak pernah istirahat mengabsen orang-orang dari masa lalu. Tentang ...


Bagaimana keadaan, ibu?


Apa bapak mengkhawatirkannya?


Apa yang dilakukan kakaknya? Masih meringkuk kah, di dalam bui?


*Dia, pria itu ... sedang apa?


Letih ia berangan tanpa kepastian, ternyata sulit untuk berpijak pada kehidupan yang baru. Ponsel di atas meja hampir saja membuatnya menyerah. Ia rindu nasehat dari bapak, ia rindu suara makian dari sang ibu, ia rindu wajah syahdu yang selalu menetapi kalbu. Tetapi, keberanian belum juga muncul untuk menghubungi mereka. Ia takut niatnya akan goyah, ia takut kemandirian yang dibangun susah payah akan runtuh. Takut kembali pada mereka dan berputar-putar pada labirin yang sama. Tidak! Ia tidak mau seperti itu.


Kali ini ia punya mimpi, kali ini ia tak ingin terpengaruh. Ingin menujukan pada mereka, bahwa uang bukanlah segalanya. Masih kuat rindu jika rasa itu telah mengadu. Rindu adalah rasa yang lebih menyakitkan daripada sebuah kemiskinan.


Malam sebelumnya ada Sakky dan Mbok Jamu yang menemaninya, kini ia harus terbiasa tinggal sendiri. Walau rumah mereka hanya berjarak 6 meter, tetap saja mereka tinggal terpisah.


Tak ada suara apapun untuk meredakan sepi, suara jangkrik yang seolah bagai nyanyian merdu mengiringi malamnya. Ia belum memiliki perabotan lengkap, bahkan televisi pun tidak ada.


Lamanya pikiran itu melalang buana, akhirnya ia menemukan ide. Menulis target sebuah usaha yang akan didirikan. Setelah tadi siang berunding dengan Sakky, akhirnya perempuan itu memutuskan untuk membuka usaha kecil-kecilan. Ia harus hidup mandiri tanpa terus-menerus merepotkan orang lain.



Hari ini, dibantu oleh Mbok Jamu, Niar berbelanja di Pasar Gede untuk mencari bahan makanan juga dagangan. Walau pantai di Ujung Kulon belum buka secara resmi, tetapi di pantai itu sudah ramai berdatangan pengunjung lokal. Apalagi di waktu libur, pesisir pantai hampir penuh lautan manusia.


"Nduk, jangan capek-capek, kandunganmu masih belum kuat diajak kerja berat." Mbok Jamu memperingati.


"Iya, Mbok. Niar terlalu semangat, sampai lupa kalau ada dedek bayi diperutku." Niar menyengir.


"Hoalah ... kamu ini gimana, masak calon anak sendiri dilupain."


Niar kembali tersenyum dan melanjutkan menata barang.


"Mana si Tengil itu belum datang sampek sekarang?"


"Mungkin Mas Sakky belum selesai nganter barang? Kita tunggu aja, Mbok. Niar pengen beli bakso. Mbok mau?" Niar memandangi gerobak penjual bakso yang ada di pinggir jalan. Spanduk yang terpasang di samping gerobak terlihat menggiurkan.


"Enggak, Mbok tunggu sini saja. Takut Sakky datang dan gak tahu tempat kita."


"Iya, Mbok. Niar ke sana dulu," pamit Niar dengan melangkah menggebu menuju penjual bakso.



Yusha dan Reo sedang mencari informasi di Stasiun Jaya Abadi. Mereka mengajukan pertanyaan pada orang yang bertanggung jawab dengan jadwal keberangkatan kereta.


"Maaf, Pak. Kami tidak bisa memberi informasi pada semua orang."


"Tolong, ini sangat penting. Kami sedang mencari tujuan kepergian seseorang yang katanya terakhir kali naik kereta di stasiun ini," ucap Reo.


"Apa perlu saya tanam saham di stasiun ini agar bisa mendapat info!" Kali ini Yusha terlihat marah. Kesal sekali saat dua orang bekerja di stasiun tidak ingin memberikan informasi tentang jadwal keberangkatan pada beberapa waktu lalu.


Dua orang pekerja staf informasi itu saling pandang. Keduanya terlihat bingung dan sedikit takut tentang ancaman Yusha. Tetapi di sisi lain, jika mereka memberi informasi secara ilegal maka mereka juga yang akan diberi sangsi. Mereka cukup kesulitan untuk memutuskan.


"Kalian tau? Teman saya ini CEO di perusahaan Hugs Way. Keduanya sedikit terkesiap. Namun, tak langsung memberi informasi. Melainkan segera menghubungi atasan mereka untuk bertanya pendapat.


Menunggu beberapa saat, akhirnya staf informasi memberitahukan data penumpang. Meneliti nama-nama penumpang pada hari dan jam yang diceritakan Yusha. Nama Niara Livia Putri tercantum pada pemberhentian di Stasiun Yogyakarta. Setalah membaca informasi, Yusha sedikit bernapas lega. Setidaknya ia sudah tahu kemana tujuan Niar pergi. Walau ada rintangan lain, yaitu mencari satu orang di luasnya kota Yogyakarta. Tak membuat niatnya menyurut, ia bertekad untuk mencari.


Pria itu mengambil ponsel dan melihat riwayat panggilan masuk, begitu banyak mendapat panggilan dari mamanya. Ia tidak tahu, karena setelah panggilan terakhir dari Sheli, ia langsung mengaktifkan mode diam.


"Nah, kalau udah tau mantan istri kedua lu pergi ke Jogja, emang lu mau ngapain? Mau nyari ke sana juga?"


"Jadwal kantor padat, ntar sementara ini gue kirim orang buat nyari dia. Kemarin Kelvin kasih tau satu minggu lagi ada kunjungan ke Jogja buat peninjauan lokasi pembukaan pantai tempat pariwisata. Ntar gue ambil cuti 2 hari buat nyari."


"Bray, Jogja itu luas. Kemana lu mau nyari satu orang di kota seluas itu?"


"Setidaknya berusaha."


"Gue dukung-dukung aja sih, kek nya hati lu bener-bener pindah haluan."


"Yo, jangan berspekulasi sendiri. Kalau lu ada di posisi gue, gue yakin bakal ngelakuin hal yang sama. Apalagi lu gak tau yang udah dilalui Niar. Lu bakal simpatik," kilah Yusha menampik. Ia belum gamblang menerima perubahan perasaanya sendiri. Logika tetap menuntun pada Sheli, bahwa perempuan itu masih menjadi cintanya.


Apa yang dicari sudah didapat. Mereka memutuskan untuk pulang. Hari ini sangat melelahkan setelah hampir seharian berputar-putar di jalan beraspal.



Yusha segera masuk ke dalam rumah, ia ingin mengistirahatkan tubuh sebelum berkutat pada laptop untuk memeriksa pekerjaan.


"Sayang, hampir seharian Mama nungguin kamu pulang," sambut Vivian di depan pintu masuk.


"Mama ada di sini?"


"Iya, dari pagi Mama di rumahmu, tapi kamu gak ada. Kemana aja?"


"Ada urusan sama Reo, Ma."


Vivian mengapit lengan Yusha dan mengajaknya masuk. "Kenapa telpon Mama dan papa gak dijawab?"


"Ponselnya aku silent, jadi gak tau ada panggilan masuk."


"Mama nemuin kamu karna penasaran dengan kamu dan pembantumu kemarin."


Seketika Yusha menghentikan langkah. "Apa yang ingin Mama ketahui? Bukannya Mama sudah tau semuanya? Yusha yakin, Sheli sudah bercerita."


"Kamu benar, Sheli memang sudah bercerita panjang lebar. Dari perempuan itu awal kali menjeratmu dengan meminjam uang, dan dia menawarkan diri untuk menjadi istri keduamu. Kenapa kamu tega nyakitin Sheli? Kamu tidak ingat bagaimana kamu merengek pada kami untuk merestui hubungan kalian. Lalu, dengan cepatnya kamu melakukan pernikahan lagi!"