
Di ruang tamu sudah berkumpul berapa tetangga dekat dan ada pak penghulu yang sudah siap untuk membimbing acara ijab qabul. Mereka tinggal menunggu kedatangan Yusha, sang pengantin pria.
Saat berbincang-bincang, perhatian mereka teralihkan pada dua mobil mewah yang baru saja memasuki pelataran rumah pak Bejo.
Lebih dulu Glory dan Sheli yang turun, sedangkan di mobil yang lain Kelvin turun membukakan pintu mobil untuk bosnya.
Orang-orang di dalam rumah sudah mulai berbisik menyambut kedatangan rombongan pengantin pria. "Wah ... bukannya itu Sheliana Rebbeca, model cantik yang sering muncul di televisi," ucap salah satu tetangga pak Bejo dengan suara pelan.
"Sepertinya iya, gak nyangka aslinya lebih cantik, ya?" balas orang yang duduk di sampingnya.
"Berarti calon suaminya Niar bukan orang sembarangan ya, itu buktinya bisa mengajak Sheli untuk menyaksikan pernikahan mereka."
"Iya, aku juga penasaran seperti apa calon suaminya Niar. Kata Sumiati sih orang kaya,"
Obrolan mereka harus terhenti saat Yusha dan yang lain mulai masuk dan menjabat tangan mereka satu persatu. Sheli hanya mengatupkan kedua tangannya didepan dada, sebagai penolakan bahwa modeling itu tidak mau berjabat tangan dengan sembarang orang.
Baru saja Yusha dan yang lain duduk, pak penghulu sudah memberi pertanyaan tentang kesiapan calon pengantin pria untuk melangsungkan ijab qabul. Pak penghulu sudah ada jadwal di tempat lain, untuk itu ia mempersingkat waktu.
"Saya calon suami Niar, Pak. Dan saya sudah siap," jawab Yusha tegas.
Orang-orang disana sedikit terkejut mengetahui Yusha yang menjawab pertanyaan pak penghulu. Mereka mengira Kelvin lah calon suami Niar, namun ternyata salah. Pemuda tampan dengan penampilan rapi juga wajah tegasnya itu lah yang akan menikahi Niar.
Meski rambut gondrong Yusha dibiarkan begitu saja, namun ketampanan seorang Yushaka Demitri Mahendra tak terelakan. Mampu menghipnotis para tamu undangan, bahkan Sumiati dan Nesva sampai melongo meneliti penampilan Yusha. Benar-benar tidak menyangka.
'Sial, kenapa calon suaminya Niar tampan begitu? Aku kira bakal nikah sama aki-aki bangkotan. Kalau yang kayak gini mah gue juga mau! Bukan jadi korban, tapi ketiban keberuntungan banget tuh si Niar.' Nesva menggerutu dalam hati.
Sumiati dan Nesva masuk kedalam untuk mendampingi Niar keluar. Jika tadi perhatian mereka tertuju pada Yusha, kini beralih pada Niar. Gadis yang selalu berpenampilan polos dengan wajah layunya yang jarang tersentuh make up kini membuat semua orang terperangah. Niar terlihat sangat cantik dan anggun. Dengan gugup ia mulai duduk di samping Yusha.
Pak penghulu segera memulai acara dengan membaca kalimat pembuka dan memberitahukan apa saja larangan atau anjuran yang harus diterapkan dalam membina rumah tangga. Setelah beberapa rangkaian itu telah usai. Kini pak penghulu mengajak Yusha untuk berjabat tangan dan membimbing kalimat ijab qabul.
"Saudara Yusha, apa anda sudah siap untuk mengucap ijab qabul?"
"Saya siap, Pak."
"Baiklah, setelah saya selesai mengakatan kalimatnya anda langsung mengikuti yang saya katakan dengan tegas dan dalam satu tarikan napas. Mengerti?"
Yusha mengangguk. Walau ia pernah mengucap ijab qabul untuk Sheli, namun tak membuat Yusha rileks, pria itu berkeringat dengan wajah yang terlihat gugup.
"Bismilahirrahmanirrahim,"
Mendengar pak penghulu mengucap basmalah, membuat cairan bening di mata Niar mulai menggenang. Tinggal beberapa menit lagi ia telah resmi menjadi istri kedua Yusha.
"Saya nikahkan dan saya kawinkan engkau, ananda Yushaka Demitri Mahendra bin Bapak Mahendra dengan Niara Livia Putri binti Bapak Subejo dengan maskawin berupa seperangkat alat sholat dengan kalung emas seberat dua puluh gram, tunai ...," pak penghulu sedikit menyentak tangan Yusha sebagai kode.
"Sah .... " Para tamu yang hadir menjawab dengan serentak.
Pada saat itu airmata Niar tak dapat dibendung, berderai membasahi pipi kanan kirinya. Mulai saat itu juga ia di tuntut menjadi makmum dan istri yang harus patuh dengan ucapan suaminya. Ia telah mendapat surga baru yaitu ridho dari suaminya.
Pertama kali Niar menyambut tangan Yusha untuk di ciumnya, terasa lembut dan dingin.
"Apakah do'anya ingin di ucapkan sendiri atau di bimbing?" tanya pak penghulu.
"Di bimbing saja, Pak."
"Baiklah, kalau begitu ikuti saya." Pak penghulu lebih dulu menyuruh Yusha untuk memegang ubun-ubun Niar, barulah ia membimbing do'a pengantin.
Usai Yusha membaca do'a, lelaki itu meniup ubun-ubun Niar dan mencium keningnya. Ada getaran aneh yang dirasakan Yusha, pandangan keduanya saling terpaku menatapi satu sama lain.
Glory menyenggol tangan Sheli dan berbisik pelan. "Lo gak cemburu?" tanyanya.
"Pertanyaan konyol, Glo! Enggaklah, gue biasa aja," balasnya santai. Tak ada sedikitpun kesedihan atau kekhawatiran di wajah Sheli, perempuan itu nampak tenang.
Glory menggelengkan kepalanya heran dengan sikap Sheli yang setenang itu melihat suaminya sendiri menikah lagi. "Gue rasa hati Lo udah mati rasa kali yak, buat Yusha."
Sheli menghendikkan bahu dan mengacuhkan Glory.
Semua proses dalam ijab qabul telah selesai, pak penghulu dan beberapa tamu undangan mulai berpamitan.
"Selamat ya atas pernikahan kalian," ucap Sheli dengan senyum mengembang.
"Shel, ini gak lucu," balas Yusha geram.
"Kita harus seperti ini di depan mereka, Yusha."
Yusha mengalihkan pandangan, tapi Sheli kembali berkata lirih. "Aku pamit, ada kumpul bersama beberapa produser untuk merayakan keberhasilan kerja sama kami. Lusa aku baru akan pulang. Jadi, nikmati malam pengantinmu, dan pastikan hanya sekali kamu bisa membuat dia hamil," pesan Sheli.
Yusha mendesis. "Bisa-bisanya kamu mengatakan itu, Shel. Aku tidak bisa menjamin bisa melakukan itu bersamanya malam ini," balas Yusha.
"Harus bisa! Bayangkan saja dia adalah aku."
"Kak Sheli, boleh minta foto bareng? Aku fens Kakak loh. Gak nyangka Kakak bisa ada di rumah ku." ucapan Nesva mengalihkan obrolan kedua. Sheli mengangguk dan berpose untuk foto berdua dengan Nesva.
Nesva menyuruh Aris untuk membidik kamera. Saat Aris melewati Niar, ia menatap Niar sejenak. Kali ini, untuk kali ini Aris baru melihat sosok Niar yang berbeda. Jika sama-sama memakai make up wajah Niar bisa mengalahkan kecantikan Nesva, dan ia baru menyadari hal itu. Namun semua sudah terlambat, gadis kecil yang selalu di anggap seperti adiknya sendiri kini telah resmi menjadi istri pria lain. Walau ia tahu selama ini tatapan Niar berbeda saat memandangnya, ia tahu gadis itu mempunyai perasaan untuk dirinya, namun pesona dan rayuan Nesva yang berhasil menjeratnya.